Bahagia Berkisah untuk Meningkatkan Modalitas Belajar Anak

  • Wednesday, March 07, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 2 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Setelah melalui jatuh bangun dalam tantangan 10 hari di game level 4 kelas Bunda Sayang, aku yang semula menangkap bahwa modalitas belajar Ifa cenderung ke arah kinestetik dan visual, ternyata di akhir tantangan aku melihat modalitas auditorinya pun berkembang cukup pesat.


Dulu setiap kali di sekolah ibu guru menceritakan sebuah kisah, sesampainya di rumah aku minta ia ceritakan ulang apa yang dia dengar, ia akan menjawab “nggak tahu.” Namun akhir-akhir ini ia mulai bisa menceritakan kembali apa yang didengarkan. Bahkan kisah-kisah yang ada di Hafizah Doll pun kini mampu membuatnya betah, didengarkannya berulang-ulang, sampai kemudian dia hafal setiap kata yang dia dengar. Ketika aku menanyai ceritanya tentang apa, Ifa pun mampu menceritakan ulang kisah yang didengarkan dengan bahasanya sendiri. Good job, kak.




Sebenarnya selama ini aktivitas “mendengarkan kisah” sudah menjadi hal yang biasa dilakukan Ifa. Sejak baby, aku sudah membiasakan untuk membacakan buku sebelum dia tidur atau di sela aktivitas siangnya. Hanya memang dia dulu lebih tertarik jika aku membacakan buku yang disertai gambar. Di tengah-tengah proses aku membacakannya buku, Ifa sering memotong ceritaku dan lebih banyak bertanya tentang gambar di bukunya. Dari situ aku berpikir untuk mengubah metode berceritaku, sebelum masuk ke cerita, aku ajak dia untuk melihat gambar dan bertanya menurutnya apa yang dilihatnya di gambar itu.

Namun semakin besar usianya, dia mulai bisa mendengarkan cerita dengan kalimat-kalimat yang panjang tanpa harus disertai gambar. Sesekali bertanya kenapa begini, kenapa begitu. Ifa pun cukup bisa mendengar dengan baik dalam kondisi apapun, entah itu duduk anteng ataupun sembari melakukan aktivitas lain. Jika dia minta diceritakan sambil asyik mewarnai atau cilukba dengan adiknya, untuk mengetes apa dia menangkap yang aku ceritakan, aku akan menanyakan sesuatu berkaitan dengan ceritanya. Saat dia mampu menjawabnya aku akan meneruskan ceritaku, namun ketika dia nyengir, aku akan bertanya padanya “mau mainan dulu atau bunda teruskan ceritanya?”



Buku adalah sebuah sarana belajar yang cukup penting untukku. Belajar dari cara ibu mendidikku hingga menjadi sosok yang suka membaca, aku pun ingin mewariskan cinta membaca buku kepada anak-anakku. Itulah kenapa sejak Ifa bayi, aku rajin hunting buku anak-anak yang bergizi. Aku ingin Ifa memiliki wawasan yang luas. Jika aku belum bisa mengajak berkeliling dunia secara nyata, maka aku harap melalui buku aku bisa mengajaknya keliling dunia di dalam fantasinya terlebih dulu.

Dalam perjalananku membersamai Ifa, aku baru sadar bahwa kisah dari buku bisa meningkatkan modalitas belajar jenis apapun. Entah itu anak dengan gaya belajar visual, gaya belajar auditori ataupun kinestetik, buku bisa menjadi teman belajar yang baik. Yang patut dibedakan hanya bagaimana cara mengenalkannya. Di awal usia anak-anak dengan gaya belajar apapun, tentu saja dibacakan adalah cara yang paling tepat. Bedanya, untuk anak-anak visual buku bergambar akan jauh lebih menarik. Sembari kita ceritakan, anak akan enjoy menikmati gambar di dalam buku tersebut. Lebih bagus lagi jika ditambah dengan sarana pelengkap seperti boneka tangan dan panggung cerita.

