-->

Jurnal Puasa Pekan 1 Bunda Cekatan #1 Tahap Kepompong: From Negative to Positive

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Terengah-engah. Jujur itu yang aku rasakan memasuki tahap kepompong. Beradaptasi dengan jadwal kakak yang mulai school from home. Qodarullah di saat kakak harus school from home, pesanan content sedang bejibun. Sementara di ruang-ruang maya, informasi mengenai covid19 bertebaran tanpa jeda. Baik yang hoax dan benar saling bertabrakan satu sama lain.

Aku yang awalnya sama Covid 19 biasa-biasa aja, lama-lama kok jadi paranoid. Lama-lama jadi senewen lihat orang yang masih menggampangkan virus tersebut. Masih asyik nongkrong di luar rumah, masih nggak mau physical distancing, masih menjadikan virus itu bahan becandaan. Nggak lucu banget. Di saat harusnya waspada kok masih bisa menjadikan kondisi ini lelucon.

Sementara melihat data pasien yang terus bertambah, juga efek covid yang mengerikan… di kepalaku rasanya sudah penuh banget. Apalagi suami sedang sakit batuk yang nggak sembuh-sembuh. Udah deh jadi tambah cemas tanpa arah. Mikirnya mulai yang enggak-enggak. Kalau begini gimana. Kalau begitu gimana.

Saking senewennya, whatsapp dan instagram story-ku mulai meleduk. Alhamdulillah… kondisi ini terselamatkan karena di sekolah kakak setiap pagi mengadakan kajian online. Nggak tanggung-tanggung, guru besarnya yang langsung ‘turun gunung’. Siapa lagi kalau bukan ustaz Budi Ashari.

Setelah setiap hari mendengarkan siraham rohani dari gurunda Budi Ashari, lumayan lah pelan-pelan kepalaku yang awalnya berisi butiran debu negative thinking mulai bisa berubah positive, meski belum sempurna. Sesekali senewennya masih suka keluar juga, hehe.

That’s why puasa di pekan pertama ini aku fokus pada merubah pikiran-pikiran negatif gara-gara kebanyakan info corona di ruang maya menjadi pikiran-pikiran positif yang membangun semangat jiwa.

Ini beberapa hal yang kulakukan di masa puasa pekan pertama:


1. Memilih Berita yang Layak Baca

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memilah berita yang layak sampai mata dan telinga. Nggak semua harus kita ketahui kalau itu justru hanya menambah kekhawatiran. Sedang kekhawatiran hanya menurunkan imunitas kita. Waspada itu perlu, pals. Tahu beberapa info terkait corona juga perlu. Tapi… pilihlah dari media yang terpercaya dan pastinya bukan hoax!

Apakah perlu tahu jumlah pasien corona tiap harinya? Menurutku tidak. Kalau itu justru membuat kita tambah was-was. Yang terutama adalah kita sudah tahu bagaimana cara menjaga diri dari Covid 19. Stay at home, jaga pola makan sehat, jaga pola hidup biar imunitas tetap terjaga, kalau terpaksa keluar ya jaga physical distancing dan pakai masker, jaga kebersihan. Sudah itu saja kan ikhtiar duniawinya? Sisanya… Allah yang ngatur. Biar Allah segera turunkan solusi terbaik, lengkapi ikhtiar duniawi dengan doa.

2. Ikut Kajian Streaming

Diakui atau tidak, memenuhi tangki-tangki ruhiyah kita bisa membantu pikiran untuk lebih selow dan nggak gampang spaneng. La piye mo spaneng kalau tiap pagi diingatkan tentang takdir Allah, ketauhidan dan stay calming? Kalau dengerin kajiannya cuma sehari atau dua hari mungkin efeknya memang kuran nampol. Tapi kalau terus kontinyu setiap hari, insya Allah adeeem, pals.

Dan beruntung sekolah anak ada di Kuttab Al Fatih yang memang isinya orang-orang adeeem semua, jadi eike lumayan lah ketularan dikit-dikit. Belum banyak sih, masih perlu banyak latihan hehe.

3. Menulis Artikel-artikel Positif

Nah poin yang ketiga ini sejalan dengan tantangan 30 hari yang kuambil selama tahap kepompong ini. Untuk menjaga positive vibes, aku juga harus menyalurkan positive energy ini ke banyak orang biar bisa semakin banyak orang yang feel positive, terus masyarakat Indonesia bisa kembali beraktivitas sedia kala. Hehe, ketinggian ya ekspektasinya? Ya, intinya biar yang baca blogku juga nggak ikut puyeng karena corona. Jadi nulis yang asyik-asyik aja.

PR nya buatku adalah menentukan jam posting yang fixed, jadi tetep bisa nulis jurnalnya di facebook post lalu setor jurnal hariannya juga. Karena nulisnya sih jalan terus, tapi kok setorannya yang amburadul… duh duh duh.

Dan, eng ing eng… hasil puasa pekan pertama menurutku masih jauh dari oke. Karena kadang masih suka ngintip info-info yang malah bikin baper. Atau menemukan info-info hoax di beberapa group, begitu diinformasikan kalau itu hoax malah dikomentari, “hoax kalau bermanfaat ya nggak papa to?” Di situ aku jadi senewen, wkwk.

Baiklah kita lanjutkan saja puasa pekan kedua dengan tema yang masih sama, plus mau nantangin diri sendiri untuk speak smoothly to anak-anak. Jadi, sudah bawaan orok, aku tuh kalau ngomong nadanya sering banget melengking tinggi, padahal yo enggak marah. Akhirnya ditirulah sama si kakak yang ternyata nada melengking itu nggak enak banget didengerin.

So.. buat pekan kedua, selain maintain positive thinking, aku juga mau puasa bicara dengan nada tinggi. Kira-kira bisa nggak ya? Ada yang bisa kasih tipsnya biar bisa ngomong lemah lembut kaya emak-emak sejati gitu lo.. duh, kesejatianku sebagai ibu memang sangat amat dipertanyakan. Sampai jumpa di jurnal pekan kedua! Semoga nulisnya nggak mepet deadline lagi…

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter