Thursday, September 1, 2016

Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti Sejak Dini di Sekolah Lewat Penanaman 9 Pilar Karakter



Sudah dua minggu berlalu tapi aku masih belum sempat juga menuliskan hasil belajarku pada Pelatihan Akbar "Praktik Pendidikan Karakter dan Pendekatan Saintifik yang Sukses Membangun Karakter, Daya Pikir Kritis dan Kreativitas Anak." Padahal aku sudah berjanji kepada teman-teman, baik di sosial media maupun di dunia nyata untuk share mengenai isi pelatihan tersebut. Dan sesungguhnya janji adalah hutang.

Ndilalah kok tema One Day One Post-nya hari ini "Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti di Sekolahan", sejalan dengan apa yang digulirkan saat pelatihan akbar tersebut. Hanya beda istilah saja. Kalau di pelatihan menggunakan istilah karakter, sedang di tema ODOP kali ini menggunakan istilah budi pekerti. Sejatinya karakter dan budi pekerti mengkerucut pada satu hal yang sama, yaitu; akhlak.

Mengapa Pendidikan Budi Pekerti Penting?

Seiringnya berkembangnya jaman, pendidikan karakter, budi pekerti atau akhlak ini semakin terpinggirkan. Semua itu dikarenakan sistem pendidikan di Indonesia lebih berorientasi kepada kemampuan kognitif anak. Pencapaian nilai, angka, ranking, kemampuan calistung dan menghafal teori ini itu jadi standar pintar untuk anak-anak negeri ini. 

Orang tua dan guru akan lebih bangga pada anak yang nilai Matematikanya sembilan, raportnya dapat ranking 10 besar, bisa menguasai semua mata pelajaran dan hal-hal kognitif lainnya. Namun kurang respek kepada kecerdasan emosi anak. Tidak ada yang akan memperhatikan ketika ada seorang anak mengambil sampah bertebaran di sekolah lalu dibuang ke tempat sampah, membantu temannya menyeberang jalan, berbagi jajan dengan temannya dan berbagai hal baik yang banyak dilakukan anak-anak di sekeliling kita. Kita menganggap itu hal yang wajar dan harus dilakukan, jadi nggak perlu lah meresponnya dengan lebay. Padahal hanya dengan sentuhan lembut di bahu mereka, sambil berkata "Terima kasih sudah membantu temannya menyeberang. Budi memang anak yang suka menolong ya", bisa menstimulasi anak untuk terus menumbuhkembangkan karakter baiknya. 

Anak dan Fitrahnya
Setiap anak terlahir fitrah. Setiap anak terlahir dengan semua sifat-sifat baik. Sayangnya tanpa sadar guru dan orang tua yang kemudian merusak fitrah-fitrah tersebut lewat pola didik dan pola asuh yang salah atau tanpa ilmu. 

Contoh gampangnya; kita seringkali bilang sekarang ini banyak anak yang tidak disiplin, lelet dan tidak menghargai waktu. Padahal kalau kita mau tengok ke belakang, semua bayi selalu bangun sebelum subuh. Itu tandanya, setiap anak sudah dibekali oleh Allah untuk menjadi manusia-manusia disiplin. Lalu kenapa kemudian berkembang menjadi anak-anak yang tidak disiplin? 

Ya, karena dibiasakan seperti itu. Saat bayi-bayi itu bangun sebelum subuh, bukannya diajak ngobrol dan distimulasi, malah kita - para ibu keluarkan senjata andalan kita (baca: ASI) - agar si bayi tidur lagi dengan lelap, jadi kita bisa fokus dengan urusan tetek bengek rumah tangga yang harus segera diselesaikan. 

Permisalan lainnya; seringkali kita bilang anak sekarang semangat belajarnya itu rendah, kalau disuruh belajar susah sekali. Yuk, kita sama-sama tengok ke belakang saat anak-anak balita kita bermain bedak dan menghamburkannya ke seluruh rumah, apa reaksi kita? Beberapa tentunya memaklumi aktivitas tersebut, namun banyak pula yang malah merebut bedak di tangan si anak dan bilang "nakal, bedak itu buat badan, bukan buat mainan! Ngglithis banget sih, yang anteng gitu lo.

