Belajar jadi Traveler Blogger bersama Eyang Putri

  • Monday, October 22, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 1 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Apa kabar, pals? Hari ini di Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang yang aku diamanahi menjadi penanggungjawabnya sedang mengadakan challenge “10 Days Challenge: Wanita dan Pena. Challenge ini diadakan setelah mendengar jejak pendapat dari para member Rumbel Literasi Media yang merasa bahwa skill menulis mereka bisa semakin terasah dengan adanya tantangan. Kalau nggak ditantang, suka lupa nulis.

Baiklaaaaah, demi mengawal teman-teman semangat blogging dan menantang diri sendiri biar kembali rutin update postingan, maka dibuatlah tantangan 10 hari ini. Eh, berasa kaya di kelas Bunda Sayang aja…

Daaan… baru hari pertama aku udah kalah telak euy sama teman-teman. Alhamdulillah, senang lah dengan antusiasme teman-teman mengikuti challenge, semoga bertahan hingga hari kesepuluh dan terus membara selamanya.. aaamiiin.



Fyi, Wanita dan Pena sendiri adalah judul antologi kisah inspiratif yang sedang digodog oleh Rumbel Literasi Media IP Semarang. Jika sesuai rencana insya Allah buu ini sudah bisa berada di tangan teman-teman semua pada bulan Desember. Tentang apa dan seperti apa, kapan-kapan aku jelaskan lebih detail ya :)

Day 1: Masa Kecil

“Pantesan pinter eyangnya guru, ibunya guru, bulik dan omnya guru juga..” Tidak sekali dua kali aku mendengar kalimat itu diucapkan oleh beberapa orang yang bertemu denganku. Padahal aku juga nggak merasa pintar, wong dari SD sampai SMA nggak pernah tuh dapat ranking 1. Memangnya harus ranking buat jadi anak pintar, ya? Kalau anak zaman now ranking dan nilai sudah bukan acuan ya, tapi anak zaman old ranking itu selalu jadi pertanyaan pertama kalau habis terima raport.

Well, saat ini aku sedang tidak akan bicara tentang raport, angka dan segala pritilannya. Ada satu kisah di masa kecil yang masih teringat hingga sekarang. Kenangan bersama eyang putri yang meski guru SD negeri zaman old tapi teknik mengajarnya sudah out of the box. Baru aku sadari sekarang dari beliau aku belajar mencatat sebuah reportase perjalanan, menuliskan review sebuah tempat atau bahasa kerennya sekarang belajar menjadi traveler blogger. Meski sampai sekarang aku masih belum berhasil jadi traveler blogger, la wong jalan-jalannya baru seputar dari rumah ke ***mart aja, hihi.

Setiap kali liburan sekolah tiba, seperti halnya anak-anak lainnya, ibu akan memboyongku berkunjung ke rumah eyang. Yangti (eyang putri) sudah menyiapkan banyak rencana untuk liburan cucu-cucunya. Dijamin liburan tidak akan pernah membosankan bersama beliau. Hmm, entah buat cucu-cucu yang lain, tapi buatku kegiatan yang beliau rancang selalu menarik dan membuat mataku berbinar. Mungkin karena aku satu-satunya cucu yang tinggal beda kota dengan eyang, jadi kangennya lebih terasa. Mungkin juga karena darah explorer-ku lebih tinggi dibanding cucu yang lain, hmm nggak juga sih, sepupuku ada yang beneran jadi backpacker traveler kok sekarang, hehe.



Di salah satu liburan sekolah, Yangti memboyong cucu-cucunya untuk mengunjung beberapa tempat wisata di Semarang. Seingatku dulu ada dua tempat yang pernah aku kunjungi bersama Yangti; Taman Mini Jawa Tengah Maerokoco dan Gedung Batu. Saat itu Maerokoco masih baru diresmikan, jadi cukup ramai dan setiap anjungan masih banyak penjaganya. Hanya saja aku lupa apakah pergi di hari yang sama atau berbeda. Maklum ingatannya mulai berkarat karena sudah puluhan tahun yang lalu, duh berasa tua bangeeet.

Sebelum berangkat menuju lokasi wisata, Yangti membawakan satu buku tulis dan bolpoin kepada cucu-cucunya. Buat apa ya, pikirku dan sepupu saat itu. Namun kami membiarkan pertanyaan itu tenggelam dalam rasa bahagia karena mau piknik bersama. Sesampainya di Maerokoco, Yangti mengajak kami masuk dari satu anjungan ke anjungan yang lain. Tidak ada anjungan yang terlewatkan. Baru kusadari saat itu Yangti benar-benar melecutkan fitrah belajar dan rasa ingin tahu cucu-cucunya. Beliau beri kesempatan kami bertanya pada penjaga anjungan tentang apa saja yang ingin kami ketahui berkaitan dengan daerah tersebut. Tidak lupa Yangti berpesan, “catat apa yang menarik untukmu.”

Tak terasa anjungan demi anjungan pun terlewati. Yangti mengajak kami mencari tempat untuk bersantai sambil menikmati lalu lalang para pengunjung. Sembari menikmati bekal yang kami bawa dari rumah, Yangti bertanya apa saja yang berhasil kami catat dan apa yang paling menarik bagi kami. Tidak lupa Yangti memberikan pertanyaan khas cerdas cermat berkaitan dengan kota-kota yang ada di Jawa Tengah. Pengalaman ini benar-benar memberikan inspirasi buatku dalam mengasuh anak-anak. Nanti saat Ifaffan sudah mulai bisa menulis, perlu diterapkan nih trik dari Yangti; mengikat kenangan dalam catatan.



Keseruan liburan itu tidak berhenti di situ. Sesampainya di rumah Yangti masih meminta kami menuliskan reportase dari poin-poin menarik yang berhasil kami catat saat mengunjungi Maerokoco dan Gedung Batu. Setelah tulisan kami jadi, Yangti akan mengecek dengan detil. Apakah huruf besarnya benar, titik komanya tepat, penyusunan kalimat dan pemilihan katanya benar. Ya, sedetail itu. Lalu beliau akan meminta kami membacakan cerita kami layaknya sedang ada di depan kelas. Tidak boleh asal baca, suara harus lantang dan intonasi harus tepat.

Membosankan mungkin untuk beberapa orang, namun buatku masa-masa itu sangat menyenangkan. Ketika liburan telah usai dan seperti biasa guru akan meminta kami menceritakan tentang aktivitas saat liburan, aku tak lagi bingung harus menulis apa karena Yangti telah memberikan bekal kepadaku. Jadi ketika tiba pelajaran bahasa Indonesia, karanganku tentang liburan dinilai paling runtut dan baik, hal itu tidak terjadi secara instan. Ya, sebelumnya tulisanku telah mengalami proses editing bersama Yangti, hehe.

Saat itu mana aku tahu kalau pengalaman itu ternyata akan membawaku bertemu dengan passion dan profesi yang kugeluti sekarang. Baru aku sadar sekarang, Yangti telah menggiringku untuk berteman dengan dunia kata sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku harap jika beliau bisa mengintip dari alam yang ditempatinya sekarang, beliau bisa sedikit bangga pada cucunya yang satu ini. Seandainya beliau masih ada, i'm sure that she would be the first reader for my books! Jadi kangen euy… Daripada mellow, pamit dulu ya, pals. Sampai jumpa di tema berikutnya!


Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Belajar jadi Traveler Blogger bersama Eyang Putri. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

1 comments

  1. Semoga kedepannya semakin sukses ya kak :)
    Pasti eyangnya bangga deh.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com