Berani Lebih Baik? Ini 7 Langkahku #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia

Berani Lebih Baik? Ini 7 Langkahku #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Apa sih yang terpikirkan oleh teman-teman ketika mendengar kata hijrah? Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);
 
 
Dari keterangan tersebut, bisa diartikan bahwa hijrah memiliki makna berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun apakah benar konsep hijrah di dalam Islam hanya sekedar mengacu pada perpindahan tempat?

Dikutip dari website Republika, berhijrah bisa memiliki makna lebih luas dari sekedar perpindahan tempat. Berhijrah juga bisa mengacu pada proses perubahan diri yang dilakukan demi meraih rahmat dan keridhaan Allah SWT. Bahkan lebih dari itu, hijrah bisa diartikan sebagai salah satu prinsip hidup. Seseorang dapat dikatakan melakukan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu ada sesuatu yang ditinggalkan dan memiliki tujuan.

Ayat- ayat mengenai hijrah di dalam Al Quran pun sangat banyak, antara lain:

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS at-Taubah: 20)
Berkatalah Ibrahim, `sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku, sesungguhnya Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS al-Ankabut: 26)
Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, `ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu. (QS al-Qashash: 21)

Jenis-jenis Hijrah

Menurut para ulama, hijrah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Hijrah Makaniyah

Yang dimaksud dengan hijrah ini yaitu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Contoh hijrah makaniyah adalah peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah serta hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

2. Hijrah Maknawiyah

Hijrah ini memiliki makna yang lebih dalam, yaitu berproses untuk mengubah diri, dari yang buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridhaan Allah SWT. Hijrah maknawiyah dibedakan menjadi empat, yaitu:



A. Hijrah I’tiqadiyah (hijrah keyakinan), ketika seorang Muslim mencoba meningkatkan keimanannya agar terhindar dari kemusyrikan.

B. Hijrah Fikriyah (hijrah pemikiran), ketika seseorang memutuskan kembali mengkaji pemikiran Islam yang berdasar pada sabda Rasulullah dan firman Allah demi menghindari pemikiran yang sesat.

C. Hijrah Syu'uriyyah adalah berubahnya seseorang yang dapat dilihat dari penampilannya, seperti gaya berbusana dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah ini biasa dilakukan untuk menghindari budaya yang jauh dari nilai Islam, seperti cara berpakaian, hiasan wajah, rumah, dan lainnya.

D. Hijrah Sulukiyyah (hijrah tingkah laku atau kepribadian). Hijrah ini digambarkan dengan tekad untuk mengubah kebiasaan dan tingkah laku buruk menjadi lebih baik. Contoh hijrah ini yaitu perubahan perilaku orang yang sebelumnya selalu berbuat buruk, seperti mencuri, membunuh, atau lainnya, kemudian bertekad berubah kepribadiannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Masya Allah, ternyata jenis dan tingkatan hijrah saja bermacam-macam ya, pals. Kalau dari analisaku, aku baru sampai pada tingkat hijrah syu’uriyyah nih. Masih berhijrah dari segi penampilan, sementara dari sisi akhlak masih banyak yang harus diperbaiki. 


Proses Hijrahku yang Berliku

Sebagai manusia biasa yang imannya begitu mudah naik dan turun, hijrah merupakan tantangan besar bagiku. Jika dirunut setidaknya aku pernah mengalami beberapa tahap proses hijrah:

1. Hijrah Makaniyah dari Salatiga ke Semarang


Peristiwa hijrahku dari Salatiga ke Semarang pada 2003 secara kasat mata karena aku menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Namun sejatinya saat itu aku memilih berpindah dari Salatiga ke Semarang untuk menemukan kedamaian hati. Aku merasa jika terus memaksakan diri untuk tetap tinggal di Salatiga, aku akan semakin merasa sakit hati dan tidak bahagia. Pertikaian bapak dan ibu yang terus membayangiku sejak kecil, serta keputusan bapak untuk menikah lagi menjadi alasanku untuk berpindah tempat dari rumah orangtua ke rumah eyang.

2. Hijrah Fikriyah di Tahun Kedua Kuliah

Peristiwa demi peristiwa terjadi begitu cepat pada 2003 - 2004. Hijrah makaniyah yang kulakukan ternyata tidak semulus yang kubayangkan. Aku mungkin bisa sedikit bernafas lega karena saat itu aku tak lagi terganggu dengan pertikaian bapak dan ibu. Namun nyatanya ada godaan-godaan lain yang menghadang. Salah satu godaan terbesar adalah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang kini telah menjadi ayah dari anak-anakku.

Aku paham sekali di dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Saat duduk di bangku SMP dan SMA, guru-guru agamaku telah menyampaikan hal tersebut. Begitu pula ibuku yang mewanti-wanti agar aku tidak tergelincir mendekati zina. Namun nyatanya hatiku begitu mudah goyah. Bahkan saat nurani memintaku untuk mengakhiri hubungan kasih yang tidak pada tempatnya tersebut, aku tak sanggup. Aku tahu kesalahanku, namun tak sanggup mengakhirinya. Meski pada akhirnya kisah kasih kami berujung ke pelaminan, namun masa-masa itu menjadi sejarah kegalauan dalam hidup.

3. Hijrah Syu’uriyyah dari 2004 - sekarang



Sekitar 1.5 tahun yang lalu aku pernah menulis pengalamanku berhijrah. Dari yang belum berkerudung hingga akhirnya memutuskan menutup aurat meski belum sempurna, sampai pada akhirnya berkenalan dengan hijab syar’i. Saat aku menulis artikel tersebut, kalau tidak salah sedang ramai pemberitaan tentang seorang public figure yang melepas hijabnya. Namun aku sendiri lupa siapa orangnya. Aku menulis pengalaman tersebut sebagai pengingat diri bahwa berhijrah itu tak pernah mudah. Prosesnya tidak sehari dua hari, namun seumur hidup!
Sudah hampir 15 tahun berlalu sejak aku memutuskan menutup aurat, namun aku masih saja menemukan ketidakkonsistenan di dalam diri. Berhijab syar’i seringkali kulakukan bukan datang dari hati dengan niat mengharap ridhoNYA, namun karena telah menjadi kebiasaan. Tubuh ini seakan memiliki sistem otomatis ketika membuka lemari, maka tangan akan bergerak memilih baju yang menutup aurat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun jangan dikira tiada godaan. Acapkali ada bisikan yang menggema di telinga, “Cuma ke warung ini… nggak usah lah pakai kaus kaki.” Atau bisikan lainnya yang sejenis, “Perginya nggak jauh, kerudungnya nggak harus pakai yang lebar sekali kan?” Aku masih harus terus berjuang agar bisa konsisten menjalani komitmenku berhijab sesuai syariat hingga hari ini.

4. Hijrah Sulukiyyah dari 2004 - sekarang


Perjuangan untuk terus memperbaiki akhlak tidaklah akan berhenti hingga tubuh berkalang tanah. Hijrah Sulukiyyah-ku mengalami jatuh bangun berkali-kali. Ada kalanya aku pernah di posisi begitu teguh melaksanakan semua kewajiban yang Allah perintahkan dan menjauhi larangan-laranganNya. Namun ada kalanya aku kembali terlempar dan terlena, hidup namun tidak memaknainya. Bagaikan mayat hidup yang tak memiliki tujuan. Hingga hari ini pun, aku masih terus berjuang agar bisa istiqomah dalam menjaga akhlak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Hal-hal kecil namun jika tidak diperbaiki bisa menjadi racun untuk kehidupan di masa depan, seperti: kebiasaan berkata kasar kepada anak, kebiasaan bernada tinggi saat berbicara pada suami, meremehkan kemampuan anak dan membanding-bandingkannya dengan anak orang lain. Aaah, sungguh bagaimana aku berani bermimpi menjadi salah satu penghuni surga ketika aku menyadari akhlakku masih jauh dari baik.