Apakah benar si anak nakal? Tak sadarkah kita telah mematikan keingintahuan mereka, menggagalkan sinapsis-sinapsis di otak mereka untuk saling bersambungan? Dari hal kecil ini anak-anak kita justru belajar, oh ternyata aku itu harus banyak diam, tidak boleh ini dan itu, tidak boleh tanya ini dan itu, tidak boleh ingin tahu ini dan itu. Jadi siapa yang sebenarnya mencetak anak-anak yang semangat belajarnya rendah?


Di rumah dibentuk seperti itu, di sekolah kemudian bertemu dengan segudang pelajaran yang tak menyenangkan, pekerjaan rumah yang banyak, guru galak dan teman yang suka mem-bully. Wow, maka jangan kaget kalau kemudian lahirlah generasi-generasi yang memprihatinkan sekarang ini.

Mungkin untuk kita itu hal yang sederhana, namun siapa sangka ternyata bisa berdampak panjang pada kehidupan seorang anak. Maka sekarang kalau anak-anaknya tidak disiplin, tidak santun, tidak hormat, tidak jujur, tidak punya welas asih, tidak punya tepa slira, dan berbagai hal yang tidak diinginkan lainnya, jangan buru-buru mengecap bahwa itu kesalahan anak. Mari cek pola asuh dan pola didik kita sebagai orang tua dan guru, jangan-jangan kita yang membentuk mereka menjadi anak-anak yang seperti itu.


Saat banyak remaja alay serta nggak jelas karakternya mulai muncul ke permukaan dan malah menjadi role model buat anak-anak seusianya, mulailah kita para orang tua dan guru resah. Mulailah berpikir pentingnya pendidikan budi pekerti di sekolah untuk menyelamatkan generasi emas Indonesia. Tapi seperti apakah pendidikan budi pekerti yang bisa merasuk ke jiwa anak-anak? Akankah sekedar teori P4 seperti jaman kita sekolah dulu atau bagaimana?

Pelatihan akbar yang aku ikuti pada tanggal 18-20 Agustus 2016 yang lalu di Gedung Serba Guna Universitas Negeri Semarang menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat gamblang dan detil. Insya Allah aku akan coba merangkumnya ke dalam beberapa postingan terpisah, karena kalau ditulis dalam satu postingan bakal panjang kaya rel kereta. Bisa ketiduran nanti, baik yang nulis dan yang membaca, hehe.

Pada pelatihan selama tiga hari tersebut ada 13 materi yang disampaikan secara beruntun oleh pembicara-pembicara muda berwawasan luas dan energik. Mereka merupakan tim dari Indonesia Heritage Foundation. Ada Bu Ratna Megawangi yang merupakan founder dari IHF itu sendiri, Bu Flo Jusung, Bu Rahma Donna, Mbak Triyani, Kak Ariel dan Pak Halim. Tiga nama yang terakhir aku sebutkan usianya masih cukup muda, namun penguasaan terhadap materi yang mereka bawakan sangat dalam dan memukau.

Pemateri Pelatihan Akbar IHF
Adapun 13 materi yang disampaikan pada pelatihan akbar tersebut yaitu;
1. Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini, disampaikan oleh Ibu Ratna Megawangi
2. Teknik Pengaliran 9 Pilar Karakter (Pilar 1 -3), disampaikan oleh Ibu Rahma Donna
3. Bahaya Video Game Kekerasan dan Pornografi, disampaikan oleh Ibu Flo Jusung
4. Teknik Bercerita Membangun Karakter, disampaikan oleh Kak Ariel
5. Teknik Pengaliran 9 Pilar Karakter (Pilar 4 - 6), disampaikan oleh Pak Halim
6. Komunikasi Efektif untuk Membangun Karakter, disampaikan oleh Ibu Flo Jusung
7. Teknik Pengaliran 9 Pilar Karakter (Pilar 7 - 9 dan K4), disampaikan oleh Mbak Triyani
8. Prinsip Pembelajaran Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK), disampaikan oleh Ibu Rahma Donna.
9. Kreativitas Membangun Karakter (Berlatih Garis Melalui Pemainan), disampaikan oleh Kak Ariel
10. Pendekatan Saintifik pada Anak Usia Dini, disampaikan oleh Ibu Rahma Donna
11. Literasi Menumbuhkan Karakter, disampaikan oleh Ibu Flo Jusung
12. Sistem Evaluasi PHBK, disampaikan oleh Mbak Triyani
13. Training Motivasi, disampaikan oleh Pak Halim

