Ngobrol Asyik di Pringsewu Hingga Malam Pembantaian di Nottingham



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jumpa lagi dalam edisi flashback sekaligus bayar hutang ODOP, kali ini aku mau berbagi cerita random. Yang pertama, saat ikutan kopdar bersama Ketua IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) Pusat, mbak Widyanti Yuliandari, atau yang biasa dipanggil mbak Wid. 

Bertempat di Restoran Pringsewu pada 9 Juli 2019, kami ngobrol asyik tentang peluang dan tantangan penulis zaman now. Saat itu kami ngobrol betapa semakin banyak penulis buku yang banting setir menjadi blogger. Alasannya tentu saja karena proses menulis buku yang sangat panjang, belum lagi saingannya kini semakin banyak. 

Resiko buku tak laku pun cukup besar. Jika beberapa minggu tidak bisa masuk dalam daftar buku yang banyak dicari oleh customer, biasanya buku-buku kita akan diturunkan ke rak yang lebih rendah. Hal ini membuat kesempatan buku kita untuk dibeli semakin berkurang.


foto usai kopdar

Namun bukan berarti ngeblog pun tak ada tantangan. Salah satu tantangan yang banyak dihadapi adalah algorithma google yang berubah-ubah, kadang bahkan tak tertebak. Lalu ada banyak yang bilang kalau tulisan-tulisan panjang sekarang tidak lagi diminati. Meski dari hasil ngobrol asyik siang itu, kami simpulkan pendapat itu tak sepenuhnya benar, karena dari hasil analisa teman-teman yang hadir di kopdar tersebut, tulisan-tulisan panjang mereka masih cukup banyak mendulang viewer. Contohnya tulisanku. Kalau dicek di statistika blog dan google analytics, tulisan yang banyak viewer-nya justru artikel-artikel yang panjang lo. 

Selain minat pada artikel panjang yang berkurang, tantangan blogger lainnya yaitu ketika semakin banyak orang yang tidak suka membaca. Biasanya mereka hanya sekedar baca judul blog, lalu ditinggal, tanpa mau tahu isinya apa. Ditambah semakin naiknya pamor vlogging, blog pun perlahan mulai ditinggal.

Namun semua tantangan di atas apakah akan membuat kita berhenti menulis?

Tentu tidak kan? Sebagai orang yang mencintai dunia tulis-menulis, tentunya tantangan di atas justru mampu kita jadikan peluang. Misal memadukan antara artikel-artikel panjang dengan infografis yang menarik, sehingga meski tulisan kita panjang, orang tetap nyaman membacanya. Atau memadukan antara blogging dan vlogging; menyematkan video konten kita di dalam postingan blog. 



Suka menulis tapi tidak menikmati proses penerbitan buku yang panjang? Jangan khawatir, peluang menulis tetap bisa terbuka lebar dengan menjadi kreator digital atau menjadi content writer. Selalu akan ada pilihan yang terbuka lebar, dan bisa kita pilih sesuai kebutuhan.

Mbak Wid dalam sesi kopdar tersebut juga menceritakan bagaimana IIDN mencoba kembali bangkit. Kini IIDN kembali bergeliat dengan mengaktifkan grup Facebook, mengadakan proyek antologi indie dan beberapa kelas pelatihan. Tertarik ikutan? Cuzz, join saja di grupnya ya.

Sebagai penulis yang berkembang di era milennial, mbak Wid juga menambahkan agar kita melek dalam urusan digital marketing. Belajar bagaimana memanfaatkan sosial media. Lihat pasar kita, apakah banyak di facebook, IG, twitter, atau YouTube?




Pelajari bagaimana para penulis-penulis muda menjual buku-bukunya sekarang ini! Dikemas dalam promosi yang sangat menarik, mengolaborasikan antara video, pesan-pesan pendek yang menggelitik dan infografis yang kece.

Untuk target pasar emak-emak, Facebook masih menjadi juara. Kita bisa contoh kesuksesan novel Elena dan Hati Suhita yang debutnya dimulai dari grup menulis dan status-status di Facebook. Jangan lupakan pentingnya disiplin waktu. Postingan yang terjadwal adalah salah satu strategi marketing yang baik.

Malam Pembantaian di Nottingham


Cerita kedua di postingan ini adalah serunya malam pembantaian di Nottingham! Jangan bayangkan yang aneh-aneh! Malam pembantaian di sini maksudnya malam di mana salah satu naskah peserta ODOP di group Nottingham dibedah dan didiskusikan. Meski sudah nulis beberapa buku antologi, ternyata tetep lo perut mules ketika diberi tahu naskahku akan dibedah hari itu.

17 September 2019, menjadi saat-saat yang menegangkan. Apalagi oleh mas Fadhli, aku diminta setor tulisan yang berbentuk cerpen dan fiksi. Duh, sebuah genre yang saat ini nggak aku banget, saking terlalu sering menyusun tulisan non fiksi ataupun faksi.




Ini lo tulisanku yang diublek-ublek oleh teman-teman dan PJ di group Nottingham: Guru Kehidupan di Tengah Lebatnya Hujan

Meski deg-degan, namun aku senang banget sih karyaku bisa dibedah. Karena justru yang seperti ini bisa membuat kualitasku semakin berkembang. Tentu saja harus legawa dan mau menerima kritik saran yang diberikan dengan lapang dada. Buatku, begitu sebuah tulisan kita dilempar ke ruang publik, maka kita harus siap untuk dikritisi. Jadi ya kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Toh, aku juga sadar secara teknis, aku masih perlu banyak belajar.

Dan inilah hasil pembantaian di malam itu:

Dari Mbak Asih:

Untuk krisannya saya yang mulai ya. Dari segi penulisan, nantinya akan di koreksi sama Mbak PJ. Untuk isi cerita, jelas dan mudah dipahami. Tulisan Mbak Marita lengkap, detail.

Dari Mbak Niswah:

Apa ya? Tulisannya udah rapi. Cuma aku kok lebih suka dialognya enggak dikutip gitu. Soalnya kalau dikutip jadi semua akhirannya titik, sedangkan kalau di belakangnya ada embel-embel "ucap", " kata", dsb, itu kan harusnya diakhiri dengan tanda koma dialognya.

Dari Mbak Furi:

Udah bagus kok, keren. Cuma penggunaan dialog tagnya aja yang kurang tepat. Selebihnya oke.



Dari Kak Fadhli:

Asik lho.… Saya baca cerpen rasa puisi.
Untuk paragraf paragraf awal, baiknya langsung ke permasalahan. Bagus jika diksi alam digabungkan dengan permasalahan/konflik. Tujuannya, agar pembaca langsung tertarik membaca. Terus, dialognya kalau bisa pakai bahasa Indonesia, atau diterjemahkan.
Diksinya sudah apik. Pernah kirim cerpen ke media?

Dari Kak Pebri:

Konfliknya sebelah mana ya?
Nah. mungkin kalau dikasih konflik jadi lebih greget bacanya. Saya pribadi kalau baca cerpen selalu penasaran sama konflik dan endingnya. 


Dari mbak PJ, Florensia Prihandini:

  • Aku suka baca tulisan Kakak tentang nasihat pernikahan. Jadi belajar banyak. Baru kali ini baca cerpen nya. Punten diacak-acak ya tulisannya.
  • Opening kurang mengena. Bisa diperkuat lagi dengan momen yang lebih unik.
  • Di paragraf kedua terjadi serangan Aku. Ada kalimat yang terlalu pendek. Bisa dipatah saja dengan koma supaya dibacanya lebih nyaman. Saya coba edit paragraf keduanya sehingga bisa lebih efektif, menjadi: Dalam sekejap, hujan menyapa bumi dengan derasnya. Ditambah angin yang tak lagi sepoi-sepoi, seakan berlomba dengan suara air yang turun ke tanah. Meski mantel telah kugunakan, air hujan tetap menyusup hingga membasahi baju dan membuatku terhuyung, bergetar kedinginan.
  • Paragraf ketiga: Air yang meluap mencipta genangan demi genangan. Bahkan kini genangannya sudah hampir melebihi mata kaki. ---> Ada penulis yang sensitif dengan pengulangan kata di paragraf yang sama, Asma Nadia salah satunya. Di paragraf ini, kata genangan diulang sampai tiga kali. Alternatifnya bisa mainkan diksi (pilihan kata), atau diringkas saja supaya efektif (seperti di paragraf dua).
  • Paragraf keempat masih ada serangan Aku di awal, tapi secara keseluruhan sudah rapi.
  • Paragraf ke lima, saya tertarik dengan penggunaan satu kata dalam kalimat: Kuyu dan bahaya. Boleh sharing nggak teman-teman, mungkin nggak kalau kak Marita sengaja buat seperti ini? Penggunaan sepatah kata dalam kalimat untuk menonjolkan apa? Sisi dramatis kah?
  • Mengenai ini, aku pernah baca di beberapa karya orang lain. Mereka sengaja buat satu kata di satu kalimat supaya kesannya dramatis. Tapi peletakannya dipisah dari paragraf yang mengikuti atau diikuti.
  • Paragraf ke enam, ada serangan Nya. Bisa diakali menjadi: Memasuki halaman restoran tersebut, aku disambut oleh Bapak parkir yang sangat ramah. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya. Beliau aktif memberikan arahan kepada pengunjung yang datang dengan membawa kendaraan.
  • Paragraf ketujuh serangan aku.
  • Paragraf selanjutnya sampai ke bawah mulai masuk ke pesan moral. Kalau ini aku kasih jempol empat.
  • Kakak lebih ngena di non fiksi menurut aku, bikin buku motivasi.

Malam pembantaian di Nottingham hari itu membuatku berkhayal sedang berdiri di panggung Indonesia Idol, terus ketemu Anang, Maia, Judika, BCL dan Ari Lasso. Senang banget rasanya karyaku bisa dibedah dan dapat banyak apresiasi macam itu. 

Yang bisa kusimpulkan; serangan NYA dan AKU itu masih PR banget buatku. Memang kadang “serangan” itu akan benar-benar terlihat setelah diendapkan beberapa hari.. baru kerasa 'aneh'. Makanya penting buat kita habis nulis jangan langsung dikirim atau dipublish dadakan, biar ada waktu untuk diendapkan dan diedit. Makanya….. jangan suka mepet deadline! Jewer kuping sendiri. La iya kalau nulisnya di blog, bisa bebas edit kapanpun, kalau dikirim untuk media cetak ataupun lomba kan nggak bisa begitu.

Dari dua cerita random di atas, aku menarik kesimpulan bahwasanya penulis akan tetap bisa eksis di zaman apapun, ketika kita UNIK. Agar bisa menjadi penulis yang unik, maka carilah kekuatan dalam diri dan lejitkan semaksimal mungkin. Yakinlah setiap penulis punya gayanya masing-masing dan setiap tulisan punya pembacanya masing-masing. Insya Allah semua tantangan akan selalu bisa menjadi peluang jika kita mau berusaha.




Selain itu, penting bagi penulis untuk terus belajar memperbaiki kualitas tulisannya. Entah itu dengan mengikuti lomba, challenge, komunitas-komunitas literasi, proyek-proyek penerbitan buku dan aneka hal lainnya yang bisa membuat ilmu di dunia literasi meningkat. So, kalau mau menghebat,  kritik dan saran harus diterima dengan kuat!

Semoga bermanfaat.

Wassalammualaikum warohmatulllahi wabarokatuh.

Post a Comment

0 Comments