Menggali Hikmah dari Kisah Nabi Adam, Manusia Pertama di Muka Bumi

  • Monday, May 06, 2019
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Waktu kecil aku mendengar kisah-kisah nabi lewat cerita ibu atau guru-guru di TPQ, namun jarang benar-benar menggali kisah-kisah tersebut dari ayat-ayat Al Quran secara langsung. Maka ketika ada ajakan dari mbak Mega untuk mentadaburi ayat-ayat Al Quran selama 30 hari di bulan Ramadhan ini, aku menerimanya. Khatam Quran selama bulan ramadhan bisa jadi hal yang biasa. Namun khatam Al Quran plus memahami maknanya sepertinya hal yang patut dicoba. Bukankah Al Quran diturunkan sebagai pedoman hidup seluruh umat manusia? Maka Al Quran tidak hanya sekedar untuk dibaca, namun dipahami, ditelaah, diambil hikmahnya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di hari pertama #30HRB aku belajar untuk lebih mengenal tentang Nabi Adam AS, manusia pertama di muka bumi. Aku baru sadar sampai usiaku memasuki angka 34 ini, aku hanya mengenal Nabi Adam AS sebagai manusia pertama di muka bumi dari ibuku. Yang kuingat tentang beliau adalah istrinya bernama Hawa, dan beliau diusir dari surga karena memakan buah khuldi. Namun aku tak tahu di surat apakah dalam Al Quran kisah tentang Nabi Adam tercantum. Berkat #30HRB aku jadi tahu ternyata kisah Nabi Adam termaktub dalam surat Al Baqarah: 30 - 39 dan Surat Al A’raaf: 11 - 27.

Nabi Adam dalam Al Baqarah 30 - 39


Di Quran surat Al Baqarah 30 -39, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah manusia pertama yaitu Adam ‘alaihis salam, penciptaannya dan bagaimana Dia mengistimewakannya dengan diberikannya ilmu pengetahuan yang luas dan ditunjuknya sebagai khalifah di bumi.



30. wa iż qāla rabbuka lil-malā`ikati innī jā'ilun fil-arḍi khalīfah, qālū a taj'alu fīhā may yufsidu fīhā wa yasfikud-dimā`, wa naḥnu nusabbiḥu biḥamdika wa nuqaddisu lak, qāla innī a'lamu mā lā ta'lamụn.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

31. wa 'allama ādamal-asmā`a kullahā ṡumma 'araḍahum 'alal-malā`ikati fa qāla ambi`ụnī bi`asmā`i hā`ulā`i ing kuntum ṣādiqīn.

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”

32. qālụ sub-ḥānaka lā 'ilma lanā illā mā 'allamtanā, innaka antal-'alīmul-ḥakīm.

Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

33. qāla yā ādamu ambi`hum bi`asmā`ihim, fa lammā amba`ahum bi`asmā`ihim qāla a lam aqul lakum innī a'lamu gaibas-samāwāti wal-arḍi wa a'lamu mā tubdụna wa mā kuntum taktumụn.

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”

34. wa iż qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, abā wastakbara wa kāna minal-kāfirīn

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.

Dari ayat 30-34 ini menceritakan bagaimana Allah memberitahu para malaikat bahwa Ia telah menciptakan makhluk yang disebut manusia bernama Adam. Kelak Adam akan diminta menjadi pemimpin di bumi. Malaikat sempat bertanya kepada Allah tentang alasanNya memilih Adam sebagai khalifah. Lalu Allah menunjukkan bagaimana Ia telah membekali Adam dengan pengetahuan yang luas. Adam diberi kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang tak diketahui para malaikat. Diceritakan pula bagaimana malaikat pada akhirnya tunduk pada perintah Allah untuk bersujud pada Adam. Apalagi setelah diperlihatkan kemampuan dan pengetahuan Adam. Namun iblis tetap menolak bersujud. Iblis merasa menjadi golongan yang lebih tinggi dari Adam karena diciptakan dari api.

35. wa qulnā yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata wa kulā min-hā ragadan ḥaiṡu syi`tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takụnā minaẓ-ẓālimīn

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!”