Pada postingan kali ini kita akan fokus pada materi pertama yaitu "Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini" yang insya Allah sejalan dengan tema ODOP hari ini "Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti di Sekolahan."

Kapankah Waktu yang Tepat Untuk Memberikan Pendidikan Budi Pekerti pada Anak?


Terlalu instan kalau kita ingin membentuk anak-anak yang baik akhlaknya ketika anak sudah berusia remaja. Itulah kenapa Bu Ratna Megawangi lewat IHF-nya membuat pelatihan akbar pendidikan karakter untuk anak usia dini yang ditujukan untuk guru PAUD dan TK di seluruh Indonesia. Ya, saat yang tepat untuk membentuk karakter, menumbuhkembangkan akhlak terpuji dan mengembangkan budi pekerti pada anak adalah sejak masa-masa usia emasnya, yaitu 0 - 6 tahun (beberapa sumber juga ada yang menyebutkan 0 - 9 tahun). 

Oleh karenanya di usia itulah seharusnya anak-anak tidak difokuskan pada hal-hal yang bersifat kognitif, namun lebih kepada menumbuhkembangkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam dirinya. Para ahli menyatakan dalam pendapatnya yang berbeda-beda namun bermuara pada satu titik yang sama bahwa semuanya berawal dari usia dini.

Howard Garner, sang pakar multiple intelligences, menyampaikan; "orang paling kreatif adalah anak-anak."
Tim Utton berseloroh, "pada usia tiga tahun, anda dibentuk seumur hidup!"
Maria Montessori, pencipta sistem pendidikan Montessori, menyatakan "masa yang paling penting bagi manusia adalah enam tahun pertamanya."
Yvonne Martin berpendapat "program-program untuk mencegah kenakalan remaja harus dimulai pada usia pra sekolah."

Dari berbagai pendapat para ahli itulah maka sudah sewajarnya kalau pendidikan budi pekerti baik di sekolahan ataupun di rumah dimulai sejak dini. Perkembangan otak sebesar 95 persen terjadi sebelum anak berusia tujuh tahun, bahkan umur enam saja dianggap sudah cukup terlambat jika kita baru akan mulai membiasakan hal-hal baik. 

Untuk memfokuskan pendidikan budi pekerti pada anak, maka sudah sepantasnya tujuan pendidikan di Indonesia bukan lagi untuk mencetak anak-anak yang hafal teori ini itu, namun menghasilkan anak-anak yang mampu meng-create sesuatu. Anak-anak yang mampu menjadi kreator bertanggungjawab adalah anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, budi pekerti yang tinggi dan akhlak yang baik.

Mengenal Indonesia Heritage Foundation

Sejak aku menggelontorkan postingan yang berjudul "45 Cara Mengisi Kemerdekaan Demi Semai 2045" hingga postingan ini, aku beberapa kali menyebutkan mengenai Indonesia Heritage Foundation (IHF). Sebelum aku share lagi mengenai kelanjutan materi pertama dari pelatihan akbar pendidikan karakter untuk anak usia dini yang lalu, ada baiknya kalau kita kenalan dulu sama IHF.

IHF merupakan lembaga non profit yang didirikan sejak tahun 2000 oleh Dr. Ratna Megawangi dan suaminya Dr. Sofyan Djalil. Pasti kalau nama Pak Sofyan sering dengar ya? Hayo siapa beliau?