Untuk anak-anak auditory, buku tanpa gambar pun tak masalah, asal kita mampu menceritakan isi buku tersebut dengan cara yang menarik, bahkan kalau bisa dengan suara yang berbeda. Sedangkan untuk anak-anak kinestetik, buku dengan kalimat-kalimat yang pendek mungkin lebih tepat dibandingkan yang berkalimat panjang. Di sela kita bacakan, kita bisa mengetes konsentrasinya dengan menanyakan apa yang baru saja kita bacakan.

Hidangan Enak untuk Mencetak Generasi Berakhlaq

Setelah tiba pada sebuah kesimpulan bahwa buku bisa menjadi sarana belajar bagi anak dengan gaya belajar apapun, aku semakin semangat membacakan buku untuk Ifa. Apalagi setelah kini melihat perkembangan gaya belajar auditorinya meningkat dengan pesat, aku semakin semangat membacakannya cerita.

Bukannya aku tak pernah merasa kecewa dan down, beberapa kali sempat aku merasa Ifa acuh ketika aku membacakan cerita. Sebagaimana ibu-ibu lainnya aku merasa, “aah jangan-jangan dia nggak suka buku,” dan sebagainya. Ternyata tidak. Itu hanyalah proses. Membiasakan anak-anak mampu mendengarkan sebuah cerita dan tertarik dengan buku memang butuh proses yang bertahap. Maka jika ada orangtua yang berkata “anakku nggak suka buku,” biasanya aku akan bertanya, “sudah seberapa sering dibacakan cerita?” atau “ibunya suka baca juga nggak?”

Ya, anak-anak itu meniru orangtuanya. Bagaimana mungkin kita mau mengajak anak mencintai buku dan membaca, jika kita sendiri nggak pernah berdekatan dengan kedua hal tersebut.

Kekecewaan yang dulu sempat hinggap di pikiranku kini telah terusir cantik. Ketika Ifa menunjukkan gelagat bahwa ia tak fokus atau tidak senang mendengarkan ceritaku, aku mulai mengevaluasi bagaimana caraku menyampaikan kisah tersebut. Apa aku kurang bersemangat, apa aku terlihat malas membacakan cerita untuknya, atau aku terlalu monoton menyampaikannya.



Aku juga semakin semangat berkisah, setelah aku menuntaskan buku berjudul “Bahagia Berkisah – Resep Lengkap Praktik Berkisah kepada Anak.” Jika awalnya dulu tujuanku membacakan buku agar Ifa menjadi anak yang suka membaca, agar Ifa menjadi sosok pembelajar, agar Ifa kosa katanya banyak.  Setelah baca buku ini, aku kesentil banget. Aku jadi ingat hadis ‘innamal a'malu binniyat.’ Niat kita menentukan balasan yang akan kita dapat. Kalau niatku membacakan cerita ‘hanya’ sekedar agar Ifa jadi sosok pembelajar, suka membaca, dan kosa katanya banyak, maka hanya itulah yang akan aku dapatkan.

Tentu saja niat seperti itu tidak salah ya, namun ketika kita meniatkan berkisah kepada anak karena Allah ta’ala, insya Allah apa yang kita dapat lebih dari sekedar tujuan duniawi di atas. Bukankah Allah pemegang kunci hati setiap makhlukNya? Ketika kita membacakan kisah dengan niat lillahita’ala, insya Allah anak yang bisa jadi awalnya tidak suka mendengarkan kita bercerita, akan dibukakan hatinya untuk mau mendengarkan dan mampu meresapi hikmah dari kisah itu.



Lebih jauh lagi di buku ini dijelaskan bahwa kisah merupakan hidangan dari Al Quran. Sebagian firman Allah berupa kisah yang merupakan bekal bagi nabi Muhammad untuk mendidik umatnya. Bahkan ada satu surat di dalam Al Quran yang bernama Al Qashas yang mengandung makna kisah-kisah. Surat itu diawali dengan cerita Nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai Nil hingga mendapat mukjizat lewat tongkatnya, dan diakhiri dengan kisah Qarun yang sombong dengan kekayaannya.

Para sahabat Nabi Muhammad adalah generasi Islam terbaik. Dan jika kita mau telusuri bagaimana cara Nabi mendidik para sahabatnya, ternyata cukup sederhana. Nabi selalu berkisah di setiap kesempatan, tentang kehidupan dan kejadian-kejadian di masa lalu. Metode berkisah ini tenryata sangat berkesan di hati dan membekas di dalam jiwa, sehingga lebih mudah menyusupi nurani menambah cahaya keimanan dan ketaqwaan para sahabat. (Halaman 19).

Ya, ternyata Allah telah menunjukkan cara belajar yang paling ampuh. Berkisah telah terbukti merupakan sebuah metode pengajaran yang efektif, jadi masihkah kita malas membacakan kisah untuk anak-anak?

Beda antara Kisah dan Dongeng

Beberapa waktu lalu ketika aku dan suami mengikuti sebuah tes masuk penerimaan santri baru di Kuttab Al Fatih, ada sebuah pertanyaan menggelitik “apa bedanya kisah dan dongeng?” Aku tersenyum membaca pertanyaan tersebut. Aku sengaja membiarkan suami menjawab terlebih dahulu.

Ketika suami kusodorkan pertanyaan itu, dia mengernyitkan keningnya dan malah balik tanya ke arahku. Qodarullah aku sudah membaca buku “Bahagia Berkisah” sebelumnya, jadi insya Allah sudah bisa menjawab pertanyaan tersebut.



Di dalam buku tersebut disampaikan bahwa kisah adalah cerita tentang kejadian (riwayat dan sebagainya dalam kehidupan seseorang dan sebagainya, sedangkan dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi.

Salah satu modal parenting adalah qaulan syadida atau perkataan yang benar. Jika kita mengacu pada hal tersebut, maka termasuk pula dalam hal memilih bahan cerita kepada anak. Menceritakan anak kisah-kisah yang sudah pasti benar terjadi dan hikmahnya tentu akan lebih banyak membawa manfaat daripada menceritakan dongeng yang sebagian besar berupa cerita fantasi.

Lalu apa mendongeng tidak diperbolehkan? Boleh saja, namun sebaiknya hanya dijadikan selingan dan tentu kita harus memilah cerita apa yang bisa disampaikan ke anak. Tentu saja dengan memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada anak bahwa apa yang akan kita ceritakan hanyalah sebuah dongeng, bukan kisah nyata.  Memberikan pemahaman anak akan berpengaruh pada pola pikir anak dalam menyikapi kebenaran.


Gunakan NYAM sebagai Bumbu Berkisah

Buku ini memang sangat menarik. Cocok dibaca baik untuk orangtua yang sudah suka membacakan cerita kepada anak ataupun yang sama sekali belum tertarik membacakan cerita kepada anak. Untuk orangtua yang sudah suka membacakan cerita kepada anak, kita diingatkan untuk memilih kisah sebagai bahan cerita yang paling pas. Sedangkan bagi orangtua yang sama sekali belum tertarik membacakan cerita, kita diingatkan untuk kembali ke fitrah, kembali ke metode pengajaran yang telah terbukti ampuh.

Mbak Hikmah Yulitasari, sang penulis buku sekaligus founder Komunitas Ibu Berkisah, menyampaikan sebuah bumbu untuk bisa sukses berkisah; NYAM.



Niat murni hanya karena Allah – seperti yang sudah aku sampaikan di atas, niat awal kita akan menjadi tolok ukur apa yang akan kita terima. Maka pastikan niat kita untuk berkisah hanya karena Allah semata, sehingga hasil yang kita dapat akan jauh lebih dahsyat dari sekedar anak menjadi kaya kosa kata, namun anak memiliki iman yang kuat. Aamiin.

Yang meridhoi, doa dan dukungan suami – setelah kita meluruskan niat, bumbu yang kedua yaitu agar kita mendapat ridho dan meminta doa serta dukungan dari suami. Ridho, doa dan dukungan suami akan semakin memantapkan hati saat kita berkisah pada anak. Akan lebih baik lagi jika suami bisa terlibat langsung dalam proses berkisah, namun jika belum, tak mengapa. Terus tunjukkan bahagianya berkisah, insya Allah suami lambat laun akan tertarik untuk ikut dalam proses tersebut.

