Ingin Menjadi Ibu yang Menyenangkan bagi Anak? Pelajari Cara-cara Ini!

  • Saturday, September 30, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 4 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah telah masuk ke tema delapan dari program ODOS Rumah Belajar IIP Kaltimra. Kali ini temanya tentang ibu. Tema yang bisa membuat siapa saja termehek-mehek. Hampir semua orang ketika membicarakan ibunya pasti akan penuh kebanggaan, penuh keharuan, rindu dan cinta kasih. Meski tidak selamanya pula hal-hal positif itu yang tertangkap dari sesosok ibu. Tidak jarang ada hal-hal negatif yang juga terekam dalam diri seorang anak, bahkan membekas hingga dewasa lalu menimbulkan inner child yang berkepanjangan.

Dalam postingan ini aku tidak ingin membicarakan ibuku, karena hanya bakal membuatku nangis bombay mengingat segala hal tentang beliau. Lagipula aku sudah banyak menuliskan beberapa kisah tentang beliau di postingan-postinganku sebelumnya. Salah satunya adalah Ibu, Semangat yang Tak Pernah Henti Meski Hidup Separuh Berhenti yang juga dibukukan dalam sebuah antologi berjudul Hati Ibu Seluas Samudera, terbitan Sixmidad tahun 2014.

Membicarakan tentang ibu, biasanya sosok ibu itu adalah seseorang yang bondingnya lebih dekat dengan anak-anak daripada sosok ayah. Di satu sisi, ibu juga biasa terekam di benak anak sebagai sosok yang cerewet, suka ngomel, banyak aturan dan menyebalkan. Mengaku atau tidak, ketika seorang perempuan berstatus ibu yang tadinya nggak jago ngomong tiba-tiba berubah jadi pintar ngomong. Mungkin itu yang disebut naluri atau kodrat. Kan katanya perempuan itu setiap harus mengeluarkan setidaknya dua puluh atau tiga puluh ribu kata setiap hari.

Nah, tentunya sebagai ibu, kita nggak mau dong ya anak memiliki rekam jejak tentang diri kita sebagai sosok yang bawel, tukang ngomel dan cerewet dalam konotasi negatif. Pastinya kita pengen anak-anak kita melihat diri kita sebagai sosok yang komunikatif alias enak diajak bicara. Menjadi sosok yang enak diajak bicara artinya senang ngomong dengan anak, bukan sekedar ngomongin (baca: ngomelin).

Bingung bagaimana membedakannya? Butuh dibisiki tips untuk menjadi ibu yang menyenangkan? Sekalian aku juga mau menuntaskan hutang nih pada teman-teman yang ingin dibagi tentang isi seminar dan mini talkshow “Parents, Build Your Kids with Good Words” bersama Ibu Dyah Indah Noviyani (Bu Vivi) yang merupakan seorang psikolog keluarga sekaligus pemilik Sekolah Sentra Bintang Juara.

Bu Vivi dan Keluarga

Acara Wisuda Kelas Matrikulasi IIP Semarang Batch #4

Seminar yang terselenggara sebagai selebrasi wisuda kelas matrikulasi IIP Semarang batch #4 tersebut diadakan pada Sabtu, 23 September 2017. Alhamdulillah acara berjalan sangat lancar. Sebagai salah satu panitia, aku sendiri merasa takjub. Hanya dalam waktu 18 hari, kami bisa mengumpulkan 80 peserta. Itu pun sebenarnya masih banyak yang ingin datang, sayangnya kebanyakan daftar mendadak, jadi terpaksa ditolak deh. Banyak pula yang kemudian meminta untuk mengadakan lagi acara dengan tema yang sama. Ternyata meski ngomong, berbicara  atau berkomunikasi adalah hal yang paling mendasar dalam kehidupan kita, termasuk dalam hubungan ibu/ orangtua dan anak, masih banyak yang bingung bagaimana caranya membangun komunikasi yang menyenangkan.

Bersyukur aku bisa hadir dan menimba langsung ilmu keren tersebut dari ahlinya. Meski mungkin nanti tidak banyak yang aku bagi karena belajar sambil momong bayi tentunya tidak bisa fokus seratus persen pada materi. Wokay deh, daripada kelamaan, yuk cuzz intip caranya menjadi ibu yang menyenangkan untuk anak, dalam hal ini menjadi ibu yang komunikatif.

Kenapa Harus Menjadi Ibu yang Menyenangkan?


Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa harus jadi ibu yang menyenangkan, toh dulu ibu kita suka ngomel, bawel dan sebagainya tapi kita tetap sayang sama beliau. Tentu saja, sebagai anak kita akan selalu menerima ibu kita apa adanya, karena kita membutuhkan beliau. Tapi kalau mau dikulik lebih dalam nyamankah diri kita saat diomeli ibu? Nggak kan? Nah, sekarang tempatkan diri kita di posisi anak-anak kita. Kalau kita saja merasa nggak nyaman diomeli, begitu juga anak-anak kita.



Belum lagi jaman sudah berubah, pals. Dulu ketika ibu-ibu kita membesarkan kita, belum ada tuh yang namanya gadget, TV juga paling banter baru ada channel TVRI dan RCTI, tayangannya masih bisa ditolerir, apalagi media sosial. La sekarang? Musuh kita sebagai orang tua bejibun. Dari gadget dan segala aplikasinya, tayangan TV kudu banyak disaring dan dipilih mana yang layak tonton, belum lagi media sosial dengan segala intriknya.

Dulu kita diomeli ibu, paling cuma bisa nunduk dan akhirnya mau nggak mau manut. Anak sekarang? Diomeli ibunya bisa panjang sampai kemana-mana. Sekarang yuk kita coba bertanya ke diri sendiri.

Pernahkah terpikir, mengapa ada remaja yang sulit sekali diajak bernegosiasi serta mudah sekali tersulut emosinya? Pernahkah terpikir, mengapa anak SD sekarang pun mulai sulit diajak berbuat kebaikan bahkan oleh orang tua dan gurunya? Pernahkah terpikir, mengapa anak TK sekarang menjadi lebih mudah tantrum saat keinginannya tidak terpenuhi? Mereka berteriak, memukul, menendang, membanting barang, menyakiti dirinya agar keinginannya terpenuhi?



Semua itu berbanding lurus dengan bagaimana cara kita berkomunikasi dengan mereka. Jika kita berkomunikasi dengan anak menggunakan gaya yang buruk, maka wajar jika kemudian anak pun meniru apa yang kita lakukan. Jadi jangan dulu menuding anak-anak kita yang liar dan susah diatur, jangan-jangan kita yang kebanyakan nyerocos tanpa bisa direm, terlalu banyak menuding dan tidak pandai mengatur nada saat bicara.


Orang dewasa biasanya tidak kesulitan  berkomunikasi dengan anak-anak jika menyangkut pemberian informasi ataupun pengarahan tentang cara penggunaan gunting atau menjelaskan bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan jika terlalu banyak bermain games. Tetapi orang dewasa menemukan kesulitan dalam berkomunikasi jika perasaan ikut terlibat, baik perasaan anak ataupun perasaan mereka sendiri.

Manfaat Menjadi Ibu yang Menyenangkan



Menjadi ibu yang menyenangkan artinya kita bisa berkomunikasi secara efektif dengan anak. Ketika komunikasi kita lancar dengan anak, mereka akan menjadi sangat nyaman berada di dekat kita. Ketika anak nyaman dengan ibunya, maka akan terjalin hubungan yang hangat antara ibu dan anak.

Pada akhirnya ketika hubungan ibu dan anak tumbuh dengan baik dan hangat, akan tumbuh perasaan berharga dalam diri anak. Perasaa berharga tersebut akan melahirkan kemampuan anak untuk beradaptasi, bermain dengan teman dan orang lain, menciptakan sikap peduli pada anak dan anak jadi mudah diajak bernegosiasi.

Penting banget kan ternyata menjadi ibu yang menyenangkan? Untuk menjadi sosok yang menyenangkan tersebut, kita harus paham dulu apa makna berkomunikasi. Komunikasi adalah apa yang kita katakan (isi atau content) dan bagaimana cara kita mengatakannya (teknik/ strategi).

Nah, ternyata menurut riset dari Prof. Albert Mahrebain, komunikasi yang efektf meliputi 7% kata-kata/  verbal, 38% nada dan suara serta 55% bahasa tubuh/ non Verbal. Ternyata penggunaan kata-kata porsinya justru yang paling kecil dalam menciptakan komunikasi yang menyenangkan. Gestur tubuh kita justru menjadi poin yang paling penting dalam terciptanya komunikasi dua arah yang efektif.



Bahasa tubuh atau komunikasi non verbal (tanpa kata-kata) justru menunjukkan adanya kelekatan emosi antara orang tua dan anak. Bahasa tubuh dapat berupa tatapan mata, ekspresi wajah, gerakan tangan dan posisi tubuh. Sentuhan yang positif dan bermakna juga salah satu bahasa tubuh yang sangat menunjang terjadinya komunikasi yang menyenangkan antara ibu dan anak.

Penelitian Psikolog Edward R. Christopherson. Ph.D menemukan fakta bahwa pelukan lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang. Anak akan merasa dicintai dan dihargai, serta memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak. Publikasi penelitian dalam Journal of Epidemiology and Community Health, bayi yang sejak lahir selalu diberi sentuhan (pelukan, ciuman, belaian) sebagai pertanda kasih sayang oleh orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah stres.

Pelukan yang dilakukan sebanyak empat kali per hari menjauhkan depresi, delapan pelukan sehari  memberikan kestabilan mental yang lebih kokoh, dan 12 pelukan sehari akan membantu perkembangan psikologis seseorang. Penelitian lain menyebutkan manfaat pelukan dapat mengurangi stres, membantu pola tidur yang sehat, memberi semangat, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dalam bukunya ‘The Hug Therapy’, Psikolog Kathleen Keating mengungkapkan pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak serta dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Hari ini sudah memeluk anak berapa kali, pals? Kalau belum segera berikan pelukan terhangat untuk mereka ya.

Yuk, Jadi Ibu yang Menyenangkan

Setelah kita mengetahui kenapa kita harus menjadi ibu yang menyenangkan dan apa manfaat yang akan kita dapatkan, saatnya kita mulai praktekkan ke anak. Sebelumnya kita perlu mempersiapkan hal-hal berikut ini sebelum mengajak anak berbicara;

• Pastikan suasana hati orang tua dan anak tenang.
• Pilih waktu yang tepat bukan saat muncul masalah.
• Tempatnya personal dan nyaman (di rumah atau di luar rumah).
• Usahakan ayah dan bunda berperan mengajak anak berbicara sesuai kebutuhan anak.
• Siapkan referensi yang tepat untuk menguatkan jiwa dan perilaku anak (Al Quran, hadist, ensiklopedia, kisah, buku cerita tentang akhlakul karimah).

Setelah hal-hal tersebut siap, mulailah proses komunikasi dengan anak. Saat berbicara dengan anak, lakukan hal-hal berikut ini;



1. PASTIKAN FOKUS – NO GADGET.
2. Berisi ilmu pengetahuan, gunakan perumpamaan (agar lebih mudah dipahami anak yang lebih muda).
3. Lakukan interaksi (tanya jawab, diskusi).
4. Kata-kata yang membangun jiwa anak (memotivasi, mendukung).
Tidak menyakiti hati, menyalahkan, menuduh, merendahkan harga diri.
5. Susunan kalimat SPO (K).
6. Pengucapan jelas dan nada suara tepat.
7. Perkuat dengan kisah-kisah Nabi, Rasul, Sahabat Nabi dan tokoh Muslim serta cerita akhlak, ambil hikmahnya sesuai kebutuhan anak.

Untuk memperkuat efektivitas komunikasi kita dengan anak, kita juga perlu menggunakan 5 KONTINUM PIJAKAN. Kontinum pijakan adalah serangkaian pijakan verbal dan non verbal saat ibu mendampingi anak bermain dan berkegiatan. Kontinum bukanlah tahapan namun dapat dilakukan sesuai kebutuhan anak. Adapun jeni-jenis kontinum pijakan adalah sebagai berikut;



1.      Physical intervention (Intervensi Fisik)

Membantu anak dengan cara modelling atau mengarahkan secara fisik (memegang, menggenggam, menyentuh). Contoh: anak makan sendiri namun belum dapat menggunakan sendok secara tepat, orang tua dapat duduk di belakang anak kemudian memegang tangan anak untuk memegang sendok lalu mengarahkan tangan dan sendok anak untuk mengambil nasi dan lauk pauk lalu mengarahkan sendok ke mulut.

Bu Vivi Mempraktekkan Cara Physical Intervention


2.     
Directive statement (Pernyataan langsung)

Membantu anak yang mempunyai kesulitan saat bermain atau beraktivitas dengan berbicara yang sifatnya memberikan informasi atau ilmu pengetahuan. Contoh ketika anak memukul-mukulkan sendok ke meja di saat jam makan, katakan  “sendok fungsinya untuk menggambil makanan”.

Saat anak berlari di dalam ruangan, katakan “di dalam ruangan kita berjalan” atau “jalan saja”. JIka ada anak memukul teman, katakan “gunakan tangan untuk yang bermanfaat ya”, “sayangi teman, nak.”

Dalam memberikan informasi pada anak, kita harus menyebutkan nama benda, ciri fisik benda (optimalkan panca indera), fungsi dan manfaat benda, serta cara penggunaan dan batasannya (termasuk bahaya dan sisi negatif benda tersebut).

3.      Question (Pertanyaan)

Menggunakan pertanyaan untuk membuat anak punya ide baru dalam mengeksplorasi alat main atau mengajak anak untuk berpikir tentang apa yang dapat dilakukan anak. Contoh:  “Sendok fungsinya untuk apa ya?” atau “Apa yang bisa kita lakukan jika air tumpah di meja?”

4.      Non directive statement (Pernyataan tidak langsung)

Orang dewasa bicara sebagai cermin bagi anak (bicara sesuai apa yang anak lakukan). Contoh: Saat anak main playdough dengan beragam cetakan bentuk hewan namun anak terlihat diam saja, katakan ”ada beragam ide tentang hewan di sekitar kita”. Saat anak menumpahkan air hingga ke lantai, ibu bisa mengatakan “ada air mengalir dari meja ke lantai, akan tidak aman jika ada yang berjalan di atas lantai itu.”  Saat anak kesulitan mengambil benda yang letaknya lebih tinggi darinya, katakan “ada caranya untuk mengambil benda yang lebih tinggi”.

Bu Vivi Memberikan Contoh Pijakan Dibantu oleh Mbak Indah Laras


5.     
Visually looking on (Pengamatan)

Ibu mengamati anak bermain untuk meningkatkan kemampuan anak dalam memakai alat-alat main dan siap membantu anak apabila diperlukan. Cara ini banyak dilakukan pada anak usia TK ke atas di mana anak sudah lebih mandiri dan bertanggung jawab saat bermain.

Untuk berkomunikasi dengan anak usia batita, kita harus lebih banyak menggunakan pijakan physical intervention dan directive statement, namun kita juga bisa mulai melatihnya berkomunikasi dengan pijakan question. Anak usia KB lebih banyak menggunakan pijakan directive statement dan question, dan mulai dilatih non directive statement.

Anak usia TK lebih banyak menggunakan question dan non directive statement, dan mulai dilatih visually looking on (ibu cukup mengamati dan memberi apresiasi dengan ekspresi wajah dan gerakan tangan tanda setuju).

Kita juga harus tahu bahwa tahapan berkomunikasi dengan anak tidak lepas dari tahapan perkembangan sel otak anak. Layaknya membangun rumah, ada empat tahapan dalam perkembangan sel otak anak;



Usia 0 – 2 tahun merupakan masa-masa membangun pondasi rumah (tahap kognitif sensori motorik).
Usia >2 – 7 tahun adalah masa-masa membangun struktur di atas pondasi rumah (tahap kognitif pra operasional).
Usia >7 – 11 tahun yaitu masa-masa membangun dinding dan atap rumah (tahap kognitif operasional konkret).
Usia >11 – 18 tahun merupakan tahapan finishing, seperti mengecat, pemasangan jendela, kunci dan sebagainya. Semakin lengkap finishing yang kita lakukan, semakin komplit juga rumah yang kita miliki. (Tahap kognitif operasional formal.)

Oleh karenanya membangun otak harus bertahap dan berurutan. Tidak bisa loncat ke tahapan selanjutnya jika tahap sebelumnya belum tuntas. Tuntasnya sebuah tahapan bergantung pada stimulasi yang orang tua rancang dan berikan, berupa kegiatan main atau aktivitas yang bermakna.

Nah, setelah kita mengetahui lima jenis kontinum pijakan dalam komunikasi, manakah yang sering kita gunakan? Jika kita tidak membiasakan berkomunikasi dengan kontinum pijakan sesuai dengan usia anak, jangan kaget jika kita menemukan anak SMA yang belum memiliki inisiatif melakukan sesuatu dan hanya akan bergerak ketika disuruh/ diperintah. Bisa jadi itu karena orang tuanya terlalu banyak melakukan directive statement dan tidak melatih jenis pijakan question, non directive statement, apalagi visually looking on.