Pak Sofyan dan Bu Ratna
IHF ini didirikan untuk membantu masyarakat dalam menghadapi tantangan di masa depan. IHF kemudian mulai mengenalkan tentang Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) dengan membuat modul dan mengadakan pelatihan untuk guru dan seminar parenting untuk para orang tua. IHF memfokuskan untuk menyebarkan ke seluruh Indonesia tentang pentingnya menumbuhkembangkan 9 pilar karakter pada diri anak-anak Indonesia. Sekarang ini sudah ada kurang lebih 2500 sekolah yang telah bekerja sama dengan IHF.


Kombinasi antara PHBK dan penanaman 9 pilar karakter diharapkan akan membangun insan Indonesia yang berkarakter, cerdas dan kreatif. PHBK sendiri merupakan model pendidikan yang berkualitas, menyenangkan dan menantang. Lebih lanjut akan aku jabarkan di postingan selanjutnya mengenai seperti apakah PHBK itu. Btw, meskipun materi yang disampaikan di pelatihan selama tiga hari tersebut memang ditujukan untuk guru, namun jika orang tua mau belajar dan memahaminya juga akan sangat bagus dipraktekkan di rumah bersama anak-anaknya, apalagi bagi mereka yang berencana untuk memilih homeschooling.

Untuk lebih kenal dengan IHF, bisa menengok video ini:


Mencetak Generasi Unggul Abad 21

Dalam menyampaikan materinya mengenai pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini, Bu Ratna Megawangi mengangkat tema "Mencetak Generasi Unggul Abad 21".

Karakter, akhlak atau budi pekerti adalah hal yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Dirumuskan oleh beberapa ahli bahwasanya karakter adalah nasib yang menentukan nasib seluruh bangsa. Di dalam diri seorang warga negara yang berkarakter terletak kejayaan sebuah bangsa. 




Kita mungkin perlu belajar dari negara tetangga, Singapura. Pada saat awal pembangunan Singapura, Lie Kwan Gie membangun kurang lebih 450 taman kanak-kanak. Bagi yang tidak paham dengan yang dimaksudkan oleh Lie Kwan Gie pasti bertanya-tanya, ini mau membangun negara kenapa malah mendirikan TK dimana-mana?

Ternyata tujuannya membangun TK sebanyak itu adalah untuk membangun karakter generasi penerus Singapura. Seperti yang tadi disebutkan di bagian kapan saat paling tepat memulai pendidikan budi pekerti, bahwasanya tidak ada usia yang lebih tepat untuk menanamkan karakter selain ketika anak-anak masih berusia dini. Semakin muda seorang anak dibentuk karakternya, semakin mudah kelak ia akan diarahkannya menuju masa depan yang cemerlang.

Di era globalisasi dan pasar bebas sekarang ini, persaingan semakin sengit dan menantang. Siapakah yang akan menang? Tentu saja mereka yang memiliki etos kerja tinggi, tanggung jawab, kerja sama, kemandirian, jujur, amanah, toleran, hormat dan santun, kepedulian tinggi serta rendah hati. Bagaimanakah dengan Indonesia? Adakah hal-hal itu pada diri masyarakatnya?

Ternyata menurut penelitian, kualitas sumber daya manusia Indonesia jauh lebih rendah dari Vietnam! Sejak 2012-2013, Indonesia menyandang predikat sebagai negara dengan tingkat korupsi yang paling tinggi. Penelitian yang lain juga menyebutkan bahwa siswa-siswa Indonesia memiliki kualitas nalar/ berpikir yang sangat rendah, tidak bisa mencapai level advance. Artinya siswa di Indonesia sebagian besar tidak mampu mengelola informasi, menyelesaikan masalah non rutin dan menarik kesimpulan.




Yang lebih mengejutkan lagi sebuah penelitian mengenai indeks islami di berbagai negara menunjukkan bahwa Indonesia yang mayoritas beragama Islam justru nilai indeks islami-nya hanya sebesar 140. Negara dengan indeks islami tertinggi justru direbut oleh New Zealand yang notabene bukan negara berpenduduk Islam terbesar.

Negara yang memiliki indeks islami tinggi adalah negara yang memiliki respek terhadap HAM secara cukup baik, keadilan ekonomi dan sosial, kerja keras, tidak ada korupsi, setiap warga negara mendapat kesempatan dan hak yang sama dalam mengembangkan diri, serta beberapa poin lainnya. Poin-poin yang di Indonesia hampir tidak ditemukan sama sekali. 

