Ramadhan Tiba, Ngabuburit Datang




Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Setiap kali ramadhan tiba, istilah ngabuburit mulai menggaung di seluruh penjuru nusantara. Padahal ngabuburit sendiri berasal dari bahasa Sunda. Kata dasar ngabuburit yaitu burit, berarti sore hari. Ngabuburit bisa dimaknai sebagai kegiatan menunggu sore. Konon penggunaan awalan Ng- dan bu berarti sebuah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang. Maka bisa disimpulkan kalau ngabuburit adalah kebiasaan dalam masyarakat dalam menunggu waktu sore.


Sudah menjadi hal lazim di masyarakat Sunda, di sore hari para perempuan selepas asar akan santai-santai duduk di teras rumah atau bertandang ke rumah tetangga, untuk saling bercerita dan menganyam bersama. Sementara itu anak-anak akan bermain di halaman dengan ceria. Kegiatan itu jamak dilakukan sembari menanti para suami pulang dari kerjanya. Aaah, aku membayangkan betapa manisnya… di saat sang suami pulang. Istri pun menyambut dengan ciuman di punggung tangan dan sang anak berlari mendekati ayahnya. Lalu keluarga itu pun pulang ke rumah bersama-sama. Manis sekali ya?

Jadi sebenarnya ngabuburit itu tidak ada hubungan sama sekali dengan bulan ramadhan. Kegiatan ini dilakukan di masyarakat Sunda terlepas dari bulan apapun. Tidak jelas sejak kapan pemakaian kata ngabuburit menjadi fenomenal di bulan ramadhan. Namun menurut informasi yang aku dapatkan, pada sekitar tahun 1980an di Bandung pernah ada acara bernama Musik Ngabuburit. Tujuan dilaksanakannya acara ini yaitu untuk menanti waktu berbuka dengan bermacam-macam kegiatan positif.


Tahu sendiri ya waktu-waktu asar itu memang paling menggoda. Saat lapar dan haus sedang di puncak-puncaknya, badan mulai melemas. Mungkin penyelenggara Musik Ngabuburit saat itu terinspirasi dari sini. Akhirnya dibuatlah kegiatan untuk menjadi sarana pengalihan dari rasa lemas, haus dan dahaga. Sebuah pertunjukan musik religi yang tidak hanya bisa menghibur namun juga memberikan siraman rohani bagi yang mendengarnya.

Sayangnya perlahan acara yang tadinya penuh dengan unsur islami mulai tergerus. Penonton yang hadir bercampur baur. Ada pula yang merokok dan minum di tengah-tengah orang puasa. Ada pula yang malah berpenampilan seksi dan tidak tertutup. Mungkin itulah awal pergeseran makna ngabuburit mulai terjadi. Seperti saat ini, ngabuburit lebih condong direferensikan untuk kegiatan nongkrong dan jalan-jalan sore nyari angin sambil nunggu waktu berbuka tanpa ada faedah yang jelas.

Ada beberapa sekelompok orang yang memanfaatkan momen ngabuburit ini dengan positif. Salah satunya dengan berjualan takjil. Di Semarang, bisa kita lihat biasanya di beberapa titik pusat kota, misalnya di Jalan Pahlawan, akan ada banyak anak muda menawarkan jajanannya. Entah itu es buah, es sirop, es teh ataupun es kolak. Sebuah simbiosis mutualisme pun terjadi. Yang sedang nonkrong bisa asyik nongkrong, yang jualan pun bisa ada dari orang-orang nongrong tersebut.


Namun apakah ngabuburit selalu bersifat kegiatan yang membuang-buang waktu tanpa ada faedahnya? Tentu tidak. Kita bisa kok menunggu waktu berbuka dengan hal-hal positif namun tetap asyik.


1. Menghadiri Kajian


Di bulan ramadhan seperti ini, banyak masjid yang akan penuh dengan kajian. Biasanya jam-jam menjelang berbuka, akan ada banyak kajian yang digelar. Tinggal pilih saja mana kajian yang cocok dengan kebutuhan ruhiyah kita. Kalau begini kan nongkrongnya penuh pahala kan, pals? Soal makanan berbuka pun nggak perlu khawatir, biasanya di masjid-masjid sudah tersedia takjil gratis. Dapat pahala, hemat pula.

2. Mengikuti Pesantren Kilat


Di beberapa pemukiman, geliat pesantren kilat selama ramadhan mulai meningkat. Coba tengok apakah ada pesantren kilat di kampungmu? Dan pesantren-pesantren ini sekarang tidak hanya terbatas untuk anak-anak lo. Ada pula Sekolah Ibu yang biasanya digelar oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) di beberapa titik kecamatan. Rata-rata sih Sekolah Ibu ini digelar di pagi hari saat anak-anak sekolah. Namun ada pula Sekolah Ibu yang diadakan di sore hari menjelan berbuka. Sekolah Ibu biasanya berisi kegiatan-kegiatan positif dengan kajian tematik yang berkaitan masalah perempuan dan pengasuhan. Sudah pernah ikut acara semacam ini, pals?


3. Menyiapkan Buka bersama Keluarga


Bingung mau nongkrong di mana? Ya sudah di rumah saja. Buat asyik aja. Di rumah pun bisa asyik kok selama seluruh keluarga mau saling ngobrol dan berperan. Kenapa tak buat proyek menyiapkan buka bersama? Pasti asyik membuat menu berbuka yang melibatkan ayah, ibu dan anak-anak. Anak-anak bisa teralihkan dari rasa lapar. Ibu pun tidak akan merasa terlalu letih karena menyiapkan semuanya sendirian. Ayah bisa jadi tahu betapa tanggung jawab istri pun tak kalah besar dari tanggung jawabnya. Yang pasti harus siap-siap dapur bakal lebih ‘pecah’ daripada sebelumnya. Namun akan ada kebahagiaan yang berkali-kali lipat juga di antara ‘pecah’nya dapur tersebut.

4. Murojaah, Dzikir Sore, Berdoa dan Qiroah


Bulan ramadhan adalah bulan di mana dilipatgandakan seluruh pahala amal kebaikan. Maka mengapa tak habiskan saja sore kita dengan murojaah, siapa tahu jika rutin dilakukan.. dalam satu bulan ramadhan bisa mengkhatamkan hafalan satu juz. Aamiin. Tak lupa pula untuk melafazkan dzikir sore sebagai penjagaan diri dari sore hari hingga ke pagi berikutnya. Menanti sore dengan membaca ayat-ayat Al Quran juga bisa menjadi alternatif. Tak lupa sisipkan doa di waktu mustajab agar mimpi-mimpi kita didengar olehNya.


5. Mengadakan Garage Sale


Apakah lemari kita sudah kepenuhan? Baju-baju baru sudah mulai memenuhi lemari, sedang yang lama belum juga dikeluarkan? Saatnya memilah baju-baju yang masih layak pakai namun tak lagi kita gunakan sehari-hari. Daripada mubazir dan memberatkan diri kita di saat hari penghitungan nanti, kenapa tak kita lakukan saja garage sale. Cari tempat lapang di titik pusat kota, pilih lokasi yang sekiranya banyak orang datang. Buat kegiatan beli seikhlasnya bagi mereka yang membutuhkan. Kita senang karena lemari lebih rapi, mereka yang ingin punya baju baru untuk lebaran pun senang karena bisa dapat baju bagus dengan harga terjangkau. Uang dari hasil penjualan bisa kita donasikan ke kotak amal masjid atau ke panti-panti asuhan. Menyenangkan… Bukankah sejatinya berbagi memberikan kebahagiaan yang hakiki?



6. Blogging with BPN


Masih bingung juga mau ngapain ngabuburitnya? Makanya to ikutan aja blogging challenge dari Blogging Perempuan Network. Sore-sore gini bisa asyik menyusun kata-kata. Alhasil waktu sore pun tak akan terasa. Tiba-tiba terdengar beduk bertalu, akhirnya waktu buka pun tiba. Alhamdulillah…

Selamat berbuka ya, teman-teman. Semoga Allah berikan keberkahan dan rahmatNya di bulan puasa ini. Jangan lupa kalau mau ikut challenge dari BPN, join dulu sebagai member komunitasnya ya! Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

0 Comments