Matematika Logis; Menghitung Detik-detik Akhir Kebersamaanku dengan Bunsay Jateng Batch #5



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Tak terasa sampai juga di ujung level terakhir di semester pertama ini. Itu artinya, kebersamaan dengan teman-teman Bunsay Jateng Batch #5 harus diakhiri. Rasanya? Jangan ditanya. Campur aduk. Qodarullah sebagian besar peserta Bunsay Jateng #5 adalah peserta matrikulasi SSJP batch #6 yang saat itu aku juga menjadi fasilitator mereka, jadi memang sudah sangat dekat dan terlanjur terbiasa.

Aku tak biasa
Bila tanpa kau di sisiku
Aku tak biasa
Bila ku tak mendengar suaramu

Eeh, malah nyanyi. Baiklah, kembali ke catatan selama sebulan ini menemani teman-teman mengulik materi ‘Menstimulasi Anak  Matematika Logis’. 

Aha Moments di Level 6


Jujur, di antara 12 materi di level Bunsay, materi level 6 adalah salah satu materi yang aku nggak percaya diri saat menyampaikannya. Aku merasa kurang menguasai matematika logis. Matematika yang masih terpatri di diriku ya tentang berhitung dan rumus-rumus. Ada kalanya menyenangkan, ada kalanya membosankan.




Bagaimana dengan matematika logis? Entahlah… Jika harus mencari makhluk paling nggak logis di muka bumi, sepertinya salah satunya aku, wkwk. Aku termasuk orang yang porsi memakai perasaannya lebih tinggi daripada menggunakan logika. Lalu mendadak di telinga terngiang..

Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika
Ilusi sebuah hasrat dalam hati
Yang ada hanya ingin memiliki
Dirimu hanya untuk sesaat

Nah kan malah nyanyi lagi, suka rada error ketika harus dipaksa ngomongin yang logis-logis. 

Namun begitulah seninya menjadi fasilitator, di saat kita tak sedang percaya diri pun, harus mampu menampilkan usaha terbaiknya agar tetap terlihat everything’s well. Art of facilitating justru diuji di sini. Bersyukur ada dik Widi Utami, blogger hits yang memang seneng banget sama matematika, ada mbak Fahma Nurdiana, pemerhati parenting dari IP Banyumas, mbak Oky dan banyak teman di Bunsay Jateng batch #5 yang secara aktif berbagi tentang tips mengajarkan matematika logis kepada anak-anak dengan mudah dan menyenangkan.

Aku pun sangat terbantu dengan korlan level 6, mbak Dian Ika Aryani yang memandu setiap diskusi dengan baik, sehingga teman-teman juga aktif menanggapi. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk untuk didiskusikan bersama awalnya cukup membuatku panas dingin, tetapi ketika teman-teman saling memberikan pendapat dan masukan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, sungguh aku sangat terbantu dan tinggal membuat simpulan dari jawaban-jawaban yang sudah ada.




Semua guru, semua murid. Inilah sebuah kelas belajar yang begitu aktraktif dan menyenangkan. Bahkan dari perjalanan diskusi di level 6 ini pun aku baru sadar kami pun sedang memraktekkan matematika logis secara langsung. Kok bisa? 

Ya, bukankah tujuan dari menstimulasi anak matematika logis bukan sekedar berhitung 1+1=2 atau 3x3=9? Namun lebih luas dari itu. Bahwa dengan mengajak anak memahami logika matematika, kita secara tak langsung mengajak anak untuk menganalisa sebuah masalah, mencari solusi dari masalah tersebut, belajar menentukan pilihan dan berani mengemukakan pendapat dari sebuah topik. 

Begitu juga ketika sedang dalam proses diskusi di kelas Bunsay. Secara tidak langsung aku dan teman-teman belajar merumuskan masalah, mencari solusi, berani berpendapat dan berani memilih parenting style ada diri masing-masing di tengah banyaknya teori parenting yang ada.




