Sekantong Kisah untuk Si Penyejuk Hati

  • Monday, October 08, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sebulan yang lalu aku gagal menyelesaikan tantangan 10 hari di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, level 10 yang mengangkat tema mendongeng. Konsentrasi yang terpecah karena harus mengemban amanah sebagai fasilitator di kelas matrikulasi seharusnya tidak boleh menjadi alasan. Apalagi mengikuti kelas Bunda Sayang kan sudah lebih dulu menjadi rutinitasku setahun terakhir, masa harus terkalahkan dengan amanah baru?

Kalah Sebelum Bertanding


Di akhir sesi level 10 tersebut, ada informasi yang hadir dari mbak Farda sebagai fasilitator kelasku. Informasi tersebut sangat mengagetkan hampir seluruh kelas, bagaikan petir menyambar di siang bolong padahal tiada hujan badai. Informasi itu menyebutkan jika mahasiswi yang tidak mengerjakan tantangan 10 hari di level 10, 11 dan 12 otomatis tidak akan lulus Bunda Sayang. Deg. Qodarullah di level itu hampir separuh yang tidak menyelesaikan tantangan. Riuh rendah suara protes dan konfirmasi menggaung di kelas, karena sebagian besar mahasiswi merasa belum pernah menerima info tersebut sebelumnya. Yang kami tahu, jika tiga kali level berturut-turut tidak menyetorkan tantangan 10 hari, maka sudah dipastikan tidak lulus. Alhamdulillah setelah dikroscek, syarat tersebut belum akan dijalankan di angkatn kami. Kami yang baru bolong setor tantangan 10 hari di level 10 masih bisa berkesempatan lulus.

Namun pengalaman itu menamparku, betapa selama ini aku masih menyepelekan tantangan 10 hari sebagai sekedar sebuah tugas. Bukan pembiasaan yang harus diteruskan meski periode tantangan telah usai. Tantangan di level 10 memang sangat memeras otak dan membutuhkan konsistensi. Kami diminta mendongeng untuk anak kami. Jujur itu tak mudah buatku. Aku biasa membacakan cerita dari buku untuk Ifa dan Affan. Namun mendongeng kreatif dan spontan benar-benar membuatku mati kutu.

Aku bukannya tidak mencoba. Di hari pertama tantangan aku mencoba mendongeng untuk Ifa dengan mengangkat tema tentang kunang-kunang. Baru juga sampai di pembukaan cerita, Ifa sudah memberondongku dengan banyak pertanyaan, sedang aku belum menyiapkan pelambung jawaban untuk membuatku tetap tenang di lautan pertanyaan tersebut. Akhirnya setelah kebingungan menjawab pertanyaan demi pertanyaan Ifa tersebut, cerita yang kususun pun melayang dan aku gagal menyelesaikan dongeng tersebut. “Kita tidur aja yuk, kak. Bunda lupa mau cerita apa.” Kataku saat itu yang membuatku ditertawakan Ifa berulangkali. “Aneh kok Bunda, katanya mau cerita malah lupa ki piye to ya..” Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya.

Finally, kegagalan di hari pertama itu terus mengular hingga hari-hari berikutnya. Jika di level-levelnya aku seringkali rapelan laporan tantangan 10 hari di detik-detik terakhir, di level 10 ini sungguh tidak memungkinkan buatku melakukan rapelan karena benar-benar no idea sama sekali. Maka aku mengikhlaskan diri untuk bolong setoran di level 10. Rasanya bolong setoran buatku itu seperti melihat Kartu Hasil Studi di mana semua mata kuliah nilainya A dan B, dan ada satu mata kuliah yang nilainya E. Nyesek banget nget nget.

Datangnya Kesempatan Kedua




Setelah penyesalan yang hadir tersebut, Allah tiba-tiba menyodorkan penawar luka untukku. Semacam kesempatan kedua untukku, tentunya dalam wujud yang berbeda. Aku mendapat info ada proyek dari Pejuang Literasi yang bertajuk #15HariBundaBerkisah. Dalam proyek ini para ibu diminta menceritakan proses berkisah pada anak-anaknya. Berkisah? Berbedakah dengan mendongeng? Aku pernah mengulasnya dalam sebuah postingan khusus tentang hal tersebut, mau tahu?


