MaritaPalace

3 Aplikasi Romantis dalam Kehidupan Keluarga Muslim

3 aplikasi romantis dalam kehidupan keluarga muslim

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Ketika kita mendengar kata romantis, apa sih yang terbayang? Apakah romantis harus selalu berhubungan dengan membelikan pasangan emas 24 karat? Atau romantis selalu berhubungan dengan suami yang suka mengirimi istrinya puisi?

Setelah dua postingan dalam rangkaian acara workshop ketahanan keluarga yang lalu bersumber dari materi mbak Vida Robi’ah, hari ini aku akan membagikan hasil catatan belajarku saat menyimak materi dari suami mbak Vida, yaitu Ustaz Hatta Syamsudin.

Profil Ustaz Hatta Syamsudin


Tak kenal, maka ta’aruf. Aku sendiri juga baru tahu nama Ustaz Hatta beberapa waktu lalu sebelum mengikuti workshop tersebut. Dari Kak Dee, my personal healer,  malah dapat info kalau Ustaz Hatta ini adalah adik kelas beliau saat SMA. Kak Dee sempat titip pesan untuk disampaikan kepada Ustaz Hatta, namun karena di penghujung acara workshop banyak peserta yang mau berfoto dengan Ustaz, jadi aku memutuskan untuk bergegas pulang. Maklum ninggal anak-anak di kids corner, jadi pengen cepat menjemput mereka, hehe.

Ustaz Hatta Syamsudin lahir di Kudus, dan kini tinggal di Solo bersama sang istri dan 5 orang putra-putrinya. Beliau mengenyam pendidikan di S1 Syariah Universitas Intenasional Sudan, S2 Hukum Islam UMS, dan saat ini sedang proses menyelesaikan S3 UII Jogja.

ustaz Hatta Syamsudin dan istri

Pasangan suami istri, Ustaz Hatta dan Mbak Vida, ini memang merupakan keluarga dakwah. Jika kita sudah melihat segudang aktivitas penuh manfaat milik mbak Vida, tentu suaminya pun semakin berlipat-lipat aktivitasnya, sebut saja: Dosen Fiqh Muamalat IAIN Surakarta, Pengajar Pesantren Mahasiswa Arroyan UNS Solo, Dewan Syariah di LAZIS Jateng & Yayasan Aitam Indonesia, Dewan Pengawas Syariah KSPPS Bina Insan Mandiri Karanganyar, dan Bina Umat Mandiri Tegal, Owner Lezati Cake & Bakery dan Penceramah Rutin di Masjid Agung Surakarta.

Pengalaman berdakwah beliau pun nggak hanya di dalam negeri, namun juga telah sampai ke beberapa negara. Hampir setiap ramadhan, beliau selalu bersafari dari satu negara ke negara lainnya; Taiwan ( 2011), Jepang (2013), dan Australia (2014), Yunani (2015), Korea (2016), Melbourne (2017), Qatar (2018). Tidak hanya saat ramadhan, Ustaz Hatta juga berkeliling dari kota yang satu ke kota lain untuk berdakwah mengenai keluarga romantis dan juga training untuk remaja.

Dakwah Ustaz Hatta tidak hanya lewat suara, beliau juga berdakwah dengan mengangkat pena. Ini beberapa buku karya beliau:

buku ustaz hatta syamsudin

Masya Allah, produktif sekali ya…

3 Visi Keluarga Islam


Pemaparan materi Ustaz Hatta pada hari Minggu, 2 Februari 2020 di Hotel Serrata dimulai dengan menjabarkan 3 visi yang harus dimiliki keluarga muslim.

visi keluarga dalam Islam

Pertama, Visi Akhirat


Setiap keluarga muslim harus memiliki visi akhirat karena tujuan berkeluarga tidak hanya untuk bersama-sama di dunia. Keluarga muslim harus bertujuan untuk reuni kembali di akhirat. Maunya reuni di surga apa di neraka, pals? Tentu saja di surga dong ya… ngeri banget masa reuni di akhirat. Semoga kita dan keluarga masing-masing bisa bareng-bareng terus sampai ke surga ya, pals. Aamiin.

Kedua, Visi Peradaban


Sudah sepantasnya setiap keluarga muslim menyadari bahwa kita adalah bagian dari peradaban ini. Sebagai bagian dari peradaban, kita harus memiliki visi sebagai keluarga yang nggak hanya senang-senang di dunia, namun juga harus memiliki semangat untuk syiar dan dakwah.

Btw, dakwah keluarga kita nggak harus sama dengan keluarganya Ustaz Hatta lo. Dakwah itu kan nggak harus selalu berdiri di mimbar. Dakwah punya banyak bentuk, salah satunya misal dengan menulis lewat blog seperti ini, kita sisipkan kebaikan-kebaikan.

Ketiga, Visi Internal


Sementara di sisi internalnya sendiri, setiap keluarga muslim harus memiliki visi sebagai keluarga romantis.

Mengapa Keluarga Muslim Harus Romantis?


Adakah yang tahu jawaban atas pertanyaan tersebut? Pada saat acara banyak pasangan, khususnya pasangan-pasangan uzur alias yang sudah menikah puluhan tahun berpendapat bahwasanya kalau menikahnya sudah lama, sudah nggak zamannya romantis-romantisan. Benarkah demikian?

Ustaz Hatta lalu menyampaikan alasan mengapa keluarga muslim harus memiliki visi sebagai keluarga romantis.

1. Karena romantis itu merupakan teladan dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. 

Sebagaimana termaktub dalam hadits berikut ini:

romantis teladan nabi

Dari hadits tersebut, Ustaz Hatta mengingatkan bahwa Nabi Muhammad adalah teladan untuk semua laki-laki di bumi. Akhlaknya dalam memperlakukan istri dan keluarganya adalah simbol keromantisan tiada dua. Jauh lebih romantis dari drama korea, drama India, apalagi drama Indosiar, wkwk.

2. Karena kenangan manis akan selalu menjadi kekuatan untuk menjalani kehidupan-kehidupan selanjutnya.


Ustaz Hatta menceritakan pengalamannya saat menjalani pernikahan jarak jauh di awal-awal pernikahan beliau dengan sang istri. Saat itu mbak Vida tinggal di Solo, sementara Ustaz Hatta masih harus menyelesaikan studinya di Sudan. Beliau berkisah bahwa pada masa-masa tersebut, Ustaz Hatta belum memiliki handphone, jaringan internet pun belum seperti sekarang. Beliau harus meminjam HP temannya kalau ingin mengirim pesan kepada sang istri.

Agar pesan-pesan dari sang istri di HP temannya bisa dibaca-baca ulang, Ustaz Hatta menuliskan semua pesan-pesan tersebut di sebuah buku tulis. Sampai habis sebuku barulah Ustaz Hatta mendapat rezeki sebuah HP. Beliau berkata kalau buku itu masih ada sampai sekarang menjadi saksi perjalanan kisah cinta Ustaz Hatta dan istri.


So sweet ya, pals?

Kita dan pasangan pun pasti juga memiliki kenangan-kenangan manis semacam itu. Saat pernikahan sedang dalam masa stagnan atau badai sedang menerpa, biasanya kenangan-kenangan manis seperti itu akan selalu menjadi penguat untuk terus bertahan dan bersabar.

3. Karena berkaca dari masalah-masalah yang semakin banyak terjadi di sekitar kita.


Perceraian menjadi hal yang semakin lazim terjadi di Indonesia. 70% perceraian terjadi karena gugatan istri. Artinya semakin banyak keluarga yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan ini bisa bersumber dari banyak hal. Bukan hanya karena hadirnya orang ketiga, namun juga banyak yang bersumber dari kebuntuan komunikasi. Nah, membangkitkan romantisme bisa menjadi salah satu solusi dari kebuntuan tersebut.

Romantis dalam Koridor Syariat


Seperti yang aku pertanyakan di awal, sebenarnya romantis itu apa sih. Apakah romantis harus selalu mahal, berupa candle light dinner, menghadiahi pasangan berlibur ke kapal pesiar atau perhiasan? Ataukah romantis harus berupa sebuah tindakan yang susah, seperti mengajak istri berdansa, nari-nari ala film India atau membawakan bunga ratusan tangkai? Atau romantis harus selalu kisah yang berakhir sedih dan mellow semacam Romeo Juliet, Laila Majnun, Jack and Rose dalam Titanic?

Tentu tidak dong! Ini lo landasan romantis dalam syariat Islam:


Dalam Islam, romantis berarti memperlakukan pasangan secara layak atau sebaik-baiknya, serta menerima kelebihan sekaligus kekurangan pasangan. Romantis di dalam syariat Islam juga bersifat selamanya, maksudnya tidak hanya berakhir di dunia, namun bervisi agar bisa reuni kembali di akhirat.

Masya Allah, memang Islam sudah memberikan panduan kehidupan dengan sangat lengkap ya, pals. Seharusnya sudah tak perlu ada lagi keraguan untuk kita dalam mengimani setiap panduan tersebut. Hmm, lalu seperti apa ya aplikasi romantisme dalam keluarga muslim?

3 Aplikasi Romantis dalam Keseharian Keluarga Muslim


Aplikasi Romantis #1 - Inspirasi Mawaddah


Disampaikan oleh Ustaz Hatta sebuah hadits yang meriwayatkan saat Rasul bertanya kepada sahabatnya, Jabir:

Dari hadits tersebut tersirat makna bahwa sebaiknya pemuda muslim menikahi seorang gadis. Maksudnya dengan menikahi seorang gadis atau pasangan yang seusia, kita bisa memiliki kadar tenaga yang masih sama. Contoh mudahnya, biasanya kalau pasangan seusia, di awal-awal nikah masih sering jalan ke sana-sini bareng-bareng. Beda kalau menikah dengan pasangan yang jaraknya 10 atau 20 tahun di atas kita, pasti secara pandangan dan kekuatan fisik berbeda jauh.

Mawaddah lebih berhubungan dengan fisik. Mengaplikasikan romantisme dalam bentuk mawaddah lebih kepada cara kita menjaga penampilan dan bagaimana kita berucap kepada pasangan. Ustaz Hatta kemudian menyampaikan bahwa sudah fitrahnya laki-laki menyukai keindahan. Maka sebagai seorang istri sebaiknya harus selalu menjaga penampilannya. Saat sedang bersama suami, istri harus berdandan semaksimal mungkin. Jangan justru kebalikannya, saat di rumah pakai daster bolong, saat mau ke luar rumah malah cetar badai membahana.

Saat suami sedang bekerja di luar rumah, mereka banyak bertemu dengan banyak perempuan yang dandanannya maksimal. Sudah fitrahnya jika laki-laki sesekali melirik karena tertarik. Makanya sebagai istri jangan sampai tidak dilirik oleh suami sendiri hanya karena dandanan kita yang ala kadarnya. Rambut kusut nggak pernah disisir hingga bau bawang menempel seharian. Ayo mulai manjakan suami dengan penampilan terbaik kita.

Di satu sisi, seorang suami juga harus memahami fitrahnya perempuan yang senang mendengar ucapan dan kata-kata mesra. Perbedaan mendasar di antara laki-laki dan perempuan; cinta bagi laki-laki berupa perbuatan, sementara bagi perempuan, cinta juga harus dinyatakan. Oleh karenanya suami juga harus belajar mengucapkan kata-kata mesra. Berikan panggilan sayang kepada istri tercinta, sebagaimana Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam memanggil Humairoh kepada Aisyah. Kita juga bisa saling berbalas syair untuk meningkatkan kembali mawaddah di tengah-tengah pernikahan.

Sesekali bolehlah kita memberikan rayuan-rayuan maut, seperti…

Jepang bisa bikin robot. Jerman bisa bikin mobil. Kalau kamu… bisa bikin aku kangen.

Eaaa, ayooo challenge diri masing-masing membuat rayuan-rayuan manis yang bisa kembali menggetarkan pernikahan yang mungkin mulai stagnan dan kurang setruman.


Romantis dalam bentuk perbuatan ada beberapa jenis; romantis di dalam rumah, romantis di luar rumah ataupun romantis dalam gerakan-gerakan mesra. Tentu saja ada beberapa romantisme di dalam rumah yang tak boleh diperlihatkan di luar rumah, misal berciuman berlebihan. Meski kita pasangan halal, tentu secara adab dan etika tak baik bukan?


Gerakan-gerakan mesra contohnya saling bergandengan tangan saat jalan-jalan ke pasar. Waktu di acara workshop tersebut, Ustaz Hatta meminta para peserta langsung memraktekkan lo. Ternyata kalau yang sudah nggak biasa gandengan bisa malu-malu kucing gitu, hehe. Rasulullah SAW paling senang menunjukkan kemesraannya pada Aisyah dengan memencet hidung Aisyah saat ia marah, lalu dilanjutkan dengan mencium keningnya. Kemudian diakhiri dengan mendoakan Aisyah. So sweet kan?

Aplikasi Romantis #2 - Inspirasi Sakinah


Berlandaskan pada Al Quran Surat An Nisa: 19;


Dari ayat tersebut diharapkan pasangan suami istri bisa menjalankan perannya dengan seimbang dan tidak ingin saling menang sendiri. Untuk mengaplikasikan romantis dalam versi sakinah ini ada tiga hal yang bisa dilakukan:

1. Memahami Kekurangan dan Kelebihan Pasangan


Pada sesi ini Ustaz Hatta memberikan contoh pasangan suami istri yang unik. Suaminya tidak memiliki tangan, sedangkan istrinya tidak memiliki kaki. Namun dengan semua kekurangan tersebut, mereka tetap bisa menjalankan peran masing-masing dengan kompak. Karena mereka fokus pada kelebihan dan kebaikan pasangan, bukan fokus pada kekurangannya.

2. Memahami Fungsi dan Tugas Masing-masing

Suami dan istri sudah harus memahami peran dan tugasnya masing-masing. Bahwasanya mencari nafkah adalah wilayah yang menjadi kewajiban bagi suami. Sedangkan menjadi pendidik utama anak-anak adalah tugas bagi sang istri. Tentu saja dalam menjalankannya diperlukan adanya kolaborasi, kerjasama dan komunikasi.

Istri boleh memiliki penghasilan sendiri, namun bukan untuk menafkahi keluarga. Begitu juga suami yang harus paham meski istri adalah pendidik utama, posisi suami adalah kepala sekolah untuk pendidikan di rumah.

3. Memahami Perbedaan Antara Laki-laki dan Perempuan

Laki-laki memang diciptakan berbeda dengan perempuan. Maka kalau ada orang yang bercerai karena ketidakcocokan dan perbedaan, ya memang sudah fitrahnya laki-laki dan perempuan harus berbeda. Kalau sama malah menakutkan to?

Sebagai suami, kita harus paham bahwasanya istri jago multitasking. Maka jangan kaget kalau sambil menggoreng ikan, bisa nyambi menghidupkan mesin cuci dan masak nasi. Sementara sebagai istri juga harus paham bahwa suami adalah makhluk yang hanya bisa fokus pada satu jenis pekerjaan saja. Saat suami sedang di depan laptop, dan kita butuh bicara dengannya, ya jangan hanya sekedar dipanggil karena kemungkinan ia mendengar akan sangat kecil. Colek saja bahunya untuk mendapatkan perhatian.

Suami harus paham kalau insecurity perempuan jauh lebih tinggi. Maka jangan heran kalau mau pergi kondangan, istri bisa berdandan hingga berjam-jam, milih baju gonta-ganti seisi lemari dicoba semua. Ustaz Hatta sampai memberikan tips, saat mau ke kondangan mandi dan ganti pakaian setelah istri mengenakan kaos kaki, biar nggak bete nunggu kelamaan, wkwkw.

Hmm, meski hal tersebut nggak berlaku buatku sih. Aku nggak begitu ribet soal penampilan… atau aku yang memang feminitasnya mulai tergerus, wkwk.

Begitu juga istri jangan kaget kalau suami suka asal milih pakaian buat ke kondangan, karena laki-laki tingkat pedenya memang lebih tinggi. Mereka akan selalu pede dengan pakaian apapun. Bahkan pakai kemeja yang belum disetrika pun, sebagian besar laki-laki tak masalah.

Banyak hal lainnya yang diceritakan Ustaz Hatta di sesi ini. Intinya, jangan mempermasalahkan perbedaan-perbedaan kecil semacam ini. Jika perbedaan yang ada bukan soal keimanan dan aqidah, it’s okay.. jadikan itu bumbu dalam perjalanan memadu kasih bersama pasangan. Justru perbedaan itulah yang akan bikin rame dan seru.

Aplikasi Romantis #3 - Inspirasi Sakinah


Romantisme dalam sisi sakinah berlandaskan pada Al Quran Surat An Nisa: 21;


Disampaikan oleh Ustaz Hatta bahwasanya pernikahan itu berawal dari mawaddah, dan berujung pada rahmah. Pernikahan yang telah mencapai rahmah artinya hubungan pasangan suami istri tersebut tidak lagi berupa kesukaan dan kecintaan secara fisik, namun telah tumbuh keinginan untuk saling memberi, mendampingi dan merawat.

Romantis di tingkatan ini sudah dalam titik mencintai tanpa alasan, mencintai tanpa mengharap balasan.

Untuk mencapai tingkatan romantis ini, ada 3 hal yang harus dijalani:

1. Ganti Karena menjadi Meskipun

Pernikahan yang telah mencapai rohmah tidak lagi berlandaskan “aku cinta kamu karena…,” namun telah berubah arah menjadi “aku cinta kamu meskipun…” Artinya kita telah bisa mencintai pasangan secara komplit, bukan hanya mencintai kelebihannya saja, namun juga mencintai segala kekurangan yang ada pada dirinya.

2. Hanya Ingin Memberi



Romantisme dalam tingkatan rahmah juga hanya terfokus untuk saling memberi. Tidak lagi berharap balasan dari pasangan.

3. Kebersamaan dan Cita Akhir

Rahmah juga menguatkan keinginan bersama tidak hanya di alam dunia, namun juga kembali bertemu di jannahNya.



Masya Allah, ndaging sekali lah materi workshop ketahanan keluarga pagi hingga siang itu. Materi dari Mbak Vida dan Ustaz Hatta saling meyempurnakan satu sama lain. Kece banget ya home team keluarga dakwah ini. Barakallah untuk panitia acara yang telah menyelenggarakan workshop penuh faedah. Menanti workshop-workshop berikutnya.

Oh ya, di sesi tanya jawab, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik bagiku. Seseorang bertanya;

Bagaimanakah mengatasi inner child dalam kehidupan berumahtangga?

Mbak Vida saat itu menyampaikan jika inner child tersebut diketahui sebelum pernikahan, maka sebaiknya sembuhkan dulu. Akan bahaya ketika inner child ini tidak disembuhkan dan malah meledak di tengah-tengah perjalanan pernikahan. Namun jika sudah terlanjur menikah, maka terimalah inner child tersebut, ceritakan pada pasangan dan mintalah dukungan dari pasangan untuk menjadi konselor pribadi.




Romantis sesuai syariat mungkin nampak berat. Namun sejatinya pada hal-hal yang terasa berat saat kita melakukannya, maka disitulah ada ketaatan dan keberkahan. Sementara itu jika kita melakukan sesuatu hanya berdasarkan senang-senang belaka, maka sesungguhnya hal itu bukanlah taat melainkan hanya sekedar minat.

Semoga Allah lindungi keluarga dan pernikahan kita ya,pals. Semoga senantiasa sakinah, mawaddah warohmah. Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email