Dari Telur-telur Lahirlah Ulat Menggemaskan



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillahirrobil’alamin, 4 pekan tahap pertama dalam kelas Bunda Cekatan Batch 1 telah terlalui. Ada banyak kejutan yang kami terima setiap pekannya. Kejutan-kejutan yang terkadang sama sekali tak terbayangkan. Hanya ada di Institut Ibu Profesional (IIP), kuliah asyik, tak membosankan sekaligus penuh filosofi.

Di pekan pertama, kami diajak untuk kembali napak tilas pada masa matrikulasi. Tidak benar-benar sama, namun hampir mirip. Memilah lagi hal-hal yang kami bisa dan tak bisa, suka dan tak suka. Lalu dari hal-hal tersebut kami harus memetakan kekuatan. Di sinilah kami diajak untuk lebih dalam menyelami dan menggali potensi diri. Telur hijau menjadi hadiah bagi siapa saja yang berhasil memetakan kekuatan dirinya. Belajar, ngobrol, traveling, berbagi informasi dan digital stuff adalah lima telur hijauku. Hingga detik ini, aku masih yakin bahwa lima telur hijau tersebut tidak perlu diganti dengan telur hijau yang lain.

Setelah telur hijau ditemukan di pekan pertama, saatnya kami berburu telur-telur merah. Jika telur hijau berisi potensi-potensi diri, telur merah berupa ketrampilan yang ingin kami kuasai. Di sini kami benar-benar harus bisa memetakan mana ketrampilan yang penting dan mendesak untuk dikuasai, mana yang penting tapi tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak serta tidak penting dan tidak mendesak. Setelah melewati perenungan yang panjang, akhirnya aku memilih manajemen waktu, manajemen emosi, menulis, public speaking dan teknik penyusunan kurikulum anak sebagai telur-telur merahku.




Lanjut ke pekan ke tiga, telur merah harus dicarikan teman baru yakni telur-telur berwarna oren. Telur oren merupakan simbol untuk ilmu-ilmu yang perlu dikuasai demi bisa mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang ada di telur merah. Di sini kepalaku mulai nyut-nyutan. Galau. Sudah benarkah telur merahku di pekan yang kedua? Atau harus kurevisi? Akhirnya sebelum kuputuskan telur-telur orenku, kurevisi dulu telur-telur merahku menjadi manajemen rumah tangga, manajemen menulis & blogging serta public speaking. Sebenarnya secara inti sama saja, namun aku lebih mengerucutkan ketrampilan yang benar-benar ingin kukuasai dalam waktu dekat, at least dalam tahun ini.

Setelah telur merah baru kutemukan, saatnya mengumpulkan telur oren ke keranjang. Pengaturan kandang waktu, gratitude journal, listening skill for life kupilih menjadi ilmu yang paling kubutuhkan dalam 5-12 bulan ke depan. Ketiga hal tersebut menurutku adalah hal yang sangat mempengaruhi dalam mengatur rumah tangga dan keluarga, serta mengelola antara kepentingan keluarga dan keinginanku berkarya.

Di penghujung tahap telur-telur, kami diminta menempatkan telur-telur yang telah kami miliki menjadi sebuah peta belajar yang utuh. Kuberi tema pada petaku; The Sparkling Marita. Memiliki 6 sub tema; Obedient Servant, Happy Wife, Lovable Mommy, Shining Writer, Enlightening Blogger yang menuju pada Brightening Life Coach. Meraih ridho Allah dengan menebar kebermanfaatan lebih banyak; tujuan inti dari peta belajarku ini.




Aku tak tahu apakah ke depan telur-telur dan peta ini akan tetap pada tempatnya, atau akan ada revisi di kemudian hari. Yang pasti aku bersyukur dengan menjalani tahapan telur-telur, aku dipaksa untuk lebih fokus pada hal-hal yang memang kusukai dan kubutuhkan. Mencoba keluar dari zona tsunami informasi dengan memilih dan memilah mana yang memang benar-benar ingin kupelajari dan menjadi ahli di dalamnya.

Sebagaimana ulat yang ingin bertransformasi menjadi kupu-kupu, butuh waktu yang tak sebentar. Ulat harus makan banyak daun terlebih dahulu. Aku pun harus siap mengumpulkan banyak ilmu pengetahuan terlebih dahulu sebelum benar-benar lahir kembali menjadi bunda yang terampil dan cekatan dalam bidang yang telah kupilih.

Menuju cita-citaku sebagai Brightening Life Coach, maka aku terlebih dahulu harus memperbaiki urusan dengan Allah yang masih banyak amburadulnya, memperbaiki ketaatanku pada suami, mengelola waktu bermainku dengan anak-anak, mengatur jam-jamku berkarya dan menambah skill agar karya-karyaku semakin banyak sampai ke masyarakat.




Tahap telur-telur bukanlah akhir dari perjalanan. Justru ini adalah awal. Awal di mana seekor ulat gemas sedang menetas dan siap memulai perburuan makannya. Daun seperti apa yang harus kumakan, dan daun mana yang harus kumakan lebih dahulu? Aaah, meski jantung selalu berdegup semakin cepat setiap Rabu dan Kamis tiba. Namun kuakui, dua hari itu kini menjadi favoritku.

Hari yang semakin membuatku antusias bertanya akan diberi game apa lagi oleh Ibu Septi. Hal yang semakin membuatku tak lagi mager, karena ada banyak hal yang harus dipelajari, didiskusikan dengan suami dan dipilah-pilah agar tak makan terlalu kenyang, namun juga tak kekurangan makanan.




Akhir kata, ulatnya sungguh menggemaskan ya? Bikin pengen nyubit, hehe. Sampai jumpa di perjalanan tahap kedua dari Bunda Cekatan batch 1 ya. Doakan aku tak tersesat dan salah langkah ya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



#bundacekatan
#kelastelurtelur
#institutibuprofesional
#aliranrasatahaptelurtelur
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email