3 Rahasia Menjadi Fasilitator Bunda Sayang yang Kreatif


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Level 9 dan semakin menantang. Bukan hanya untuk para mahasiswinya, bahkan untuk fasilitatornya pun level ini masih jadi PR bangeeet. Seringkali kreativitas menjadi hal yang terlihat sulit dilakukan. Entah karena imbas dari model pendidikan kita, atau karena kita yang sebenarnya memang kurang menghargai dan menggali pemberian Allah.

Kok bisa? Iyaa… karena fitrahnya semua manusia didesain dengan kreativitasnya masing-masing. Namun jarang muncul, kalau nggak kepepet. Apakah iya kreativitas hanya bisa muncul saat kepepet? Bukankah seharusnya dalam setiap kondisi kreativitas bisa muncul dengan alami. Lantas kenapa seringnya kreativitas itu malah bersembunyi?

Bisa jadi karena jarang dilatih sehingga otak menjadi tumpul, tak bisa menghadirkan banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang hadir. Bisa juga karena kita terlalu impulsif dalam menghadapi suatu masalah sehingga bukannya menghasilkan solusi yang kreatif, namun malah berakhir dengan solusi yang terlalu emosional.

Makna Kreatif


Menurut KBBI, kreatif memiliki makna;

1. memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2. bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yang -- menghendaki kecerdasan dan imajinasi;



Kata kuncinya adalah kemampuan untuk menciptakan, kecerdasan dan imajinasi. Artinya jika kita ingin kreativitas tumbuh melesat, kita harus menggunakan kecerdasan dan imajinasi yang dimiliki secara maksimal agar mampu menciptakan atau menemukan hal-hal baru dan solusi atas tantangan-tantangan di depan mata.

Para ibu berlomba-lomba ingin menjadikan anaknya kreatif. Namun tanpa sadar membuat kreativitas mereka terhambat. Contohnya anak lagi main pasir, dihentikan. Anak lagi gunting-gunting kertas, dihentikan. Anak lagi asyik main air, dihentikan. Padahal yang terlihat main-main di mata kita itu sebenarnya sedang melejitkan imajinasi dan kecerdasan mereka.

Yuk, mulai sekarang saat anak-anak main pasir, air ataupun gunting-gunting kertas… kita dampingi dan arahkan. Coba deh tanyakan pada mereka apa sih yang sedang dilakukan. Pasti banyak jawaban yang kadang out of the box. 


Sebuah petuah di review level 9 ini harus kita tempelkan di jidat biar gampang ingat;

Setiap anak terlahir kreatif. Maka kitalah sebagai orangtua yang harus memantaskan diri agar layak mendapatkan anak-anak yang kreatif.

Salah satu usaha untuk memantaskan diri tentu saja dengan bergabung Institut Ibu Profesional (IIP). Hayo siapa yang belum gabung… tunggu batch berikutnya ya! Mau tahu nggak proses memantaskan diri sebagian kecil dari mahasiswi IIP?

Jagoan-jagoan Kreatif dari Bunsay #5 Bandung


Level 9 ini berbarengan dengan dimulainya Bunda Cekatan, belum lagi aktivitas-aktivitas lainnya, jujur aku kurang maksimal dalam membersamai teman-teman di kelas Bandung. Alhamdulillah, aku nggak sendirian ngefasil di sana, ada Teh Noni yang siap sedia dengan jawaban-jawaban panjangnya yang luar biasa inspiratif. Sungguh sangat terbantu.

Meski nggak banyak nengok ke grup kelas, aku memantau setoran tantangan teman-teman, terutama yang diposting lewat instagram. Masya Allah, kegiatan mereka bersama keluarga sungguh sangat menarik. Aku jadi ikut belajar juga dari postingan-postingan tersebut.


Aku senang sih dari proses belajar tersebut, teman-teman (dan aku juga) kemudian mampu menyadari bahwasanya kreativitas itu tidak melulu berhubungan dengan membuat mainan DIY. Mampu menjawab pertanyaan anak yang kadang tak disangka pun kreatif. Mampu menyusun menu keluarga untuk sebulan itu juga kreatif. Mampu memaksimalkan benda hingga menemukan fungsi yang berbeda dari benda tersebut, itu pun kreatif. Sambil menyusun HEE aku senyum-senyum dan manggut-manggut sendiri. Bukankah ngeblog juga sebuah kreativitas? Menyusun aksara merajut makna itu butuh imajinasi dan kecerdasan, kan? Hahaha, iyain sajalah…

Baiklah kembali ke jagoan-jagoan neon… eh jagoan-jagoan kreatif dari Bunsay #5 Bandung aja yuuuk. Di level ini alhamdulillah 31 mahasiswi berhasil meraih badge dasar, 10 mahasiswi meraih badge You’re Excellent dan 4 mahasiswi meraih badge Outsanding Performance. Masih ada 11 mahasiswi yang tidak setor tantangan di level ini dengan beragam alasan, bahkan 1 orang terpaksa harus angkat koper. However, life must go on. Mari berfokus pada yang baik-baik saja, biar yang tadinya mulai turun semangat, bisa tertular semangat dari para jagoan kreatif ini.

Mahasiswi Teladan

  • Fitri Kaniawati


Jujur saja pengennya level ini nggak milih Teh Fitri lagi, pengen gantian sama yang lain. Namun apa daya, Teh Fitri memang so aweeesome. Kalau level 8 yang lalu aku pilih Teh Fitri sebagai Mahasiswi Aktif, di level ini aku memilihnya sebagai Mahasiswi Teladan. Kenapa teladan? Karena Teh Fitri berhasil mempertahankan dirinya untuk tetap di badge Outstanding Performance lebih dari 1 level. Ini nggak mudah.

Setoran-setoran Teh Fitri juga berhasil menjadi inspirasi untuk yang lainnya. Sampai dijuluki sebagai Ratu DIY Se-Bandung Raya, hehe. Fasilnya pun jadi ikut belajar dari ide-ide kreatif main anak dari Teh Fitri. Lanjutkan Teh! Bagi yang mau mengintip setoran tantangan 10 harinya Teh Fitri, bisa kepoing di sini.

  • Ikhmah Umaida

Jika di dua level sebelumnya aku hanya memilih 1 orang mahasiswi saja di setiap kategori, kali ini aku tergoda untuk memilih lebih dari satu. Teh Ikhmah menjadi teman untuk teh Fitri dalam kategori Mahasiswi Teladan.

Setoran-setoran teh Ikhmah adalah salah satu yang kufavoritkan. Teh Ikhmah selalu menceritakan tantangan yang dilakukan cukup detail. Saat dibaca terasa tidak asal disusun hanya untuk menggugurkan kewajiban. Konsistensi teh Ikhmah juga patut diacungi jempol. Buat yang mau baca-baca setoran Teh Ikhmah bisa dilihat di sini.

Mahasiswi Aktif

  • Neni Gustiarini

Nggak bisa dipungkiri sebagai sekretaris kelas, Teh Neni memang aktif sekali, selalu setia mendampingi setiap korlan yang bertugas di setiap levelnya. Ikut mengingatkan teman-teman yang belum setor. Sekaligus rajin mengingatkanku sebagai fasilnya akan banyak hal. Dari ngingetin jadwal diskusi sampai rekapan HEE. Namun dengan segala keaktifannya tersebut tidak melenakan Teh Neni dari tugas utamanya sebagai mahasiswi Bunsay. Setorannya selalu penuh hingga 15 hari dan selalu dapat OP. Lanjutkan ya Teh…

Penasaran dengan setoran-setoran teh Neni? Cuzz saja ke blognya di Neni Gustiarini. Kata teh Noni, teh Neni ini calon pengurus HIMA nasional yang bertanggungjawab. Hmm, perlu direkrut nih teh rektor, hehe.


  • Melanie Yana

Tercatat dari aplikasi Whatstas Analyzer, nama Teh Melanie termasuk salah satu orang yang paling banyak berkirim pesan. Artinya teh Melanie bukan silent reader di WAG. Dia mau banyak bercerita, artinya banyak berbagi dengan teman-teman. Namun lebih dari itu setoran tantangan teh Melanie juga sangat inspiratif dan variatif, sehingga makna kreatif bisa disimpulkan menjadi lebih warna-warni. Kalau nggak percaya, tengok saja di blognya, Senyum Kebaikan.

Mahasiswi Apresiatif

  • Siti Soidah

Aku takjub membaca setoran-setoran teh SitSoi, begitu panggilan sayangnya. Meski di caption instagram, namun sangat rapi dan detail. Selain itu teh SitSoi mampu menangkap makna kreativitas tidak hanya sekedar bebikinan, namun banyak macamnya. Dari membuat menu makanan yang berbeda-beda, hingga menjadikan barang yang sudah ada di rumah namun difungsikan menjadi sesuatu yang berbeda. Aku tersenyum membaca ide bermain bulutangkis dengan pagar sebagai netnya. Kreatif! Lebih dari itu foto-foto Teh SitSoi, bagusnyaaaa. Ternyata oh ternyata, doi hobi fotografi. Baru tahu setelah menyimak kisahnya di Jumat Hangat.

Aliran Rasa Ter…


  • Ayu Wulansari

Aku terharu pada saat membaca cerita anak mbak Ayu yang berusia dua bulan berusaha mencari cara biar tengkurapnya nyaman. Jadi ingat masa-masa anak masih bayi, seringkali karena kasihan nggak kunjung bisa berbalik dari posisi tengkurap, langsung dibantu. Padahal di situlah letak kreativitas sang bayi diuji. Bagaimana memberinya kesempatan untuk mencari solusi atas tantangan yang dihadapi.

Quote dari aliran rasa Teh Ayu:

Momen dimana saya sadar bahwa benar manusia diberi kesulitan sesuai kemampuannya, yaitu mampu mencari solusi sesuai pola pikirnya.

  • Sally Rosalina Wahyudin

Suka sekali dengan aliran rasa Teh Sally yang melihat kreativitas dari sisi lain. Mengingatkan kita bahwa secara fitrah setiap manusia itu kreatif, namun seringnya kita hanya menggunakan di saat yang kepepet. Andai saja kreativitas itu bisa dilatih dan bisa digunakan tanpa menunggu kepepet, pasti hidup kita akan selalu luar biasa ya.

Quote dari aliran rasa Teh Sally:

Solusi yang Allah beri tentu adalah sebaik-baik solusi, sebaik-baik petunjuk. Allah-lah yang mengilhami makhluknya untuk bertindak. Alhamdulillah...di saat-saat paling kepepet itulah, saat semuanya dipasrahkan pada Allah, maka ide kreatif, bahkan yang paling out of the box pun muncul dari dalam kepala kita.

Jumat Hangat

Para jagoan kreatif tidak hanya mereka yang berhasil mendapat badge Outstanding Performance ataupun yang terpilih sebagai mahasiswi-mahasiswi berprestasi. Namun juga mereka yang meramaikan Jumat Hangat dengan inspirasi-inspirasi hebat.

  • Sesi #1


Di sesi Jumat Hangat level 9 sesi #1 yang berlangsung pada Jumat, 3 Januari 2020, ada Teh Nur Widiasari yang sangat menginspirasi para ibu-ibu muda. Kami seringnya masih banyak mengeluh kerepotan mengurus anak, padahal anak juga baru satu dua. Teh Nur Widi sebagai ibu dari 5 orang anak menceritakan bagaimana serunya keseharian mereka. Bahkan teh Nur Widi masih tetap aktif berkomunitas di beberapa komunitas parenting.

Sebuah quote penutup dari Teh Nur Widi semakin memberikan jeweran yang nampolnya sampai ke hati;

Banyak anak bukanlah beban tapi sebuah karunia. Bergantung pada Alloh. Yakin Alloh memampukan jika terus berupaya optimal dan ikhlas menerima amanah ini. Karena Alloh melihat proses bukan hanya hasil. So keep fight buat ibu-ibu hebat yang terus memantaskan agar menjadi idaman bagi pasangan dan buah hati tercintanya.

  • Sesi #2

Pada Jumat Hangat sesi #2 yang digelar pada Jumat, 10 Januari 2020, Dengan dimoderatori oleh Teh Nunie Chatidah, ada bintang tamu spesial yang di level ini terpilih sebagai mahasiswi apresiatif. Yup, ada Teh Siti Soidah!

Meski belum pernah ketemu teh SitSoi, tapi sosok aktifnya sangat terasa ketika aku mengamati Jumat Hangat malam itu dari pojokan. Aku benar-benar dibikin kagum sama mahasiswi S2 Bioteknologi yang juga suka memasak tersebut. Tantangan 10 harinya yang membahas tentang menu masakan sukses bikin ngiler. Terbukti banyak yang minta dibagi resepnya setup roti tawar. Alhamdulillah Teh SitSoi berbaik hati bagi-bagi resep. Kalau aku sebenarnya nunggu kiriman saja sih, resep di aku hanya berhenti menjadi seonggok debu, duh.. tepuk jidat. Selain itu Teh Sitsoi juga suka dunia fotografi, foto-foto yang dibagikan di IG, kece-kece. Harus belajar nih.

Sebuah quote penutup dari Teh SitSoi menjadi pengingat untuk yang stay di Jumat Hangat malam itu:

Semangat selalu untuk berproses menjadi diri yang lebih baik lagi. Jalani - Nikmati - Syukuri. InsyaAllah Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua.

Koordinator Bulanan


  • Resa Noviani

Fasil tanpa korlan di setiap level bunsay nggak ada apa-apanya. Tugas korlan sungguh sangat berarti; merekap setiap tantangan yang masuk. Apalagi level kali ini sangat panjang dan Teh Resa mampu menaklukkannya!

Berbeda dengan level-level sebelumnya, di level ini ada sesi libur sehingga waktu tantangan menjadi lebih panjang. Effort yang dikeluarkan jelas lebih besar dari level-level sebelumnya. Salut teh Resa tetap semangat hingga akhir.

Makasih teh Resa sudah memberikan yang terbaik sebulan ini. Di tengah kerempongannya merawat baby, masih memenuhi tanggungjawab sebagai korlan dengan penuh semangat. Semoga lelahnya menjadi berkah. Aamiin.

Itulah beberapa jagoan kreatif yang menjadi bukti bahwasanya proses memantaskan diri perlu diupayakan demi menumbuhkembangkan kreativitas anak-anak.

Menuju Fasil Kreatif, Ini 3 Caranya!


Ngobrolin masalah kreatif, menurutku menjadi fasil pun harus kreatif. Mendampingi para mahasiswi belajar selama 6 bulan sampai 1 tahun jelas hal yang sangat menantang. Menjaga agar mahasiswi tetap semangat di saat si fasilnya pun kadang lagi nggak semangat, wah… PR banget.

Namun di sinilah seni menjadi fasil. Sebelum bisa memotivasi orang lain, maka harus mampu memotivasi diri sendiri terlebih dahulu. Mencari cara agar para mahasiswi mau aktif dan terlibat butuh proses yang tak sebentar. Bahkan kadang harus bongkar pasang strategi.

Maka buatku untuk menjadi fasil yang kreatif, kita harus:

1. Banyak Melakukan Pengamatan

Pengamatan di sini bukan sekedar menonton saja ya, pals. Namun juga terlibat dengan aktif. Beda kelas beda karakter, beda orang beda sifat. Sebagai fasil harus mengenali dulu karakter mahasiswinya. Oh yang ini bisa didekati dengan cara A, yang itu nggak bisa.

Banyak-banyak ngobrol baik di grup maupun secara private juga bisa menumbuhkan kelekatan alias bonding dengan mahasiswi, sehingga antara fasil dan mahasiswi bisa saling berbagi tanpa sungkan. Jika kelekatan sudah terjalin, fasil akan lebih mudah mencari solusi atas tantangan-tantangan yang dihadapi pada kelas tersebut.

2. Banyak Berdiskusi dengan Fasil-fasil Senior

Dengan banyak belajar dari para fasil senior, kita akan mendapat banyak insight dan pengalaman. Meski tentu saja tak semua pengalaman tersebut cocok diterapkan pada kelas kita, namun setidaknya kita memiliki bayangan dan bekal. Bukankah selalu ada bedanya orang yang mau belajar dan tidak, kan?

3. Banyak Berlatih

Banyak membaca, menonton dan mendengarkan informasi serta ilmu-ilmu terkait facilitating dan coaching bisa membantu kita dalam berproses menjadi seorang fasil. Tentu saja hasil dari belajar itu harus dipraktekkan dengan cara berlatih.

Salah satu latihannya adalah melatih kemampuan bertanya. Mulai dari ketrampilan bertanya tingkat rendah sampai dengan ketrampilan bertanya tingkat tinggi. Ketrampilan bertanya ini dibutuhkan sekali saat kita berproses menjadi seorang fasil. Seorang fasil harus mampu mengajukan pertanyaan yang tujuannya untuk meningkatkan keingintahuan para mahasiswi dan juga mampu melejitkan keinginan mereka untuk bertanya secara lebih aktif.  Yang kemudian proses saling bertanya tersebut bisa menuju pada solusi-solusi atas tantangan yang dihadapi. 


Apakah aku sudah berani dikatakan sebagai seorang fasil yang kreatif? Jujur aku belum berani untuk memberikan label fasil kreatif pada diri sendiri. Namun aku berusaha memantaskan diri. Jikalau seorang ibu memantaskan diri untuk anak-anaknya. Seorang fasil memantaskan diri untuk para mahasiswanya.

Akhir kata, selamat berproses dan bertumbuh bersama. Salam kreatif!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter