header marita’s palace

5 Cara Mendidik Anak ala Nabi Ibrahim Alaihissalam



Assalammu'alaikum, pals! 

Insya Allah besok Senin, 12 September 2016 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1437 H, umat muslim akan merayakan Idul Adha. Meski biasanya persiapannya tidak seheboh ketika Idul Fitri, Idul Adha tetap dinanti oleh semua umat muslim. 

Selain karena tahun ini jatuh di hari Senin yang akhirnya bikin weekend-nya jadi looooong, Idul Adha akan diramaikan dengan semarak acara kurban. Biasanya anak-anak akan senang melihat sapi, kambing, dan domba yang mulai berdatangan ke masjid dan musholla. Beberapa dari mereka akan berlomba-lomba memberi makan hewan kurban tersebut sembari menunggu acara penyembelihan digelar.

Ketika prosesi penyembelihan dilaksanakan, beberapa anak ada yang tetap berdiri tegar menatap hewan-hewan tersebut. Beberapa anak berlarian karena ketakutan. Namun lebih baiknya disarankan agar anak-anak tidak melihat prosesi tersebut ya, karena kita tidak tahu efek ke depannya seperti apa. Ada beberapa kasus mengerikan ditemukan setelah anak-anak yang belum paham hikmah prosesi tersebut dibiarkan melihatnya, salah satunya terjadinya penyembelihan kucing secara ramai-ramai oleh anak-anak. Beberapa juga mengalami trauma berkepanjangan hingga dewasa. Untuk artikel lengkap mengenai hal ini, teman-teman bisa membaca pendapat dari Abah Ihsan di sini.

Berbicara mengenai kurban, maka tidak akan bisa lepas dari peristiwa saat Allah meminta Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra kesayangan yang telah ditunggunya sekian lama, Nabi Ismail. Tentunya sebagai hamba Allah yang ta'at, baik Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyanggupi perintah Allah tersebut. Bahkan Nabi Ismail menguatkan ayahandanya untuk tidak ragu-ragu melaksanakan perintah tersebut.



Berkaca dari kisah ini ada banyak hal yang bisa kita gali, salah satunya adalah bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik putranya hingga menjadi anak yang sholeh dan berbakti. Padahal kita tahu, Nabi Ibrahim tidak membersamai Nabi Ismail di masa kecilnya. Ismail kecil dan ibunya, Siti Hajar, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di Makkah yang saat itu masih berupa padang pasir yang sepi dan belum berpenghuni seramai sekarang.

Siti Hajar hanya bertanya kepada suaminya, "Wahai suamiku, apakah ini perintah Allah, jika memang ini perintahNya, aku ikhlas." Nabi Ibrahim pun mengangguk, "Iya, istriku. Ini perintah Allah."

Ketaatan keluarga Nabi Ibrahim menjadi salah satu inspirasi Idul Adha yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Apapun yang Allah perintahkan, sesulit dan setakmungkin apapun di dalam logika manusia, mereka laksanakan sebaik mungkin. Semoga ini menjadi pengingat buat kita untuk selalu "dengarlah, dan taatlah."

Begitulah kemudian Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di Makkah dan beliau kembali ke Palestina. Bertahun-tahun lamanya tak berjumpa, hingga ketika masa-masa perjumpaan yang dinanti tiba, Allah menurunkan perintah kurban kepadanya. 

Mengapa Nabi Ibrahim dan Siti Hajar bisa mendidik Nabi Ismail seshalih itu, tentunya kita perlu belajar dan menggali hikmah dari do'a yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim. Ada 5 hal yang bisa kita tarik kesimpulan dari do'a yang diucapkan oleh bapak para nabi tersebut. 5 hal ini bisa menjadi dasar bagi kita dalam mendidik anak-anak kita menuju generasi emas, generasi yang shalih dan berkarakter mulia.

Disebutkan dalam Surat Ibrahim ayat 37



Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. 

Dari ayat ini ada tiga hal yang bisa kita pelajari berkaitan dengan pendidikan anak:
1. Potongan ayat berikut ini  "aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati" memberikan sebuah pelajaran kepada kita bahwa ketika mencari tempat tinggal/ rumah sebaiknya carilah yang dekat masjid atau musholla. Dengan memilih rumah yang dekat dengan masjid/ musholla, diharapkan anak-anak akan akrab dengan suara azan, murottal dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang akan menuntunnya menjadi anak-anak yang cinta masjid.

"Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat"
Tentunya tidak hanya dengan memilih rumah yang dekat masjid, namun setelahnya juga harus diimbangi dengan stimulasi yang tepat dari kedua orang tuanya. Membiasakan sholat, bahkan wajib hukumnya untuk sholat berjama'ah bagi laki-laki. Ibunya pun bisa mendampingi ketika anak ikut sholat berjama'ah bersama ayahnya di masjid untuk mengawasi agar anaknya sholat dengan tertib dan tidak mengganggu jama'ah yang lain.

2. Sementara potongan ayat yang ini "maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka", menitikberatkan kepada pentingnya penanaman dan pendidikan karakter sejak dini. Tentunya kita malas kan berdekatan dengan orang yang sombong, acuh, tidak suka bekerjasama, nyinyir dan berbagai karakter buruk lainnya? Begitu juga orang lain, pasti tidak akan mau berdekatan dengan kita jika akhlak dan karakter kita buruk seperti itu. Maka, pesan yang tersirat dari potongan ayat ini adalah  jika kita ingin dicintai oleh orang lain, maka perbaikilah dan perbaguslah akhlak kita.

3. Potongan ayat yang paling akhir "berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur" secara tersirat mengajarkan agar kita mendidik anak-anak kita untuk tumbuh sebagai orang-orang yang rajin mencari nafkah. Allah memang telah mengatur rizki para hambaNya sesuai dengan kebutuhan, secara sama rata. Namun jika kita melihat ada orang yang sukses, sedang di satu sisi ada orang yang hidupnya serba kekurangan, itu semua karena setiap orang menjemput rizki dengan cara yang berbeda. Jika kita merasa saat ini masih selalu merasa kurang, kebutuhan tidak tercukupi dengan baik, cobalah instropeksi diri bagaimanakah ibadah kita. Karena mencari rizki bukan semata-mata soal berangkat pagi pulang malam. Seringkali kita lupa bahwasanya ibadah dan ketaatan kita berbanding lurus dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Dan seringkali kita lupa untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah kita dapatkan. Bersyukurlah maka Allah akan melipatgandakan kenikmatan tersebut.

Video dari Yufid TV ini bisa memberikan kita inspirasi mengenai mencari nafkah yang baik;


Selain belajar dari Surat Ibrahim ayat ke-37, kita juga bisa mengambil hikmah dari ayat ke-40,


yang memiliki arti;

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (itu).

4. Masih berkesinambungan dengan pesan yang pertama yaitu tentang memilih rumah di dekat masjid, diharapkan agar anak-anak tumbuh mencintai masjid dan kebaikan. Tentu saja tidak ada kebaikan yang lebih besar selain menjadi anak-anak yang rajin mendirikan shalat karena shalat adalah tiang dari agama. Ketika shalat seseorang runtuh, maka runtuhlah agamanya. 

Shalat juga merupakan terminalnya tubuh. Mengapa Allah memerintahkan shalat Subuh di pagi hari? Tidak lain karena bangun di pagi hari akan menyegarkan badan dan membuat kita lebih semangat beraktivitas. Bandingkan dengan orang-orang yang selalu telat bangun, mereka akan cenderung beraktivitas secara grusa-grusu dan mood-nya tidak baik sepanjang hari. Jarak antara shalat Subuh dan Dzuhur yang cukup panjang menyiratkan bahwa setelah beraktivitas setengah hari, tubuh manusia membutuhkan istirahat. Shalat dzuhur memberikan kesempatan kepada kita untuk refresh hati dan pikiran sebelum memulai aktivitas selanjutnya. 

