8 Pengalaman Pertama Traveling yang Berkesan

8 Pengalaman Pertama Traveling yang Berkesan
Jujur, aku bukan orang yang sering traveling. Kalau disuruh banyak-banyakan jumlah destinasi traveling yang pernah kukunjungi, bisa dipastikan aku bakal kalah telak. Bukan karena nggak pengen, cuma memang belum ada kesempatan. Kemarin-kemarin juga kalau mau traveling jauh-jauh mikir banget karena punya amanah menjaga ibu.

Sementara waktu masih kecil, kayanya orangtuaku bukan typical traveler, jadi ya paling banter diajak piknik sekolah aja sama ibu. Itu juga tujuannya ke Borobudur lagi dan lagi, hehe.

8 Pengalaman Traveling Cupuku

Sekarang sih baru mulai terpikir untuk mengalokasikan dana khusus bepergian bareng keluarga. Sebelum pandemi melanda dunia, kami sudah mulai rutin untuk mengagendakan jalan bareng anak-anak. Ya, meski masih tipis-tipis aja sih menyesuaikan budget yang ada. Dari beberapa perjalanan yang pernah kualami, ada beberapa pengalaman pertama yang berkesan. Mau tahu apa saja?

1. Traveling bersama Keluarga ke Sulawesi

traveling keluarga ke makassar, pare-pare, mamuju dan tana toraja
Jarang banget jalan-jalan sama bapak ibu, bahkan hampir nggak pernah. Hingga saat duduk di bangku SMP, bapak mengajak kami untuk bertolak ke Sulawesi Selatan karena kakak sepupuku ada yang menikah. Benar-benar pengalaman berkesan karena ini pertama kalinya jalan bareng keluarga komplit yang kuingat.

Sebelumnya sih waktu usia 3 atau 4 tahunan pernah diajak bapak kerja melintasi Jawa - Sumatera, tapi memoriku terbatas tentang itu. Jadi ya, perjalanan ke Sulawesi saat itu paling kuingat. Kami menggunakan mode transportasi laut. Senang sekali karena itu juga pertama kalinya naik kapal besar, walau sempat mabuk laut parah saat perjalanan pulang.

Sesampainya di Sulawesi Selatan, kami menuju Ujung Pandang yang sekarang lebih tenar dengan sebutan Makassar, lalu melanjutkan perjalanan ke Mamuju. Mumpung sampai sana, nggak afdol kalau nggak mampir Tana Toraja. Sayangnya aku cari-cari fotoku kok nggak nemu. Tapi sungguh ini bukan hoax, apalagi halusinasi, wkwk.

kesasar ke terboyo dan berteater

2. Pertama Kalinya ke Semarang Sendirian

Terdengar konyol, tapi aku baru berani ke Semarang sendirian dari Salatiga tanpa ditemani bapak ibu saat duduk di bangku SMA. Pengalaman pertamaku naik bus ke Semarang sangat berkesan karena aku kebablasan!

Ibu memberi petunjuk untuk turun di Jatingaleh. Namun ternyata bus yang kutumpangi nggak lewat Jatingaleh, tapi langsung ke terminal Terboyo. Perjalanan dari rumah Salatiga sampai rumah eyang di Semarang yang harusnya bisa kelar maksimal dalam dua jam, harus berlangsung selama 3 jam gara-gara salah lokasi turun, wkwk. Tapi kalau nggak begitu, nggak belajar kan?

3. Serunya Berteater di Luar Kota

Kalau aku nggak ikut teater sejak SMA, mungkin aku juga nggak akan merasakan serunya berkunjung ke Solo hanya bersama teman-teman. Begitu juga saat hobiku itu berlanjut hingga kuliah dan masa-masa awal kerja. Bisa menginjakkan kaki ke Jepara, Yogyakarta, dan Surabaya bareng teman-teman adalah hal-hal yang tak akan terlupakan.

4. Traveling Halal Pertama Kali Bareng Suami

traveling halal bareng suami
Saat belum jadi suami, doi pernah menemaniku hingga ke Surabaya saat komunitas teaterku menggelar pertunjukan di kota Pahlawan itu. Namun tidak ada yang lebih berkesan ketika kami jalan-jalan setelah sah menjadi suami istri. Bisa bergandengan tangan tanpa perlu merasa berdosa. Nggak perlu mumpet-mumpet waktu ketahuan bapak gandengan tangan dan rangkulan, hahaha.

Serunya lagi jalan-jalan pertama kalinya kami ketika sudah jadi suami istri saat menemani budhe dari Sulawesi jalan-jalan ke Yogyakarta. Mumpung sampai di Jawa, budhe pengen mengajak cucu-cucunya melihat Yogyakarta. Jadilah honeymoon-ku dan suami sponsored by budhe, wkwk.

5. Kereta Api Pertama Ifa

kereta api pertama Ifa ke Solo
Saat Ifa berusia 3 tahun, aku dan ayahnya berencana mengajaknya naik kereta api. Namanya anak-anak pasti excited kan dengan moda transportasi itu. Awalnya hanya akan naik kereta api kecil yang ke arah Kendal kalau nggak salah. Sudah beli tiketnya. Namun pas hari H kami telat berangkat ke stasiunnya, alhasil ketinggalan kereta deh.

Untuk menghibur Ifa yang mulai badmood, kami coba cari tahu apa ada kereta yang bisa ditumpangi. Eh ternyata ada kereta ke arah Solo yang harganya murah meriah, cuma RP 10.000 per penumpang. Tanpa pikir panjang kami langsung naik kereta itu. Ifa senang sekali menikmati perjalanannya. Berceloteh dengan riang sambil lihat pemandangan yang tersaji dari jendela kereta.


6. Staycation Pertama di Luar Kota bersama Keluarga

staycation pertama bersama keluarga ke solo
Aku dan suami selalu punya rencana untuk bisa ngajak anak-anak jalan ke luar kota lalu menginap di hotel. Namun entah kenapa setiap kali bikin rencana malah ujungnya gagal. Begitu agendanya spontan dan dadakan, malah beneran jalan.

Pada November 2018, suami diminta untuk menjadi narasumber pelatihan IT oleh sebuah organisasi. Sebenarnya saat itu doi nggak berencana mengajakku dan anak-anak. Lalu aku merajuk kepadanya untuk ikut serta. Akhirnya kesampaian juga bisa mengajak anak-anak menginap di luar kota, ya meski masih di Jawa Tengah aja.

Anak-anak happy sekali. Awalnya kami mau naik kereta ke Solo, tapi sampai di stasiun tiketnya udah habis. Akhirnya kami bis-bisan ke Solonya, sempat deg-degan takut Affan rewel di bus. Maklum Affan jarang naik angkutan umum, beda sama Ifa yang dulu sering kuajak mbolang. Sementara Affan lebih seringnya bertualang naik motor saja. Alhamdulillah rewelnya sebentar, karena setelah itu Affan tertidur pulas sampai ke tujuan.

Happy sekali anak-anak bisa nginap di hotel besar. Bahkan cuma di kamar nonton tv aja mereka senang banget. Maklum di rumah nggak ada TV, wkwk. Kalau bosan mereka akan minta berenang atau jalan ke mall yang selokasi dengan hotelnya. Beruntung di hotel juga ada playgroundnya meski seupil, hehe.

7. Traveling bersama Bocah-bocah

traveling with kids
Menjadi ibu adalah tantangan baru, termasuk traveling hanya bersama anak-anak tanpa suami. Perjalanan pertamaku hanya bersama Ifa saat dia berumur sekitar 6 atau 8 bulanan. Nggak jauh sih, cuma ke Salatiga aja. Namun bawa anak bayi naik bus cukup bikin keringat dingin. Untunglah Ifa bisa diajak kompromi, nggak rewel sepanjang perjalanan. Bahkan saat harus pindah-pindah angkot menuju ke lokasi bank pengambilan uang pensiun nenek, doi happy-happy aja menikmati perjalanan. Hanya di perjalanan pulangnya saja sempat rewel, mungkin karena sudah kelelahan.

Sementara jalan-jalan ke luar kota hanya dengan Affan kulakukan Agustus 2019 yang lalu saat mengikuti Konferensi Ibu Profesional. Sudah takut banget bakalan rewel, maklum doi lagi aktif-aktifnya, pengennya jalan-jalan terus. Alhamdulillah yang ditakutkan nggak terjadi karena setelah naik ke atas bis, Affan tidur sampai hampir menuju lokasi. Sepanjang 3 hari acara, Affan pun sangat bisa diajak kerjasama. Maklum acara konferensinya full day, dan dia harus berada di kids corner sepanjang acara kecuali saat istirahat makan dan sholat. Palingan drama sebentar kalau pas ditinggal di kids corner, selebihnya doi malah lengket banget sama penjaga kids corner-nya.

8. Serunya Mbolang tanpa Suami dan Anak

solo traveling ke yogyakarta
Seumur-umur baru sekali dalam hidupku setelah jadi istri dan ibu pergi sendirian ke luar kota tanpa suami atau anak-anak. Ya, meski dekat sih, cuma ke Yogyakarta saja. Tapi jelas sangat berkesan. Aku bisa menemukan kemandirianku yang mulai menghilang karena terlalu sering bergantung pada suami. Pengalamanku bulan Maret 2020 lalu saat diamanahi menjadi salah satu pemateri di Akademi Fasil IIP jelas sangat berkesan. Walau hanya sehari semalam, namun ada banyak pelajaran berharga yang kudapatkan. Dari menyiapkan itinerary, mencari tahu rute transportasi untuk menuju ke lokasi hingga menyiapkan anak-anak agar jadi anak manis saat ditinggal bersama ayahnya.

Ada rasa nggak nyamannya, karena menurutku masih enakan jalan-jalan bareng keluarga daripada harus bepergian sendirian. Namun di satu sisi ada rasa nagih untuk ber-solo traveling, wkwk. Jadi ya kalau ada kesempatan buat ke luar kota tanpa keluarga, selama suami mengizinkan sih, mau banget…

Itulah beberapa cerita jalan-jalanku yang mungkin B aja buat teman-teman, tapi semuanya adalah permata pengalamanku yang sangat berkesan dan nggak akan terlupakan. Kalau teman-teman punya pengalaman traveling pertama seperti apa nih?
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

  1. Ternyata anak teater toh, tes pantes ekspresif banget keknya, terus terus pantes juga pengetahuannya banyak, selain main online, offline juga udah hilir mudik ya. Aku paling jauh dari Sukabumi, ke Jogja. Itu pun karena ada outdoor learning program sekolah

    ReplyDelete
  2. Nggak ada yang B menurutku, Rit.
    Tiap orang memiliki pengalaman istimewa bagi dirinya. Aku aja malah gak pernah ngajakin anak-anak pergi berdua aja saat mereka masih kecil. Nggak bakal diijinkan suamiku atau bapakku, mesti selalu ditemani. Makanya aku salut pada ibu-ibu yang pede ngajak anak pergi tanpa didampingi suaminya atau keluarga terdekat

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter