header marita’s palace

Hijrah Finansial: Hati Tenang, Hidup Bahagia



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata hijrah? Ada banyak jawaban ya pasti. Bisa jadi tentang peristiwa pindahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, hingga proses perubahan diri seseorang yang dulunya buruk menjadi lebih baik.

Mengenai hijrah secara umum, aku pernah menuliskannya di postingan tersendiri, bisa baca di sini ya pals: Semangat Hijrah Menuju ke Arah yang Lebih Baik.

Lalu apa ya yang dimaksud dengan hijrah finansial? Sebelum membahasnya lebih lanjut, kita ngobrolin soal hati dulu, yuk.

Hijrah dan Kebahagiaan


Siapa sih yang tidak ingin bahagia? Sepertinya semua orang di dunia kalau ditanya apakah mau bahagia, pasti jawabnya MAU. Nggak pakai lama, dan jawabnya pakai suara paling kencang. Masalahnya banyak orang ingin bahagia, tetapi bingung memahami hakekat kebahagiaan itu sendiri. Kenapa sih banyak orang bingung dan susah menemukan bahagia? Karena seringnya kebahagiaan tersebut diukur dengan ukuran dunia! Akhirnya, nggak akan pernah ada habisnya, akan selalu merasa kurang.




Sejatinya bahagia itu bisa didapatkan ketika hati kita merasa tenang. Yang perlu kita garis bawahi, semua orang memiliki rasio kebahagiaannya masing-masing, kita tidak bisa memaksakan standar bahagia yang kita miliki pada orang lain. Setiap orang punya cara pandang masing-masing terhadap kebahagiaan.

Meski rasio kebahagiaannya berbeda-beda, namun jalan untuk menuju rasa bahagia itu sama; HATI yang TENANG. Bagaimana agar kita bisa memiliki hati yang senantiasa tenang? Hijrahlah! Ya, berproseslah untuk terus menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya.




Hijrah itu bukanlah hasil, hijrah adalah proses. Hasil dari hijrah adalah keistiqomahan. Nikmat tertinggi dari hijrah adalah husnul khotimah. 

Semua manusia itu rugi kecuali mereka yang berilmu, semua manusia berilmu itu rugi kecuali mereka yang beramal, semua manusia yang beramal itu rugi kecuali mereka yang istiqomah, semua manusia yang istiqomah itu rugi kecuali mereka yang ikhlas, dan semua orang yang ikhlas itu rugi kecuali mereka yang wafat dalam keadaan husnul khotimah.

Maka mari kita set tujuan hijrah kita, bukan lagi sekedar istiqomah, namun juga husnul khotimah.





Setiap manusia itu berproses dalam hidupnya, yang dulunya preman bisa jadi bertobat, belajar agama dan kemudian menjadi kyai. Ada pula yang dulunya hafiz quran, namun karena salah memilih pergaulan kemudian menjadi berandalan. Oleh karenanya jangan pernah melihat seseorang dari masa lalunya, karena setiap orang punya harapan dan masa depan. Belajarlah dari kisah hidup Umar bin Khattab. Dulunya salah satu musuh terbesar islam, namun kemudian menjadi salah satu sahabat terbaik Rasulullah SAW yang selalu menjadi pembela Islam nomor satu.

Masya Allah… 

Cakep ya materinya, pals? Jangan dikira ini hasil buah pikirku sendiri, wkwk. Aku hanya mau berbagi cerita saat aku hadir di acara Hijrah Finansial pada Sabtu, 11 Mei 2019 lalu. Sudah 5 bulan berlalu, namun masih cukup hangat di kepala. Sebelum menguap, didokumentasikan secara digital dulu deh di sini, siapa tahu bisa bermanfaat buat lebih banyak orang.

Pada acara tersebut, ada dua narasumber kece, masih muda namun insya Allah wawasan ilmunya cukup dalam. Ada ustaz Hilman Fauzi yang menyampaikan mengenai pentingnya berhijrah dan ada Mas Bareyn Mochaddin yang merupakan moslem financial planner. Event ini semakin seru karena dipandu oleh mbak Ila Abdurrahman yang juga merupakan pegiat di bidang moslem financial.





Acara yang diadakan oleh Kencomm ini cukup membuat mata peserta yang hadir mengenai planning financial dalam sudut pandang islam. Saat ini kata hijrah menjadi fenomena yang cukup besar di kalangan masyarakat muslim. Berbondong-bondong mulai banyak yang belajar mengaji, merubah penampilannya menjadi lebih islami, namun jarang yang secara khusus membahas mengenai finansial. Itulah yang menjadi latar belakang dari event ini.

Kenapa sih sebagai umat Islam kita juga harus paham tentang hijrah finansial?






1. Karena kehidupan kita dihabiskan dengan urusan finansial. Coba silakan diukur sendiri; banyakan mana waktu yang kita gunakan untuk sholat vs waktu yang kita gunakan untuk urus dunia?

2. Karena finansial di Islam itu nggak boleh asal dan sekedar baik, harus tahu aturan syariatnya, alias nggak boleh bertentangan dengan Al Quran dan hadits.

3. Karena nantinya masalah finansial ini termasuk salah satu yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.



Jika kita ingin menjadi pribadi islam yang kaffah, maka bukan hanya sekedar aqidah, namun juga syariah dan akhlaqnya. 



Ada sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi, “Matikan aku dalam keadaan miskin, bersama orang-orang miskin.” Hadits ini sering menjadi tameng buat orang Islam yang mager alias males gerak, Nabi saja lo hidupnya miskin. Padahal bukan seperti itu maksudnya, miskin di sini bukan kondisi, namun gaya hidupnya yang sederhana. Ingat kan kisah 8 dirhamnya Rasulullah? Setiap hari Rasulullah selalu berusaha menghabiskan uang yang dibawanya. Sebelum tidur beliau ingin semua hartanya hari itu sudah dihabiskan untuk orang-orang yang membutuhkan. Begitulah seharusnya kita mencontoh Rasululullah, menghabiskan harta dalam hal kebaikan, bukan sekedar belanja-belinji nggak jelas.




Pada dasarnya semua hal berkaitan dengan finansial itu boleh, kecuali ada larangan. Sayangnya sekarang ini kita banyak dibombardir dengan larangan, namun tidak diberikan informasi yang tepar dan komprehensif tentang apa saja yang diperbolehkan. Contohnya riba, ini nggak boleh, itu nggak boleh, tapi nggak paham betul mana yang sebenarnya diperbolehkan. Akhirnya banyak yang memilih untuk tidak mempersiapkan finansial dengan baik karena ketakutan berlebih, tanpa ilmu yang tepat. That’s why penting buat kita belajar hijrah finansial.

Pemaparan dari ustaz Hilman ditutup dengan quote cakep;




Seberapa yakin sih ibadah kita bisa mengantar kita ke surga? Wong sholat masih sering kilat khusus, baca Quran masih plegak-pleguk, puasa juga masih sering marah-marah, zakat ingatnya zakat fitrah saja, haji pun niat aja belum berani. Maka kita harus melengkapi ibadah kita dengan menjalani segala hal dalam hidup sesuai syariat Allah, finansial yang paling utama karena sehari-hari kita disibukkan dengannya.

Langkah-langkah menuju Hijrah Finansial


Setelah Ustaz muda Hilman Fauzi menyampaikan dasar-dasar mengapa kita harus berhijrah secara finansial, Mas Bareyn Mochaddin melengkapi materi pada sore itu dengan langkah-langkah apa saja yang harus kita lakukan untuk berhijrah finansial.




Btw, Mas Bareyn ini selain sering nulis di detik.com dan kumparan.com, beliau juga salah satu penggerak dari Rizkanna. Yaitu aplikasi keuangan secara syariah. Pada saat event itu digelar dikatakan bahwa sedang dalam proses development/ beta, insya Allah setelah lebaran bisa dipakai. Namun aku sendiri belum ceki-ceki lagi sih, apakah aplikasinya sekarang sudah bisa digunakan. Mungkin teman-teman bisa cek di web officialnya dulu.

Baiklaah, mari kita lanjutkaaan…

Mempersiapkan Hijrah Finansial




Mas Bareyn mengingatkan bahwa hijrah finansial itu sejatinya bukan sekedar mengganti instrumen keuangan kita dari yang konvensional menjadi syariah. Namun lebih dari itu! Kita juga harus memahami darimana harta kita dapatkan dan bagaimana kita membelanjakan serta mengelolanya. Sesuai syariat nggak?

Sebaiknya hijrah finansial itu jangan terburu-buru, karena jika kita tidak mempersiapkannya dengan baik, maka akan ada dampaknya;




1. Kaget dengan kebiasaan baru. Misal, biasanya nggak zakat, infaq, tiba-tiba harus ada uang yang dialokasikan ke sini. Belum lagi mungkin akan ada perubahan gaya hidup yang signifikan.
2. Tidak siap dengan komentar orang lain, yang akhirnya malah menjadikan galau dan kemrungsung.
3. Tidak istiqomah.

Lalu hijrah yang tidak terburu-buru itu seperti apa?




1. Ikuti persiapan dan perencanaan seperti hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah.

Kenapa penting ada perencanaan? Biar nggak semangat di awal, tapi ngos-ngosan di tengah-tengah, terus belum sampai ujung sudah ngibarin bendera putih deh.

2. Contohlah rasulullah dalam perencanaan keuangan; sesuai dengan Al Quran & hadits.




Perbedaan mendasar financial planning konvensional dan syariah yaitu;

Financial planning konvensional akan merujuk penggunanya untuk melakukan investasi; menabung, deposito, beli saham, dsb. Biasanya ada bunga di situ yang tentu saja ada riba di dalamnya.

Sementara financial planning sesuai syariat adalah merujuk penggunanya untuk melakukan zakat, sedekah, infaq, dan wakaf. 




Btw, biasanya ada yang berkomentar "buat apa direncanakan segala? Kita kan harus yakin sama qodarullah." Ini yang perlu digarisbawahi, gaess… qodarullah itu nanti kalau sudah terjadi/ terlihat takdirnya. Kalau belum terjadi, artinya kita masih bisa mengusahakan. Pasrah dan tawakkal pada Allah bukan berarti pasif ya, gaess. Namun juga harus aktif berikhtiar. 

Kita mau ke Jakarta saja persiapan uang saku dan pilih sarana transportasi apa yang mau kita gunakan, apalagi pengen husnul khotimah, masa nggak direncanakan?

Langkah 1: ketahui kondisi keuangan kita saat ini.




Langkah 2: persiapan mental dan spiritual. 




Belajar dari banyaj literasi, datang kajian biar wawasan bertambah ya gaess. Jangan lupa; saklek boleh jika itu benar sesuai syariat dan sudah dipastikan kemanfaatannya.

Langkah 3: menentukan tujuan yang ingin dicapai. 




Mau haji butuh biaya kan gaess, mo sedekah materi juga butuh dana? Sekolah anak dengan kualitas kece pun lumayan bikin keringatan tiap bulan. Itu contoh-contoh tujuan dunia, tujuan akhiratnya tentu saja agar bisa husnul khotimah.

Memulai Hijrah Finansial


Setelah 3 langkah persiapan sudah dilakukan, saatnya kita mulai Hijrah Finansial dengan:

1. Kelola cash flow secara islami.



Jangan boros, ke;uarkan zakat secara rutin dan perbanyak sedekah.

2. Hijrahlah dengan perbekalan yang cukup



Misal harus resign dari pekerjaan yang tak sesuai syariat, maka hindari hutang agar setelah resign tidak terbebani cicilan dan siapkan modal usaha. 

3. Siapkan dana darurat. 



Sebaik-baik pelindung adalah Allah, namun Allah juga meminta kita untuk jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah. Bukan hanya lemah iman, tapi juga lemah finansial. Maka penting untuk selalu menyisihkan dana darurat di setiap pendapatan kita. 

Asuransi? Selama ini yang kita tahu asuransi diharamkan karena ada ribanya yaitu karena selisih dana premi dengan yang dibayarkan. Namun sebenarnya ada perbedaan pendapat dari para ulama. Ada yang memperbolehkan asuransi yang telah disahkan oleh Dewan Syariah Nasional. Jika yakin dan sesuai kebutuhan, cuzz pilih sistem asuransi yang bukan jualan resiko, karena yang jualan resiko ini mengandung maisir/ gambling yang jatuhnya seperti judi. 

Asuransi yang jualan resiko juga masuknya ghoror alias nggak jelas. Pilihlah asuransi yang sistemnya taawun/ tolong menolong. Jika nggak yakin dengan pilihan asuransi yang ada, bisa cari metode lain yang lebih bikin hati tenang. Insya Allah masih ada produk keuangan lainnya yang sesuai syariat dan bisa kita pilih sesuai kebutuhan.

4. Pilih investasi yang tepat sesuai syariat. 



Saking hati-hatinya, biasanya kita jadi takut berinvestasi. Padahal saat aku ikut kajiannya ustaz Bukhori tentang Hukum Jual Beli Kontemporer, investasi boleh-boleh saja lo. Misal mau investasi saham, pilihlah yang jenis long term bukan yang short term. Aku sendiri masih menimbang-nimbang nih sampai hari ini mau investasi dalam bentuk apa, tapi kayanya sreg nabung emas atau dinar deh.

Dari event tersebut, jujur aku jadi lebih open minded soal produk-produk investasi syariah, namun juga nggak mau langsung menggampangkan. Pilih sesuai kebutuhan masing-masing saja lah ya. Kalau aku sih selama di hati masih ada keragu-raguan, baiknya tinggalkan saja. Pilihlah sesuatu yang bisa membuat Allah ridha atas pilihan kita tersebut.

Dan yang terpenting yakin bahwasanya rezeki setiap manusia di muka bumi sudah diatur sebaik-baiknya oleh Allah. Sejatinya rezeki adalah hak prerogatif Allah. Tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin. Intinya adalah ikhtiar dulu, masalah hasil mah ranahnya Allah. Kaya contoh, pengen haji, kalau lihat nominal biayanya kayanya impossible, tapi niatkan dulu saja lalu ikhtiarkan dengan menyisihkan uang sedikit demi sedikt, masalah tabungan penuhnya kapan, berangkatnya kapan, pasrahkan saja pada Allah.


 

Jadi sudah siap Hijrah Finansial? Yuk mantapkan persiapan kita agar hati lebih tenang sehingga proses hijrah pun insya Allah semakin lancar. Jangan lupa, setelah memutuskan hijrah finansial, sebaiknya mulai hijrah pula dari pergaulan yang tak syari dan mulailah mencari lingkungan yang mendukung hijrah kita. Hal ini akan memudahkan kita untuk lebih istiqomah. Semoga bermanfaat. 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com