Ketika Satu PengingatNYA Kembali Datang…

berita duka dari grup one day one post batch 7

Beberapa menit sebelum kutulis postingan ini, seperti biasa aku membuka-buka dulu beberapa grup whatsapp. Takdir membawaku pada sebuah grup blogwalking. Mataku bersitatap pada link postingan mbak Jihan yang berjudul Selamat Jalan Sahabat. Dari judulnya aku bisa menebak kalau postingan itu pasti tentang sebuah perpisahan, bahkan aku sudah menduga itu tentang kematian.

Biasanya aku jarang membuka postingan bernada kesedihan di dini hari semacam ini. Namun entah kenapa otakku mengarahkan jari-jemari untuk mengklik postingan tersebut. Kubaca dengan seksama. Deg. Kok menyebut-nyebut ODOP batch #7. Apakah itu artinya aku juga mengenal sosok yang dimaksud mbak Jihan?

Aku semakin tertarik membaca postingan itu hingga akhir. Sampai ketemu sebuah jawaban yang kuinginkan. Sahabat yang dimaksud oleh mbak Jihan dalam postingan itu ternyata mbak Prajna Pratiani. Aku sungguh tak menyangka. Seingatku beberapa hari lalu saat aku menengok WAG ODOP, mbak Prajna baru saja mendapatkan ucapan terima kasih karena tulisannya tayang di salah satu media cetak.

karya mbak prajna patriani anggota ODOP batch 7 di sebuah media cetak
Aaah, sekali lagi Allah membawakan pengingat dalam bentuk kematian. Betapa tak pernah ada yang tahu kapan ajal akan menjemput. Sudahkah aku siap jika kapan saja Ia menjemputku untuk pulang? Bekal apa saja yang sudah kupunya?
Aku meluncur ke instagram mbak Prajna, beberapa ucapan duka cita mengalir di sana. Masya Allah… dari semua ucapan itu semuanya mendoakan kebaikan, semuanya menceritakan kebaikan. Begitu saja saat aku membuka WAG ODOP sesaat setelah menyelesaikan membaca postingan mbak Jihan. Semua berduka atas kehilangan ini.

Kami mungkin belum pernah bersua satu sama lain. Aku bahkan bisa dibilang termasuk anggota ODOP yang tak banyak berinteraksi. Bahkan belum semua member ODOP yang kusimpan nomornya di daftar kontak. Nomor-nomor yang sudah kusimpan biasanya adalah nama-nama yang pernah melakukan obrolan pribadi denganku. Nomor mbak Prajna sudah tersimpan. Itu artinya kami pernah berbincang secara pribadi, meski entah kapan.
Kepergian mbak Prajna yang mendadak ini jujur membuatku merenung. Kelak ketika hari itu tiba kepadaku. Seperti apakah kematian akan menjemputku? Akankah aku pergi dalam senyuman atau ketakutan? Lantas seperti apakah orang-orang akan mengingatku?
Aku menengok ke belakang, kusadari betapa masih njomplang antara hal-hal buruk dan hal-hal baik yang pernah kulakukan. Dengan semua jejak tersebut akan seperti apakah aku menemuiNya? Dengan semua jejak tersebut akan seperti apakah aku akan dikenang? Bahkan meski Allah telah menutupi sedemikian banyak aibku, rasa-rasanya tak banyak hal baik yang bisa diceritakan tentangku. Akankah aku bisa mendapatkan doa-doa tulus yang akan mengantarkan kepergianku menuju alam berikutnya?
Ya, kematian memang selalu menjadi sebaik-baiknya pengingat. Namun entah mengapa sehari dua hari setelahnya, pengingat itu perlahan kembali buram. Hingga kemudian datang kembali kematian lainnya. Sampai kapankah harus terus diingatkan oleh kematian? Sampai kematian itu datang sendiri kepadaku kah?
Sungguh kepergian seseorang yang terasa dekat, meski belum pernah saling berjumpa, selalu meninggalkan catatan yang berbeda. Bukan sekedar kehilangan, namun juga membawa pesan yang sangat dalam.

Aku tak tahu lagi harus menulis apa. Berita duka ini terasa menyesakkan. Padahal sebelum aku mengetahui berita ini, aku baru saja selesai menonton Dinner Mate yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Mood-ku dalam sekejap berlompatan ketika aku membaca kabar kepergian mbak Prajna.

Aah, betapa banyak waktu terbuang untuk hal-hal yang tak begitu penting. Sedang aku tak tahu kapan waktuku akan berakhir. Bagaimana jika besok, bagaimana jika beberapa jam ke depan? Apa yang sudah kupersiapkan? Amal ibadahku jelas belum cukup. Dengan suami aku bahkan masih sering membantah. Dengan tetangga, aku masih sering bergunjing. Sudahkah aku mengukir kenangan terbaik bersama anak-anak? Apa yang akan anak-anakku ingat tentang bundanya? Akankah Allah ridha padaku?

Otakku kembali membimbing jemariku membuka handphone. Kuketikkan nama Prajna di aplikasi whatsapp. Bukan… aku bukan ingin mengirimkan pesan pada yang telah tiada. Aku hanya ingin tahu apakah masih ada chat terakhir dengan mbak Prajna yang masih kusimpan. Ternyata bersih. Itu artinya memang sudah sangat lama kami tak berkomunikasi privately. Juga beberapa waktu lalu aku sempat membersihkan deretan chat di WAG karena storage-ku mulai megap-megap. 

kepergian mbak prajna patriani member ODOP batch 7
Namun tak berhenti di situ, entah kenapa aku ingin melihat keterangan akun WA mbak Prajna. Kutemukan sebuah doa tertulis di bagian about akunnya.
“Bismillahilladzi La Yadhurru Ma’asmihi Syai’un fil Ardhi wa Laa fis Sama’i wa Huwas Sami’ul ‘Alim.”
Artinya: “Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi Maha Mengetahui.”

Sebuah doa yang juga menjadi bagian dari dzikir pagi dan sore. Menandakan bagaimana mbak Prajna adalah sosok yang sangat shalihah. Sosok yang menggantungkan diri hanya kepadaNya. Sosok yang yakin bahwa setiap takdirNya adalah hal baik. Sosok yang siap dengan segala kemungkinan.

Dari info yang kudapat, mbak Prajna tutup usia dikarenakan kecelakaan. Namun membaca doa yang terpasang di bagian about nomor WA-nya tersebut, entah kenapa aku yakin kepergiannya pastilah indah. Karena mbak Prajna yakin Allah akan senantiasa bersamanya.

Mbak Prajna, sebagaimana foto profil di WA-mu, saat ini kau pasti sudah berada di ‘kereta kencana’ menyusuri rel-rel panjang menuju alam yang baru. Surga menanti seorang ibu, istri dan perempuan shalihah sepertimu, mbak. Jangan khawatirkan lagi tentang mereka yang kau tinggalkan. Aaah, kau pasti lebih tahu dariku… Allah akan menjaga belahan jiwamu juga dua anak kekasih hatimu sebaik-baiknya.

doa untuk mbak Prajna Patriani member ODOP batch 7
Mbak Prajna, meski singkat… meski tak terlalu dekat… terima kasih atas perkenalan yang hebat. Aku bersyukur pernah mengenal sosok perempuan inspiratif dan pantang menyerah sepertimu. Seseorang yang terus belajar mengembangkan potensi hingga akhirnya karya-karya hebatmu bertebaran satu per satu.

Selamat jalan bersama kereta kencana-Nya, mbak Prajna. Kami akan terus mengenang setiap kebaikanmu, juga karya-karyamu….
Allahummaghfir lahaa warham-haa wa 'aafihaa wa'fu anhaa. Ya Allah ampunilah dosanya, berilah rahmatMU atasnya, sejahtera dan maafkanlah dia. Aamiin.
*** 

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

7 comments

  1. aamiin, siapa nih yang naruh bawang disini :")

    ReplyDelete
  2. semoga beliau diberikan tempat terbaik di sisiNya dan yang ditinggalkan tabah serta semoga anak anaknya jadi anak anak saleh. amin

    ReplyDelete
  3. Aamiin ya Allaah. Mudah-mudahan mba Prajna pergi dalam keadaan Husnul khotimah.

    ReplyDelete
  4. Aamiin ya Allah. Buah karya almarhumah akan jadi catatan indah dan amalan baiknya juga.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email