Anak penyemangat jiwa dan raga – ketika semangat berkisah kita sedang kendor, ingatlah anak-anak kita. Mintalah doa dan dukungan dari anak-anak, tanyakan pada anak apakah ia senang jika kita berkisah untuknya, apa yang membuatnya senang dan bagaimana metode berkisah yang ia sukai. Insya Allah dengan cara itu semua, kita justru akan rindu ketika berhenti berkisah untuk anak-anak, apalagi jika anak mulai merengek, “aku maunya bunda yang cerita, soalnya suara bunda lembut sih.”

Manfaat berkisah yang spesial bagi diri ibu – ternyata berkisah tidak hanya membawa manfaat untuk anak, namun bagi diri kita sendiri teralir banyak manfaat di dalamnya. Di halaman 58 buku “Bahagia Berkisah” disampaikan setidaknya ada 8 manfaat berkisah untuk ibu;

  • Bernilai pahala dari Allah selama berniat lurus
  • Menyalurkan kebutuhan mengeluarkan puluhan ribu kata bagi wanita (sebagai terapi hati, jiwa dan emosi)
  • Membangun rasa bahagia dan percaya diri pada diri ibu
  • Menyuburkan rasa mencintai dan dicintai anak
  • Sebagai cara memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak
  • Sebagai cara quality time dengan anak
  • Sebagai cara mendidik anak dengan menyenangkan
  • Sebagai cara menasihati anak tanpa menguras emosi ibu.

Hmm, kece kan bumbu NYAM yang disampaikan mbak Hikmah di buku tersebut? Semoga semakin menguatkan diri kita untuk berkisah ya.

Hubungan Bahagia Berkisah dengan Gaya Belajar Anak

Seperti yang sudah aku sampaikan di awal bahwa dalam proses membersamai Ifa aku menemukan kesimpulan bahwa buku adalah sarana belajar yang bagus untuk anak dengan gaya belajar apapun. Bagi anak yang sudah bisa membaca sendiri, buku adalah teman baik untuk belajar. Bagi anak yang belum bisa membaca, mendengarkan orangtuanya membacakan buku adalah momen yang asyik jika dibiasakan.




Dari titik ini, kesimpulanku itu semakin kuat setelah membaca buku “Bahagia Berkisah.” Bahkan di buku ini juga disampaikan media utama dan teknik berkisah.

Di halaman 88 buku ini disampaikan bahwa bahan pokok berkisah adalah Al Quran, hadits, dan siroh. Ya, buku ini menyadarkanku yang selama ini suka pusing cari bahan cerita untuk anak, ternyata nggak usah jauh-jauh, dari tiga bahan tersebut saja sudah banyak kisah penuh hikmah dan makna yang bisa kita sampaikan. Apa nggak berat tuh buat anak-anak? Tidak. Asal kita tahu bagaimana cara menyampaikan kisah itu sesuai usia mereka.

Selain bumbu NYAM, ternyata dalam menyampikan kisah kita juga harus punya bumbu tambahan, yaitu;



Bumbu berita ilmu – kita bisa menyampaian ilmu atau berita dalam Al Quran lewat cara berkisah. Dicontohkan di buku ini kita bisa berkisah dengan sumber Al Quran An Nur: 43 dan Ar Ruum: 48 tentang proses terjadinya hujan. Agar lebih mengena, kita bisa melengkapinya dnegan alat peraga dan gambar. Intinya, kisahkan sesuatu yang ada dasarnya, cara ini efektif untuk semakin meningkatkan keimanan dan kecintaan anak pada Allah. Bahkan secara tak langsung, insya Allah kecintaan dan keimanan kita pun akan meningkat.