5. Hijrah Makaniyah dari Puspanjolo ke Klipang



Pada tahun 2008 aku menjalin kasih secara halal dengan anak-anak. Bahkan meski telah kenal empat tahun sebelum memutuskan menikah, kami masih harus saling beradaptasi. Seusai menikah, aku langsung diboyong ke rumah keluarganya di Puspanjolo. Perbedaan atmosfir dan habitat menjadi tantangan terbesar bagiku. Aku yang dari kecil terbiasa tinggal di komplek perumahan di mana privacy setiap keluarga dan individu sangat dijaga, terkaget-kaget dengan gaya hidup di sebuah kampung kuno yang masyarakatnya bisa bebas keluar masuk ke rumah tetangganya.

Setelah 2 tahun tinggal di Puspanjolo akhirnya aku memohon kepada suami untuk berhijrah ke tempat yang menurutku lebih baik untuk kondisi psikologisku. Pada saat itu bapak dan ibu telah menjual rumah di Salatiga dan membeli rumah di daerah Klipang, aku pun memilih kembali menginduk kepada kedua orangtuaku. Alhamdulillah kali ini pilihanku tak salah. Di Klipang, aku bisa hidup lebih tenang dan damai. Setelah dua kali keguguran, akhirnya aku bisa kembali hamil setelah enam bulan tinggal di Klipang. Aku juga bertemu dengan banyak komunitas parenting dan pengajian di daerah ini. Aku sadar tidak ada lingkungan yang sempurna, namun di tempat tinggalku sekarang setidaknya aku bisa menikmati dan mensyukuri kehidupan, serta bisa bergaul dengan tetangga sekitar. Hijrahku ke Klipang bisa dikatakan sebagai tonggak sejarah perubahanku dari aspek-aspek kehidupan lainnya.

Kini, di usiaku yang ke - 34, setiap hari aku selalu dihadang dengan pemikiran apakah aku termasuk orang yang beruntung atau malah menjadi orang yang merugi. Menghitung kontrak kehidupanku yang semakin berkurang, aku mulai semakin menyadari;

bahwa makna hijrah dalam kehidupan, sejatinya adalah tentang perubahan. Perubahan adalah suatu keniscayaan. Perubahan itu butuh pembuktian. Jika kita belum mampu membuktikan lewat gerakan yang nyata, setidaknya biarkan pikiran kita terus bergerak maju.


 

7 Langkah Menuju #AyoHijrah

Dikutip dari quote founder Komunitas Ibu Profesional, Ibu Septi Peni; ‘berubah atau kalah?’ Membuatku tersadar bahwa jika aku tak bergegas melakukan perubahan di dalam hidup, aku hanya akan tertinggal menjadi manusia yang terseok dan kalah. Kalah di dunia masih tak mengapa, namun jika kalah di akhirat bukankah sangat menakutkan?

Namun nyatanya memberanikan diri untuk bisa berubah ke arah lebih baik dan kaffah, membutuhkan komitmen sehingga bisa tetap konsisten dalam prosesnya. Inilah 7 langkah yang aku persiapkan dalam proses #AyoHijrah.


1. Memperbaiki Niat

Langkah pertama yang harus selalu dilakukan dalam proses hijrah adalah melakukan tazkiyatun nafs, kemudian terus memperbaiki niat. Dalam proses perjalanan hidup, pergeseran niat seringkali terjadi. Yang awalnya sudah benar-benar dilakukan karena Allah, bisa jadi bergeser karena ingin dipuji oleh sesama manusia, karena ingin ketenaran, dan alasan-alasan duniawi lainnya. Ketika proses hijrah mulai tidak lagi on the track, itu artinya aku harus melakukan muhasabah diri. Menggali kembali makna hijrah dan memperbaiki niat agar selalu Lillahita’ala, hingga kemudian bisa kembali pada track yang tepat.

2. Memperbaiki Penampilan

Ketika niat telah diperbaiki, maka langkah selanjutnya yang harus kutinjau ulang adalah caraku berpenampilan. Aku tidak ingin berhijab syari hanya karena telah menjadi kebiasaan, namun karena kesadaran diri bahwa seperti itulah tuntunan yang Allah sampaikan. Aku ingin bisa kembali memaknai pemilihan baju yang kukenakan bukan sekedar agar nampak keren dan cantik di mata sesama manusia, namun benar-benar karena mengharap ridho Allah semata.

3. Memperbaiki Komunikasi


Komunikasi yang tak terjalin dengan produktif bisa membawa bencana dalam kehidupan kita. Aku merasa pola komunikasiku semakin kacau karena pergeseran niatku. Maka langkah ketiga yang kulakukan adalah memperbaiki seni berkomunikasi. Pertama, aku ingin memperbaiki caraku berkomunikasi dengan diri sendiri, yang istilah kerennya disebut dengan self talk. Aku ingin lebih bisa mendengar hati nurani sehingga pergeseran niat bisa teratasi. Aku juga ingin bisa lebih jujur tanpa keluar jalur.

Dengan memperbaiki komunikasi terhadap diri sendiri, aku berharap bisa menyelesaikan simpul-simpul rasa sakit yang masih sering kusut sehingga ke depannya pola komunikasiku dengan orang lain, baik itu kepada suami, anak, orangtua, teman dan tetangga sekitar juga bisa meningkat lebih produktif.

 

4. Memperbaiki Ibadah

Saat pikiranku kembali jernih dan hati nurani mulai bisa kembali terdengar, aku berharap ibadahku bisa kembali khusyuk. Sejak ibu meninggal, aku merasakan betapa kualitas ibadahku merosot tajam. Aku beribadah seakan hanya untuk menggugurkan kewajiban, bukan berharap ridhoNya. Hingga aku semakin merasa ibadah tidak lagi bisa memberikan ketenangan karena dikerjakan asal-asalan. Maka sebuah PR besar bagiku dalam perjalanan hijrah ini untuk terus memperbaiki kualitas ibadah. Aku ingin mengerjakan ibadah karena kecintaan dan kebutuhanku atas hadirNya, serta mengharap rahmat serta ridhoNya.

5. Memperbaiki Akhlak

Dengan merosotnya kualitas ibadahku, aku merasakan akhlakku yang masih jauh dari kata baik pun semakin merosot tajam. Ketika aku mulai berubah kembali menjadi sosok bersumbu pendek, mudah tersulut amarah, tidak bisa berpikir jernih dan mudah berkata-kata tak santun, sebuah tanggungjawab besar untukku agar segera bisa menemukan alasan perubahan sikap dan perilaku tersebut.

6. Berjamaah bersama Orang-orang Shalih



Setahun ini aku sering sekali membolos liqo/ kajian mingguan. Dalam sebulan, kuingat-ingat kadang aku hanya menghadiri satu kali pertemuan liqo, bahkan kadang tidak sama sekali. Seiring dengan pergeseran niat yang kualami, aku pun mulai berjarak dengan teman-teman shalihku. Padahal mereka begitu sabar mengingatkanku untuk datang ke kajian.
Dengan datangnya bulan Ramadhan beberapa hari lagi, akan kujadikan momentum ini sebagai titik memulai lagi konsistensiku melingkar bersama orang-orang shalih. Sebuah momen yang tepat karena di bulan ramadhan akan ada banyak kajian yang digelar. Yang biasanya hanya seminggu sekali, kini hampir setiap hari ada banyak kajian di tempat yang berbeda. Aku hanya perlu memilih sesuai dengan kebutuhan dan panggilan hati. Semoga nanti usai ramadhan, semangatku untuk berjamaah bersama orang-orang shalih terus meningkat dan terjaga.

7. Meninggalkan Riba


Sampai detik ini, aku masih tercatat sebagai nasabah di empat bank konvensional. Sudah sejak beberapa tahun lalu, aku telah berniat untuk menutup semua rekeningku di bank konvensional dan beralih ke Bank Muamalat Indonesia. Namun sampai hari ini, niatanku masih sekedar berupa niat, belum ada tindakan nyata.

Kenapa sih aku ingin sekali pindah ke Bank Muamalat? Tidak bisa kupungkiri karena Bank Muamalat adalah Bank Syariah pertama di Indonesia yang didirikan sejak 1 November 1991 atau 24 Rabi’us Tsani 1412 H. Pendirian Bank Muamalat Indonesia diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Republik Indonesia.
Sejak resmi beroperasi pada 1 Mei 1992 atau 27 Syawal 1412 H, Bank Muamalat Indonesia terus berinovasi dan mengeluarkan produk-produk keuangan syariah seperti Asuransi Syariah (Asuransi Takaful), Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat) dan multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia.


Awalnya aku menganggap tidak ada masalah dengan tetap bertahan di bank konvensional selama bunganya tidak aku ambil. Ternyata bank syariah bukan hanya tentang sistem ribanya. Oke, bunganya bisa tidak aku ambil, namun bagaimana dengan uang yang kutabungkan di bank konvensional? Digunakan untuk hal yang baikkah? Apakah digunakan untuk hal yang sesuai syariat? Bagaimana jika tidak? Bukankah itu artinya aku menjadi salah satu pendukung aktivitas perbankan yang buruk? Ya Allah, dosa-dosaku yang lain saja masih menggunung… masihkah harus aku menjadi pendosa karena riba dan kerabatnya?

Aku semakin mantap pindah ke Bank Muamalat karena program #AyoHijrah yang dimilikinya. Menurut informasi yang aku dapatkan,

#AyoHijrah adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama selalu meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal. Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan kita dengan Sang Pencipta, tapi juga merupakan jalan hidup (way of life) sehingga #AyoHijrah juga mengajak untuk menjalani hidup sesuai tuntunan Islam yang baik dan berkah.

Demikian pula melalui #AyoHijrah ini Bank Muamalat mengajak masyarakat untuk berhijrah dalam hal layanan perbankan (pengelolaan keuangan) dengan memanfaatkan layanan perbankan Syariah untuk hidup yang lebih berkah.

Adapun beberapa kegiatan yang dilaksanakan lewat program #AyoHijrah berikut ini, semakin membuatku yakin bahwa Bank Muamalat adalah partner terbaik dalam proses hijrahku di aspek keuangan:

  • Seminar / edukasi tentang perbankan Syariah
  • Open booth di pusat kegiatan masyarat
  • Kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama
  • Pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan Syariah 

Berhijrah sejatinya tak bisa sendirian. Kita harus mencari kawan, sahabat dan komunitas untuk saling mendukung, menyemangati dan memberikan dukungan satu sama lain. Dengan saling bergandeng tangan, proses hijrah menjadi lebih terarah. Saat iman melemah, ada sahabat yang dengan tulus mengingatkan dan menggenggam tangan kita untuk kembali ke jalan setapak yang benar. Saat keraguan menyelimuti, ada kawan-kawan yang siap memberikan guyuran motivasi untuk kembali bangkit dan berjalan dengan tegap.

Berhijrah membutuhkan keberanian untuk konsisten dan komit pada jalan kebenaran. Berani untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki niat. Niat yang kembali dimurnikan, insya Allah akan membantu diri kita untuk memperbaiki kualitas setiap aspek kehidupan yang kita jalani. Niat yang lillahita’ala akan menghasilkan kekhusyukan beribadah, melahirkan perbaikan akhlaq dan memberikan kelancaran berkomunikasi dan kemudahan bersilaturahmi dengan sesama.

Berhijrah juga membutuhkan totalitas agar benar-benar menuju kaffah, termasuk salah satunya berani meninggalkan segala hal tentang riba; sebuah kemudahan yang seringkali melenakan. #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia untuk perubahan yang optimal dan menyeluruh. Selamat berhijrah, kawan! Tetaplah semangat untuk terus memperbaiki diri.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Referensi:


Post a Comment

1 Comments

  1. Berkumpul dengan orang orang sholeh dah sholehah, meninggalkan riba, merupakan dua cara untuk hidup lebih tentram

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com