3 Langkah Ini Bantu Kita Meletakkan Baper pada Tempatnya



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Perempuan, terutama kaum ibu, adalah golongan yang paling mudah baper alias bawa perasaan. Memang ada yang salah dengan baper? Bukankah memang sudah kodratnya kaum ibu jauh lebih perasa dari para bapak? Bukankah sensitivitas rasa pada ibu justru adalah kekuatan bagi mereka? Tentu saja! Dengan syarat; tidak berlebihan. Sesuatu yang berlebihan justru akan membahayakan bukan? Bahkan bisa jadi baper yang berlebihan berujung pada depresi. Maka sudah sepantasnya bagi kaum ibu untuk bisa meletakkan baper pada tempatnya. Caranya bagaimana?

Hal-hal yang Mampu Membuat Para Ibu Baper


Coba angkat tangan buat para pembaca blogku, khususnya kaum ibu, ayo ngaku siapa yang sepanjang hidupnya nggak pernah baper? Aku yakin deh meski cuma sekali atau dua kali pasti setiap perempuan pernah mengalami yang namanya baper. Kalau aku sih ngaku, termasuk orang yang gampang baper. Bahkan dulu blog ini pernah kuberi tagline “diary emak dasteran, dari baperan menjadi tulisan.” Tagline tersebut dipilih bukan tanpa sebab, melainkan karena memang begitulah apa adanya diriku. Banyak ide tulisan yang lahir disebabkan dari sifat baperku ini.

Nah, ngobrolin soal baper, pasti ada banyak hal yang menjadi penyebab hadirnya kebaperan tersebut. Dari hasil penelusuranku, setidaknya ada lima hal besar yang biasa menjadi sumber bapernya kaum ibu.

1. Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga




Ini adalah sumber baper yang sampai sekarang nggak ada habisnya. Seakan antara yang satu dan lainnya ada yang lebih hebat dan baik. Sedangkan sejatinya semua ibu bekerja apapun pilihannya apakah itu di ranah domestik dan ranah publik. Semuanya punya cara berkarya masing-masing, jadi tak ada yang lebih keren dari yang lainnya. Semuanya keren dan baik.

2. Lahiran Normal vs Lahiran Sesar



Masalah melahirkan pun selalu menjadi perkara ramai. Padahal hal ini nggak harusnya jadi ramai. Memangnya kita tahu riwayat kesehatan setiap perempuan di dunia? Memangnya kita tahu apa yang telah mereka alami hingga akhirnya memilih A, B atau Z? Bagaimanapun cara lahiran yang dipilih, mereka tetap ibu dengan tanggungjawab yang sama.

3. ASI vs Sufor




Apakah yang memberikan ASI pasti ibu yang terbaik, sedangkan yang memberi sufor adalah ibu yang malas, nggak mau berusaha dan sebagainya? Kita toh nggak melalui perjalanan hidup orang lain, punya hak apa untuk mengatur kehidupan orang lain? Setiap pilihan akan selalu memiliki konsekuensinya masing-masing. Yang dibutuhkan hanya dukungan, bukan cacian.

4. MPASI Instan vs MPASI Homemade




Apakah yang tak jago menyiapkan MPASI homemade harus selalu dicap menjadi ibu yang tak becus? Benarkah mereka para ibu yang bersandar pada MPASI instan adalah ibu-ibu yang malas? Urusan MPASI saja bisa menghasilkan baper berton-ton, emak oh emak…

5. Daycare vs ART vs Titipin Eyang




Ini juga nggak kalah ramai! Padahal mau anak dititipin di daycare, mau disewakan ART ataupun dititip ke eyang, pastinya setiap ibu punya pertimbangannya masing-masing kan? 

Apakah lima hal itu saja yang bisa menjadi penyebab baper? Tentu saja tidak. Masih ada banyak biang kerok lainnya, popok kain vs popok sekali pakai, anak diajarkan calistung dini vs anak tidak diajarkan calistung dini, dan tema-tema menarik lainnya.

Kalau lima hal yang kusebutkan tadi biasanya menimbulkan baper yang berujung perpecahan suara. Beda lagi ketika temanya semacam pelakor atau poligami, biasanya baper jenis ini lebih berujung pada suara yang senada. Satu postingan dengan tema ini di beranda sebuah sosial media, bisa dibagikan ribuan kali oleh para kaum ibu dengan caption senada. 

The power of emak-emak katanya. Namun apakah baper semacam ini tepat? Pentingkah mengedepankan baper yang semacam ini? 



Dari pengalamanku, baper bisa terjadi karena merasa unhappy dengan diri sendiri, merasa tersentil dan meletakkan empati terlalu berlebihan atau tidak pada tempatnya. Misal kasus ibu bekerja vs ibu rumah tangga, aku pernah nih pada masa merasa jadi sok keren dan sok paling benar gara-gara memutuskan jadi IRT. Lalu sok-sokan share tentang ibu terbaik itu yang ada di rumah, masa anak dititipin ke ART padahal emas saja nggak rela dititipin ke ART. Tanpa berpikir postingan-postingan tersebut bisa bikin orang lain nggak enak hati. 

Padahal pada saat itu sebenarnya aku sendiri yang sedang tidak percaya diri menjadi IRT, makanya berbagi postingan-postingan tersebut untuk nampak kuat. Sejatinya kalau aku sudah percaya diri dengan pilihanku saat itu, aku tak perlu kok berbagi hal-hal yang bisa jadi menjatuhkan pilihan orang lain.

Alhamdulillah masa-masa baper yang tak pada tempatnya telah usai. Seiring dengan semakin mengenali diri, mengenali misi spesifik hidup yang Allah titipkan dan menerima segala takdir yang diberikan, rasa-rasanya sudah nggak penting lagi deh baper buat hal-hal yang nggak penting. Sekaligus rasanya nggak penting untuk mengomentari pilihan orang lain atas hidup mereka. 

3 Langkah Meletakkan Baper pada Tempatnya


Seperti yang kusampaikan di awal postingan, bahwasanya baper itu sah-sah saja. Dalam lingkup baper sebagai sensitivitas rasa kita sebagai perempuan. Baper yang semacam ini justru bisa menjadi kunci kekuatan kita. Yang sebaiknya diwaspadai dan dihilangkan adalah baper yang merusak. Merusak apa? Merusak banyak hal; merusak hubungan baik dengan orang lain, merusak kepercayaan, merusak mood, merusak akal sehat dan lain-lain.



Intinya baper yang berlebihan dan membuat kita tak lagi punya kontrol diri adalah yang harus dihapuskan di muka bumi. Menghapuskannya bukan terus menghilangkan sensitivitas rasa yang sudah menjadi kodrat perempuan, namun mengalihkan baper tersebut menjadi hal-hal yang lebih produktif, misal dalam bentuk tulisan. Tulisan pun sebaiknya kita bedakan, apakah tulisan tersebut layak diposting secara publik atau tulisan yang hanya digunakan sebagai terapi diri dan untuk dikonsumsi pribadi. Cara membedakannya bagaimana? Kembali lagi pada syarat; baper yang baik tidak merusak!

Untuk mengalihkan baper yang merusak menjadi baper produktif, menurutku ada tiga langkah:

1. Bersyukur


Baper yang membuat kita tersinggung, marah-marah dan membenci orang lain bisa kita hindari jika kita lebih bersyukur atas kehidupan yang dimiliki. Yakin aja deh Allah sudah menetapkan kehidupan untuk setiap hamba-hambaNYA secara pas, adil dan sesuai porsinya. Jadi nggak perlu baper lihat teman sekelas zaman kuliah yang dulu nggak berprestasi tapi sekarang bisa dapat pekerjaan yang bagus, sementara kita hanya IRT yang sibuk nulis buat blog. 

Selama kata HANYA masih hadir di benak kita pada takdir yang saat ini sedang dijalani, maka bisa jadi kita masih belum ikhlas dengan ketetapan Allah. Kata ustazah Julan Hardiansari, ciri-ciri orang yang senantiasa bersyukur sebagai berikut:



A. Ridha pada yang sedikit. Ridha pada rezeki yang banyak dan berlebih bisa jadi mudah, namun ketika kita mampu ridha pada yang cukup dan sedikit, maka di situlah letak kesyukuran yang sebenarnya.

B. Keluh kesahnya sedikit. Saat kita sudah mampu mengurangi keinginan untuk mengeluh atas kejadian apapun dalam hidup dan bisa mengalihkan keluh kesah tersebut menjadi dzikrullah dan doa, maka di saat itulah kita telah benar-benar bersyukur. Sejatinya semua hal di sekeliling kita adalah ujian, maka siapkah menghadapinya?

C. Qonaah. Mempercayai bahwa setiap takdir Allah senantiasa yang terbaik. 

D. Optimis. Mampu merubah baper menjadi doa-doa yang menguatkan langkah.

E. Husnuzon billah. Selalu berprasangka baik kepada Allah. Saat kita baper, seringkali tanpa sadar kita memiliki asumsi dan prasangka-prasangka buruk padaNya. Yuk mulai berlatih untuk merubah prasangka tersebut untuk selalu baik. Bukankah kata Allah, “Aku sesuai prasangka hambaKu.”

Kira-kira dari lima tanda di atas, sudahkah ada semuanya dalam diri kita? Kalau belum, nggak papa… kata ustazah Julan, semua itu bisa dilatih kok. Kuncinya selama ada kemauan di situ ada jalan.

2. Sepatuku bukan Sepatumu, Sepatumu bukan Sepatuku




Baper juga biasanya hadir karena kita suka memaksakan sepatu kita pada orang lain, padahal namanya orang pasti punya ukuran kaki yang berbeda. Maka sudah pasti sepatuku dan sepatu mbak A jelas berbeda. Bukan hanya soal ukuran, masalah selera, merk dan kesukaan pasti berbeda, jadi kita nggak mungkin memaksakan sepatu kita cocok dan pas dipakai oleh orang lain.

Begitu juga hidup, kita nggak bisa memaksakan bahwa pilihan hidup yang kita jalani cocok dijalani oleh orang lain. Kita harus bisa menghormati sepatu masing-masing. Dengan begitu kita bisa melihat ada banyak warna, model dan merk sepatu berbeda-beda. Tidak akan ada yang kesakitan karena sepatunya kekecilan, dan tidak ada pula yang sepatunya kebesaran. Semuanya pas sesuai dengan ukuran dan selera masing-masing.

Itulah warna dalam kehidupan. Semakin kita bisa menghargai pilihan yang berbeda-beda tersebut, kita justru akan semakin kaya akan wawasan dan cerita. Kita juga akan lebih open minded, namun juga tidak mudah ikut arus, karena kita tahu sepatu yang ada di kaki sudah paling pas.

3. Pakai Kacamata Lain



Saat memandang sebuah masalah, sesekali kita perlu meminjam kacamata orang lain, sehingga kita bisa lebih memahami suatu masalah dari sisi lain. Sudut pandang yang kaya ini jika diolah dengan baik bisa menghasilkan karya-karya positif lo. Dulu zaman masih gampang baper buat hal-hal yang nggak penting aku cuma bisa menghasilkan status-status facebook yang bisa jadi bernada nyinyir buat orang lain. Namun saat aku sudah mampu mengolah baperku ke arah lebih produktif, alhamdulillah kebaperanku tersebut sudah bisa kuolah menjadi tulisan yang telah tercetak ke dalam 26 buku antologi dan juga beberapa tulisan di blog ini. 

Semoga tidak ada lagi para ibu yang baper dan merusak dirinya sendiri ya. Sudah saatnya bagi semua perempuan untuk saling beresonansi; saling memahami dan bukan menghakimi. Karena setiap perempuan memiliki perjuangannya sendiri. 

Be happy, ladies… because all of you are wonderful whatever you are! Kalian hebat dalam segala rupa!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'

Post a Comment

5 Comments

  1. Memang nih ya Mbak biasanya kita tidak bisa menempatkan baper pada tempat yang benar

    ReplyDelete
  2. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara bersyukur nih ya Mbak

    ReplyDelete
  3. Benar juga tuh Mbak terkadang kita memang harus meminjam kacamata orang lain nih ya

    ReplyDelete
  4. Memang banyak cara ya Mbak agar baper bisa menjadi positif ini

    ReplyDelete
  5. Banyak banget nih ya Mbak cara yang bisa dilakukan agar baper bisa menjadi hal yang positif

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com