Bumbu kunci kaidah usia – beda usia tentu saja akan beda cara penyampaian berkisah. Berkisah bisa dilakukan sejak anak di dalam kandungan. Pada usia bayi hingga tujuh tahun adalah masa penggemburan fitrah iman, cinta Allah, cinta Rasulullah, cinta para Nabi dan cinta kisah. Maka perbanyaklah kisah yang berhubungan dengan hal-hal itu. Sedangkan pada usia pra aqil baligh, kisah-kisah tentang pengenalan dan pembiasaan syariat adalah hal yang harus diperhatikan. Untuk anak-anak yang sudah memasuki usia aqil baligh, tadabbur ayat-ayat Quran, bedah hadits dan analisis siroh menjadi cara berkisah yang menantang. Bingung bagaimana caranya? Alhamdulillah di akhir buku ini dilengkapi dengan daftar kisah sesuai usia dan menu bahagia berkisah. Tidak lupa disertakan pula poster peta bahagia berkisah. Komplit banget deh buku ini!




Resep Bahagia Berkisah

Di bagian ini, mbak Hikmah menyadarkanku bahwa semua tantangan dalam berkisah pasti bisa diatasi selama niat kita sudah lurus lillahita’ala.



Mbak Hikmah mengumpulkan curhatan para ibu mengenai proses berkisah, misal tentang ibu yang merasa tak pandai berkisah. Mbak Hikmah menguatkan bahwa berkisah tidak perlu bakat. Semua orang pasti BISA berkisah asal MAU dan BIASA melakukannya. Jadi kalau awalnya kaku, anak nggak suka, tetap lanjutkan prosesnya, nanti perlahan akan ketemu kok cara yang paling nyaman untuk kita dan anak. Intinya adalah bahagia dulu, nikmati prosesnya.

Curhatan yang banyak disampaikan berikutnya yaitu tentang fasilitas berkisah. Banyak ibu yang merasa tidak punya cukup fasilitas. Mbak Hikmah kemudian mengajak para pembacanya meluruskan pola pikir, bahwa tiga unsur utama berkisah hanya tiga; ada ibu dan atau ayah sebagai orang yang berkisah, ada anak yang mendapat kisah dan sumber bahan kisah dari Al Quran, hadits atau siroh.



Selanjutnya mbak Hikmah menyampaikan sebelum berkisah, orangtua harus membekali dirinya dengan ilmu terlebih dahulu. Selain ilmu tentang berkisah, tentu saja juga banyak ikuti kajian siroh dan kisah. Bagaimana kita mau menyampaikan kisah jika kita sendiri jarang mendengarkan kisah?

Setelah membekali ilmu, kita bisa melengkapinya dengan buku, alat peraga, boneka tangan, media internet, sarana audio dan audio visual. Nggak tanggung-tanggung, mbak Hikmah pun menyampaikan tips untuk para ibu yang kesusahan membeli buku berkisah yang berkualitas karena harganya cenderung mahal. Bisa dengan menabung, beli saat pameran, meminjam di perpustakaan atau teman, dan mengikuti arisan buku.

Resep selanjutnya yang disampaikan mbak Hikmah yaitu tentang kaidah berkisah;



Berkisahlah saat anak siap dan nyaman -  pastikan anak dalam keadaan kenyang, nggak kebelet buang air dan nggak ngantuk berat. Boleh menjadikan kisah sebagai pengantar tidur, tapi ketika kondisi anak sudah hampir terlelap, hentikanlah dan sambung kisahnya di keesokan hari.

Berkisahlah ketika kita merasa siap dan nyaman – berkisah harus fokus, nggak bisa disambi dengan aktivitas apapun. Mulai dengan ta’awudz dan basmallah agar apa yang ingin kita sampaikan mengena. Jika tema kisah yang ingin disampaikan bisa untuk usia yang  berbeda, kita bisa berkisah bersama adik dan kakak. Jika tidak, kita bisa berkisah secara bergantan.

Dalam berkisah kita juga harus memegang enam kaidah berbicara;


  1. Qaulan Syadida – perkataan benar dant tidak mengada-ada
  2. Qaulan Ma’rufa – perkataan yang baik dan tidak menyinggung perasaan
  3. Qaulan Karima – perkataan yang mulia. Muliakan anak dengan sapaan anak sholihahku, anakku yang disayang Allah dan sebagainya.
  4. Qaulan Baligha – perkataan yang tepat sasaran, sesuai usia dan kadar pemahaman anak.
  5. Qaulan Maysura – perkataan yang mudah dicerna, mudah dimengerti. Sesuaikan pilihan kata dengan usia dan pemahaman anak. Ketika menjelaskan apapun kepada anak selalu kaitkan dengan tauhid kepada Allah.
  6. Qaulan Layyina – perkataan yang lemah lembut, enak didengar, ramah dan menyenangkan hati.

Selain enam kaidah berbicara, kita juga bisa berkisah dengan teknik gado-gado sebagai berikut;


  • Berkisah dengan mimik wajahgunakan ekspresi untuk memunculkan alur kisah dengan kuat.
  • Berkisah dengan intonasi variasi suaranada dan intonasi suara bisa memperkuat kisah yang kita sampaikan.
  • Berkisah dengan boneka/ alat peraga yang kita buat sendirijika kita punya boneka tangan/ jari bisa dipakai, bahkan kita bisa menggunakan alat yang ada di sekitar kita. Misal mau cerita tentang mukjizat tongkat nabi Musa, bisa lo cari barang di rumah yang menyerupai tongkat sebagai bahan pelengkap cerita. Enaknya lagi di buku ini ada beberapa contoh media bercerita, bisa jadi sumber inspirasi.


  • Berkisah dengan bermain peranbermain peran adalah cara yang asyik menyampaikan kisah. Namun mbak Hikmah mengingatkan hindari memerankan tokoh antagonis. Tokoh antagonis hanya boleh dikisahkan, bukan diperankan, apalagi untuk anak-anak. Khawatirnya akan tertanam di hati dan pikirannya.
  • Berkisah dari bukusebaiknya sebelum membacakan kisah dari buku, ibu sudah tahu isi buku tersebut sebelumnya.
  • Berkisah dengan gambar -  Cocok untuk anak visual nih. Ibu bisa memulai dengan menggambar di kertas, papan tulis bahkan pasir, lalu ajak anak menikmati kisah sesuai gambar yang dibuat.
  • Berkisah dari pertanyaananak-anak selalu punya segudang pertanyaan. Pertanyaan anak bisa jadi awal memulai kisah, misal anak bertanya tentang madu. Kita bisa mengawali dari kisah lebah hewan yang ada di Al Quran.
  • Berkisah dari peristiwaperistiwa sehari-sehari bisa jadi awal memulai kisah, misal proses terjadinya hujan, air mengalir dan sebagainya.
  • Berkisah dari pemandangansaat mengajak anak jalan-jalan ke kebun bintatang misalnya, kita bisa menyisipkan kisah tentang tentara gajah dan burung ababil.
  • Berkisah dari berita terkinimisal kisah tentang anak-anak di Gaza atau Suriah.

Dari gado-gado teknik berkisah yang disampaikan di buku ini, aku jadi semakin yakin bahwa berkisah memang cocok untuk meningkatkan modalitas belajar anak dengan gaya belajar apapun. Mau si anak auditory, visual ataupun kinestetik, insya Allah mereka akan senantiasa menikmati proses berkisah. Yang penting emaknya tahu teknik yang pas.

Masya Allah, kaya ilmu sekali buku ini. Satu pesan dari mbak Hikmah di akhir buku begitu menggugah jiwa;



Selamat berkisah parents dan bersiaplah menjadi arsitek peradaban. 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




You Might Also Like

2 comments

  1. Wah ini buku bagus banget yaa, cocok buta ibuibu kayak saya nih. Soalnya aku juga suka banget berkisah pada anak-anak, mereka senang kalau udah diceritaain atau didongengin.

    ReplyDelete
  2. lengkap banget mba review bukunya memang aku pun menjadikan buku sebagai media buat pembelajaran dan buku yang memuat kisah jauh lebih mengena dan bisa jadinpembelajaran buat anak daripada dongeng yang benar2 tidak terjadi y mba

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com