Miris memang, Indonesia yang mayoritasnya muslim justru menampilkan tanda-tanda hancurnya sebuah negeri; semakin banyak kenakalan remaja, tidak hormat pada ortu dan guru, tidak memiliki cinta kebangsaan, anak-anak berbahasa kotor dan masih banyak lagi tandanya. Tentunya kita pun bisa merasakannya.

Oleh karena itu kini sudah saatnya kita sama-sama menyingsingkan lengan baju untuk menanamkan 9 pilar karakter dan K4  pada anak-anak - generasi penerus bangsa ini. Adapun 9 pilar karakter dan K4 tersebut adalah;


1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
2. Mandiri, disiplin dan tanggung jawab
3. Jujur, amanah dan berkata bijak
4. Hormat, santun dan pendengar yang baik
5. Dermawan, suka menolong dan kerjasama
6. Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah
7. Pemimpin yang baik dan adil
8. Baik dan rendah hati
9. Toleransi, kedamaian dan kesatuan
K4 - Kebersihan, kerapian, kesehatan dan keamanan

Mengapa Budi Pekerti Anak Indonesia Menghilang?

Seperti yang tadi sudah disampaikan di awal bahwa sejatinya anak-anak terlahir dengan fitrah yang baik, namun pola asuh dan pola didik yang salah telah merusak fitrah tersebut. Anak-anak usia dini yang seharusnya lebih diajarkan mengenai konsep kerja sama, justru mulai sudah dididik untuk berkompetisi secara individu yang kemudian malah menciptakan anak-anak yang sisi individualismenya tinggi dan enggan bekerja sama dengan orang lain.

Banyak anak pintar kok di Indonesia. Jika dinilai dengan angka dan ranking mungkin iya. Tapi ketamakan kita sebagai guru dan orang tua yang terlalu pongah menanamkan agar setiap anak menjadi THE BEST malah menciptakan anak-anak yang tidak suka berbagi, egois dan tidak suka dikritik.


Mari belajar dari Finlandia yang dinobatkan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik. Sekolah di Finlandia tidak ada nilai berupa angka. Hanya ada dua jenis nilai di negara tersebut; konsisten dan inkonsisten. Contoh; anak yang setiap hari sudah datang ke sekolah tepat waktu, sudah mau membereskan mainannya sendiri, mau membantu teman yang kesusahan maka akan mendapat nilai konsisten. Sedang anak yang sudah datang tepat waktu ke sekolah, namun belum membereskan mainan sendiri dan belum bisa bekerja sama dengan baik dengan teman-temannya, maka anak ini masih dalam tahap inkonsisten alias karakternya belum tergarap dengan sempurna.

Di Finlandia jangan tanyakan soal ranking! Sistem pendidikan di sana menyadari bahwa setiap anak itu unik dan memiliki kecerdasannya masing-masing. 

Sistem pendidikan di Indonesia yang telah berjalan puluhan tahun lah yang semakin lama menggerus budi pekerti, akhlak dan karakter anak-anak mudanya. Kita selama ini hanya fokus pada mencetak anak-anak dengan angka-angka yang tinggi, namun lupa membentuk anak-anak yang santun, jujur, hormat dan lainnya. Bahkan saat ujian diselenggarakan sudah bukan rahasia lagi ketika para guru justru mengatur tempat duduk muridnya agar yang dianggap pintar bisa berbagi jawaban dengan teman-temannya yang kurang pintar. Ada juga guru yang membocorkan jawabannya dan menyuruh anak didiknya mencontek demi lulus ujian. Betapa angka sebuah hasil ujian lebih berarti dari sebuah kejujuran!

Ketika ada yang mendobrak sistem tersebut. Seperti dua atau tiga tahun yang lalu ketika seorang anak ada yang melaporkan adanya kecurangan seperti itu di sekolahnya justru ia dan keluarganya yang kemudian di-bully, dianggap aneh dan sok suci. Sebegitu rendahkah arti kejujuran di Indonesia? Pantas saja kalau kita dipenuhi koruptor-koruptor kan? Karena ternyata kita memang dididik untuk tidak jujur sejak dulu. Tidak jujur nggak apa-apa, nanti bisa tobat, yang penting nilai raport dan ujian baik. Miris.

Anak-anak adalah penyerap ulung. Apa yang kita ajarkan akan terserap dengan sempurna oleh mereka, apalagi anak-anak usia dini. Maka berhati-hatilah wahai para orang tua dan guru, bagaimana cara kita mengasuh dan mendidiknya berpengaruh hingga ke masa tua mereka.

Anak-anak jaman sekarang mulai kehilangan budi pekerti karena jiwanya tidak sehat, nurani tumpul, empati tidak berkembang, kesulitan mengontrol emosi negatif - cenderung reaktif dan impulsif, sifat hewani/ reptil lebih dominan.

Mungkin sebagian dari kita akan mengelak, anak-anakku belajar moral dengan baik kok, kami juga mengajarkan agama sejak dini. Kembali lagi pada pertanyaan di awal. Apakah pendidikan budi pekerti hanya sekedar pendidikan teori semacam saat kita dijejali P4 dulu kala?


Pengetahuan tentang moral dan agama sebanyak apapun tidak dapat menjadikan manusia berakhlak mulia dan berbudi pekerti tinggi jika ia tidak memahami pengetahuan tersebut dengan sebenar-benarnya. 

Mungkin saja kita sudah melatih anak kita untuk sholat dan mengaji sejak kecil, patuh pada orang tua dan mengajaknya berbagi dengan sesama. Namun jika yang kita ajarkan hanyalah teori mengenai keterampilan beragama dan bermoral baik, karakter dan budi pekerti yang kita inginkan lahir pada diri anak tidak akan pernah ada. Apalagi jika kita mengajarkan sholat dan ngaji dengan cara, misal, seperti ini; "ayo sholat dan ngaji nanti ibu kasih hadiah" atau "ayo sholat dan ngaji nanti ayah marah lo." Maka yang tertanam dalam diri anak sholat dan ngaji bukan kebutuhan hidup, namun sholat dan ngaji dilakukan untuk menyenangkan orang tua, untuk mendapat reward atau agar tidak dimarahi oleh orang tua.

Begitu juga ketika kita mengajarkan tentang kejujuran. Berkali-kali kita bilang pada anak kita bahwasanya jadi anak itu harus jujur. Namun pada prakteknya justru berkebalikan dengan apa yang kita ajarkan. Misal, anak tanpa sengaja memecahkan gelas. Ia pun mencari kita dan jujur berkata "bunda, maaf aku memecahkan gelas." Sebagian besar dari diri kita bukan merespon kebaikannya karena berkata jujur, malah justru fokus pada keburukannya, "Sudah dibilangin kan jangan minum pakai gelas, pakai cangkir saja. Anak diajak ngomong kok susah.

Apa yang anak kemudian pelajari? Ternyata jujur itu menyakitkan. Jujur itu tidak enak. Jujur itu buat orang tuaku marah. Ah, besok-besok aku nggak jujur lagi deh. 

Hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari dalam pola asuh dan pola didik anak inilah perlahan telah mengikis fitrah anak. 93 persen anak-anak pernah mengalami tindak kekerasan baik di rumah dan sekolah. Di rumah sedikit-sedikit dilarang dan dimarahi, dicap nakal dan dimatikan ingin tahunya, di sekolah dijejali dengan pelajaran dan PR yang tak ada habisnya. 

Kunci keberhasilan penyiapan sumber daya manusia adalah pendidikan usia dini yang berkualitas. PAUD dan TK yang tidak berkualitas justru menghambat perkembangan anak. Hal ini sangat berbahaya karena akan terbawa hingga dewasa. Sekolah dengan kualitas program pendidikan yang baik akan meningkatkan perkembangan kesehatan anak, baik fisik dan psikis, serta mendukung tercipatnya masa depan yang gemilang.


Anak-anak usia dini otaknya masih konkret dan masih berjalan di alam bawah sadar pada gelombang tetra dan delta, maka harus banyak bermain dan belajar dengan cara-cara yang fun. Yaitu cara-cara yang lebih fokus pada mengembangkan imajinasi yang kreatif. Jika usia dini sudah dipaksa belajar calistung dengan cara yang membosankan dan tidak berlandaskan ilmu tahapan perkembangan anak, maka anak-anak bisa stres dan tumbuh menjadi generasi yang malas belajar. Karena calistung sendiri merupakan salah satu bagian yang bisa diajarkan ketika otak anak-anak sudah masuk pada gelombang beta, yaitu ketika anak-anak sudah masuk fase abstrak - mulai usia tujuh tahun.

Sekolah merupakan kata yang diambil dari istilah Yunani, Scholea, yang artinya tempat bersenang-senang. Maka ciri-ciri sekolah yang baik antara lain yaitu anak selalu merasa gembira, tidak mau cepat pulang, hari libur tetap ingin sekolah dan selalu merindukan gurunya. Nah, bagaimana dengan sekolah anak-anak kita? Sudahkah mencirikan hal-hal tersebut?

Itulah kenapa kemudian Bu Ratna Megawangi melalui IHF mengembangkan model pembelajaran Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK), yaitu sebuah model yang iklim pembelajarannya ramah jantung dan otak agar hormon-hormon cinta kerap diproduksi.


Ketika seorang anak di rumah dan di sekolah distimulasi secara positif maka emosi positf akan keluar. Emosi positif akan keluar jika lingkungan belajar anak-anak mendukung karakter dan budi pekerti tumbuh dengan baik. Dimulai dari guru-guru yang menyambut ramah kedatangan muridnya, guru-guru yang mampu menyediakan sesi curhat untuk murid-muridnya, guru-guru yang bersedia mendengarkan murid-muridnya, guru-guru yang penuh cinta. 

Begitu juga dengan orang tua. Pendidikan budi pekerti di sekolah tidak akan ada maknanya ketika di rumah anak-anak bertemu dengan orang tua yang selalu membawa emosi negatif. Maka dibutuhkan kerja sama yang erat antara orang tua dan guru agar visi misi sejalan dalam membentuk insan-insan yang cerdas, berkarakter dan kreatif.

Anak-anak yang tumbuh dengan emosi positif akan memproduksi hormon oksitosin, endorphin, serotonin dan dopamin yang bisa membentuk cortex-nya dengan baik. Jika cortex terbentuk dengan baik maka akan menghasilkan jiwa-jiwa yang gembira, sabar, perhatian kepada orang lain dan penuh cinta kasih. 

Budi pekerti dan karakter anak tidak muncul karena tidak terpenuhinya kebutuhan untuk dicintai dan disayangi. Akibatnya merusak otak anak-anak yang sedang berkembang dengan pesat. Inti dari pendidikan karakter dan budi pekerti sebenarnya sangat sederhana, yaitu berikanlah emosi positif kepada anak-anak kita.




***

Untuk teman-teman yang kebetulan mengajar PAUD, TK ataupun Kader Pos PAUD, IHF masih menggelar beberapa pelatihan serupa di tempat-tempat di bawah ini. Bagi yang berminat bisa langsung hubungi nomor yang tersedia. Silakan dibagikan informasi ini agar Generasi Emas kita semakin banyak yang terselamatkan. Semoga bermanfaat.





9 comments:

  1. Saya termasuk ibu yang lebih mengutamakan pendidikan karakter ketimbang kemampuan kognitif, mbak. Hanya terkadang, ketika anak saya bersama sepupu seumuran yang sudah hafal warna-warna dalam bahasa inggris, bisa nulis, mewarnai dsb, saya harus menjadi ibu yang bisa menguatkan mentalnya karena anak saya belum bisa seperti mereka. Tapi alhamdulillah, dia jadi anak yang kuat mental ketika bersama temannya. Mereka bisa begini, dia malah pede tunjukin hal lain. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip mbak. Semoga kita bisa terus istiqomah menjaga karakter anak-anak kita ya. Semangat!

      Delete
  2. Keren bgt one day one post bs nulis sepanjang ini.. bener bgt y mba anak itu terlahir sdh dgn disiplin. Jd merasa bersalah klo akhirnya anak jd tdk disiplin ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, tapi merasa bersalah saja malah bikin masalah nggak selesai. Harus bergegas memperbaikinya :)

      Hihi ini kalau bukan karena pas ada materi yang pengen di share juga belum tentu sepanjang ini nulis ODOP nya :)

      Delete
  3. Lho, koq komentar bunda gak muncul? Oke, bikin sekali lagi deh. Postingannya berbobot banget, Marita, layak untuk dibaca ulang. Bunda membuat pontingan tentang tema ini hanya sejaauh pandangan bunda aja. Mampir ya ke blog bunda. Salut untuk postingan yang panjang seperti ini dan pastinya Google Friendly. Andai ada lomba lomba penulisan, bunda berani guarantee tulisan Marita akan keluar sebagai Jawaraanya. Saluuut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih bunda. Sudah meninggalkan jejak di "rumah" Bunda Yati ya. Alhamdulillah kalau postingannya dianggap berbobot :) Kalau tidak dikombinasikan dengan materi yang baru saja saya dapat dari pelatihan belum tentu saya juga bisa menulis sepanjang ini kok :)

      Wah, aamiin. Semoga beberapa lomba yang saya ikuti bisa lolos ya... hihi :) Pengen punya HP atau laptop baru nih :D

      Delete
  4. suami ku smpt ngerasain sekolah di Finland waktu mertua masih aktif jd diplomat di sana.. dan memang dia bilang, sistem sekolah di finland itu beda banget mbak.. di sana diajarin gimana supaya anak2 aktif mau bertanya, berani angkat tangan, berani speak up, bukan cuma ngejar nilai.. trs anak2 didorong utk aktif olahraga, disediain fasilitas lengkap, guru yg kompeten utk ngajarin.. kalo di sinikan ekskul mah di luar sekolah, kdg harus nyari sendiri gurunya ... makanya pas dia balik ke Indo, agak shock ama sistem sekolahnya yg sgt menitikberatin ama nilai nilai dan nilai...

    kalo udh gini, aku jg pgn nyekolahin anak keluar aja, tp apa daya financial blm sekuat itu :D.. makanya mau ga mau, memang hrs dr kitanya sbg ortu yg kasih fondasi kuat ke anak supaya kecerdasan emotionalnya bisa seimbang.. aku sndiri ga mau kyk orang tua jaman dulu mbak, yg slalu desak anak supaya jago ini, jago itu, semua pelajaran hrs minimal 8.. Ga bakal lah sprti itu..

    yg ptg anakku tau cara bersosialisasi, tau ttg disiplin, tau arti kata mengantri, tau ttg buang sampah di tempatnya, berbagi dgn org yg ga mampu.. kalo itu aja bisa dia inget selalu, aku ga bakal takut ngelepas dia kelak.. kalo soal akademis, aku lbh milih, kuasai 1 bidang, dan berprestasi di situ.. drpd tau banyak pelajaran tp semuanya so-so :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mbak, Finland memang paling the best kalau soal education systemnya. Tapi sekarang di Indonesia juga udah banyak bermunculan sekolah-sekolah yang berkiblat dengan sistem yang dipake Finland kok mbak, kita aja yang harus pinter-pinter milih :)

      Sekolah anakku alhamdulillah juga berkiblat dengan sistem Finland tapi dikombine dengan pendidikan Islami karena memang sekolah Alam Islam. Jadi ya nggak ada angka-angka, nggak ada ranking, anak pake baju bebas, kegiatannya banyak di alam dan langsung praktek. Sejak TK sudah diajari berani speak up dan tampil di depan umum.

      Memang tidak ada sekolah yang sempurna, setidaknya sekolah dan ortu harus sevisi misi jadi ngarahin anak jauh lebih gampang :)

      Delete
  5. Budi pekerti merupakan akhlak yang harus dimiliki oleh semua orang. APalagi budi anak zaman sekarang mulai menipis.

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.