MaritaPalace

Tiga Tingkatan Kecintaan kepada Keluarga, Kita Di Posisi Mana?

1 comment


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Minggu malam hujan turun cukup deras. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, membuatku enggan bangun dari pembaringan. Azan maghrib berkumandang, memintaku segera meluruhkan segala malas. Aku paksa diriku untuk bangun dan mengambil air wudhu. Bulu kudukku merinding. Akhir-akhir ini hipotermiaku sering kambuh. Kena angin dingin sedikit saja, bisa menggigil tanpa henti, hingga harus bersembunyi di balik selimut tebal.

Malam itu aku tak boleh bermalas-malasan, karena amanah memanggil. Sebagai penanggungjawab kegiatan pengajian rutin bulanan Majelis Taklim Az Zahira di wilayah RT-ku, mau tak mau aku tak boleh absen pada acara pengajian. Alhamdulillah malam itu meski hujan turun, para ibu anggota pengajian kompak menghadiri undangan dari tuan rumah.

Biasanya sih pengajian rutin digelar tiap Kamis pekan ketiga, namun karena tuan rumah menghendaki diajukan ke pekan pertama, kami pun tak masalah. Alhamdulillah Ustazah Julan Hardiansari atau yang akrab kami panggil Bu Rusmanto juga bisa memimpin pengajian pada malam itu.




Dikarenakan hajat dari tuan rumah ingin kirim doa sebagai rasa syukur atas pertambahan usia putrinya yang ke-17, kami membuka pengajian dengan pembacaan surat Ar Rahman. Tak dinyana tubuhku yang sebelumnya bahkan sempat tak kuat menahan dingin, perlahan menghangat. Seperti sebuah sentilan manis dari Allah, betapa aku mulai jauh dari Al Quran. Betapa setiap masalah hidup harus dijalani dengan panduan yang tepat, bukan malah bersembunyi di balik selimut.

Sentilan dari Allah tak berhenti di situ. Tausiyah Ustazah Julan semakin membuat hatiku bergemuruh. Hampir saja air mataku berhamburan. Kalau tak ingat sedang di depan orang banyak, kayanya aku bakal sesenggukan deh. Ustazah Julan menyampaikan tentang tingkatan cinta kepada keluarga/ orang terdekat dengan pilihan kata yang khas dan selalu apik, menembus sampai ke dalam jiwaku.


3 Tingkatan Kecintaan kepada Keluarga


Ustazah Julan mengatakan bahwa sebenarnya ada 6 tingkatan kecintaan, namun pada sesi kali ini beliau hanya membagikan tiga saja. Selain karena dalam prakteknya, tiga saja bisa jadi kita akan butuh waktu yang panjang untuk mencapainya, qodarullah malam itu Ustazah Julan juga ada agenda lain usai memimpin pengajian di majelis taklim kami.

Segala masalah dalam hidup akan mudah teratasi ketika masih ada cinta di hati.

Kalimat pembuka yang langsung jleb. Membuatku segera mengangguk-angguk. Benar adanya, ketika cinta masih bersemayam di hati, segala masalah apapun terasa lebih ringan dihadapi.




Masalahnya, seringkali kita merasa masih punya cinta di hati kepada anak-anak dan suami, namun mengapa rasanya masih sulit sekali menghadapi ujian-ujian di dalam keluarga? Mungkin kita perlu mengecek ada di tingkatan mana cinta kita terhadap keluarga. 

Tingkatan Pertama - Al Alaqoh


Ini adalah tingkatan terendah. Kecintaan di tingkat ini hanya berupa insting atau naluri. Tidak perlu sebuah upaya untuk menghadirkannya. Jika kita masih ada di tingkat ini, kita hanya mencintai hal-hal baik; anak yang penurut, nilai rapor baik, anak cantik, anak ganteng, suami romantis, dsb. Cinta pada hal-hal yang menyenangkan atau membawa keuntungan kepada kita saja. Perasaan cinta di tingkat ini mudah turun menjadi benci. 

Saat kita masih berada di tingkatan al alaqoh, wajar saja jika ujian hidup lewat keluarga terasa sangat berat. Karena kita hanya mencintai hal-hal baik yang ada di keluarga, ketika kita menemukan hal-hal buruk kita tak terima dan terasa berat. Maka agar kita lebih strong menghadapi segala bentuk ujian, ayo kita naikkan ke tingkatan kedua.



Contoh kasus cinta di tingkat pertama, anak sedang tantrum karena permintaan jajannya tidak dikabulkan, kita langsung ngomel, atau bahkan mencubitnya dan langsung membawa anak ke warung biar cepat diam.

Tingkatan Kedua - Al Adfu


Pada tingkatan ini, bentuk cinta kita sudah diwujudkan dengan cara mengikhtiarkan hadirnya rasa simpati. Di dalam ilmu psikologi, ustazah Julan menyampaikan jika simpati itu artinya belum ada keterlibatan rasa dan logika yang terlalu dalam, tapi sudah ada kehendak untuk mengupayakannya. 

Misal anak tantrum, kita sudah berusaha untuk bersimpati dengan rasa kecewanya tapi tak lantas mengajaknya ke warung. Kita berusaha memahamkan dia mengapa permintaannya tak dikabulkan. Namun saat si anak nangisnya semakin kencang apalagi tambah gulung-gulung, bisa jadi kita pun kalah oleh tangisannya atau malah pada akhirnya mencubitnya karena jengkel, atau malu karena mengganggu tetangga.



Itu kenapa cinta di tingkatan ini juga belum aman. Ketika tak dikelola dengan baik akan mudah turun ke tingkatan pertaman.

Tingkatan Ketiga - Ash Shobabah


Cinta bentuk ini sudah berupaya menghadirkan empati yang panjang. Membutuhkan telaah jiwa dan akal yang lebih dalam dari rasa simpati. Di tingkatan ini pula mulai muncul adanya pengorbanan. 

Contoh kasus di tingkat ini: anak tantrum sampai gulung-gulung karena permintaan jajannya ditolak. Kita lalu berempati dengan kekecewaannya. Kita beri anak waktu untuk meluapkan kecewanya. Setelah itu kita berikan pelukan terhangat, dan yakinkan si anak bahwa permintaannya ditolak bukan karena kita tak sayang, tapi karena ada alasannya.




Saat anak masih terus tantrum dan bergulung-gulung, kita tetap bisa mengelola emosi, berani menahan malu meski mungkin tetangga bilang, “sudah dibelikan jajan saja, wong cuma 1000 rupiah ini.” Namun di sinilah kita harus berkorban dicap menjadi ibu yang tega demi pendidikan akhlak tercipta. Bukan masalah 1000 rupiah, namun soal memahamkan anak bahwa kebutuhan dan keinginan adalah hal yang berbeda. Keinginan tidak harus selalu dituruti.

Pengorbanan kita untuk mencapai tingkatan ketiga juga bisa dilakukan lewat menyediakan waktu lebih banyak dari orangtua lainnya untuk belajar ilmu-ilmu parenting. Jika orangtua lain mungkin hanya asal mengikuti cara mendidik yang diterapkan bapak ibunya dulu, kita berupaya untuk menambah wawasan agar bisa mendidik secara fitrah sekaligus menyesuaikan dengan zaman.




Saat kita sudah berada di tingkatan ini, jangan merasa senang dulu. Ketika hentakan di dalam hidup tak cukup besar, bisa jadi kita turun ke tingkat kedua. Namun ketika menerima hentakan yang besar, kita bisa turun ke tingkat pertama. 

Anyway kasus-kasus di atas bukanlah contoh yang diberikan ustazah Julan ya, aku hanya mencoba memberikan contoh yang mungkin bisa membantu agar teman-teman bisa membedakan antara tingkatan kecintaan yang satu dengan lainnya. Semoga saja aku tak salah persepsi dalam memberikan contoh kasusnya ya.

Obat paling mujarab untuk setiap luka-luka kehidupan adalah dengan meningkatkan kecintaan.

Maka jika saat ini kita sedang ada masalah dengan suami/ pasangan, maka cobalah rubah kejengkelan tersebut dengan meningkatkan kecintaan padanya. Jika selama ini suka jengkel dengan dengkuran suami, atau kebiasaan buruk suami yang suka menaruh handuk ke atas kasur, sekarang coba kita nikmati dengkuran dan handuk basah itu. Jadikan hal itu ladang pahala yang bisa jadi memang diciptakan untuk kita, jika kita ikhlas menerimanya.




Begitu juga kepada anak-anak. Ketika anak-anak mulai beranjak dewasa dan susah dinasehati, mulai suka keluyuran, dan membantah perkataan kita. Rangkul mereka. Kita sebagai orangtua seringkali merasa sudah memberikan fasilitas terbaik dan menjadi orangtua paling baik untuk anak-anak, tapi toh kita tak pernah tahu jangan-jangan selama ini waktu kita untuk mereka masihlah terlampau sedikit, perhatian kita pada mereka hanya sebatas permukaan, tidak sampai mendalam ke relung hatinya. 

Maka untuk meningkatkan kecintaan, kita hanya perlu banyak memberi maaf. Bahkan kalau perlu kita pun meminta maaf untuk segala hal yang telah terjadi. Bisa jadi ada hal-hal yang tak kita sengaja telah menghadirkan luka di hati orang-orang terdekat.

Setelah itu, rangkullah. Peluk anak-anak dan pasangan, berikan hadiah-hadiah kecil yang bermakna atau taburi mereka dengan pujian-pujian yang membuat mereka berharga. Alirkan cinta pada mereka sesuai dengan bahasa cinta masing-masing.

Lalu beri ampun untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak ataupun pasangan. Karena sesungguhnya memberi ampun akan melegakan hati dan memberi ketenangan.




Jika hingga sampai saat ini masih gagal menemukan bahagia, bisa jadi karena kita selalu fokus pada amarah dan kebencian di dalam diri. Sedang Allah meminta kita untuk banyak-banyak memberi ampun, dan membahagiakan orang lain. Karena sejatinya saat kita sedang membahagiakan orang lain, kita juga sedang berupaya menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri. 

Senyum yang merekah di bibir anak-anak dan pasangan, bukankah sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya? 

Cinta itu tidak dicari, namun diupayakan. 

Maka selamat mengupayakan cinta, pals. Masih penasaran nih dengan tiga tingkatan kecintaan selanjutnya. Semoga bulan depan, Ustazah Julan melanjutkan materi tentang tingkatan kecintaan ini ya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Terimakasih banyak utk tulisan ini sist, , bener-bener sangat bermanfaat, khususnya buat
    diriku yang sedang belajar mencari obat hati, jazaakillah bilkhoir..

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email