Merekam Jejak Kehidupan Lewat Aksara

  • Thursday, October 25, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 2 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Mengapa sih harus menulis? Kok bisa sih menulis sedemikian runtut? Kapan waktu menulis yang tepat? Pengen sih bisa mengikat ilmu dengan menulis, tapi susah gitu, gimana ya biar menulis jadi lancar? 

Beberapa pertanyaan yang sering kali disodorkan kepadaku. Lewat postingan ini aku akan berusaha menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

Aku mulai dulu dengan pertanyaan yang ini deh, kapan waktu menulis yang tepat? Aku rasa setiap orang punya kandang waktunya masing-masing ya. Kalau aku sih menulis bisa kapan saja, biasanya ketika ada ide spontan, aku lebih suka menuliskannya lewat status facebook atau WA story. Namun jika menulis untuk blogging atau proyek antologi, aku lebih suka menulis saat malam hari karena lebih tenang. Anak-anak dan suami sudah terbuai mimpi, dan aku bisa fokus menyelesaikan tulisanku. Kecuali jika ada kerjaan yang mepet deadline dan harus selesai dalam waktu cepat, aku akan minta ijin ke anak untuk membuka laptop sebentar karena ada kerjaan. Pokoknya, family comes first.

Kok bisa sih menulis sedemikian runtut? Kalau secara teori, penulis yang baik seharusnya punya mind mapping apa-apa saja yang akan dituliskan. Tujuannya agar tulisannya tidak melebar ke mana-mana. Dan jujur aku sampai detik ini masih sering belum berhasil memakai metode mind mapping. Biasanya sih aku hanya memilih tema tulisan lalu ku break down menjadi sub-sub tema yang akan aku bahas. Itu saja terkadang yang awalnya hanya berisi tiga sub tema, bisa mengembang jadi lima atau enam sub tema pada saat proses menulis, hehe. Jadi sebenarnya aku lebih sering nulis secara random dan spontan sih. 

Kalau dihubungkan dengan pertanyaan selanjutnya, pengen sih bisa mengikat ilmu dengan menulis, tapi susah gitu, gimana ya biar menulis jadi lancar? Kalau menurutku sih semakin banyak kita membaca, semakin kita akan kaya kosa kata dan semakin banyak kita berlatih menulis, semakin kita akan lancar mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran. Singkatnya, semua butuh jam terbang, termasuk juga soal menulis.



Saat awal-awal menjadi penulis konten, menulis 500 kata berbahasa Inggris dengan keyword yang ditentukan bisa menghabis 30-60 menit. Namun perlahan hanya membutuhkan 15-20 menit. Apalagi menulis bahasa Indonesia dengan tema yang memang dipilih sendiri, 30 menit bisa jadi menghasilkan 800 - 1000 kata. 

Selain jam terbang, tema tulisan pun bisa mempengaruhi seberapa lancar kita mengungkapkannya. Jika tema itu sudah sangat kita kuasai, pasti tidak butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Namun jika kita perlu melakukan riset dulu akan sebuah tema yang disodorkan, bisa jadi seharian juga nggak kelar. 

Berlatih dan mengikuti kelas-kelas menulis adalah cara yang tepat untuk membeli jam terbang. Apalagi sekarang kelas menulis online sudah banyak bertebaran dengan segala tantangan yang diberikan, jadi sebenarnya tidak ada lagi alasan mengkambinghitamkan “tidak punya bakat” dalam hal ini.

Menulis itu skill, maka semakin diasah akan semakin mumpuni. Mungkin yang membedakan antara orang A dengan B, C dan Z adalah passionate. Ya, seberapa passion kita sama dunia menulis. Apakah saat menulis mata kita tak pernah henti berbinar, waktu terasa berjalan begitu cepat dan selalu saja masih kurang, selalu nagih untuk terus menulis lagi dan lagi? Setiap kali menemukan ide yang mampir ke otak, jari-jemari rasanya tak lagi bisa dibendung untuk segera mengalirkannya dalam rangkaian kata?

Dan itu yang aku rasakan. Menulis membuatku energiku selalu terbarukan. Saat berhenti menulis, saat itu juga bateraiku rasanya butuh dicharge. Nah, jika teman-teman mungkin tidak merasakan hal yang sama, nggak masalah. Bisa dimulai dengan melurukan niat. Untuk apa kita ingin menulis?

Untuk mengikat ilmu… sebuah niat yang baik. Benar adanya ilmu akan cepat lepas ketika kita hanya mengandalkan ingatan. Namun ketika kita menuliskan apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasa lalu kita bagikan kepada pembaca, efeknya akan jauh lebih dahsyat. Bisa jadi bukan lagi sekedar mengikat ilmu, kita bahkan bisa mendapat wawasan-wawasan lain setelahnya.

Passion yang tidak ditempatkan sesuai porsinya bisa jadi sangat membahayakan, kadang suka menerobos jalur. Maka meluruskan niat adalah cara untuk mengembalikan passion kepada jalur yang benar. Penulis banyaaaak, dan semua orang bisa menjadi penulis. Namun beranikah kita menjadi penulis yang bisa menyampaikan kebenaran, meski bisa jadi tulisan kita akan dicemooh oleh banyak orang? Beranikah kita menjadi penulis yang tidak sekedar mengejar job-job review bernilai sekian rupiah? 

Tentunya untuk meluruskan niat butuh effort yang luar biasa. Konsisten adalah hal yang selalu aku ulang-ulang kepada diriku sendiri. Mau sukses menjadi penulis namun masih sering tidak konsisten dengan gerbong impian yang sudah aku susun sendiri. Maka ketika inkonsistensi mulai kembali datang, aku akan menyodorkan pertanyaan “mengapa menulis?” kepada diri sendiri.

Lalu aku kembali ingat bahwa aku ingin menulis untuk merekam jejak kehidupan. Saat aku kembali mengaktifkan blog ini, aku ingin menulis hal-hal yang lebih personal. Hal-hal yang mungkin ketika orang membacanya akan merasa “aku juga pernah mengalami hal ini,” atau “ah aku sedang mengalaminya.” Merasa ada rekan yang senasib sepenanggungan itu kan hal luar biasa, sesuatu yang kadang kita cari agar tak merasa sendiri menjalani pahit manis kehidupan.

Begitu juga ketika aku kembali mengikuti beberapa proyek antologi. Aku berharap untuk tidak sekedar berbagi kisah, namun juga berbagi semangat kepada para pembaca. Bahwa hidup tidak selamanya manis, namun harus tetap optimis.




Selain berkutat dengan ‘keakuanku’, aku pun menulis untuk mewariskan kisah dan kenangan kepada anak-anakku. Entah sampai kapan aku ada di dunia ini membersamai mereka. Lewat tulisan-tulisanku aku berharap mereka bisa mengenal dan mengenangku. Itulah kenapa aku telah menyiapkan dua blog khusus untuk Ifaffan. Tiap anak kusiapkan masing-masing satu blog. Impiannya aku mencatat detil rekam jejak tumbuh kembang mereka di blog tersebut. Lalu suatu saat ketika usia mereka sudah cukup, akan kuserahkan blog tersebut untuk mereka teruskan. Mereka yang akan melanjutkan catatan kehidupan mereka.

Sayangnya inkonsistensi menghadang, dua blog yang kusiapkan untuk Ifa dan Affan mangkrak. Hingga akhirnya aku membuat satu blog lagi khusus untuk mereka berdua. Jejak Pengasuhan begitu aku menyebutnya. Kudedikasikan sebagai tempat mencatat porfofolio dan segala hal tentang kisah-kisah mereka.



Pena untuk wanita bagaikan pedang untuk pendekar. Ia bisa saja mematikan, namun bisa juga membawa manfaat di saat dan di tangan yang tepat. Maka, angkatlah penamu untuk menebarkan kebaikan!

 Salam literasi.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Merekam Jejak Kehidupan Lewat Aksara. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

2 comments

  1. Sangat menginspirasi sekali mbak :)

    ReplyDelete
  2. Assalammualaikum mbak, tulisannya menginspirasi banget. :)

    terimakasih untuk ilmunya mbak.
    Jika berkenan mampir dan beri masukan untuk blogku ya mba.. :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com