Mengatasi Tantrum pada Anak Usia Dini

Usia-usia satu hingga tiga tahun merupakan usia rawan anak mulai mengalami tantrum. Pada dasarnya tantrum terjadi karena anak tidak mengerti bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan atau inginkan. Semakin orang tua tidak paham, anak akan semakin menjadi. Seharusnya masa-masa tantrum akan mulai hilang ketika anak berusia empat atau lima tahun, namun jika tidak dilakukan penanganan yang tepat, tantrum bisa terus berkelanjutan, bahkan hingga anak berusia dewasa.



Bingung bagaimana mengatasi anak yang sedang tantrum? Setelah ini nggak perlu lagi, karena Bu Vivi sudah membagikan tips untuk menangani hal tersebut.

TAHAP PERTAMA; BERI KESEMPATAN ANAK UNTUK MENANGIS SECUKUPNYA DAN DI TEMPAT YANG AMAN untuk dirinya dan orang lain. JIKA TIDAK AMAN, peluk anak dan beri kesempatan untuk menangis saja tanpa berguling, membentur kepala, membanting barang atau melakukan perilaku yang tidak aman lainnya. JIKA PERILAKUNYA TIDAK SANTUN seperti berteriak, memaki/ berkata kasar, memukul orang lain atau menendang, katakan pada anak bahwa kita tidak nyaman dengan perilakunya, kita pegang kaki atau tangannya guna mencegah dia melakukannya tanpa menyakiti tubuhnya.

TAHAP KEDUA; USAP DADA ATAU PUNGGUNGNYA hingga dia tenang. JIKA ANAK SUDAH TENANG, AJAK BICARA. Katakan “Jika sudah tenang, saatnya bicara ya..”  Jika anak belum tenang, katakan “masih butuh menangis?” “Boleh menangis, tapi secukupnya saja..”

TAHAP AKHIR; PENGUATAN (BUTUH KESABARAN & KONSISTEN) - LAKUKAN TEKNIK TERSEBUT BERULANG KALI HINGGA BERHASIL, dengan variasi kata. JIKA KITA ADA TUGAS LAIN, minta ijin pada anak, katakan “Bunda harus mengerjakan tugas yang lain, silahkan kakak menangis dulu secukupnya hingga tenang ya”. “Jika sudah tenang panggil bunda, kakak bisa bicara”.
 
Anak akan berlatih menjadi pribadi yang lebih tenang dan matang, jika ekspresi perasaannya diterima dan diberi kesempatan untuk mengekspresikan, meski tetap ada batasan yang jelas (waktu, tempat, cara).

So, sudah siapkah menjadi ibu yang menyenangkan? By the way, hal-hal yang tertulis di atas sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan oleh para ibu. Para ayah dan guru pun penting untuk mengetahuinya sehingga terjalin komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, serta guru dan anak. Pasti asyik jika setiap komunikasi yang terjalin berlangsung secara efektif dan menyenangkan. Selain itu anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang menyenangkan akan tumbuh menjadi anak-anak berkarakter kuat.

Jika ada salah-salah kata dalam menyampaikan materi, maka hal tersebut murni kesalahanku ya. Kalau ingin berkonsultasi langsung dengan bu Vivi, silakan cuzz ke BIRO KONSULTASI PSIKOLOGI QUALIFA yang berlokasi sama dengan PAUD Bintang Juara, di Jalan  Dewi Sartika No 82 Semarang. Nomor whatsapp beliau 081 326 603 360, yang mau tengok akun Facebook-nya, ketik saja  Dyah Indah Noviyani.
Semoga bermanfaat ya, pals. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Thanks to:
Materi by Ibu Dyah Indah Noviyani
Foto by Mbak Dina Novita dan Wisudawan Matrikulasi Batch #4

#OneDayOneStatus
#Day8
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra

You Might Also Like

4 comments

  1. Iya sih. Tanpa disadari, anak akan merekam sikap orang tuanya. Jadi ingat temanku, dia masih ingat sampai sekarang kalau pernah dicubit di pasar gara2 nggak mau pulang dari toko orang penjual baju. Hahahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh mbak, sengaja atau nggak sengaja pasti Ada yang terekam. Kudu hati2 banget ya biar anak nggak merasa disakiti.

      Delete
  2. Harus siap dong. :D Hehehehe ... Bagus banget ini buat para ibu muda.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com