MaritaPalace

Pembelajaran Jarak Jauh dan 7 Kemampuan yang Sebaiknya Dimiliki Orangtua dan Guru

pembelajaran jarak jauh
Semester pertama di tahun ajaran 2020/ 2021 telah berjalan kurang lebih satu minggu. Kalau dari pengamatanku sih, pengalaman 3 bulan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebelum libur semesteran nampaknya telah membuat beberapa sekolah lebih siap menghadapinya. Meski tentu saja ada beberapa sekolah yang masih kewalahan juga menghadapi kasus spesial ini.

Bagaimana dengan orangtua? Sama halnya dengan pihak sekolah. Ada yang sudah mempersiapkan PJJ dengan baik, ada pula yang masih terkaget-kaget. Kalau aku sendiri bagaimana? So far, aku masih woles. Nggak terlalu kaget, nggak terlalu santuy juga sih. Seperti yang sudah kuceritakan di Suka Duka Belajar di Rumah Selama Pandemi Covid-19, sekolah Ifa tidak di bawah Dinas Pendidikan, jadi kebijakan yang diambil pun tak sama.

Tidak ada Uneg-uneg Berpartner dengan KAF

Salah satu alasan kenapa aku masih selow sampai hari ini karena aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah Ifa belum benar-benar mulai, hehe. Sebagai gantinya, sampai akhir Juli nanti, para wali santri Kuttab Al Fatih (KAF) diwajibkan untuk mengikuti kajian secara online. Jadi yang lagi PJJ bukan anak-anaknya, tapi kedua orangtuanya, hehe.

Seru sih, karena kami nggak cuma diminta membuat resume kajian, tapi juga diberikan quiz untuk mengecek seberapa paham kami atas materi yang diberikan. Materinya sendiri lebih ke tazkiyatunnafs dan tauhid. Semacam pembekalan agar tetap strong menghadapi pandemi yang entah kapan berakhirnya. Selain itu juga sebagai bekal agar saat anak-anak kembali bersekolah, entah itu masih dengan konsep PJJ ataupun sudah hadir ke sekolah dengan sistem terjadwal, para wali santri sudah siap dengan segala konsekuensi dan hiruk pikuknya.

no uneg-uneg selama PJJ
Jujur, aku bersyukur memilih KAF sebagai partner karena bisa membuatku tetap waras selama pandemi ini. Saat PJJ pun, orangtua tetap diberi panduan bagaimana mendampingi anak-anaknya di rumah, setiap pagi disirami dengan kajian yang menyejukkan hati pula. Kalaupun masih ada 1 atau 2 wali santri yang tergopoh-gopoh dalam PJJ, biasanya karena awam tentang dunia digital dan memiliki lebih dari satu anak yang tentunya membuat jadwal belajar lebih ribet.

Lebih dari itu, tidak ada kendala yang terlalu berarti. Tidak ada yang mengeluhkan soal Iuran Bulanan Sekolah (IBS) harus tetap bayar atau tidak, karena kami sadar itu kewajiban kami sebagai orangtua menjadikan KAF sebagai partner. Bukan berarti karena PJJ lantas IBS harus dikorting. Mau pembelajaran dilakukan di sekolah atau secara jarak jauh di rumah, para ustaz/ ustazah juga berhak mendapatkan haknya. Mereka toh masih standby di jam belajar untuk membantu para wali santri, siap sedia menerima setoran hafalan, dan pastinya juga tetap memberikan penilaian sedemikian rupa meski tanpa tatap muka dengan anak-anaknya.

Jangan dikira selama pandemi yang merasa kesulitan hanya orangtua saja. Para guru dan pihak sekolah pun pastinya juga memiliki tantangan yang tak jauh berbeda. Jadi daripada mengeluhkan soal IBS alias SPP harus bayar atau tidak, mending kita fokus berkolaborasi dengan pihak sekolah agar PJJ bisa berjalan dengan sebaik-baiknya. Toh, mau PJJ atau nggak, kewajiban utama pendidikan anak tetap di tangan kedua orangtua, bukan di tangan sekolah. School is only partner!

Pentingnya Orangtua dan Guru Kreatif untuk PJJ

Ngobrolin soal PJJ, orangtua dan guru memegang peran yang sama-sama penting. Dari sisi guru, menyampaikan materi menjadi PR yang menantang. Materi yang disampaikan kepada anak-anak dengan tatap muka secara langsung saja terkadang masih banyak bolongnya, masih banyak anak-anak yang kurang paham. Apalagi ketika materi harus disampaikan lewat dunia maya, tentunya butuh usaha yang berkali lipat.

Masih mending kalau anak didiknya sudah berada di jenjang menengah atau lanjutan, kemampuan belajar mandirinya insya Allah sudah terbentuk. Meskipun nggak sedikit juga sih yang masih harus diingatkan dan didampingi. Tergantung bagaimana pola asuh di rumah terutama tentang pemahaman anak mengenai kewajiban dan manfaat belajar.

PJJ semakin baik
Nah, kalau anak-anaknya masih duduk di bangku TK dan SD, PR banget kan? Pertama, anak-anak zaman now cenderung lebih suka tayangan visual, karena Youtube dan TV telah menjadi teman baik sehari-hari. Ketika materi sekolah harus dilahap dengan cara membaca, sanggup berapa lama anak-anak duduk manis membacanya? Kedua, kalaupun ada sesi tatap muka via aplikasi Zoom dan sejenisnya, ada jaminan anak nggak bosan mendengarkan gurunya berbicara? Seberapa lama anak-anak bisa fokus pada layar?

That’s why guru berperan sangat penting di sini. Dari hasil menelusuri linimasa, aku lihat sekarang beberapa sekolah mulai membuat YouTube Channel. Di channel tersebut diunggah video-video pembelajaran dari para gurunya. Videonya dibuat semenarik mungkin agar anak-anak betah. Untuk membuat video yang menarik ini tentu saja butuh guru yang kreatif.

Di sisi lain, orangtua pun juga nggak bisa terima matangnya saja dari para guru. Orangtua harus aktif terlibat dalam mendampingi anak-anak belajar. Orangtua juga harus siap menambal jika di masa PJJ masih ada beberapa ‘bolong’ yang terjadi. PR yang kurasakan sebagai orangtua adalah bagaimana tetap disiplin meski belajar dari rumah. Bagaimana mengkondisikan anak bahwa mereka di rumah bukan sedang libur panjang, tapi karena kondisi yang memaksa untuk PJJ.

7 kemampuan ortu dan guru selama PJJ
Menurutku ada 7 hal yang diperlukan orangtua dan guru untuk bisa mendapat gelar orangtua dan guru kreatif. Berikut ini 7 hal tersebut:

1. Update dengan Dunia Digital

update dunia digital
Mau nggak mau saat kondisi seperti sekarang ini guru dan orangtua harus update dan tanggap dengan dunia digital. Belajar tentang aplikasi dan situs apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk membantu proses PJJ berjalan lebih baik. Kalau sebelumnya nggak paham apa itu Zoom, Google Meet, Google Classroom, Google Drive, ya sekarang harus mau belajar.

Bahkan kalau perlu sebelum PJJ ini dimulai seminggu yang lalu, pihak sekolah sudah memberikan pelatihan kepada para gurunya untuk mengenal aplikasi-aplikasi tersebut. Jadi bukan saat PJJ dimulai baru kenalan, terus gendadapan, eaaa.

Begitu juga dengan orangtua, kalau bisa jangan menunggu pihak sekolah mengabari dulu apa aplikasi yang akan digunakan. Kita bisa menginformasikan bahwa ada beberapa aplikasi yang bisa menunjang PJJ, siapa tahu sekolah belum mengerti dan bisa sharing mengenai beberapa teknis agar PJJ bisa lebih nyaman dan aman.

memahami aplikasi pendukung PJJ
Pada posisi ini aku sangat bersyukur karena bergabung dengan Institut Ibu Profesional (IIP). Jauh sebelum pandemi terjadi, aplikasi-aplikasi yang kini banyak bikin bingung para guru dan orangtua sudah kami pelajari, bahkan digunakan untuk perkuliahan. Malah sekarang Google Classroom sudah kami tinggalkan sejak New Chapter dimulai. Kami beralih menggunakan Facebook Group. Tahukah teman-teman kalau FB Group memiliki beberapa opsi, salah satunya bisa digunakan sebagai ruang kelas?

Di awal-awal pandemi terjadi, IIP pun pernah mengadakan kelas berbagi untuk para guru. Temanya tentang memaksimalkan penggunaan Zoom, Google Classroom dan Google Drive. Alhamdulillah ratusan guru dari seluruh Indonesia berminat mengikuti kelas-kelas tersebut, bahkan sampai dibuat beberapa sesi. Senang sih melihat para guru yang masih antusias belajar seperti ini.

Kalau aku lagi pengen belajar live pakai streamyard, be.live atau beberapa aplikasi sejenis yang bisa dikoneksikan langsung ke Facebook dan Youtube. Ada yang pernah nyoba, bisikin dong caranya?

2. Komunikatif

komunikatif
Guru yang kreatif menurutku harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Apalagi bercakap di dunia maya pastinya beda ketika bertatap muka secara langsung. Meski wajah para guru bisa dilihat di layar, membangun bonding tanpa bertemu fisik tentunya sebuah tantangan besar. Apalagi di tahun ajaran baru ini, para guru harus bertemu dengan murid-murid baru yang mungkin belum pernah diampunya sama sekali.

Mengenali karakter anak, memahami kesukaan anak, mengambil perhatian anak lewat dunia maya, jelas bukan hal yang mudah. Itu baru urusan sama anaknya saja. Sementara di masa PJJ seperti ini, guru juga harus berkomunikasi dengan para orangtua jauh lebih intens dibanding sebelumnya. Beberapa sekolah ada yang mengadakan pembekalan untuk orangtua sebelum PJJ dimulai, hal ini sebuah langkah yang sangat baik. Namun setelahnya para guru kelas yang akan banyak mengambil peran.

Diperlukan teknik komunikasi yang mumpuni untuk bisa menyampaikan hal-hal terkait teknis PJJ. Bisa kubayangkan para guru nggak cuma fokus menyiapkan bahan ajar secara daring, namun juga harus siap menjawab kebingungan orangtua yang mungkin susah sinyal, belum paham dengan aplikasi yang digunakan dan lain sebagainya.

komunikasi efektif untuk belajar yang lebih asyik
Tak hanya guru, orangtua pun diuji teknik komunikasinya saat membersamai anak-anak belajar di rumah. Dikira gampang ngajarin anak? Selama ini kita mungkin terlalu bergantung dengan para guru, di masa PJJ seperti ini mau nggak mau kita harus jadi shadow teacher buat anak-anak. Ini cuma satu dua atau tiga anak, bayangkan para guru menghadapi setidaknya belasan atau 20an anak lo.

Berkomunikasi dengan anak pun butuh teknik agar efektif dan pesan yang ingin kita sampaikan bisa dipahami oleh anak. Selain itu komunikasi yang nggak oke bisa bikin hubungan orangtua - anak jadi nggak asyik. Bukannya nyaman belajar di rumah, anak-anak malah semakin stress menghadapi orangtuanya.

3. Mampu Bermain Peran

bermain peran
Seperti yang kuceritakan di atas bahwa banyak sekolah yang mulai membuat Youtube Channel dan para guru membuat video PJJ yang menarik. Di sini kemampuan guru untuk bermain peran harus dimaksimalkan. Setahuku di fakultas keguruan, para calon guru dibekali kemampuan ini, bener nggak sih? Boleh dong yang para guru share di kolom komentar, hehe.

Nah, kalau memang saat kuliah sudah dibekali skill ini, saatnya menunjukkan ke pada seluruh dunia. Ada dua orang guru yang membuatku kagum masalah bermain peran. Yang pertama mbak Diyanika, teman blogger yang memang jempolan banget ngajarnya. Dan yang kedua adalah Bu Roy, tetangga sebelah rumah. Aku pernah mengintip video kedua orang guru ini, dan tsakeeep. Kebetulan dua-duanya sama-sama mengampu kelas 1 SD, eh benar nggak ya? Pokoknya kelas usia kecil deh.

bermain peran untuk belajar asyik
Senang banget lihat ekspresi dan intonasi kedua guru tersebut. Kayanya selesai pandemi diajak main teater bisa nih, hehe.

Nggak mudah lo berakting di depan kamera. Membayangkan seakan-akan sedang berhadapan dengan anak-anak secara langsung. Mendadak ingatanku bergulir pada masa-masa latihan teater di depan cermin.

Btw, urusan bermain peran ini juga bisa ditake over oleh orangtua lo. Begitu video dari guru selesai dilihat, maka mau nggak mau kita harus memotivasi anak untuk mengulang kembali materi yang diberikan. Tentu akan lebih masuk jika kita juga berani bermain peran bersama anak-anak. Pasti mereka juga jauh lebih happy saat belajar.

Tapi yakin deh, usaha yang berkali lipat pastinya akan mendapat hasil yang maksimal juga. Anak-anak tentunya senang melihat guru dan orangtuanya yang ekspresif seperti itu. Kalau anak-anak senang, materi pembelajaran pun akan jauh lebih cepat dipahami kan?

4. Piawai untuk Read Aloud

read aloud
Jikalau bermain peran terasa berat, membacakan buku juga bisa jadi cara yang ampuh untuk menyampaikan materi kepada anak-anak. Tentunya teknik membacanya nggak bisa sekedarnya saja dong. Para guru dan orangtua harus belajar teknik read aloud. Membaca dengan intonasi yang menarik, bahkan kalau perlu suaranya dibedakan untuk setiap tokohnya. Permainan ekspresi wajah juga akan membuat cerita jauh lebih sampai ke anak-anak.

Sebelum mencapai read aloud, PR nya adalah memilih jenis buku yang sesuai dengan materi ajar dan usia anak. Kalau butuh buku-buku kece, boleh lo merapat ke aku. Lah, kok malah ngiklan, wkwk.

5. Berinovasi dengan Peralatan yang Ada

inovasi
Susah mau kreatif, nggak ada bahan. Mau bikin ini itu perlu biaya dan sebagainya. Pernah nggak sih kita membatasi diri seperti ini? Padahal yang namanya kreativitas itu tanpa batas kan seharusnya? Kalau apa-apa tersedia biasanya justru mematikan kreativitas kita.

Makanya aku salut pada para guru dan orangtua yang bisa berinovasi dengan peralatan seadanya namun bisa menghasilkan bahan ajar yang luar biasa. Ada yang bebikinan dari kardus lalu menghasilkan wayang-wayangan, rumah-rumahan, maket, dan masih banyak lagi. Aku cuma termangu dan terpaku.

Jujur dalam hati kusadari, bukannya nggak bisa bikin kaya gitu. Secara zaman masih ngajar dulu juga suka memaksa diri bikin ini itu biar murid-murid happy. Permasalahannya sekarang adalah aku terlalu malas. Sungguh kemalasan inilah musuh paling utama. Malas belajar, malas bergerak, malas bikin ini itu, malas menemani anak belajar dan bermain. Apa kata dunia?

6. Percaya Diri dengan Potensi yang Dimilikinya

Selain mengatasi rasa malas yang muncul dalam diri, para guru dan orangtua harus memiliki percaya diri yang tinggi. Bikin video PJJ kalau belum mengelola rasa percaya dirinya pasti susah kan? Wajar buat yang memang sudah bawaan orok punya pede yang berlipat-lipat. Namun buat yang nggak biasa tampil di hadapan publik lalu tiba-tiba disuruh bikin video, pastinya kagok juga kan?

Begitu juga dengan orangtua, meski nggak bikin video PJJ, orangtua pun perlu memaksimalkan rasa pedenya bahwa mereka mampu kok jadi shadow teacher buat anak-anak. Ikut belajar materi yang diberikan sekaligus belajar menyampaikan ulang materi tersebut dengan menggunakan bahasa yang dimengerti anak tentunya jadi PR tersendiri untuk orangtua. Harus cari cara dan beragam teknik agar anak paham dan nggak sekedar mengerjakan soal-soal. Terasa susah di awal, namun kalau sudah terlatih, lama-lama siapa tahu malah jadi siap ber-homeschooling, hehe.

7. Daya Juang Tinggi

daya juang tinggi
Hanya yang punya daya juang tinggi akan bertahan di masa serba sulit begini, termasuk juga di dunia pendidikan. Guru dan orangtua yang berani mendobrak batasan lah yang akan bertahan dan keluar menjadi pemenang. Guru dan orangtua yang nggak mau kalah dengan keadaan, nggak mau kalah dengan susah sinyal, dan HP cuma satu yang akan melahirkan generasi-generasi muda tangguh pada zamannya.

Ada guru yang mengenal dengan baik lingkungannya, tak mungkin menjalani daring terus-terusan, dia pun mengunjungi satu per satu muridnya. Bergantian tiap hari. Ada orangtua yang sadar diri bahwa tak baik anak-anak berlama-lama di depan gadget seharian, mereka sibuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan bersama anak. Untuk berproses sampai di titik ini, jelas butuh daya juang yang tinggi.

Yakinlah, Allah nggak menurunkan pandemi ini tanpa hikmah di baliknya. Maka, tetap semangat wahai para orangtua dan guru. Mari bergandengtangan dan berkolaborasi, karena ini bukan saatnya saling menuding dan menuntut.
Akhir kata, selamat menjadi orangtua dan guru terbaik versi kita masing-masing!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

  1. Intinya sebagai orangtua harus punya banyak kemampuan ya dalam mendampingi pembelajaran anak

    ReplyDelete
  2. Kalau khusus mata kuliah peran sih nggak ada, Mbak. Dulu malah dapat ilmu peran gitu pas ikutan lomba pas masa tenggang semesteran gitu. Dan ternyata hoooo kepakai banget.

    Semua yang Mbak Ririt tulis, betuuulll banget. Selama PJJ ini kerjaku seperti 24 jam. Kudu siap sedia kalau ada pertanyaan dari walimurid.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email