MaritaPalace

#5thGandjelRel; Sharing yang Ndaging Banget dari Mbak Diah Didi hingga Tik-tokan Rame-rame

3 comments

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Minggu, 23 Februari 2020 adalah hari yang sudah kunanti-nantikan. Ada apakah gerangan? Hari yang spesial karena bisa kopi darat bareng teman-teman blogger perempuan di Semarang dan sekitarnya. Tergabung dalam komunitas Blogger Gandjel Rel, di tahun kelima ini alhamdulillah kami semakin solid dan kompak.

Sejak tahun pertama hingga kelima, aku bersyukur tak pernah absen dari event syukuran pertambahan usia dari komunitas blogger yang merupakan cinta pertamaku di dunia blogging ini. Event-nya boleh sederhana, namun para founder selalu punya kejutan untuk para member-nya. Sama seperti di tahun kelima ini. Tidak ada info sebelumnya bahwa akan ada tamu spesial. Ternyata saat mbak Rahmi Aziza, ketua Gandjel Rel, sedang memberikan sambutan, datanglah sesosok food blogger & vlogger ternama yang tentu saja langsung disambut sorak sorai oleh semua member Gandjel Rel.

Sharing Ndaging dari Mbak Diah Didi


Wah, seneng banget dong bisa belajar langsung dari mbak Diah Didi! Meski selama ini resep-resepnya hanya kusimpan rapi dan tak tahu kapan akan dieksekusi. Hayoo, pada penasaran nggak sama ilmu yang dibagikan sama Mbak Diah Didi? Kalau penasaran, cuzz nonton videonya dulu as teaser. Jangan lupa like, subscribe dan komen yaa… wkwk.


Konsistensi adalah Kunci

Mbak Diah Didi dikawal oleh Isul, sang MC kondang yang meluangkan waktu berharganya demi Gandjel Rel, mengawali kisahnya dengan wejangan super jleb! Kami diingatkan bahwasanya kunci kesuksesannya sebagai seorang food blogger & vlogger tak lepas dari konsistensi. Blogger senior yang lebih sering disebut dengan Bunda Didi ini memulai ngeblog sejak 2004, tepatnya setelah menikah. Lalu dari situ beliau mulai mengenal komunitas-komunitas blogging. Hingga kemudian pada 2006, Bunda Didi memulai jejak ngeblognya secara profesional dan mengubah blognya menjadi top level domain.

Alasan kenapa Bunda Didi membuat blog dengan niche food alias kuliner, nggak lain karena memang passion beliau suka masak dan suka makan. Awal dari blog diahdidi.com dikarenakan Bunda Didi ingin mendokumentasikan resep-resep yang baru dicobanya, biar nggak lupa dan mudah dicari. Di awal perjalanan ngeblognya, Bunda Didi biasanya mempraktekkan resep dari orang lain dan kemudian melakukan modifikasi pada resep tersebut. Namun sekarang ini, beliau lebih senang membuat resep sendiri.

Biasanya resep-resep tersebut didapat saat Bunda Didi jalan ke kota-kota, lalu menjajal makanan tradisional yang ada. Beliau cicipi, kenali rasanya dan mencoba mengolahnya di rumah. Nama makanan boleh jadi sama atau bukan jenis baru, namun takaran dalam setiap resep yang bikin beda.

tips menjaga konsistensi ngeblog dari mbak Diah Didi

Bunda Didi juga berbagi tips bagaimana caranya menjaga konsistensi hingga blog, vlog dan media sosialnya telah berkembang sedemikian rupa. Tips yang cukup sederhana, namun prakteknya nggak sederhana itu, wkwk. Menurut Bunda Didi, kita bisa konsisten ngeblog jika artikel yang ditulis adalah sesuatu yang memang kita sukai. Sehingga tidak ada beban dalam menjalaninya. Contoh mudahnya, Bunda Didi suka masak, jadi dalam sehari bisa membuat 2-3 menu masakan yang akhirnya nggak cuma disajikan untuk keluarga, tapi juga dibuat video dan blognya.

Nah, kalau kita sukanya apa? Suka traveling, ya cuzz tiap jalan-jalan ke suatu tempat, tuliskan pengalaman itu. Suka nulis cerpen, ya cuzz tulis cerita-cerita baru tiap harinya.

Jika kita sudah konsisten dalam membangun blog, vlog atau media sosial, maka nggak perlu lagi menunggu-nunggu klien. Mereka akan datang dengan sendirinya begitu melihat konsistensi kita.

konsistensi ngeblog mendatangkan klien

Itulah kenapa pentingnya menjadi unik dan punya style sendiri, sehingga kita lebih cepat dikenal dan diingat oleh orang lain. 

Misal mau jadi food vlogger, buat lebih spesifik dengan hanya berbagi tutorial membuat sambal. Atau mau jadi travel blogger, buat lebih spesifik dengan berbagi momen traveling bersama keluarga. Semakin khusus niche blog/ vlog, semakin kita akan punya pangsa sendiri.

Pentingnya Ikut Komunitas dan Agency

Ssst, di event #5thGandjelRel, Bunda Didi memberikan bocoran penghasilan tertinggi yang didapat selama menjadi food blogger dan vlogger. Sebuah angka yang fantastis dan langsung membuat kami yang hadir di acara spontan ternganga. Bunda Didi lalu menyampaikan bahwasanya untuk bisa mendapat klien semacam itu, tentu saja rule pertama yang tadi sudah dijabarkan harus selalu dijalankan; KONSISTENSI.

Selain konsistensi, Bunda Didi juga menyampaikan pentingnya untuk bergabung dengan komunitas. Dengan berkomunitas, kita jadi punya banyak teman, bertambah ilmu dan wawasan, serta membantu kita jadi lebih produktif. Kok bisa? Iya dong…

tips mendatangkan klien dengan gabung komunitas dan agency blogger

Secara nggak langsung kalau kita lihat teman-teman sekomunitas rajin dalam update blog, kita yang awalnya malas-malasan update blog, jadi ikut semangat nulis. Terus biasanya dengan bergabung di sebuah komunitas, kita nggak hanya bisa belajar istilah-istilah baru terkait blogging, tapi juga bisa dapat rezeki. Entah karena komunitas tersebut ngadain lomba blog lalu kita menang. Atau saat ada member dari komunitas yang bagi-bagi job. Makanya bener banget kalau silaturahmi itu membuka pintu-pintu rezeki. So, yang belum punya komunitas blog, cuzz lah cari komunitas yang cocok dan nyaman.

Bunda Didi juga menambahkan tips lainnya terkait soal mendapatkan klien. Yaitu dengan bergabung dengan agency-agency blogger/ influencer yang sekarang semakin menjamur ya. Sebut saja HIIP, SociaBuzz, IndoBlogNet, CubbyRawit, dsb. Teman-teman bisa googling dan kulik-kulik sendiri ya.

Mengenai cara menentukan rate card, Bunda Didi menyampaikan agar kita harus mampu menghargai diri sendiri. Jangan memandang rendah diri kita, dan banggalah menjadi blogger. Lalu jangan lupa saat mendapat penghasilan, selalu bayar pajak ya!

tips menerima endorse dari mbak Diah Didi

Tips pamungkas terkait menerima endorse/ proyek dari klien yang di luar niche blog/ vlog kita. Misal, Bunda Didi sering juga menerima endorse di luar dunia masak. Namun tentu saja beliau menerima endorse tersebut karena target pasarnya masih sesuai dengan range followers medsos; ibu dan perempuan.

Selain masih sesuai dengan followers, menurut beliau sah-sah saja menerima endorse di luar masak-memasak selama untuk membantu promosi produk UMKM lokal, produknya tidak aneh-aneh dan tidak merugikan orang lain.

Jangan Hanya Mencari Cuan

Meski sudah ternama, Bunda Didi tak selalu memasang harga tinggi. Khusus untuk UMKM lokal, Bunda Didi sering hanya membantu share produk-produk yang dikirim kepada beliau tanpa imbalan tertentu. Buat beliau, bisa ikut membesarkan UMKM dan produk-produk mereka bisa laris manis saja sudah bahagia. Anggap saja semacam charity project.

membantu UMKM lokal

Bahkan saat mbak Dini Rahmawati, blogger asal Temanggung, bertanya apakah ada syarat dan ketentuan khusus untuk para pelaku UMKM untuk bisa bekerjasama dengan Bunda Didi, beliau menjawab dengan sederhana. “Nggak ada syarat khusus. Dikumpulkan saja produk-produknya, lalu janjian kapan bisa ketemu. Atau mau datang ke Semarang juga boleh.”

Masih terkait dengan UMKM, Bunda Didi menyampaikan pesan bahwa penting sekali bagi para penggiat kuliner untuk tidak asal mengikuti tren tapi juga harus punya ciri khas sendiri. Memodifikasi resep tradisional dikolaborasikan dengan sentuhan modern saat ini sedang menjadi trending. Intinya di era sekarang, penting untuk menjadi kreatif dan selalu mencari peluang yang ada di daerah kita.

Bunda Didi Buka Lowongan Nih!

Selain aktif menjadi food blogger & vlogger, Bunda Didi juga menerbitkan buku-buku resep. Saat ini pun sebenarnya ada beberapa penerbit yang mau bekerjasama dengan beliau. Namun Bunda Didi merasa kewalahan untuk mengerjakannya. Ada penerbit yang mau menerima resep-resep yang sudah tayang di blog. Namun ada juga penerbit yang maunya resep-resep baru.

menerbitkan buku sebagai sarana branding dan portfolio

Sebenarnya ada pula penerbit yang nggak mengharuskan Bunda Didi memakai fotonya sendiri. Namun beliau mengaku sebagai sosok yang perfeksionis nggak bisa bekerja seperti itu. Beliau ingin semuanya berjalan sesuai bayangannya.

Beliau memberi gambaran bahwa selama ini buku-bukunya hanya dijual secara online. Followers medsosnya siap menanti dan membeli buku-buku beliau. Bahkan ada perusahaan yang siap membeli bukunya 2000 pcs! Wow… kalau kita kayanya tanpa pikir-pikir langsung iyess saja ya. Beda sama Bunda Didi, karena ingin menghasilkan karya yang maksimal, meski terlihat menggiurkan, beliau nggak mau lo asal terima proyek.

Buku saat ini tidak lagi menjadi target utamanya, meski diakui Bunda Didi buku adalah sarana branding dan portfolio yang paling oke. Makanya, kalau ada teman-teman yang mau kerjasama dengan Bunda Didi di penulisan buku resepnya, beliau welcome sekali lo. Hmm.. menarik nih.. tapi kok masak-memasak ya, aku kibar bendera putih deh, wkwk.

Tips untuk Food Vlogger Pemula

Nggak cuma hanya berbagi soal konsistensi dan cara mendapatkan klien, Bunda Didi pun sharing tentang langkah-langkah awal menjadi vlogger, khususnya food vlogger.

tips ngevlog untuk pemula

Pertama, siapkan tempat yang pencahayaannya cukup.

Misal di teras/ taman lalu dikasih meja untuk menempatkan alat-alat masaknya. Kecuali kita punya dapur yang desainnya nggak menghadap tembok seperti dapurnya Bunda Didi. Pastikan kondisi lokasi shooting bersih dan rapi.

Kedua, pakai smartphone bisa. 

Namun kalau punya modal lebih, bisa beli kamera go pro dan lighting gear. Atau jika punya, bisa pakai kamera DSLR ataupun mirrorless. Bunda Didi sendiri menyampaikan untuk kebutuhan video harian, beliau masih pakai smartphone dan melakukan editing sendiri. Namun untuk video-video kerjasama dengan klien, beliau menggunakan kamera DSLR. Bahkan jika budget fee-nya tinggi, Bunda Didi juga menggunakan tim videographer. Jangan lupa juga siapkan alat-alat penunjang, misalnya tripod dan microphone.

Ketiga, menentukan angle untuk mendapat hasil yang cetar membahana.


tips ngevlog mudah untuk pemula

Keempat, temukan konsep

Misal Bunda Didi mengangkat tema masakan rumahan tradisional. Nah, kalau kita mau jadi food vlogger kira-kira pakai konsep apa nih? Mungkin bisa tema menu sederhana untuk bekal sekolah. Tema masak bareng ibu dan anak atau suami dan istri, dsb.

Kelima, belajar ngobrol dan jadi diri sendiri. 

Bunda Didi berpesan agar saat di depan kamera kita menjadi apa adanya. 

Jika memang medhok, ya nggak masalah. Malah siapa tahu medhoknya kita jadi ciri khas tersendiri. Selain itu harus banyak belajar ngobrol di depan kamera, biar semakin luwes dan nggak dikit-dikit.. hmm.. hmmm… kaya aku, wkwk.

Enaknya food vlogger, muka kita nggak harus keliatan. Cukup keliatan separo badan atau tangannya saja pun nggak masalah. Bahkan kata Bunda Didi, kalau ada proyek yang meminta beliau tampil full body, maka fee-nya berbeda dengan yang hanya kelihatan tangannya. Bener juga sih, kan kalau keliatan full body, harus mikirin penampilan dan make up juga ya, hehe.

Gimana, ndaging banget kan materi dari Bunda Didi? Nggak cuma itu, pals. Masih ada satu wejangan dari beliau yang kuingat dengan jelas…

Jangan pelit bagi-bagi ilmu sama temannya!

Bukankah itu fungsinya berkomunitas? Untuk saling berbagi ilmu, wawasan dan informasi yang kita tahu. Sejatinya saat kita membesarkan orang lain, saat itulah kita juga membesarkan diri sendiri.

5 Keseruan Lainnya di #5thGandjelRel


Nggak cuma ilmu yang nampol banget dari Mbak Diah Didi, di event syukuran 5 tahun Gandjel Rel, ada 5 hal seru lainnya yang bikin jadi kangen kopdar lagi.

1. Konsep Lokasi Acara yang Unik

dhadhu boardgame cafe yang kece beud

Bertempat di Dhadhu Cafe yang lokasinya nggak jauh dari sekolahnya Ifa. Berbeda dengan kafe-kafe yang sudah ada, Dhadhu Cafe yang punya tagline #ngerollyuk mengangkat konsep Boardgame Cafe. Di sini kita nggak cuma bisa menikmati makanan-makanan yang ajib banget, seperti Pandora Bowl, Batagor dan Nasi Goreng. Namun bisa seru-seruan bareng teman dengan melakukan game yang tersedia di sana.

Pada saat acara, Mas Kevin mengajak 4 orang di antara kami untuk main Go Go Gelato. Waah seru… kalau biasanya ibu-ibu nemenin anak-anak main, ini para ibu yang asyik seru-seruan main game. Terlihat banget emak-emak memang butuh me time, wkwk.

Dari informasi yang kudengar, Dhadhu Cafe ini buka dari jam 10.00 - 22.00, kecuali weekend sampai jam 23.00. Alamat lengkapnya ada di Jl. Timoho Raya No.18, Bulusan, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50277. Cuzz, yang mo kopdar sama teman-temannya bisa banget merapat ke sana.

2. Farewell Party untuk Mbak Sovi

farewell party Gandjel Rel untuk Mbak Sovi

Di antara momen-momen hepi, terselip satu momen haru ketika mbak Uniek memberikan potongan kue ultah kedua kepada mbak Sovi. Langsung yang tadinya pada tertawa-tawa berubah menangis tersedu-sedu mendengar ucapan pamit dari Mbak Sovi yang mau pindah ke Jambi mengikuti suami. Namun momen haru tersebut nggak lama kok. Apalagi Mbak Sovi kan jago ngebanyol, hehe. Ketika doi cerita kesan-kesannya tentang Gandjel Rel, suasana jadi ceria lagi deh.

Semoga Mbak Sovi tetap semangat berkarya dan keluarga yang dibinanya bersama suami semakin sakinah, mawaddah warohmah karena tak perlu LDR lagi. Aamiin.

3. Bertabur Doorprize

#5thGandjelRel bertabur doorprize

Jika di acara syukuran 4 tahun Gandjel Rel ada sesi tukar kado, tahun ini nggak perlu lagi ada tukar kado. Buanyak banget member yang menjadi sponsor acara sehingga syukuran tahun ini penuh doorprize. Semua yang hadir kebagian, alhamdulillah aku pun dapat 2!

4. Yippie, Menang Lagi!

menang lomba blog #5thGandjelRel

Untuk memeriahkan #5thGandjelRel, para founder menyelenggarakan lomba blog yang dibuka sejak 1-15 Februari 2020. Alhamdulillah aku lagi rajin, jadi bisa ikutan setor. Lebih senangnya lagi karena artikelku yang berjudul 5 Hal Keren yang Wajib Kamu Tahu sebelum Bergabung dengan Gandjel Rel bisa jadi salah satu pemenang utama dari lomba blog tersebut. Yippie!

Memang hidup pas-pasan itu menyenangkan. Pas butuh uang saku buat ke Yogyakarta, pas banget dapat rezeki dari menang lomba. Makasih Gandjel Rel!

5. Tik-tokan Bareng-bareng

tik-tokan rame-rame di #5thGandjelRel

Acara selesai kurang lebih pukul satu siang. Saat kami hendak beranjak pulang, hujan turun dengan derasnya. Lantas kami kembali meneruskan ngobrol, beberapa ada juga yang sholat di musholla. Berhubung hujan semakin deras, beberapa member malah asyik tik-tokan. Lucu-lucu banget deh videonya. Ada yang goyang ubur-ubur, dan ada juga yang ber-anysong challenge tapi ambyar jadinya. Hehe.

Begitulah, setiap event Gandjel Rel selalu membawa kesan yang sangat dalam. Apalagi ketika mbak Uniek dan mbak Rahmi menyampaikan wejangannya sebelum meniup lilin bersama-sama. 
Wejangan mbak Uniek;
Sebagai blogger, kita harus tetap menulis. Mau itu seminggu sekali, sehari sekali, dua minggu sekali, pokoknya tetap menulis. Tulis apapun yang kita suka. Kalau masalah lain-lain, job dan sebagainya itu bonus.
wejangan dari para founder Gandjel Rel

Sementara mbak Rahmi mengingatkan kami untuk selalu berpegang pada tagline Gandjel Rel, “ngeblog ben rak ngganjel.” Selain itu, mbak Rahmi juga menyampaikan;
Menjadi blogger tidak harus karena suka dan bisa menulis. Justru menjadi blogger adalah awal kita belajar menulis yang lebih baik.

Ini ceritaku tentang komunitas blogger kesayangan, kalau kalian punya cerita apa tentang komunitas? Thanks for visiting and see you!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

3 comments

  1. Wah terima kasih dibagikan materi Mbak Didi lengkap, Riit, kemarin ngga fokus dengarnya hihi

    ReplyDelete
  2. Kompliiit tulisannya. Makasiih udah banyak bantu di acara ultah Gandjel Rel yaaa mba Maritaa.

    ReplyDelete
  3. Sukakkk banget..jd dirangkumkan moment kemarin yg bergizi dan ndaging banget seperti dagingku.m😍😍😍

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email