Namun di proyek ini, berkisah yang dimaksud belum mengkerucut seperti yang aku tuliskan dalam postingan di atas. Berkisah yang diminta di proyek ini maksudnya yaitu “bercerita” secara umum sesuai yang termaktub di web KBBI berikut ini:

kisah/ki·sah/ n cerita tentang kejadian (riwayat dan sebagainya) dalam kehidupan seseorang dan sebagainya; kejadian (riwayat dan sebagainya);
berkisah/ber·ki·sah/ v bercerita tentang: ia ~ tentang pelariannya dari sarang penculiknya;
mengisahkan/me·ngi·sah·kan/ v menceritakan suatu kejadian (riwayat dan sebagainya); meriwayatkan: ia sedang ~ bagaimana mencapai gelar kesarjanaannya;

           Sumber: https://kbbi.web.id/kisah

Dalam proyek ini kami tidak harus menceritakan berdasarkan sesuatu kisah yang nyata, namun bisa menceritakan dongeng fiksi yang tentu saja memiliki hikmah untuk anak-anak.

Saat pertama kali mendengar proyek ini, aku maju mundur cantik untuk mengikutinya. Apakah aku mampu melakukannya mengingat tantangan 10 hari mendongeng saja aku gagal. Namun karena merasa ini kesempatan kedua yang diberikan Allah kepadaku untuk kembali membiasakan bercerita kepada Ifa dan Affan, akhirnya bismillah aku pun nekat mengikuti proyek tersebut.

Setelah masuk ke grup whatsapp khusus, aku pun mendapat informasi tentang peraturan proyek tersebut. Ternyata kami diminta menuliskan kisah kami kepada anak-anak selama 15 hari berturut-turut dengan tema yang ditentukan. Aku langsung berbinar saat tahu bahwa temanya ditentukan. Alhamdulillah, menurutku ini lebih mudah dibanding aku harus memikirkan ceritanya dari awal. Insya Allah aku bisa, pikirku saat itu. Kisah-kisah tersebut boleh di - posting di instagram, blog ataupun facebook.

Aku sendiri memilih menceritakan proses #15HariBundaBerkisah - ku di instagram. Jadi yang mau membaca lengkapnya seperti apa kisah-kisahku bersama Ifa dan Affan, silakan meluncur ke akun instagramku ya. Kenapa aku memilih instagram? Karena aku bisa posting lebih cepat lewat handphone, you know lah pals, aku masih belum terbiasa ngeblog pakai handphone. Dan lagi aku sedang belajar untuk menulis cerita yang pendek, tahu sendiri kalau nulis di blog aku suka susah mengerem kata-kata untuk stop di 300 kata saja, hehe.

Sekantong Kisahku untuk IfAffan


Setelah mendapatkan tema, setiap malam aku selalu berkisah pada Ifa. Tepatnya sih ngobrol dengannya. Di awal proyek aku bercerita pada Ifa, “Kak, Bunda punya tugas nih. Tugasnya bercerita sama Kakak. Tiap hari ada temanya. Kakak bantu Bunda ya?” Ternyata tanpa diduga, Ifa sangat excited mendengar aku memiliki tugas yang harus kami kerjakan bersama. Setiap malam ia pasti akan bertanya, “tema hari ini apa Bun?”

Hari pertama, tema yang ditentukan adalah rumah. Hasil ngobrol bersama Ifa tentang pandanganya tentang rumah membuatku bisa runtut menceritakan kisah hari pertama. Ya, sebagaimana anak-anak lainnya, Ifa selalu terkesima jika melihat rumah yang lebih besar dan bertingkat. Ia lalu berandai-andai kalau saja kami memiliki rumah seperti itu. Tidak ada yang salah dengan keinginannya, namun aku mencoba meluruskan agar ia tak hanya melihat rumah sebagai sebuah benda material, namun juga sebuah tempat hunian yang nyaman. Dan hunian yang nyaman tidak harus selalu berupa bangunan yang besar, luas, fasilitas lengkap namun kosong di dalamnya.

Aku ajak Ifa melihat sekelilingnya, ada tetangga-tetangga kami yang rumahnya besar, namun anak-anaknya tidak pernah betah di dalam rumah. Ifa menyimpulkan sendiri bahwa anak-anak itu tidak betah di rumah karena orangtuanya bekerja sampai sore sehingga mereka di rumah sendirian, lalu saat malam orangtuanya asyik menonton TV dan anaknya dibiarkan main di luar rumah. Aku lalu bertanya padanya, “Ifa mau seperti itu, rumahnya besar tapi ayah bunda kerja sampai malam dan ketika di rumah nggak main sama anak-anaknya?” Ifa menggeleng. “Nggak mau, aku suka ayah bunda main denganku.”