Berbeda dengan jarak shalat Subuh dan Dzuhur yang cukup panjang, jarak antara shalat Dzuhur dan Ashar, Ashar ke Maghrib, juga Maghrib ke Isya' relatif pendek. Hal tersebut menyiratkan bahwa tubuh manusia di waktu-waktu tersebut tenaganya sudah tidak full, oleh karenanya perlu titik-titik pemberhentian agar tubuh dan pikiran tetap fresh dan bisa beraktivitas secara maksimal. Sementara itu jarak antara shalat Isya' ke Subuh sangat panjang dikarenakan saat itulah merupakan waktu istirahat untuk tubuh kita. Masya Allah, Allahu Akbar. Betapa Allah telah mengatur semuanya dengan begitu sempurna. Semoga kita termasuk golongan yang tidak pernah meninggalkan shalat. Aamiin.

Adapun pelajaran terakhir dari Nabi Ibrahim dalam mendidik anak yang bisa kita jadikan inspirasi Idul Adha diambil dari Surat Ibrahim ayat ke 41;



Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan hisab (hari kiamat).

5. Dari ayat ini tersirat sebuah hikmah bahwasanya kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Tentunya untuk bisa mencetak anak-anak yang tak lupa berbakti kepada orang tuanya, kita patut untuk menjadi orang tua yang tidak durhaka, yaitu orang tua yang telah menunaikan kewajibannya sebagai orang tua dan memenuhi hak-hak anak untuk dididik sesuai Quran dan Sunnah. Ayat ini juga mengajarkan kita untuk saling berbuat baik dan mendo'akan kepada sesama muslim.

Wah, ternyata inspirasi Idul Adha dari Surat Ibrahim begitu dahsyat ya. Semoga dari ayat-ayat ini kita bisa belajar untuk menjadi orang tua-orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita.

Salam semangat dan selamat menyambut Idul Adha!
Wassalammu'alaikum.


P.S.
Ditulis ulang berdasarkan materi yang disampaikan oleh ustazah Nurul Fadhillah pada kajian bulanan Majelis Taklim Zahira Griya Klipang  Asri II R Baru, RT 007 RW 018, Kelurahan Sendangmulyo Tembalang Kota Semarang, pada Jum'at, 26 Agustus 2016.

Jika ada kesalahan dalam menyampaikan ulang materi tersebut dalam bentuk tulisan maka kesalahan terletak padaku yang teledor dalam mencatat atau menangkap isi materi.
Semoga bermanfaat.

7 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com
  1. semoga bisa mempraktekkan cara2 nabi ibrahim ini mendidik anaknya.. rumahku deket bgt ama mesjid..tp jujurnya kita ga rutin memang sholat di sana mbak :( .. pdahl kalo papaku dtg dan nginep di rumah, lgs deh selalu ajak cucunya ikutan solat di mesjid..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senang ya kalau dekat masjid... aku agak jauh nih dari masjid.. kadang azan aja nggak dengar. Tapi alhamdulillah sebentar lagi mau bangun musholla di gangku... jadi bisa lebih dekat sama suara azan :)

      Iya mbak memamg harus dibiasakan.... dengan syarat pengurus masjidnya juga ramah anak.. soalnya kadang banyak yang galak sama anak-anak kecil, hehe..

      Delete
  2. penting banget untuk mengajarkan anak berkurban sejak dini yah Mba, mereka akan terbiasa mengenal kata ikhlas sejak kecil :)

    ReplyDelete
  3. Kemarin sempat membuat dongeng tentang nabi Ismail sebelum tidur. Anak2 memang paling gampang dirasuki eh dipengaruhi menjelang tidur.

    Jadi lebih mudah memahamkan si anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. aku juga selalu menyempatkan membacakan cerita sebelum tidur, sudah jadi kebiasaan juga buat Ifa. Kalau belum diceritain ya belum tidur :D

      Delete
  4. Lucunya, saya baca ulang lagi disini utk ngisi malam nnt. Jzklh Khoirul resumenya

    ReplyDelete