MaritaPalace

NKCTHI: Tak Ada Keluarga yang Sempurna di Dunia

review NKCTHI - nanti kita cerita tentang hari ini
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini - Film dengan judul yang sangat panjang ini sudah mencuri hatiku sejak awal kemunculannya. Sayangnya menonton bioskop adalah sebuah hal mewah untukku. Bukan hanya soal ngepasin kantong, namun juga soal ngepasin waktu. Ada kalanya pengen nonton film bergenre keluarga seperti ini bareng sama suami, biar asyik aja mendiskusikan insight yang didapat.

Masalahnya pak suami lebih sering nggak tegaan ninggalin anak-anak untung hangout barang sebentar, dan movie time itu nggak terlalu gue banget buat doi, jadilah seringnya aku nonton sendirian. Pada akhirnya karena nggak nemu waktu yang pas, lalu malah ketemu sama kantong pas-pasan juga, gagal nonton deh. Barulah beberapa waktu lalu saat YouTube Walking aku menemukan salah satu channel mengunggah film ini.

Sedih sih nonton film Indonesia dengan cara ilegal seperti ini, tapi sekaligus kepo juga dengan jalan ceritanya. Kupikir juga paling prank. Kan banyak tuh di YouTube, judulnya film A, nggak tahunya yang diunggah film B, wkwk. Eh, ternyata kali ini aku sedang beruntung. Link yang kubuka itu benar-benar sesuai dengan judulnya. Dan satu kata dariku mewakili film ini adalah;
tidak ada keluarga sempurna di dunia.

Di Balik Layar NKCTHI

buku nkcthi karangan marcella fp
Salah satu alasan mengapa aku tertarik pada film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini selain genre family drama-nya, adalah karena kualitas orang-orang yang berada di proyek film ini tak diragukan lagi. Terlebih film ini diambil dari sebuah novel karya Marcella FP, yang meski aku belum baca bukunya, aku sudah pernah kepincut dengan desain cover dan layout-nya yang menarik. Ada yang sudah baca bukunya kah?

Disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang nggak usah diragukan lagi kualitas filmnya. Sebut saja Filosofi Kopi 1 dan 2, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha dan 212 Warriors. Memulai karir di dunia layar lebar sejak usia 19 tahun, pada 2008 Angga mendirikan Visinema Pictures, yang juga menjadi produser untuk film NKCTHI.

angga dwimas sasongko sutradara NKCTHI
Sutradara handal tanpa aktor dengan kualitas akting kece apalah artinya. Dan lewat tangan dingin Angga, berikut ini nama-nama aktor yang menghiasi NKCTHI dengan kualitas akting yang mumpuni:

  • Donny Damara sebagai sang ayah bernama Narendra
  • Oka Antara berperan sebagai ayah saat masih muda
  • Susan Bachtiar sebagai ibu bernama Ajeng
  • Niken Anjani sebagai ibu saat muda
  • Rio Dewanto memerankan Angkasa, anak sulung di dalam keluarga
  • Sheila Dara Aisha sebagai Aurora, anak kedua di keluarga
  • Rachel Amanda berperan sebagai Awan, anak bungsu dalam keluarga
  • Ardhito Pramono sebagai Kale
nkcthi the actors pemeran utama

Selain nama-nama pemeran utama di atas, kepiawaian akting pemeran pendukung di film ini pun jempolan banget. Sebut saja ada Sinyo Riza yang berperan sebagai Angkasa saat berusia 12 tahun, Muhammad Adhiyat sebagai sosok Angkasa di usianya yang ke 6, Alleyra Fakhira yang memerankan Awan saat umur 6, Nayla D. Purnama sebagai Aurora yang masih 9 tahun, dan Syaqila Afiffah Putri sebagai Aurora di usia ke 3. Lalu ada Isyana Sarasvati yang sekaligus juga menyanyikan soundtrack film ini.

Deretan nama di atas telah mencuri hatiku. Makanya saat menemukan film yang mulai tayang pada 2 Januari 2020 dan berdurasi 121 menit di YouTube, aku seperti mendapat hadiah. Meski hadiahnya terasa sebuah dosa yang manis, karena nonton tidak melalui platform berbayar. Buat yang langganan Netflix, dari info yang kudapat, film ini bisa ditonton di sana lo.

Pasti penasaran kan kenapa film ini begitu menarik hatiku?

Beberapa Insight yang Kudapat dari NKCTHI

Judul film ini bikin aku penasaran. "Hari Ini" yang dimaksud di film NKCTHI sebenarnya apa sih. Plot yang kece berhasil membuatku menebak-nebak jawaban. Kupikir sebagaimana khasnya sebagian besar film Indonesia yang predictable, tapi nyatanya semua jawabanku meleset. Membuat mulutku menganga, diakhiri dengan ending yang sangat memuaskan. Karena ya… begitulah adanya, nggak ada keluarga yang sempurna. Dan nggak akan bisa ada.

the insights of NKCTHI pesan dan hikmah di dalamnya
Keluarga itu kan kumpulan manusia-manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi wajar juga jika sebuah keluarga pun pasti berisi kekurangan dan kelebihan. Ada rahasia dan luka yang terlampau sering mudah diingat. Padahal seiring kedua hal itu, ada pula tawa dan bahagia yang menyertai, namun lebih mudah dilupakan dan jarang membekas.

Berikut ini beberapa insight yang kudapat dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, buat yang belum nonton, mungkin bakal ada banyak spoiler. Jadi kalau nggak suka spoiler kaya aku, bisa baca artikel ini setelah selesai nonton filmnya, hehe.

1. Trauma dan Masalah Harus Dihadapi

atasi masalah dan bukan menghindarinya
Dibuka dengan musik yang sangat menyayat, cerita dimulai sewaktu ibu melahirkan Awan. Lalu melaju ke scene di mana Awan sudah dewasa, menjadi karyawan magang di sebuah kantor arsitek.

Keluarganya hendak pergi ke sebuah restoran merayakan anniversary kedua orangtuanya. Awan tidak ikut karena harus mengerjakan maket.

Namun perjalanan tidak diteruskan karena di tengah jalan mobil yang ditumpangi menabrak kucing. Lalu alur flashback menuju sebuah adegan saat ketiga saudara itu masih duduk di bangku SD. Awan kecelakaan ditabrak motor.

Awalnya mungkin kita akan sedikit menerka-nerka ada apa sih dengan keluarga ini, ada apa dengan ayahnya. Pada akhirnya nanti akan terbuka bahwa semua tokoh di NKCTHI memiliki insecurity masing-masing, traumanya masing-masing. Dan sebagaimana manusia pada umumnya, mereka tak langsung menerima dan menghadapi semua trauma tersebut, mereka memilih menyangkalnya hingga bertahun-tahun. Lalu akhirnya menahun dan menjadi bom waktu yang menghabisi diri sendiri.

Menjelang scene terakhir, ibu yang memiliki trauma menyetir mobil, akhirnya kembali berani menyetir. Btw, di bagian ini ada kejanggalan khas film Indonesia. Si ibu kan lama nggak nyetir tapi kenapa bisa menyetir selincah itu ya?

Poin tentang berani menghadapi trauma dan masalah ini juga tergambar pada sebuah adegan saat Aurora menceritakan tujuannya melamar beasiswa S2 ke London. Buatnya beasiswa itu adalah tiket ke luar rumah, namun ternyata Tuhan tak menghendaki Aurora menghindar. Karena masalah tak selesai dengan terus menghindarinya, masalah hanya akan selesai ketika dihadapi.
Kamu bisa lari ke mana pun, sekencang-kencangnya. Tapi masalahmu tak akan pergi. Dia ada di sana. di belakangmu. Sampai kamu berani berbalik arah dan menghadapinya.

2. Kerjasama di Dalam Keluarga

kerjasama dalam keluarga bisa merekatkan bonding
Saat makan malam di luar memperingati anniversary bapak dan ibu gagal karena mobilnya menabrak kucing, sesampainya di rumah ayah yang melihat Awan sedang sibuk bersikeras membantu Awan untuk mempersiapkan maket proyek kantornya. Awan sebenarnya tak mau dibantu karena merasa bisa mengerjakan sendiri. Lalu sang ayah berkata;
Buat apa punya keluarga, kalau apa-apa dikerjain sendiri.
Terlihat mengesankan ya? Tentu saja kerjasama itu hal yang bagus di dalam keluarga. Namun di film ini nantinya kita bisa melihat beberapa sisi lain tentang hal ini.

3. Overprotective Parent is A Big No

overprotective parents
Ayahnya sangat overprotektif kepada Awan. Bukan tidak ada alasan mengapa ayahnya bersikap demikian. Ada sebuah cerita di masa lalu yang membuat ayahnya sangat overprotektif kepada Awan. Namun tanpa sadar overprotektif sang ayah justru membentuk Awan tumbuh menjadi anak yang mandiri. Dia tidak mau bergantung pada kakak-kakaknya. Karena nggak mau membuat kakak-kakaknya dimarahin ayahnya.