Terlebih lagi, dengan berproses di Bunsay pun sebenarnya kami dipaksa untuk memraktekkan matematika logis itu sendiri. Jika ingin mendapatkan badge dasar saja, usaha seperti apa yang harus dilakukan. Jika ingin meningkat mendapatkan badge You’re Excellent, maka tentu saja usaha yang dilakukan harus ditambah dua atau tiga kali lipat. Begitu juga ketika ingin menaklukkan diri agar bisa mendapat Outstanding Performance, maka harus bisa menghitung berapa kali lipat lagi usaha harus ditambah.

Mengatur waktu untuk mengerjakan tantangan 10 hari di Bunsay pun secara tak langsung telah mengajarkan kami tentang matematika logis. Membuat skala prioritas harian, mingguan dan bulanan adalah proses menganalisis masalah dan berpikir kritis bukan? Jika ingin lolos ke level selanjutnya, maka apa yang harus dilakukan? Tentu akan selalu ada bedanya mahasiswi yang mengerahkan segala potensi dan kemampuannya dengan mahasiswi selow yang penting setoran kan? Ilmu yang terikat pada mahasiswi yang mengerahkan usahanya secara maksimal pun insya Allah akan lebih kuat dibanding yang sekedar mengejar ‘batas aman.”

Ternyata… matematika memang benar-benar begitu dekat dengan hidup kita. Sayang kita yang terlalu sering menutup mata dan terlalu sempit memaknai matematika sekedar sebagai “ilmu berhitung.” Aku cukup puas dengan tantangan 10 hari yang disetorkan teman-teman. Begitu banyak ide sederhana yang menarik dan cukup asyik untuk dikulik. Tak menyangka ternyata matematika bisa begitu asyiknya. Tiada hal yang lebih menyenangkan ketika di sesi review, teman-teman bilang jadi lebih menikmati mengajarkan matematika ke anak-anak. Alhamdulillah… artinya insya Allah mereka telah benar-benar memraktekkan materinya dengan benar dan mau secara sungguh-sungguh menjalankan tantangannya. Semoga istiqomah ya teman-teman.

Tips Mengajarkan Matematika Logis


Buat teman-teman pembaca yang masih bingung bagaimana menstimulasi matematika logis kepada anak-anaknya, aku bisikin deh beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Kegiatan-kegiatan ini nggak memerlukan banyak effort dan bisa dilakukan kapan pun. Aku pun biasa mengerjakannya sama Ifa dan Affan.




1. Bermain Pasir


Duo Ifaffan sangat suka bermain pasir. Nggak harus pasir kinestetik sih, kadang pasir di depan rumah juga jadi sarana main mereka. Yang penting setelahnya harus cuci tangan dengan air dan sabun sampai bersih. Bermain pasir meski buat sebagian besar ibu-ibu terlihat jorok, ternyata punya banyak manfaat. Selain melatih motorik halus, bermain pasir juga secara tidak sadar anak berlatih menakar. Anak jadi tahu bedanya sedikit dan banyak. Pasir yang dimasukkan ke wadah berbentuk persegi dan bunda akan berubah bentuk mengikuti wadahnya.

2. Mencuci Baju sambil Main Air


Sambil mencuci baju aku sering mengajak Affan memilah mana bajunya, mana baju ayahnya, mana baju bundanya dan mana baju kakaknya. Setelah itu kami akan bermain tebak warna. Dilanjut dengan bermain air, ternyata air kalau dimasukkan ke wadah berbeda-beda akan mengitu bentuk wadahnya. Belum lagi keseruan bermain gelembung sabun, kok bisa ya sabunnya bergelumbung?

3. Seseruan di Dapur


Siapa bilang anak bakal mengganggu kalau bundanya masak, ayolah saatnya memanfaatkan keingintahuan mereka dengan kegiatan yang tepat. Di dapur anak-anak bisa belajar jenis-jenis bumbu, menakar bumbu agar rasa masakan pas. Belum lagi kalau rebutan telur puyuh. Kakak harus belajar membagi dengan adil jumlah telur puyuh untuknya dan adiknya.


4. Membiarkan Anak Memilih Bajunya Sendiri


Mengajarkan anak untuk berani berpendapat dan menentukan keputusan bisa dimulai dengan cara sederhana kok; biasakan anak untuk memilih bajunya sendiri. Anak juga bisa belajar menentukan baju mana yang sebaiknya dipakai di rumah dan yang layak dipakai menghadiri kegiatan di luar rumah.

5. Membereskan Mainan


Kegiatan membereskan mainan biasanya jadi hal yang membosankan. Namun kini tidak lagi. Ajak anak untuk berlomba siapa yang tercepat membereskan mainan dengan rapi. Tidak asal rapi, namun juga harus bisa menaruh mainan di tempat-tempat yang tepat sesuai klasifikasinya. Misal, mainan masak-masakan harus diletakkan di kontainer warna hijau, mainan mobil-mobilan di kontainer warna biru, dan seterusnya.

Sudah punya bayangan kan sekarang bagaimana cara mengajarkan matematika logis ke anak-anak? Nggak sulit kan? Selamat mencoba.

Best of The Best di Level 6


Seperti biasa di setiap level fasilitator diminta untuk memilih best of the best students in the class. Berikut ini nama-nama yang menurutku pantas dianugerahi award di level ini:

Mahasiswi Apresiatif


1. Junita



Mbak Junita ini salah satu mahasiswi yang tergerak untuk ngeblog sejak awal bunsay. Saya amati di setiap levelnya semakin apik tulisannya. Semakin mengalir dan enak dibaca. Di level ini mbak Junita akhirnya berhasil menyabet badge Outstanding Performance. Semoga setelah ini, mbak Junita semakin melejit kepercayaan dirinya untuk terus menulis dan menebar manfaat. Yuk, tengok setoran 10 harinya di sini.


2. Aryani Susilo Utami



Mbak Aryani demi bunsay sampai membuat akun IG khusus, narasinya kini semakin baik. Tidak sekedar bercerita, namun juga sudah seperti menyusun portfolio anak secara profesional. Di dalamnya tidak hanya berisi aktivitasnya apa, namun juga bagaimana ekspresi anak saat menjalankan kegiatan tersebut dan point pembelajaran yang didapat di setiap game yang dijalankan. Salah satu tantangan 10 harinya bisa dilihat di sini.


Mahasiswi Aktif


Nur Hamidah



Sosok ibu guru yang lemah lembut dan cantik ini semakin hari semakin melejit. Tantangan 10 hari selalu dikerjakan dengan semangat di sela-sela aktivitasnya sebagai guru dan ibu dari putranya yang berkebutuhan khusus. Mbak Nung, begitu kami memanggilnya, tak pernah patah semangat. Meski kadang terkendala sinyal dan terlambat mengikuti diskusi, namun selalu menyempatkan menyapa di WAG. 

Setiap ada postingan di GC, mbak Nung selalu yang pertama meninggalkan komentar. Di level ini mbak Nung juga aktif membagikan materi review level ini yang diposting di GC ke WAG.


Mahasiswi Teladan


Mbak Oky Yuwanti



Mbak Oky terpilih (kembali) menjadi mahasiswi teladan karena selama 6 bulan berturut-turut tak pernah turun dari level OP. Mbak Oky membuat blog untuk dokumentasi bunsay, dari yang benar-benar nol hingga kini tampilannya semakin menarik. Ketika teman-teman lain setor T10 hari kadang hanya 1 atau 2 kalimat, mbak Oky bisa menampilkan postingan blog dengan artikel yang inspiratif dan bermanfaat. 

Di dapur pengurus ataupun di grup utama Bunsay, mbak Oky juga selalu gercep membantu siapapun yang membutuhkan uluran tangan, terkait materi, merespon pertanyaan dan banyak hal. Thank you mbak Oky, tetap istiqomah dalam kebaikan yaa. Untuk menengok tantangan 10 hari mbak Oky di level 6, cuzz silakan kulik ke sini.


Aliran Rasa Ter…


Seperti biasa di level-level sebelumnya, aku selalu tidak bisa hanya memilih satu. Untuk level 6, ada 3 aliran rasa yang mampu mencuri hatiku:





Aliran Rasa Terharu

Aliran rasa dari Mbak Wara Septika Anggun Surya Sari yang bisa dibaca di sini sukses membuatku seperti sedang mengiris bawang merah berton-ton jumlahnya. 

Aku beberapa kali bilang ke mbak Wara kalau tulisannya menarik. Pastinya akan lebih bermanfaat jika bisa dibaca oleh lebih banyak orang. Namun mbak Wara bilang belum siap membagikan tulisan-tulisannya secara terbuka. Pada akhirnya di level ini aku diberi kejutan karena akhirnya mbak Wara membuat blog. Desain dan gaya tulisannya benar-benar mbak Wara bangeet! Yang bikin terharu karena mbak Wara bilang blog ini kejutan buatku. Rasanya speechless. Terima kasih untuk kejutan cantiknya. Semoga istiqomah menulis dengan niche yang dipilih. Semoga semakin banyak menebar manfaat ya, mbak.

Quote cantik dari aliran rasa mbak Wara: 

Jujur saja blog ini saya persembahkan salah satunya untuk beliau. Karena beliau selalu "menyentil" saya untuk membuat blog. Blog ini digunakan selain untuk mengerjakan tugas kuliah Bunda Sayang juga untuk sharing ilmu apa yang saya pelajari. Kata beliau ilmu saya itu sangat bermanfaat, tidak hanya untuk kalangan tertentu (mahasiswa Bunsay) jadi sayang jika hanya ditulis di Gdoc. Akan sedikit sekali yang bisa membacanya. Beliau berujar agar ilmu yang saya pelajari lebih bermanfaat untuk banyak orang jika ditulis di blog agar bisa di akses oleh umum.



Aliran Rasa TerHikmah

Sosok yang sangat religius, tenang, dan kalem ini memang selalu berhasil membuat aliran rasa yang selalu bisa menjadi self reminder bagi siapapun yang membacanya. Kalau nggak percaya, cobalah tengok di sini. Pasti teman-teman akan setuju denganku kenapa memilih aliran rasa Mbak Hijriyani Saraswati sebagai tulisan terhikmah.

Quote menarik yang aku sukai dari aliran rasanya:

Kita juga perlu mengenalkan matematika Allah agar tetap membingkai akidah anak-anak. Dimana sangat jauh berbeda dengan matematika manusia. Utamanya saat bersedekah, 5 - 1 tidak sama dengan 4. Tapi justru bisa sama dengan 8 atau 10. Karena dengan berbagi, apa yang akan kita dapatkan akan berlipat, itulah janji Allah yang kita yakini kebenarannya.”

Nggak hanya aliran rasanya, tantangan 10 hari mbak Saras di setiap level selalu tak bisa jauh mengajak kita untuk mengingat kebesaranNya. Makasih mbak Saras sudah merangkum hikmah-hikmah tantangan dan menjadi reminder buat kami.


Aliran rasa TerLiterasi

Kalau soal tulis-menulis sih mbak satu ini tidak perlu dikomentari, sudah mastah. Namun yang perlu diapresiasi adalah di tengah-tengah kesibukan mbak Hessa Kartika yang menclok ke kota sana, ke kota sini, beliau masih menyempatkan setor T10 hari dan aliran rasa. Aliran rasa mbak Hessa di level ini menjadi reminder bahwasanya jika mau mencari alasan untuk tidak setor T10 dan aliran rasa itu bakal banyak sekali alasan yang bisa kita temukan. 

Namun jika kita fokus berniat menjalani kelas Bunsay, insya Allah akan dimudahkan oleh Allah dengan berbagai cara. Contohnya mbak Hessa di level ini. Saat kebingungan cari game yang akan dikerjakan bersama anak-anak di level ini, ternyata justru Allah takdirkan pertemukan banyak hal yang bisa digunakan sebagai game di level ini. Barakallah. Mau baca aliran rasa mbak Hessa? Cuzz silakan mlipir ke sini ya.




Quote dari aliran rasa Mbak Hessa:

Allah begitu luarbiasa mengatur skenario-Nya untukku. DIA tidak membiarkanku buntu ide! MasyaAllah...DIA tunjukkan segala bentuk aktivitas anak-anakku yang berhubungan dengan logika Matematika lebih dari 2 pekan ini. 

Semua hal baik di level ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa ada korlan yang mengomando dengan sangat teratur. Mbak Dian Ika Aryani, korlan level ini memang seorang motivator ulung. Setiap hari dengan gaya khasnya yang ceria dan penuh semangat selalu rutin mengingatkan teman-teman untuk setor t10 hari. Selain memberikan rekapan harian, mbak Dian Ika juga memberikan rekapan siapa saja yang sudah berhasil lolos setor 10 hari berturut-turut, siapa yang pertama selesai t10 harinya. Resume diskusi pun selalu gercep disetor.




Mbak Dian Ika juga sangat disiplin, cocok mendampingiku dan selalu mengingatkan fasilnya yang seringkali terlalu selow ini. Di level 6, diskusi dialihkan menjadi siang menyesuaikan jadwal online mbak Dian Ika, alhamdulillah meski siang tetap semangat karena mbak Dian Ika mampu memandu diskusi dengan cukup baik.

Salah satu yang sedikit bikin gemes di level ini adalah pengurus kelas yang kewalahan mencari anggota grup yang mau ‘manggung’ di Jumat Hangat. Sudah sejak jauh-jauh hari, Mbak Dessy cs mengompori teman-teman yang belum mendapat kesempatan ‘manggung’ untuk mau mengambil peran. Namun sampai hari H, belum ada seorang pun yang mengisinya.

Meski gemes, bersyukur punya perangkat kelas yang solid. Akhirnya seluruh perangkat kelas mengambil alih Jumat Hangat dengan berdiskusi tematik. Bebas, namun tetap santun dan bermanfaat. Di Jumat Hangat pertama, tema yang dibahas tentang merawat cinta. Salah satunya dengan rajin-rajin merawat diri. Selain biar suami senang, juga sebagai salah satu cara bersyukur kepada Allah atas diberikannya wajah dan tubuh yang sehat. Ternyata materi Jumat Hangat pertama ini bikin kelas jadi ramai dan semangat.




Seminggu kemudian, ternyata slot Jumat Hangat masih belum terisi. Grup perangkat kelas mulai heboh dan berencana untuk membuat diskusi bebas seperti minggu lalu. Pada akhirnya aku menawarkan diri untuk menjadi ‘tamu rahasia.’ Kami membahas mengenai fatherless dan membedah buku ‘Menjadi Ayah Pendidik Peradaban.’ 

Alhamdulillah Jumat Hangat kedua juga berjalan sangat lancar. Meski belum kelar semua bab di dalam buku tersebut dibedah, namun cukup membuat teman-teman antusias. Hitung-hitung kulwap perpisahan ya, gaesss.

Yang pasti dengan semua perjalananku bersama Bunsay Jateng #5, aku bersyukur bisa mendapat kesempatan bertemu dengan guru-guru kehidupan terbaik. Semoga saja apa yang kami lewati selama satu semester ini membawa manfaat. 




Terima kasih untuk semua kisah, cerita, dan curhatan-curhatannya yang membuatku menjadi semakin mudah bersyukur. Maafkan aku jika selama menemani teman-teman masih kurang maksimal dan banyak salah-salah kata serta perbuatan yang disengaja ataupun tidak.

Sejatinya perpisahan, hanyalah awal dari perjumpaan-perjumpaan berikutnya. Maka, meski fasilitator harus dirotasi, insya Allah silaturahmi akan tetap terjalin. Sampai jumpa di lain kesempatan dan tetap kompak. Bunsay Jateng, lulus bareng!

Hmm, kira-kira aku akan terbang ke daerah mana ya di semester 2 nanti? Ada yang bisa menebak?

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Post a Comment

0 Comments