36. fa azallahumasy-syaiṭānu 'an-hā fa akhrajahumā mimmā kānā fīhi wa qulnahbiṭụ ba'ḍukum liba'ḍin 'aduww, wa lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā'un ilā ḥīn

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”

37. fa talaqqā ādamu mir rabbihī kalimātin fa tāba 'alaīh, innahụ huwat-tawwābur-raḥīm

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

38. qulnahbiṭụ min-hā jamī'ā, fa immā ya`tiyannakum minnī hudan fa man tabi'a hudāya fa lā khaufun 'alaihim wa lā hum yaḥzanụn

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

39. wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābun-nār, hum fīhā khālidụn

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

Pada ayat 35-39 diceritakan bagaimana setan kemudian memperdaya Nabi Adam dan istrinya. Nabi Adam bertobat atas kesalahannya dan Allah menerimanya, namun sebagaimana Allah telah takdirkan beliau sebagai khalifah di muka bumi sejak awal pertama penciptaannya, Nabi Adam beserta istrinya pun akhirnya diturunkan ke bumi. Bukan tanpa sebab Allah menurunkan Nabi Adam beserta istrinya, karena kelak Nabi Adam akan menjadi manusia pertama yang mendapat petunjuk dari Allah. Disampaikan oleh Allah Nabi Adam dan keturunannya tak perlu takut dan bersedih hati selama mengikuti petunjuk dariNya. Dan bagi yang mendustakan ayat-ayat dari Allah kelak mereka akan menjadi penghuni neraka.

Nabi Adam dalam Al A’raf 11 - 27

Di dalam Quran Surat Al A’raf 11 - 27, kisah tentang Nabi Adam berfokus pada iblis yang tak mau bersujud padanya karena merasa diciptakan dari api dan bagaimana iblis berusaha menyesatkan Nabi Adam dan anak cucu Adam hingga hari akhir.
 
 


11. wa laqad khalaqnākum ṡumma ṣawwarnākum ṡumma qulnā lil-malā`ikatisjudụ li`ādama fa sajadū illā iblīs, lam yakum minas-sājidīn

Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.

12. qāla mā mana'aka allā tasjuda iż amartuk, qāla ana khairum min-h, khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahụ min ṭīn

(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

13. qāla fahbiṭ min-hā fa mā yakụnu laka an tatakabbara fīhā fakhruj innaka minaṣ-ṣāgirīn

(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”

14. qāla anẓirnī ilā yaumi yub'aṡụn

(Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.”

15. āla innaka minal-munẓarīn

(Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.”

16. qāla fa bimā agwaitanī la`aq'udanna lahum ṣirāṭakal-mustaqīm

(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,

17. summa la`ātiyannahum mim baini aidīhim wa min khalfihim wa 'an aimānihim wa 'an syamā`ilihim, wa lā tajidu akṡarahum syākirīn

kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

18. qālakhruj min-hā maż`ụmam mad-ḥụrā, laman tabi'aka min-hum la`amla`anna jahannama mingkum ajma'īn

(Allah) berfirman, “Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua.”

Di dalam ayat 11-18, dikisahkan bagaimana Allah meminta iblis bersujud pada Adam namun mereka menolaknya karena merasa kedudukannya lebih tinggi. Iblis yang dibuat dari api merasa terhina jika harus bersujud pada Adam yang diciptakan dari tanah.

Allah pun kemudian mengusir iblis dari surga atas kesombongannya. Iblis meminta penangguhan waktu. Iblis juga mengatakan bahwa ia akan mengganggu Nabi Adam dan istrinya untuk berjalan sesuai petunjuk Allah. Ia akan menggoda mereka dengan segala cara dan membuat mereka lupa bersyukur. Allah pun kemudian meminta iblis untuk keluar dari surga dan berjanji barang siapa mengikuti iblis maka golongan tersebut akan masuk ke neraka jahanam.


19. wa yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata fa kulā min ḥaiṡu syi`tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takụnā minaẓ-ẓālimīn

Dan (Allah berfirman), “Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”

20. fa waswasa lahumasy-syaiṭānu liyubdiya lahumā mā wụriya 'an-humā min sau`ātihimā wa qāla mā nahākumā rabbukumā 'an hāżihisy-syajarati illā an takụnā malakaini au takụnā minal-khālidīn

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”

21. wa qāsamahumā innī lakumā laminan-nāṣiḥīn

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,”

22. fa dallāhumā bigurụr, fa lammā żāqasy-syajarata badat lahumā sau`ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni 'alaihimā miw waraqil-jannah, wa nādāhumā rabbuhumā a lam an-hakumā 'an tilkumasy-syajarati wa aqul lakumā innasy-syaiṭāna lakumā 'aduwwum mubīn

dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Di ayat 19-22 dikisahkan Allah mempersilakan Adam dan istrinya untuk tinggal di surga dan makan apapun yang ada di dalamnya, kecuali buah dari sebuah pohon yang kemudian kita kenal dengan nama buah quldi. Iblis kemudian mulai menggoda Adam dan istrinya dengan berbagai cara hingga akhirnya mereka terlena dan melanggar larangan Allah.

Ketika pada akhirnya Nabi Adam dan istrinya mencicipi buah tersebut, aurat mereka tampak dan mereka menutupinya memakai daun-daun yang ada di surga. Allah pun kembali mengingatkan Nabi Adam dan istrinya bahwa setan adalah musuh nyata yang akan memperdaya.


23. Qalā rabbanā ẓalamnā anfusana wa il lam tagfir lanā wa tar-ḥamnā lanakụnanna minal-khāsirīn

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

24. Qālahbiṭụ ba'ḍukum liba'ḍin 'aduww, wa lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā'un ilā ḥīn

(Allah) berfirman, “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.”

25. qāla fīhā taḥyauna wa fīhā tamụtụna wa min-hā tukhrajụn

(Allah) berfirman, “Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.”

26. yā banī ādama qad anzalnā 'alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la'allahum yażżakkarụn

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.

27. yā banī ādama lā yaftinannakumusy-syaiṭānu kamā akhraja abawaikum minal-jannati yanzi'u 'an-humā libāsahumā liyuriyahumā sau`ātihimā, innahụ yarākum huwa wa qabīluhụ min ḥaiṡu lā taraunahum, innā ja'alnasy-syayāṭīna auliyā`a lillażīna lā yu`minụn

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Pada ayat 23 - 27 dikisahkan bagaimana Nabi Adam memohon ampun kepada Allah atas kesalahannya. Ia bertobat dengan sebenar-benarnya, memohon pengampunan dari Allah dan rahmatNya. Allah pun kemudian menurunkan Nabi Adam dan istrinya ke bumi. Mereka kelak akan mendapat keturunan, mati dan dibangkitkan di bumi. Allah juga memperingatkan bahwa kelak keturunan Nabi Adam akan saling bertikai satu sama lain.

Allah juga mengingatkan anak cucu Adam untuk tidak tersesat oleh tipu daya setan sebagaimana nenek moyangnya. Ketaqwaan adalah pakaian terbaik bagi orang-orang beriman. Siapapun yang mengikuti setan adalah orang-orang yang tidak beriman.


Hikmah Kisah Nabi Adam

 
 
Dari Quran Surat Al Baqarah: 30 - 39 dan Al A’raf 11 - 27, aku belajar beberapa hal:

1. Allah sejak awal penciptaan Nabi Adam telah menitipkan misi spesifik kepada beliau yaitu sebagai khalifah di bumi. Itulah yang kemudian menjadi misi anak cucu Adam, termasuk kita, untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini. Jika kita ingin berhasil menjadi pemimpin, maka sudah sepantasnya mengikuti aturan yang telah Allah tetapkan.

2. Allah sejak awal penciptaan Nabi Adam telah mengetahui apa kelebihan dan kekurangan makhluknya ini. Manusia dilengkapi dengan akal dan hawa nafsu, itulah yang membedakannya dengan malaikat. Malaikat selalu mengikuti apapun yang dititahkan oleh Allah tanpa terkecuali, namun manusia karena memiliki hawa nafsu akan bisa tergoda oleh tipu daya setan yang memang telah berjanji akan menggoda Nabi Adam dan anak cucunya hingga akhir zaman.

3. Jika kita ingin menjadi golongan yang selamat, maka kita harus mengikuti perintah Allah. Kita harus belajar dari kisah Nabi Adam yang terbujuk oleh rayuan setan hingga akhirnya diturunkan ke muka bumi. Dari kisah manusia pertama ini, kita harusnya telah sadar bahwa iblis akan terus melakukan berbagai cara untuk membuat kita mengikuti hawa nafsu dan menjadi golongan mereka.

Masya Allah, jika kita tak sekedar membaca Al Quran, namun juga berusaha memahami arti ayat per ayatnya, betapa kecintaan kita terhadap agama yang haq ini akan semakin kokoh. Karena mentadabburi ayat-ayat yang berkisah tentang Nabi Adam, aku jadi tahu kalau di dalam Al Quran ternyata tidak menyebutkan nama istri Adam adalah Hawa. Nama Hawa atau Eve tersebut dalam beberapa kisah israiliyah, juga beberapa hadits.

Hal ini menyadarkanku betapa masih banyak yang harus aku pelajari tentang agama ini. Jangan sampai agama ini sekedar menjadi agama warisan bagiku dan anak cucuku. Untuk melengkapi pengetahuanku terhadap Islam, selain memahami ayat-ayat Al Quran, maka wajib juga untukku memahami hadits agar lebih sempurna pemahamanku.

Insya Allah besok kita akan belajar kisah-kisah lainnya di dalam Al Quran, doakan aku agar istiqomah ya, biar ramadhan ini lebih bermakna dari ramadhan-ramadhan sebelumnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Menggali Hikmah dari Kisah Nabi Adam, Manusia Pertama di Muka Bumi. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com