Misal, Angkasa, si kakak sulung selalu diminta mengantar jemput Awan, namun Awan tidak mau. Meski pada akhirnya ketika ayahnya tahu bahwa selama ini Awan pulang kerja sendirian, kakak sulungnya juga yang diomeli ayahnya.

Awan, anak bontot di dalam keluarga yang memiliki impian untuk bekerja di sebuah kantor arsitek terkenal terpaksa harus merelakan impiannya. Masa kontrak tidak diperpanjang karena Awan dinilai tidak bisa work as a team. Awan memang pintar dan berpotensi, namun sekaligus keras kepala dan suka kerja sendiri. Overprotektifnya sang ayah tanpa disadari membentuk karakter Awan tersebut.

Ada sebuah kalimat Awan yang terasa nyess di hati,
Aku nggak pernah merasa milih. Setiap mau sesuatu, selalu disediakan. Dibantuin. Hampir semua keputusan dalam hidup selalu dirundingin bareng-bareng, aku nggak pernah tahu rasanya mimpi.
Pada akhirnya Awan direkrut kembali di kantornya untuk mengerjakan sebuah proyek. Usut punya usut ternyata ayahnya menggunakan koneksinya untuk membantu Awan agar bisa kembali ke kantor impiannya.

Beberapa orangtua ada ya yang suka begini. Saking pengennya anaknya mendapat kesempatan lebih baik seringkali terlalu protektif, menyediakan semua fasilitas, tapi lupa mengajarkan anak tentang arti perjuangan. Bahkan kadang lupa menanyakan apa kemauan anak itu sendiri.
Terkadang anak ingin menunjukkan kemampuannya sendiri, bukan sekedar mengandalkan privilege yang dimilikinya.
Cara sang ayah memperhatikan Awan membuat kakak-kakaknya merasa terkucilkan. Sementara di sisi lain, Awan yang diperhatikan risi kalau ayahnya terlalu overprotective.

4. Berikan dan Tunjukkan Apresiasi pada Anak

apresiasi pada anak meningkatkan self worth
Di sebuah scene, flashback saat Aurora dan Awan berlatih berenang untuk siap-siap pertandingan. Aurora mendapat catatan lebih baik. Oleh ayahnya Aurora diminta membantu Awan agar Awan juga bisa mempunyai catatan yang baik sepertinya.

Aurora merasa sedih karena ayahnya tidak memberikan apresiasi pada catatan baiknya, malah lebih fokus agar ia juga membantu Awan. Ibunya yang bisa menangkap kesedihan Aurora lalu berbisik pada anak keduanya tersebut, "Hebat anak ibu."

Aurora yang selalu merasa ayahnya hanya perhatian pada Awan tumbuh menjadi sosok yang perfeksionis. Tanpa sadar ia tumbuh dengan merindukan perhatian ayahnya secara nyata. Ia juga ingin diapresiasi atas usahanya.

Aurora berprofesi sebagai seniman kontemporer. Dalam proses menuju pameran tunggal pertamanya, Aurora terus merasa karya utamanya selalu kurang.

Ketika akhirnya pameran Aurora terlaksana, Awan yang saat itu sedang bersitegang dengan sang ayah menghilang dan datang terlambat. Seharusnya atensi terpusat pada Aurora, tapi Awan tetap jadi fokus utama karena ia tak kunjung datang. Aurora merasa sedih apalagi ketika Ayah dan Awan bertengkar di pameran tunggalnya.

Kejadian lalu flashback pada saat pertandingan renang Aurora. Pada saat latihan Aurora beberapa kali mengalami kram, oleh pelatihnya ia diminta untuk tidak meneruskan pertandingan. Namun Aurora tetap mau ikut pertandingan karena mau menunjukkan kemampuannya pada sang ayah. Aurora nggak mau kalah sama Awan.

Pada saat pertandingan, Aurora tenggelam karena kram. Kaki Aurora kemudian terluka dan nggak akan pernah bisa meneruskan impiannya menjadi atlet renang. Sejak saat itu ia merasa berjarak dengan seluruh anggota keluarganya, terutama sang ayah.

Scene kembali ke masa sekarang di saat pameran tunggal Aurora dilaksanakan. Aurora yang jengkel mendengar pertengkaran ayah dan Awan berkata, "Kalian kalau cuma mau berantem di sini, mending pulang aja. Pameran ini penting buat aku."
Pameran Aurora melambangkan kesendirian, kesunyian, kesepian. Keluarga tapi tak terhubung satu sama lain.
Setelah kekacauan yang terjadi di pameran. Mereka diajak melingkar oleh sang ayah Ayah mencari kesalahan-kesalahan anaknya. Perilaku Awan yang sekarang berbeda dianggap sebagai kesalahan Angkasa, karena ia yang mengenalkan Kale pada Awan.

Di situlah bom waktu lalu meledak. Semua mengeluarkan bongkahan rasa yang selama ini menggumpal di dada.

Sebuah kalimat tajam dari Aurora menjadi pengingat bagi setiap orangtua, betapa kurangnya apresiasi terhadap anak bisa menciptakan lubang di hati anak.
Ayah takut kehilangan kami? Kalian sebenarnya sudah lama kehilangan aku.
Menjelang ending film, ada sebuah adegan di mana sang ibu bercakap-cakap dengan Aurora, kalimatnya dalam banget. Jadi ingat istilah ‘ayah sang raja tega, ibu sang pembasuh luka.’
Ibu nggak pernah kehilangan kamu. Kamu juga nggak akan pernah kehilangan ibu. Di antara semua anak ibu, kamu yang paling kuat memperjuangkan semua cita-citamu sendirian.

5. Beban Anak Sulung

beban anak sulung tanggungjawab pada adik
Angkasa merayakan relationship anniversary yang ke empat bersama sang kekasih. Saat Angkasa memberikan hadiah, sang kekasih berharap dilamar. Namun Angkasa merasa belum siap, ia merasa nggak pernah punya privasi. Semua anggota keluarga berharap banyak padanya karena dia anak laki-laki satunya. Bahkan saat Awan sudah beranjak dewasa pun, Angkasa masih selalu diminta antar jemput adiknya.

Suatu hari Awan keserempet saat akan menyebrang dari stasiun menuju mobil Angkasa. Lalu flashback menuju scene Awan kecelakaan saat SD. Saat itu ayahnya memberikan 'beban' kepada Angkasa, "Jangan pernah lepasin adik-adik kamu. Mereka tanggung jawab kamu."

Setiap kali Angkasa berusaha memberontak dan memperjuangkan keinginannya sendiri, kalimat ayahnya selalu teringat, "Mas Angkasa kan sekarang sudah punya dua adik; Aurora dan Awan. Apa tugas seorang kakak? Menjaga adik-adiknya supaya aman, tenang, bahagia. Jadi nanti kalau misalnya ayah dan ibu nggak ada, Angkasa yang harus jagain adik-adik. Kalau adik-adik sedih, yang meluk Angkasa."
Dari scene-scene terkait Angkasa, sebagai orangtua kita bisa belajar bahwa tak adil menyerahkan tanggungjawab kita kepada anak sulung. Tidak ada anak yang memilih dirinya menjadi anak sulung. Setiap anak harus bisa bertanggungjawab atas dirinya masing-masing. 
Anak laki-laki memang memiliki tanggungjawab yang lebih dari anak-anak perempuan, namun sebagai orangtua kita harus menanamkannya dengan cara yang tepat, bukan dengan cara memberikan beban yang pada akhirnya merenggut kebahagiaan dan privacy sang anak.

6. Mengatasi Marah

atasi marah dengan mengelolanya
Ada sebuah adegan flashback di mana saat itu Angkasa muda memukuli temannya, Rio, hingga babak belur. Ayahnya marah saat mengetahui perilaku Angkasa. Dimintanya Angkasa untuk meminta maaf, Angkasa yang merasa punya alasan atas perilaku tersebut tidak mau minta maaf.

Nasehat sang ayah tentang mengendalikan amarah sangat baik untuk diingat,
Marah itu wajar, tapi jangan biarkan marah jadi satu-satunya jalan keluar.

7. Mendengarkan dan Menerima Perasaan Anak

mendengarkan perasaan anak dan menerimanya
Masih tentang adegan Angkasa di masa remaja yang memukul Rio. Selain nasehat ayah yang bijak, dari sudut pandang lain kita diajak untuk melihat bahwa ayahnya selalu mendengarkan orang lain, tapi kurang mendengarkan anak-anaknya. Ayahnya tidak mendengarkan dulu alasan Angkasa di balik memukul Rio. Langsung memarahi Angkasa tanpa menanyai dan menerima perasaan sang anak.

Sang ayah setiap kali anak-anaknya sedih, khas orangtua kebanyakan meminta anak-anaknya untuk tidak bersedih. Padahal perasaan harus diluapkan, tentu dengan cara yang tepat. Anak boleh sedih, anak boleh merasakan kecewa, anak boleh merasakan takut. Sebagaimana nasehat Kale pada Awan,
Dalam hidup kita harus merasakan gagal, patah, tumbuh, bangun lagi. Kita nggak akan punya keberanian, kalau kita belum pernah merasakan takut!
Bersama Kale Awan yang tadinya tak pernah naik motor dan takut naik motor, diajak naik motor oleh Kale. Kata Kale, “Jadikan rasa takutmu sebagai remedy.”

Kale memperlihatkan Awan tentang dunia yang benar-benar berbeda. Tentang memperbolehkan rasa takut, kecewa, hingga pada akhirnya berani berjuang dan memutuskan pilihannya sendiri.

Poin tentang pentingnya mendengar dan menerima perasaan anak juga tergambar pada scene saat ayahnya mengajak seluruh keluarga melingkar setelah kekacauan terjadi saat pameran pertama Aurora.

Pada saat itu emosi Angkasa meledak. Ia mulai berdebat dengan ayahnya. Setelah 21 tahun ia bungkam  disuapi kebohongan dan harus menyembunyikan rasa sakit karena melihat ibunya selalu menangis di balik pintu, saat itu ia tak tahan lagi.

Pada akhirnya sebuah rahasia besar yang disimpan oleh ayahnya terungkap di malam itu. Awan sebenarnya punya saudara kembar yang meninggal saat dilahirkan. Kejadian itu ditutupi oleh ayahnya. agar anak-anaknya tidak merasa trauma, agar anak-anaknya tidak pernah merasa kehilangan, dan selalu merasa bahagia.
Tapi gimana bisa tahu rasanya bahagia, kalau rasanya sakit aja nggak tahu!

8. Ketaatan Istri

ketaatan istri pada suami
Saat kita menonton NKCTHI, mungkin kita terasa gemas melihat sang ibu. Kenapa baru bertindak di akhir cerita, kenapa selama ini ibunya diam?

Sebenarnya tanpa sadar kita diajak untuk belajar mengenai ketaatan seorang istri. Bahwa ketika sang suami bertitah, dan apa yang dititahkannya tidak melanggar syariat, sang istri sebaiknya mendukungnya. Kalaupun sang ibu merasa tidak sependapat dengan ayah, ia tak memperlihatkan perbedaan itu di depan anak-anaknya.

Karena bagaimanapun anak-anak akan bingung ketika ayah dan ibunya berbeda suara. Maka tugas sang ibu adalah menjadi backup saat keputusan-keputusan ayah ternyata melenceng dari alurnya. Ajeng, sang ibu, selama ini terlihat diam karena ingin menunjukkan cara menghargai sang ayah. Ibu percaya ayah bisa mengatasinya. Ketika pada akhirnya ibu tahu ayah tak bisa mengatasi masalah tersebut, ibu pun turun tangan.

Di satu sisi, ibu pun harus menjadi rem bagi suaminya. Ada saatnya ayah harus tahu kapan ia mendengarkan istrinya.
Semua yang kita takutkan itu terjadi. Dan ternyata kamu tak cukup siap menghadapinya.
Ibu yang kemudian memulai percakapan dengan anak-anaknya. Ibu yang minta maaf karena telah memberikan beban terlalu berat kepada Angkasa. Ibu juga yang meminta anak-anaknya untuk memberi kesempatan pada Ayah untuk memperbaiki semuanya.

9. Keras Kepala pada Mimpi dan Kehidupan

keras kepada pada hidup
Kegagalan yang dialami oleh Awan  hingga berujung kontrak tak diperpanjang terasa sangat menyakitkan. Namun di saat itulah ia belajar juga tentang kegagalan. Sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya karena selalu dijaga dengan baik oleh keluarganya.

Dari Kale, teman baru yang merupakan manajer band favoritnya, Awan belajar bahwa akan selalu ada hal pertama dalam hidup, termasuk kegagalan.
Tugas kita saat mengalami kegagalan hanya satu, yaitu bertahan.
Dari film ini, kita juga bisa melihat cara Kale mempertahankan mimpi. Sebenarnya Kale sangat mencintai musik, sejak kuliah ia sudah pernah bikin band. Namun pada satu titik ia sadar bahwa mungkin berada di atas panggung sebagai pemain band bukanlah jalannya.

Dia nggak mau menyerah pada mimpinya di dunia musik. Kalau nggak bisa di atas panggung, di bawah panggung juga nggak apa-apa. Toh sama-sama mendukung apa yang ada di panggung. Maka akhirnya dia pun menjadi manajer band.

Awan yang tak terbiasa menjalani kegagalan, ingin semua masalah yang dihadapinya segera tuntas. Kale lalu mengingatkan untuk bersabar dan menjalaninya satu per satu.
Terkadang kita ingin semua beres dalam satu waktu. Padahal tidak semuanya bisa seperti itu. Butuh proses. Tidak instan.
Ada beberapa kalimat indah terkait poin tentang keras kepala terhadap kehidupan, di antaranya;

  • Untuk melihat horizon yang lebih luas, kamu butuh alat untuk naik lebih tinggi. Arah mata angin memang nggak bisa diatur, tapi arah layar bisa.
  • Terkadang hidup terlalu kejam mengkhianati kita! Bertubi-tubi menghujamkan belatinya. Tanpa jeda. Tapi yakinlah kita akan kembali bangkit.
  • Yang dicari hilang. Yang dikejar lari. Sampai kita lelah dan pasrah, barulah semesta bekerja. Beberapa hadir dalam rupa yang sama. Beberapa hadir dalam bentuk yang lebih baik dari rencana.


10. Pentingnya Komunikasi Efektif di Dalam Keluarga

pentingnya komunikasi efektif
Dari beberapa adegan di film ini, aku banyak menangkap pesan bahwasanya maksud yang baik namun disampaikan dengan cara yang tidak baik, justru akan mengaburkan makna dari tujuan sebenarnya.

Di sebuah adegan saat Ayah dan Ibu muda melewati masa-masa sulit kehilangan salah satu bayinya, kita bisa melihat bahwa hubungan pasutri yang terlihat harmonis di depan anak-anak, ternyata seringnya hanya kamuflase. Acapkali yang terlihat baik-baik saja, ternyata menyembunyikan gunung es di antara keduanya.

Film ini mengajarkan kita tentang pentingnya komunikasi efektif. Tentang pentingnya untuk saling mengatakan keinginan di dalam keluarga. Tentang apa yang kita pikirkan. Tentang pentingnya orangtua mendengarkan anak-anak, membiarkan mereka mengatakan impiannya.
Berkomunikasi dan terhubunglah. Keluarga yang tak pandai berkomunikasi efektif akan melahirkan kekakuan, kesalahpahaman dan bahkan kebohongan-kebohongan, meski terkadang dilakukan dengan maksud baik.
Orang-orang yang kukira nggak akan pernah menyakiti aku ternyata BOHONG. - Awan

11. Kebahagiaan Tanggung Jawab Diri Sendiri

kebahagiaan adalah tanggung jawab diri sendiri
Sebenarnya scene ini menjengkelkan sih. Kale yang terlihat dekat dan memberikan harapan pada Awan, ternyata PHP (Pemberi Harapan Palsu). Namun di balik PHP itu, tersimpan pesan yang sangat apik.

Awan bertanya kepada Kale, "Sebenarnya kita apa sih?"
Lalu Kale menjawab, "Memang kamu maunya kita apa? Kalau kamu butuh teman untuk menghibur, menemani saat kamu sedih, aku bisa. Tapi nggak lebih Wan. Kalau kamu butuh teman untuk bikin kamu bahagia. Bukan aku orangnya. Bukan karena aku nggak suka kamu. Tapi karena aku nggak mau jadi sumber kebahagiaan buat orang lain. Bahagia itu tanggung jawab masing-masing. Mengikatkan diri bukan jalan yang aku pilih.”
Jleb nggak sih kalau mendengar kalimat seperti itu dari gebetan? Namun soal bahagia itu tanggung jawab masing-masing kurasa benar adanya. Kita nggak bisa menggantungkan kebahagiaan pada orangtua, pada pasangan, pada anak-anak. Kebahagiaan kita ya tanggung jawab diri sendiri. Menggantungkan kebahagiaan pada orang lain hanya akan bikin kita mudah kecewa dan menyalahkan orang tersebut saat ekspektasi kita tak sesuai dengan harapan.

12. Tak Ada Orangtua dan Pasutri Sempurna

Bahkan keluarga yang terlihat harmonis, belum tentu baik-baik saja.
tak ada orangtua sempurna terima mereka
Pada saat Angkasa meledak amarahnya pada sang Ayah, ia merasa bahwa orangtua yang gagal bertanggungjawab pada keluarganya adalah mereka yang justru menyerahkan tanggungjawab kepada anak-anaknya. Angkasa merasa sikap pengatur ayahnya, overprotective-nya, adalah bentuk dari kegagalan sang ayah dalam bertanggungjawab menjaga keluarganya.

Dari mata anak-anak, ayahnya memang terlihat sebagai sosok yang dominan dan pengatur. Mungkin tidak keras secara fisik. Tapi sikap dan kata-katanya yang keras juga bisa melukai hati anaknya.

Saat Awan bete dan akhirnya menentang ayahnya karena menggunakan koneksi agar Awan bisa kembali bekerja, sang ayah menjelaskan alasan mengapa ia melakukan hal itu. Sang ayah merasa Awan tidak mengerti bagaimana dirinya telah mempertaruhkan hubungan profesional demi Awan bisa bekerja di tempat idaman Awan. Namun Awan merasa tak terima, “kenapa semua harus pengennya Ayah sih?”

Sebagai orangtua kita seringkali sok tahu dengan keinginan anak dan gegabah melakukan hal-hal tertentu tanpa berdiskusi dengan anak.
Dan sejatinya memang kita tidak pernah tahu peristiwa mana yang akan meninggalkan luka di hati anak-anak.
Poin tentang orangtua dan pasangan yang tak selalu sempurna ini juga tergambar pada saat sang ibu menceritakan perasaannya kepada Aurora,
“Saat itu sudah tidak ada yang tersisa lagi dari ibu, Ra. Tidak sempat melihat kembaran Awan. Tidak punya memory sama sekali. Namun Ayah benar, kami harus bertahan karena masih ada 3 anak yang kehidupannya harus berlanjut. Ayah adalah laki-laki terbaik dalam kehidupan ibu.”
Saat obrolan antara Ibu dan Aurora, terjadi flashback ke adegan setelah ibu pasca melahirkan. Saat itu terlihat bagaimana sang ayah menguatkan ibu, "Ajeng jalan kita masih panjang, kita harus punya cara untuk bertahan. Nangis nggak ada gunanya. Anak-anak nggak perlu tahu tentang kesedihan ini. Cukup di kita."

Tujuan sang ayah mungkin terlihat baik, namun keluarga adalah muara. Ada suka duka yang perlu dirasakan bersama. Tidak bisa pincang sebelah. Apalagi ditutupi dengan banyak kebohongan.

Aurora lalu menyampaikan pikirannya kepada sang ibu, “Ibu juga berhak bahagia. Bukan cuma ayah.” Sebuah kalimat yang penuh pengingat bagi semua istri di dunia mengalir dari sosok sang ibu,
Kebahagiaan ibu ya ayah. Dia bukan suami yang sempurna, banyak salahnya. Tapi ayah kalian itu sudah memberikan kebahagiaan yang nggak terhitung nilainya. Nggak ada penderitaan atau kesulitan apapun yang bisa menggantikan kebahagiaan itu. Karena ayah kalian selalu mengusahakan kebahagiaan itu untuk ibu, untuk kita semua.
Sembari mengatakan kalimat tersebut, kita dibawa melihat potongan-potongan gambar bagaimana sang ayah selalu berusaha membahagiakan ibunya. Latar belakang sang ayah adalah sosok yang tidak punya siapa-siapa. Namun sejak bertemu Ajeng, sang ibu, ayah jadi tahu artinya bahagia. Ayah jadi tahu seberapa penting nilai keluarga buatnya.

Saat semua kembali terhubung, kita bisa berempati satu sama lain. Di balik semua kenangan buruk yang terukir di pikiran anak-anaknya, sebenarnya sang ayah pun capek dan sedih. Namun demi bisa melihat kebahagiaan anak-anaknya, rasa itu memudar. Ayah berjuang dengan caranya sendiri. Ayah seringkali menyimpan lukanya sendiri.
Seburuk-buruknya keluarga, selalu ada kisah-kisah baik di dalamnya. Hanya karena satu atau dua cerita buruk bukan berarti keluarga kita hancur. Keluarga masih akan baik-baik saja selama semuanya mau terlibat untuk berjuang sama-sama. Pada akhirnya keluarga yang terhubung satu sama lain, akan saling memaafkan dan menyembuhkan.
Scene kembali flashback pada saat Aurora sedang bertanding renang. Kalau sebelumnya yang ditampilkan adalah flashback dari sisi Aurora, kini ditampilkan flashback dari kacamata ayah. Ternyata saat Aurora bertanding, Ayahnya sangat khawatir. Begitu tahu anaknya tenggelam, ia langsung berlari menyelamatkan Aurora.

Begitulah perhatian ayah jarang terlihat. Kebaikan ayah jarang terbaca. Seringkali yang terekam dalam kenangan kita hanya boroknya. Scene ini berhasil bikin aku mewek bombay sih, bikin aku ingat bapak sambil dalam hati bilang, “Maafin aku pak”.

Pada akhirnya orangtua pun harus berani meminta maaf atas kesalahan yang pernah dibuat. Orangtua juga harus berani berterima kasih pada anak-anaknya. Sebagaimana sang ayah di NKCHTI mengungkapkan perasaan itu,
Ayah yang harusnya terima kasih, untuk semua kesalahan yang ayah bikin dan kalian masih sayang sama ayah.
Mungkin insight-insight di atas terbaca sangat random ya? Memang harus ditonton sendiri kok film ini. Dua jam nggak bakal kerasa deh karena kita akan disuguhi banyak pesan-pesan penting, yang bikin kita nggak bisa berkedip sedetik pun.

NKCTHI must watch indonesian movie
So far, aku suka banget sama film ini. NKCTHI ini relate banget dengan kehidupan semua keluarga di dunia. Cerita-cerita di dalamnya terasa dekat dan hangat. Sepertinya semua hal di film itu pernah terjadi di dalam keluarga kita. Bahwa antara anak dan orangtua pasti ada miskomunikasi, bagaimana pasangan yang saling mencintai pasti tetap harus bersua dengan konflik, insecurity, hubungan antara kakak dan adik yang nggak selalu mulus tapi tetap saling sayang, dan masih banyak lagi masalah-masalah keluarga yang ditampilkan dengan alami.

Buatku semua cerita yang terurai di film tersebut sangat manis dan pas. Hanya saja karena alur campuran yang digunakan, kita harus benar-benar fokus nontonnya agar jangan sampai kehilangan momen-momen penting. Karena di setiap flashback ke masa lalu, ada sesuatu rahasia yang terungkap perlahan.

Aku suka banget dengan pengambilan gambar dan preset yang digunakan pada film. Membuat pesan yang ingin disampaikan semakin kuat dan dramatis. Didukung dengan kalimat-kalimat yang puitis, music scoring yang indah dan akting pemain-pemain yang kece, semakin menambah cita rasa cerita. Film ini menurut orang awam sepertiku pantas lah dapat nilai 9.

Buat yang butuh tontonan keluarga, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini harus ada di must watch list kalian. Jangan lupa siapin sekotak tisu ya buat antisipasi. Buat yang sudah nonton, boleh dong share apa insight yang didapat di kolom komentar. Makasih sudah mampir dan membaca tulisan ini hingga akhir. Sampai jumpa di postingan berikutnya, pals!
Doa ibu menemani hari ini hingga nanti. Nanti kita cerita tentang hari ini, besok kita buat yang lebih baik lagi.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

5 comments

  1. Membaca ini seolah dihadapkan pada kisah nyata yang dijumpai dalam kehidupan sehari -hari,
    Adakalanya memamg benar yang terlihat tidak selalu sesuai dengan apa yang terjadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yess banget mbak. Setiap keluarga selalu punya rahasia :)

      Delete
  2. Aku udah nonton dooong. Ceritanya nggak gampang ditebak. Endingnya juga keren.

    Yang paling suka sih sama aktingnya Rachel Amanda, natural sekali.

    Dan adegan waktu dia sama Kale dikamarnya, keknya kebanyakan dirasain sama anak muda zaman sekarang yaa, yang cuma mau ngebahagiain tapi tanpa adanya hubungan, wuh.. Kesel sih, haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyess banget. PHP bener si Kale, nyebelin. Meski yang diomongin bener adanya sih, cuma pahit daah.

      Delete
  3. setuju banget seburuk buruk keluarga selalu ada kisah baik didalamnya kadang kita lupa hanya karena fokus pada yang buruk tersebut

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email