MaritaPalace

Surat untuk Tyas


Dulu setiap bulan ini tiba, kita menantinya bersama-sama. Meski jarak usia kita terbentang 10 tahun, namun bulan ini akan selalu jadi bulan favorit untuk kita berdua. Kado terakhir darimu masih kusimpan, Dik. You should be 25 yesterday. Dan maaf… karena kemarin aku berandai-andai lagi. Andai kamu masih ada di sini, seperti apakah dirimu sekarang. Sudahkah kau menemukan pangeran yang kau idam-idamkan. Akankah kita terus bertikai tentang hal-hal sepele.


Aku kangen, dik. Kangen banget. Sudah 7 tahun berlalu, tapi lubang di hati ini masih saja belum sembuh. Rasa penyesalanku terlampau besar. Banyak hal yang belum kulakukan untukmu, dan kamu pergi secepat itu.

Dik, dunia sedang berduka. Corona datang dan meluluhlantakkan semuanya. Di Indonesia saja sudah ada seribuan yang terdeteksi. Ifa sampai harus libur sekolah dulu. Dia masih ingat kamu lo, dik. Tentu saja nggak ingat bagaimana wajahmu, karena kamu pergi saat Ifa masih berusia setahun. Namun saat aku cerita tentang kamu, dia selalu dengan bangga mengatakan kalau dulu kamu selalu sayang padanya, selalu ikut mengasuhnya.


Dia akan menyombongkan hal itu pada adiknya. Dia merasa lebih keren dari adiknya karena meski sebentar, masih sempat bertemu denganmu, juga ibu. Dik, dia mirip kamu. Mirip banget. Mungkin karena pas hamil Ifa, aku selalu jengkel sama kamu ya? Jadinya Ifa bener-bener mirip sama kamu. Bahkan kadang aku berhalusinasi kalau kamu terlahir kembali di diri Ifa.

Dari atas sana, sudahkah kau lihat ponakan cowokmu? Usil banget ya? Aku jamin kalau kamu masih ada di sini, kamu bakal kewalahan ngejar dia kalau lagi lari. Aku aja ngos-ngosan banget mengejar si tukang lari satu itu.

Dik, kamu sudah ketemu ibu? Jagain ibu buat aku ya… Yangti, yangkung? Mas Kus Kurniadi, Kus Kurniawan, Setyo Kusmanto, Setyo Kusmantoro, dan Rudi Prihatin? Have you ever met all of them? Bagaimana rupa mereka? 


Seperti apa rasanya berada di barzah, dik? Allah pasti menjagamu jauh lebih baik. Allah mencintaimu lebih dari siapapun. That's why Allah ambil kamu lebih dulu, itu caraNya menjagamu.

Dik… karena corona, sepertinya tidak akan ada kumpul keluarga besar karena kami di sini diminta untuk physical distancing, nggak boleh kumpul-kumpul dulu. Bahkan kemungkinan besar yang kerja di luar kota pun nggak bakal bisa mudik. Dan kalau benar itu terjadi, aku akan semakin merasa sendiri…

Tapi Dik, aku juga bersyukur… di saat corona seperti ini, kamu dan ibu sudah di tempat yang lebih baik. Aku nggak bisa bayangin, dik. Dengan kondisimu yang gampang sakit, dengan kondisi ibu yang lumpuh… kalau kamu dan ibu masih di sini, akan menjadi golongan yang rentan terkena corona. Dan aku nggak bisa bayangin harus melepas kepergian orang-orang yang kucintai karena corona… nggak bisa melihat jenazah mereka, nggak bisa nganterin ke makam.


Tiba-tiba aku bersyukur… karena dulu aku masih bisa melihat jenazahmu. Masih melihat punggungmu untuk terakhir kalinya sebelum pagi itu kau pergi untuk selama-lamanya. Masih bisa mengantarmu hingga ke rumah terakhirmu.

Dik… aku kangen! Tidakkah bisa sebentar saja mampir ke mimpiku? Aku berharap aku masih layak untuk bertemu dan berkumpul lagi bersamamu, juga ibu.

Bukan tak bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki sekarang. Bukan tak bersyukur masih punya mas Martin, Ifa dan Affan. Aku… hanya rindu. Rindu memelukmu, rindu ngobrol sama kamu, rindu nyanyi bareng kamu, aku rindu…

***


Al fatihah khususon Marisa Surya Ningtyas binti Surya Bakti.

Setiap kali kumenulis kalimat di atas, selalu ada yang japri… "Kembarannya mbak ya?” Bukan satu dua yang bertanya seperti itu. Bahkan sejak Tyas, begitu kami memanggilnya, masih hidup. Dia adik kandungku, terpaut 10 tahun. Hanya sepertinya bapak dan ibu nggak terlalu kreatif memilih nama, hehe.

Adikku sejak berumur dua minggu sudah divonis memiliki kelainan jantung, tepatnya ada kebocoran di jantungnya. Diagnosa itu muncul ketika tubuhnya membiru saat buang air besar. Setiap kali kehabisan oksigen, tubuh kecilnya akan membiru dan terasa dingin sekali. Bayangkan bayi sekecil itu sudah harus merasakan kesakitan yang luar biasa.

Aaah, adik yang kunanti-nanti kenapa harus sakit seperti ini ya Allah. Itu bisikku waktu kecil. Bisakah nanti dia berlari-lari dengan sehat. Bisakah nanti dia tumbuh dengan sempurna. Tapi Allah Maha Besar. Tanpa operasi, Tyas bertahan sampai sebulan sebelum usianya memasuki 18 tahun. Dari 0 - 6 tahun, dia selalu berobat jalan ke RSUP Kariadi. Setiap hari harus minum obat demi bertahan. Namun setelah 6 tahun ke atas, sama sekali nggak minum obat apapun.


Saat itu, bapak dan ibu nggak ambil opsi operasi karena banyak alasan. Selain segi usia, kans untuk berhasil juga sangat tipis. Aku tak bisa menyalahkan keputusan bapak dan ibu saat itu. Kalau aku jadi mereka pun, aku pasti akan galau. Dan mungkin akan mengambil opsi yang sama.

Saat Tyas tumbuh remaja, ibu pernah bertanya kepadanya, “Mau dioperasi po?” Dengan tegas Tyas menjawab, “Nggak usah lah. Operasi nggak operasi nanti juga akan mati to?”

Aaah… andai aku tahu hanya punya 18 tahun bersamanya.. andai aku tahu Jumat pagi itu hari terakhir aku menemuinya..

Tidak.. tidak boleh berandai-andai. Tapi sungguh meski sudah 7 tahun berlalu… hati ini masih kelu saat mengingat kepergiannya. 


Betapa seringkali di dunia kita sepelekan waktu. Kita pikir akan selamanya bersama dengan orangtua, saudara kandung, nenek kakek, suami, dan anak-anak… hingga seringkali melakukan kesalahan yang sama setiap harinya. Kesalahan yang bisa jadi melukai hati mereka. Saat mereka masih ada, kesalahan itu terasa begitu wajar. Namun saat mereka sudah nggak ada… barulah kita merasa sangat menyesal.

Seandainya waktu bisa diputar, rasanya tak ingin melakukan semua kesalahan itu. Menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menunjukkan rasa cinta dan sayang. Namun nyatanya kesalahan-kesalahan itu terus terulang lagi, pada orang-orang yang masih ada di dekat kita. Dan lalu penyesalan akan kembali datang ketika orang-orang di dekat kita pergi satu per satu.
Bukankah seharusnya satu kematian saja sudah cukup menjadi pengingat? Kenapa sesal masih saja datang setiap kali ada kematian-kematian yang lain?

Maafkan aku ya, Allah. Hari ini aku sangat merindunya, adik kecilku yang dulu selalu suka bermain ayunan di kakiku. Yang selalu menyambutku datang saat aku pulang ke Salatiga. Yang selalu merengek di depan pintu kamarku karena ingin tidur bersamaku. Yang pinter bikin roti. Yang pinter momong ponakannya. Yang selalu menyimpan sedihnya dan sakitnya sendiri.

Ya Allah, izinkan aku menyampaikan rindu padanya… izinkan aku menyampaikan maaf padanya. Dan izinkanku kelak bertemu lagi dengannya.

Allah, ampuni dosa-dosanya. Terimalah amal baiknya. Lapangkan kuburnya. Terangi kuburnya. Tempatkan ia di surgaMu. Aku bersaksi, dia gadis kecil yang sangat baik.



#selfhealing
#hanyarindu
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email