Belajar Menerima Kegagalan, Kekalahan dan Kesulitan

tips belajar menerima kegagalan

Nak, tidak semua yang kamu inginkan dalam hidup bisa kamu dapatkan,” celotehku pada Affan saat ia merengek meminta jaket bebek yang sedang dipakai oleh kakaknya.

Abot men nasehatnya, Bun,” timpal suamiku sambil nyengir.

Aku juga kemudian ikutan nyengir. Ya, bisa jadi saat ini Affan belum memahami kalimat yang kuucapkan, namun perlahan-lahan kuyakin ia akan mengerti. Sama halnya ketika suatu hari bapak pernah berseloroh kepadaku setelah menolak untuk mengantarkan pergi ke sekolah naik mobil, “Tidak selamanya keadaan kita akan senyaman ini. Kamu harus siap menghadapi hidup dengan berbagai kondisi. Ada mobil atau tidak, hidup enak atau hidup susah.

Dulu saat bapak mengucapkan hal tersebut, aku hanya mendengarnya sambil lalu dan menggerutu. Beberapa tahun kemudian, ketika kondisi ekonomi keluargaku tak lagi stabil, aku mulai paham dengan kalimat bapak. Beliau tak ingin membuatku terlampau nyaman dengan keadaan. Bisa saja bapak mengantarku ke sekolah naik mobil setiap hari. Namun bapak memilih untuk tak melakukan hal tersebut.

manfaat dan kenapa kita harus belajar menerima kegagalan
Bapak lebih memilih mengajarkanku rasanya kepanasan dan berdesak-desakan naik angkutan umum. Bukan karena tak sayang. Justru karena beliau sangat menyayangi anak-anaknya. Bapak yang sedari kecil lebih banyak tumbuh dalam kekurangan pastinya paham bagaimana susahnya bertahan hidup. Bukan berarti beliau ingin anak-anaknya juga merasakan hal yang sama. Namun bapak ingin anak-anaknya punya kemampuan yang sama dalam urusan bertahan hidup di berbagai kondisi.
Jika anak-anaknya terlampau difasilitasi dengan kemudahan, bapak khawatir nantinya kami tak bisa survive ketika kemudahan itu tak lagi ada. Maka begitulah cara beliau mendidik kami untuk tak merengek meminta kemudahan. Bapak ingin anak-anaknya merasakan perihnya gagal, sakitnya saat jatuh, dan kecewanya saat kalah.
Begitu juga saat aku menginginkan barang yang agak mahal, meski ada uangnya sekalipun, bapak dan ibu tak akan lantas memberikannya. Mereka ingin melihat usaha anak-anaknya. Seberapa serius kami menginginkan barang tersebut. Seberapa serius kami mau menabung atau seberapa serius kami berusaha untuk membuktikan bahwa kami layak diberi barang tersebut. Ketika usaha kami dinilai berhasil, barulah bapak dan ibu mengabulkan keinginan kami.

Dari cara pengasuhan bapak ibu tersebut, aku banyak belajar dalam mendidik Ifa dan Affan. Bersyukur suamiku pun satu suara tentang hal tersebut. Bahwasanya anak-anak harus diajarkan melewati kesulitan. Karena hanya mereka yang pernah merasakan kesulitan akan mampu merasakan perjuangan.

Tips Mengajarkan Anak untuk Belajar Menerima Kegagalan, Kesulitan dan Kekalahan


Berikut ini hal-hal yang aku dan suamiku lakukan dalam proses pengasuhan kedua buah hati kami terkait cara mengajarkan mereka dalam menerima kegagalan, kesulitan dan kekalahan:

1. Tidak Selamanya Kakak Harus Selalu Mengalah pada Adik

Selama ini banyak orangtua yang selalu berpesan kepada anak yang lebih tua untuk selalu mengalah kepada adik. Adilkah? Tak ada anak yang memilih dirinya menjadi anak pertama. Sebagaimana tak ada anak yang tahu bahwa dirinya akan dilahirkan sebagai anak kedua. Rasa tak adil yang berkembang dalam diri anak bisa berbahaya.

Ketika orangtua sedang tak ada, bukan tak mungkin si adik menjadi bulan-bulanan si kakak. Mumpung ayah bunda tak ada di rumah, kuusilin aah adik. Begitu juga adik bisa saja sering berulah karena merasa akan dibela oleh kedua orangtuanya.

Di rumah kami, saat Affan belum berusia 2 tahun, kami memberikan pengertian kepada Ifa, “Kak.. adik masih kecil, dia belum paham merebut mainan tidak baik. Kakak mau ya berbagi dulu dengan adik? Nanti kalau adik sudah 2 tahun, insya Allah adik sudah lebih paham.” Awalnya Ifa tentu saja juga jengkel, namun lama-lama dia memahami hal tersebut. Sehingga saat adiknya merebut mainan, ia beralih ke mainan lain.

kakak dan adik belajar menerima kegagalan dengan adil
Tentu saja kami pun juga sudah sounding ke Affan bahwa merebut mainan yang sedang dimainkan kakak bukan perbuatan baik. Kalau mau pinjam, izin dengan sopan, bukan dengan cara merebutnya. Namun kami masih bertoleransi kepadanya saat itu.

Hingga tibalah Affan memasuki usia 2 tahun dan bisa diajak komunikasi dengan lebih baik. Mulai saat itu tak ada lagi paksaan bagi Ifa untuk mengalah. Jika Affan terpantau sedang merebut mainan yang sedang digunakan Ifa, tentu kami menegur Affan, bukan meminta Ifa mengalah. Begitu juga sebaliknya, ketika Ifa memaksa Affan untuk berbagi mainan dan Affan sedang tak mau melakukannya, kami pun menegur Ifa untuk menghormati pilihan adiknya.

Baik Ifa dan Affan harus paham bahwa posisi mereka setara. Tidak ada yang lebih disayang. Semua mendapat porsi sayang yang sama. Tentu saja ketika mereka mendapat konsekuensi atas perilaku buruk, si adik mendapat konsekuensi lebih ringan dari si kakak. Misal, kakak mendapat time out untuk tidak diajak main bareng selama 8 menit, maka time out adik hanya 3 menit. Untuk mudahnya kami gunakan usia mereka sebagai hitungan time out.

2. Tidak ada Kompetisi Untukmu, Nak

Awal-awal jadi mamah muda, aku pun sama semangatnya dengan ibu-ibu lainnya. Saat ada lomba mewarnai, aku semangati si kakak untuk mau ikut lomba tersebut. Bedanya saat ibu-ibu lain mengatur warna apa saja yang harus ditorehkan di atas kertas gambar, aku hanya senyum-senyum dan menyemangati si kakak agar terus semangat mewarnai. Tak masalah keluar garis atau warnanya aneh. Buatku, berani ikut lomba saja sudah hebat.

belajar menerima kegagalan dengan terus berkolaborasi dan berempati
Namun ketika aku sadar bahwasanya anak-anak di bawah 7 tahun seharusnya tidak diikutkan lomba yang bersifat kompetisi, aku tak lagi tertarik mengajak Ifa ikut lomba ini dan itu. Bahkan untuk sekedar ikut lomba 17an di RT pun, aku tak memaksanya ikut. Silakan kalau mau ikut, tapi ketika berani ikut lomba artinya harus siap dengan segala hasilnya, entah itu menang atau kalah.

Termasuk kalau memilih tidak ikut, juga harus siap dengan konsekuensinya. Saat teman-temannya dipanggil untuk mendapat hadiah, maka Ifa harus tahu bahwa tidak akan pernah ada hadiah untuknya. Alhamdulillah Ifa cukup matang untuk anak seusianya dalam urusan perlombaan. Dia woles saja melihat anak-anak lain dapat hadiah. “Nggak. La kan aku memang nggak ikut lomba,” katanya saat kutanya sedihkah karena nggak dapat hadiah.
Alih-alih mengikuti lomba yang bersifat kompetisi, biasanya aku lebih mendukungnya ikut lomba atau kegiatan yang mengajarkan berkolaborasi. Yaitu lomba atau kegiatan beregu, sehingga anak-anak belajar caranya bekerjasama dan berempati.

3. Kekalahan Untuk Diterima, Bukan Dimanipulasi

Saat anak-anak mengikuti lomba apapun, terlarang buatku untuk membuat anak-anak seolah-olah menang, padahal kenyataannya tidak. Miris sih ketika melihat beberapa ibu bersiap membeli piala sendiri untuk anak-anaknya. Katanya, “biar kalau kalah nggak nangis.

belajar menerima kegagalan dari kalah dan menang
Buat aku dan ayahnya anak-anak, ketika mereka siap ikut kompetisi, maka mereka harus siap dengan dua kemungkinan; menang dan kalah. Mereka juga harus tahu bahwa tidak selamanya akan selalu menang dan bawa piala. Bahkan bisa jadi mereka akan lebih sering kalah.

Sebelum lomba biasanya aku akan sounding ke anak, bahwa berani ikut lomba saja sudah sebuah kemenangan. Karena artinya si anak mampu mengalahkan rasa takutnya. Saatnya fokus untuk mengusahakan yang terbaik. Jikalau hasil akhir nanti dinyatakan kalah, tak masalah. Yang terpenting, si anak sudah berusaha.
Apapun hasil yang didapat, usaha sang anaklah yang harus diapresiasi.
Alhamdulillah sejauh ini tak pernah ada tangisan dari Ifa ketika ia kalah dan tak membawa pulang piala atau hadiah.

4. Coba Terus Sampai Bisa

Anak-anak terkadang mudah merengek ketika usahanya tak membuahkan hasil. Misalnya, Affan masih sering menangis ketika gagal menggunting kertas, dan gagal menyusun balok atau lego. Ifa juga sesekali masih suka menggerutu ketika membereskan seprei, namun sepreinya tak kunjung rapi. Ditarik ke kanan, yang kiri lepas, dan sebaliknya.

Saat anak-anak merengek, merajuk dan menggerutu seperti itu, yang kulakukan pertama kali yaitu menjaga kewarasanku. Jangan terpancing dengan rengekan mereka. Aku sadar diri termasuk ibu yang tak stok sabarnya masih kurang, sehingga seringnya mudah ngegas ke anak-anak. Makanya penting buatku untuk tetap selow.

belajar menerima kegagalan bukanlah akhir dan harus berani bangkit
Ketika aku berhasil selow, menghadapi rengekan mereka jauh lebih mudah. Aku hanya cukup senyum dan menyemangati mereka untuk mencoba kembali. Biasanya akan kuingatkan, “hayo tadi sudah bismillah belum?” Kalau mereka jawab sudah, biasanya aku akan menambahkan, “coba ngerjainnya sambil senyum, nggak sambil manyun.”

Kalau masih belum berhasil, barulah aku akan bertanya, “boleh bunda bantu, tapi sedikit saja ya bantunya?” Seringkali aku tak melakukan apa-apa, hanya mengulang mengucapkan bismillah dan tersenyum, lalu kutemani mereka mengulangi usahanya. Ketika pada akhirnya berhasil, kusampaikan pada anak-anak, “Nah bisa kan? Berarti tadi masih kurang semangat bismillah-nya. Masih kurang senyumannya. Kalau sabar, bisa kan?”

Ada kalanya kita belum berusaha maksimal. Saat seperti itu aku ingin anak-anak mencari tahu di mana letak kurang optimalnya usaha mereka. Lalu menemukan cara untuk memperbaikinya hingga mereka bisa mendapatkan hasil yang diinginkan.

Kalaupun pada akhirnya hasil tersebut tak juga bisa didapatkan, aku hanya perlu menepuk pundak mereka sambil bilang, “It’s okay. Nggak selamanya kita selalu berhasil. Artinya kakak harus belajar lebih baik lagi, biar besok menata sepreinya bisa lebih rapi/ Artinya adik harus belajar lebih semangat lagi, biar besok bisa buat lego dengan bermacam bentuk yang diinginkan.

Ada kalanya mereka akan menangis karena gagal. Aku tak langsung meminta mereka berhenti. “Sedih ya? Kecewa? Nggak apa-apa, nak. Boleh kok merasa kecewa dan sedih. Tapi sedihnya jangan lama-lama ya? 5 menit aja, okay? Setelah itu semangat lagi. Mau dipeluk?
Karena sesungguhnya rasa kecewa dan sedih hadir bukan untuk melemahkan, namun untuk memberikan jeda pada manusia agar kembali bangkit menyusun semangat yang lebih baru.
4 hal di atas adalah sebagian yang sudah aku dan ayahnya anak-anak lakukan untuk membuat mereka belajar dari kegagalan, kesulitan dan kekalahan. Mereka tak selalu langsung paham, namun bukankah memang tak ada proses pengasuhan yang instan? Tentunya akan masih ada banyak tantangan. Masih banyak pula cara yang harus aku dan ayahnya pelajari untuk menyiapkan anak-anak agar tangguh saat menerima kegagalan, kekalahan dan kesulitan.

Aku tak bilang juga cara-caraku di atas adalah yang terbaik. Tentu saja setiap keluarga punya gaya dan caranya masing-masing. Yuk, sharing dong bagaimana cara teman-teman di rumah dalam mengajarkan anak-anak tentang menerima kegagalan, kekalahan dan kesulitan?
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. kak mau beetanya dong, beda nya ikhlas dan rela apa?

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email