Menuju Metamorfosa Diri #2: Menemukan Telur-telur Merah

5 comments


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah pekan pertama Bunda Cekatan (Buncek) bisa terlewati dengan baik, meski harus harap-harap cemas karena menyetorkan jurnal di last minutes. Tepat pada 23:59 seminggu yang lalu, jurnal Bunda Cekatan #1 akhirnya terkirimkan.

Tak ingin mengulangi pengalaman tersebut, pada jurnal kedua ini aku berusaha menyiapkan tulisan jauh-jauh hari. Sejak mengikuti sesi materi #2 yang disampaikan oleh Mas Pandu di Facebook Group Bunda Cekatan, aku sudah terbayang hal-hal yang akan kutuliskan. Apalagi materi yang disampaikan oleh Mas Pandu sangat menarik dan membuatku tertantang untuk segera mempraktekkan learn how to learn. Awalnya aku pikir tugas di pekan kedua Buncek adalah membuat peta belajar, ternyata tebakanku salah.

Tentu saja sebelum memasuki penyusunan peta belajar, kita harus tahu lebih dulu tentang ketrampilan apa saja yang akan dipelajari. Jika di pekan pertama, kami harus menemukan telur-telur hijau yang merupakan kegiatan paling membuat berbinar. Di pekan kedua ini, kami harus mengumpulkan telur-telur merah, yaitu ketrampilan yang penting dan mendesak untuk dipelajari atau ditingkatkan standarnya.

4 Kuadran Keterampilan Diri


Dengan sepenuh hati dan segala macam pertimbangan, inilah ketrampilan-ketrampilan dalam 4 kuadran:


A. Ketrampilan Penting dan Mendesak

1. Manajemen Waktu                                    6. Web Designing tingkat medium/ advance
2. Manajemen Gadget                                   7.  Fotografi
3. Manajemen Emosi/ Self Healing                 8. Videografi/ YouTube Content
4. Public Speaking                                         9. Manajemen Keuangan
5. Menulis                                                     10. SEO Stuff

B. Ketrampilan Penting dan Tidak Mendesak

1. Food Preparation                                                                   4. Teknik Konmari
2. Baking                                                                                   5. Menjahit
3. Mengajarkan Life Skil Mencuci & Memasak ke Ifa                6. Menyetir Mobil              

C. Ketrampilan Tidak Penting dan Mendesak

1. Teknik Menghafal Al Quran
2. Teknik Menyusun Kurikulum Belajar Anak

D. Ketrampilan Tidak Penting dan Tidak Mendesak

1. Mendesain Baju



5 Telur Merah Andalanku




Setelah menemukan dan menyusun keterampilan-keterampilan yang kubutuhkan sesuai dengan kuadrannya masing-masing, kini saatnya memilih lima saja yang benar-benar ingin fokus kupelajari. Bukan perkara yang mudah menentukan lima keterampilan di antara 20 hal tersebut. Akhirnya setelah kubaca ulang dan kutelusuri yang sesuai dengan kebutuhan diri, inilah 5 telur merah andalanku.

1. Manajemen Waktu




Hingga detik ini manajemen waktu masih menjadi tantangan buatku. Meski sejak di level matrikulasi telah diajarkan untuk membuat kandang waktu, harus kuakui masih sering terlena dalam pelaksanaannya. Apalagi sejak tak lagi mengambil pekerjaan menulis yang terikat, aku jadi lebih banyak terlalu santai. Menyadari typical-ku yang seringkali harus dilecut, dijewer dan dipaksa, aku berniat untuk kembali mencari pekerjaan menulis yang bisa dikerjakan secara remote namun dengan waktu yang terikat. Jenis pekerjaan ini kubutuhkan karena bisa membantu lebih disiplin dan teratur, namun di sisi lain aku juga masih bisa mengurus anak-anak di rumah sebagai kewajiban utamaku.

Untuk bisa mengatur waktu lebih baik, aku ingin kembali belajar menata kandang waktu, mengaktifkan kembali pembuatan schedule harian dan mingguan, serta melakukan evaluasi terencana. Bahkan aku sudah meminta suami untuk selalu menjadi auditor dan evaluator atas kinerjaku setiap hari. 

2. Manajemen Emosi




Inner child masih menjadi PR besar untukku. Meski tak lagi segemuruh saat belum tahu ilmunya, aku masih mudah terpancing emosi ketika ada hal-hal yang memicu munculnya ingatan akan kejadian-kejadian tak mengenakkan di masa lalu. Selain itu seberapa banyaknya ilmu parenting yang kupelajari, jika “software-software” lama ini masih bercokol di alam bawah sadarku, ‘monster’ di dalam diri terkadang masih merangsek untuk keluar. 

Ketika ‘monster’ tersebut keluar, anak-anak dan suami yang seringnya menjadi korban. Ketika kemudian sang monster pergi, aku hanya mampu terpekur merasa bersalah karena harus kembali menorehkan luka.

Inilah yang menjadi alasan mengapa belajar mengenai manajemen emosi, khususnya dalam hal terapi inner child dan self healing, masuk ke dalam wilayah penting dan mendesak untuk kupelajari. Hal ini juga terkait dengan salah satu visi misi keluarga kami, Rumah Kita, agar ke depannya bisa menjadi teman ngobrol bagi keluarga-keluarga yang memiliki latar belakang seperti kami. Tentu saja sebelum bisa berbagi kebahagiaan dan inspirasi, aku harus bahagia terlebih dahulu.

3. Menulis



Salah seorang teman meninggalkan komentar pada postingan Jurnal Buncek #1, ia merasa kaget karena menulis tidak kumasukkan pada salah satu telur hijauku. Meski kekagetan teman tersebut sudah kujawab, namun sekalian saja kuluruskan di postingan ini. 

Menulis memang tidak kutuliskan sebagai salah satu telur hijau secara khusus, karena buatku writing is life for me. Menulis bukan hanya hobi, bukan hanya keterampilan dan bukan sekedar passion. Buatku menulis adalah kebutuhan. Menulis adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari setiap jejak langkah kehidupanku. Aku belajar lebih cepat dengan mengikat makna, tentu saja lewat tulisan.

Setiap kali aku mengikuti workshop, seminar ataupun kajian, aku akan selalu menuliskan materi yang kudapatkan, entah itu kemudian kuterbitkan secara publik di blog/ sosial media ataupun tidak. Begitu juga usai aku menonton film dan membaca buku, aku mencatatkan poin-poin penting yang kudapatkan dari hasil nonton dan bacaku lewat rentetan aksara.

Menulis tidak hanya membuatku belajar lebih cepat, namun juga membuatku mengingat lebih tepat. Selain itu menulis membuatku lebih mudah saat berbagi informasi. Karena kusadari kemampuan bicaraku di depan umum jauh lebih buruk daripada kemampuanku menulis. Nah, belajar dan berbagi informasi adalah dua hal yang kumasukkan dalam telur hijauku. Dua aktivitas yang membuatku berbinar ini membutuhkan keterampilan menulis yang mumpuni.

That's why sampai kapan pun, keterampilanku menulis akan selalu kuasah dan kutingkatkan.  Meski  sejak 2012 aku sudah berkutat dengan dunia artikel dan penulisan konten, aku tetap ingin lebih meningkatkan kemampuanku di dunia ini karena aku juga memiliki impian untuk bisa mengembangkan penulis-penulis pemula yang tertarik belajar di penulisan konten. Selain itu salah satu impianku adalah bisa memiliki agensi kepenulisan yang membawahi penulis-penulis berkualitas.

Dunia literasi selalu berkembang setiap harinya. Contoh kecilnya, jika dulu pedoman penulisan yang tepat menggunakan istilah EYD (ejaan yang disempurnakan), kini telah berubah menjadi EBI (Ejaan Bahasa Indonesia). Itulah alasan mengapa belajar menulis harus terus dilakukan. Apalagi keterampilan bahasa adalah sebuah keterampilan yang harus selalu diasah. Semakin sering belajar dan dipraktekkan, maka akan semakin meningkat kualitasnya. 

Di dunia penulisan konten sendiri, teknik menulis artikel SEO berkembang dengan pesat. Aku harus selalu update dengan setiap perkembangan yang ada agar bisa menulis artikel sesuai dengan keinginan klien. Lebih dari itu, aku juga ingin bisa terus menyajikan tulisan-tulisan terbaik di blog ini. Meski jauh lebih bebas dan tanpa beban, namun kualitas tulisan di sini pun harus tetap dijaga.

Salah satu impianku terdekat terkait dengan dunia tulis-menulis adalah menerbitkan buku solo pada tahun 2020. Maka aku juga butuh lebih banyak ilmu untuk mencapai impian tersebut. Doakan ya!


4. Public Speaking



Jika disuruh memilih mana yang lebih kusukai antara menyampaikan ide lewat tulisan atau omongan secara langsung, maka dengan tegas aku akan memilih MENULIS sebagai caraku mengekspresikan gagasan. Namun harus kuakui, public speaking tetaplah keterampilan yang harus kukuasai dengan baik. Apalagi mengingat beberapa teman yang mulai memberikan amanah kepadaku untuk sharing mengenai parenting ataupun blogging untuk pemula secara offline, mau tak mau aku harus meningkatkan kemampuanku berbicara di depan public agar semakin baik dan mumpuni.

Jika menulis bisa dengan mudah kulakukan secara spontan, berbeda dengan kemampuan bicaraku. Bahkan ketika harus memandu sebuah acara atau memberikan sambutan secara live, aku harus selalu siap contekan poin-poin yang akan kubicarakan agar tidak amburadul. Seringkali aku masih merasa nervous ketika tampil di depan umum, apalagi jika di depan orang-orang yang sudah kukenal, rasa-rasanya semakin deg-degan dibandingkan jika harus tampil di depan orang-orang yang tidak kukenal sama sekali. 

Kadang hanya untuk sekedar membacakan laporan Pokja yang diamanahkan kepadaku di saat arisan RT, aku merasa sangat grogi. Mungkin karena sekarang sudah semakin jarang tampil di depan umum dibandingkan masa-masa kuliah, maka dari itu kupilih public speaking menjadi skill yang harus kutingkatkan.

Bukan hanya untuk urusan di ranah publik, public speaking pun sangat membantuku dalam urusan berkomunikasi dengan anak dan suami agar lebih efektif. Berlatih public speaking bisa membantuku dalam memilih kosakata serta nada yang tepat di saat berkomunikasi dengan orang lain.



5. Teknik Penyusunan Kurikulum Belajar Anak




Memilih jalur pendidikan yang tidak biasa bagi anak-anak adalah keputusanku dengan suami. Jika sebagian besar orangtua memilih sekolah sebagai ‘tempat penitipan,’ maka tidak berlaku buatku. Sekolah layaknya a life partner bagi keluarga kami. 

Sebagai partner, maka kami harus saling bekerjasama sebaik mungkin. Apalagi sekolah yang kami pilih menjadi partner pendidikan anak juga sangat sadar dan paham bahwasanya orangtua adalah pendidik utama. Maka sekolah pilihan kami pun jelas tak mau kami lepas tangan terhadap proses belajar anak.

Usai penerimaan raport semester satu, kami mendapat teguran cukup menyentil dari kedua ustazah yang menjadi partner kami dalam pendidikan kakak Ifa. Untuk urusan kognitif, kakak Ifa tidak ada masalah sama sekali. Namun untuk urusan menghafal surat-surat, kak Ifa agak lambat dibandingkan teman-temannya. 

Tentu saja kami sadar bahwasanya anak-anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Namun kami pun mengakui bahwa urusan menghafal kak Ifa bukan sekedar kemampuannya yang di bawah rata-rata. Lebih dari itu, kami tahu bahwa masih kurang maksimal dalam mendampingi kak Ifa menghafal surat-surat di dalam Al Quran. Dari sinilah aku ingin mencari tahu dan belajar teknik menghafal Al Quran yang tepat untuk anak semi kinestetik seperti kak Ifa. 

Selain itu karena sekolah kak Ifa lain daripada yang lain, aku juga merasa perlu belajar menyusun kurikulum belajar untuk kak Ifa di luar apa yang dia dapat di sekolah untuk menambah wawasan dan life skill-nya. Selain untuk Kak Ifa, aku juga merasa butuh menambah informasi dan pengetahuan tentang menyiapkan kurikulum belajar dan bermain untuk dik Affan agar bisa menyusun aktivitas yang lebih variatif dan inovatif.

Aku juga merasa butuh belajar tentang penyusunan kurikulum belajar anak yang tetap bisa selaras dengan aktivitas-aktivitas yang membuatku berbinar. Because happy mom will raise happy kids. Maka antara kesenanganku dan kewajibanku mengurus anak-anak harus sejalan dan seiya sekata.




Alhamdulillah selesai sudah proses penggalian dan penemuan lima telur merah andalanku. Meski masih harus disetorkan di hari terakhir pengumpulan jurnal, at least kali ini tidak lagi super mepet deadline. Semakin ingin tahu di pekan ketiga akan ada kejutan apa lagi ya? Telur warna apa lagikah yang harus kukumpulkan di pekan ketiga? Hmmm, tunggu saja jurnalku berikutnya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

5 comments

  1. Memanjemen waktu ini memang sangat penting nih ya Mbak agar hidup lebih disiplin

    ReplyDelete
  2. Saya juga masih belajar nih Mbak kalau masalah manajemen waktu ini Mbak

    ReplyDelete
  3. Saya suka nih Mbak kalau masalah menulis hehe. Bisa dibilang menjadi salah satu hobi saya :D

    ReplyDelete
  4. Selain memanajemen waktu, memanajemen emosi ini juga harus diasah nih ya

    ReplyDelete
  5. Wah bener banget nih Mbak memang banyak sekali ya manajemen yang harus kita pelajari

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email