Namun ternyata pendapatnya belum usai. Kata Ifa, “tapi aku lebih suka kalau ayah bunda main denganku dan rumah kita juga jauh lebih luas sih.” Wah, keukeuh kan si Ifa. Baiklah anggap saja permintaan Ifa untuk memiliki sebuah rumah yang lebih besar menjadi sebuah doa. Namun yang paling menyentil di sesi ngobrol kami dengan tema rumah ini yaitu ketika Ifa bilang, “makanya to Bun, kalau di rumah jangan kebanyakan megang HP. Kalau aku sudah pulang sekolah, main sama aku. Jadi aku betah di rumah.” Duh nak, jleb sangat kata-katamu meluluhlantakkan hati bunda.

Begitu juga di tema-tema berikutnya, kisah yang aku ceritakan di instagram berdasarkan obrolan-obrolan sederhanaku dengan Ifa. Hari kedua bertema tentang hujan dan aku menceritakan bagaimana Ifa saat menanggapi hujan dan mengajaknya mengenal manfaat hujan. Di hari ketiga aku mendapat tema bintang, aku mengajak Ifa untuk lebih percaya diri dengan kemampuannya dengan menceritakan padanya bahwa semua anak itu adalah bintang. Semua anak itu unik dan punya kelebihannya masing-masing, Ifa harus percaya diri dengan kemampuan dan kelebihan yang Allah titipkan padanya.

Hari keempat ketika tema marah diberikan, aku mengangkat kondisi yang selalu kami temui tiap pagi, di mana tetangga depan rumah ada yang selalu marah dengan berteriak-teriak. Sunguh sangat mengganggu. Ifa menyadari bahwa itu hal yang tak santun. Namun seringkali efek mendengar orang marah-marah, tanpa sadar perbuatan negatif itu menular. Saat Ifa tanpa sadar perbuatan yang tak sopan tersebut, kami lalu saling mengingatkan dengan membacakan hadits la taghdob wa lakal jannah. Jangan marah bagimu surga.

Tema batu di hari kelima menjadi momen yang tepat untukku menasehati Ifa tentang pentingnya untuk tidak menahan-nahan buang air kecil. Ya, Ifa memiliki hobi yang sama denganku; suka menahan buang air kecil. Bedanya aku punya pengalaman buruk tentang hal tersebut sehingga aku enggan lagi melakukannya. Pengalaman mengalami kencing batu dan infeksi saluran kencing itulah yang kuceritakan pada Ifa, agar dia tidak lagi menahan-nahan kencing. Menjelaskan beberapa jenis sendok pun bisa sangat menarik di hari keenam. Lalu di hari ke tujuh menceritakan semut yang pintar bekerjasama serta kisahnya dengan nabi Sulaiman. 




Di hari ke delapan aku mengajak Ifa mengenang sebuah memori ketika ia menerbangkan balon ke udara karena kerinduannya pada nenek. Pada hari ke sembilan, aku mengingatkan Ifa tentang kebaikannya yang selalu berhemat dan hidup sederhana. Tidak pernah menuntut dibelikan sepatu dan barang-barang lain jika belum rusak.

Di hari ke sebelas dengan tema bunga, Ifa belajar tentang melarang yang baik. Bahwa ketika ia melarang memetik bunga kepada adiknya, ia harus memberikan penjelasan yang benar bukan sekedar ancaman. Pada hari ke dua belas, kami belajar dengan tema senang. Mengucap alhamdulillah di setiap rasa syukur adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Tema ke tiga belas yaitu tentang bantal, aku sisipkan kisah Rasulullah dengan bantalnya yang sederhana. Mata menjadi tema pamungkas di hari keempat belas, aku menyisipkan nasehat untuk Ifa agar menjaga kesehatan mata dengan banyak makan sayur dan tidak sering-sering menonton youtube.

14 hari yang penuh kesan itu membekas tidak hanya untuk diriku, namun juga Ifa. Hingga kini setiap hari ia selalu bertanya “apa tema hari ini Bun?” atau “Bunda masih ada tema hari ini?” Saat aku berkata temanya sudah habis, ia nampak kecewa. Tentu saja aku tidak akan membiarkan kekecewaannya berlarut-larut. Meski tantangan #15HariBundaBerkisah sudah usai, aku akan tetap menceritakan kisah-kisah pada Ifa an Affan.

Tidak hanya karena berkisah mampu melejitkan kecerdasan imajinasi mereka bahkan menumbuhkan fitrah keimanan mereka, namun karena berkisah semakin melekatkan hubunganku dengan anak-anak. Dan inilah kado sederhana paling indah yang setiap hari bisa kupersembahkan untuk mereka, para penyejuk hatiku…

Selamat berkisah untuk ananda tercinta, pals.


Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com