MaritaPalace

Memaknai Idul Adha dengan Meneladani Ketaatan Keluarga Ibrahim

Memaknai Idul Adha dengan Meneladani Ketaatan Keluarga Ibrahim
Mengingat kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam beserta keluarganya buatku adalah salah satu cara menguatkan iman. Kisah keluarga dari bapak para nabi ini menyimpan banyak hikmah. Tak hanya soal cara Nabi Ibrahim mendidik anaknya, namun banyak hal lainnya. Dari soal bagaimana menjalani pernikahan jarak jauh, menghadirkan figur ayah yang tak bisa setiap hari ada di dekat anaknya, juga bagaimana ketauhidan keluarga Nabi Ibrahim. 

Aku jadi malu kalau ingat zaman nakal-nakalku dulu. Setiap kali eyang putri atau ibu menasehatiku tentang kesabaran atau hal-hal lainnya, lalu beliau memberikan contoh perilaku nabi atau istri-istrinya. Aku selalu ngegas dengan menjawab, “La kan itu nabi/ istrinya, ya iyalah pasti bisa. Aku kan bukan nabi.”

Pernah suatu kali saking jengkelnya eyang putri mendengar jawaban khasku itu, beliau njegung dengan penuh kasih sayang sambil tersenyum masam, “Oh la bocah sontoloyo.” Wkwk. Jadi rindu sama beliau. Semoga kelak bisa bertemu di jannah-Nya ya eyang putriku sayang.

kisah dalam alquran sebagai  teladan kehidupan
Begitulah bocah sontoloyo ini akhirnya mulai paham mengapa eyang putri dan ibu selalu mencontohkan perilaku nabi, para istri ataupun sahabat-sahabatnya, karena memang tidak ada keteladanan yang lebih baik dari mereka. Kisah-kisah mereka diabadikan di dalam Al Quran bukanlah tanpa maksud dan tujuan.

Dari kisah-kisah mereka terkandung hikmah dan nilai yang bisa kita teladani dan praktekkan. Masalahnya mau nggak kita menundukkan hati untuk menerima kebenaran kisah itu dan meneladaninya? Atau malah bersembunyi di balik tameng ‘aku kan hanya manusia biasa’?

Setiap kali aku membaca kisah Ummul Mukminin Khadijah dengan segala keistimewaannya, aku akan banjir air mata. Betapa jauhnya diriku dari sosok cinta pertama baginda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Bahkan hanya untuk sekedar menyamai satu kebaikan dari Khadijah saja begitu sulitnya. Betapa diriku sudah menjadi kebanyakan perempuan zaman now yang mudah terbelenggu nafsu dan ego, tanpa mau menelisik lebih dalam bahwa semua yang Allah tetapkan adalah bagi kebaikan diriku sendiri,

Kisah Ibunda Siti Hajar

seandainya aku adalah siti Hajar
Sama halnya saat membaca kisah ummul mukminin Khadijah, membaca kisah Siti Hajar, Ibunda Nabi Ismail, egoku sebagai seorang perempuan mengeras. Seandainya aku adalah Siti Hajar, tak mungkin aku biarkan suami yang kucintai meninggalkanku dan anak bayi yang baru kulahirkan di tengah padang pasir yang tandus.

Seandainya aku adalah Siti Hajar, aku pasti sudah merengek meminta sang kekasih hati untuk tinggal. Membujuknya dengan segala rayu dan tangis. Bukankah perempuan diberikan air mata salah satunya untuk menaklukkan hati para pria?

Seandainya aku adalah Siti Hajar, aku pasti akan cemburu buta pada Siti Sarah yang selalu didampingi oleh sang kekasih hati. Sementara aku yang istri muda justru ditempatkan di wilayah yang jauh dan tandus. Padahal aku yang telah memberinya keturunan, bukankah seharusnya aku yang lebih dicintai?

Seandainya aku adalah Siti Hajar, tak akan ada kisah indah yang tertoreh dalam Al Quran tentang keteladanan kesabaran, ketaatan, kesalehan, kekuatan, keikhlasan dan ketabahan. 

Siti Hajar bukanlah dongeng
Siti Hajar adalah satu dari sekian perempuan yang kisahnya diabadikan di dalam Al Quran. Yang setiap kali kita membacanya sontak membuat linangan air mata tumpah. Ya Allah, begitu jauhnya perilaku dan sifatku dari para perempuan ahli surga ini. Masihkah layak aku berharap surgaMU?

Andai kau seorang Hajar, apa yang kau lakukan, pals?

Memang rasanya mustahil bisa meneladani keagungan sifat dan perilaku ibunda Siti Hajar, namun kita hanya perlu yakin bahwa Siti Hajar bukanlah dongeng. Jika di suatu zaman ada kisah agung seperti itu, maka sudah pasti kita pun sebenarnya bisa meneladaninya. Masalahnya hanya satu; mau atau tidak?

Siti Hajar adalah hamba sahaya yang diberikan Firaun kepada Siti Sarah, istri pertama nabi Ibrahim. Menurut beberapa riwayat, Siti Hajar adalah perempuan Mesir. Siti Sarah sadar bahwa ia belum bisa memberikan keturunan kepada Nabi Ibrahim, maka dihadiahkanlah Siti Hajar kepadanya. Awalnya Nabi Ibrahim menolak, karena baginya Siti Sarah adalah satu-satunya perempuan yang dicintainya. Namun karena Siti Sarah terus membujuknya, nabi Ibrahim pun luluh dan menikahi Siti Hajar.

Awalnya Siti Hajar menyembunyikan kehamilannya karena tidak ingin menyakiti hati Siti Sarah. Namun perlahan Siti Sarah pun mengetahui hal tersebut. Bukan cinta tanpa adanya cemburu. Bahkan meskipun Siti Sarah sendiri yang meminta Ibrahim menikahi Siti Hajar, cemburu pun melingkupi hatinya saat ia mengetahui Siti Hajar telah mengandung anak suaminya.

Apalagi tentu saja Ibrahim semakin berlipat perhatiannya kepada Siti Hajar, Sarah semakin merasa cemburu. Merasa tidak berarti sebagai seorang perempuan. Ia pun memohon kepada Ibrahim untuk membawa Hajar pergi dari rumah mereka. Ibrahim merasa bingung, namun seketika Allah menurunkan perintahNya untuk mengabulkan keinginan Sarah. Mendengar perintah Allah, dengan segala rasa yang campur aduk di hati, Ibrahim pun membawa Hajar ke sebuah padang gurun yang luas nan tandus.

siti hajar juga perempuan biasa


Sebenarnya Siti Hajar pun perempuan biasa, sama seperti kita. Awalnya ia pun merengek pada suaminya. Awalnya ia pun sudah menduga bahwa ia diajak pergi dari rumah karena permintaan Sarah. Namun Siti Hajar tidak menjelek-jelekan Sarah. Ia paham posisinya, ia paham rasanya terbakar cemburu.

Namun tetap saja hatinya teriris-iris mengingat ia akan ditinggal sendirian bersama bayi merahnya. Siti Hajar terus merengek, bahkan memegang ujung baju Nabi Ibrahim, terus memohon agar tidak ditinggalkan. Sementara itu Nabi Ibrahim terus mengunci mulutnya tanpa jawaban. Menyembunyikan rasa gundahnya. Ia pun tak tega meninggalkan sang istri dan bayinya. Namun ini perintah Rabb-nya yang agung. Perintah dari Sang Kekasih Utama. Sebesar apapun cintanya pada istri dan anak tidak akan lebih besar dari cintanya kepada Sang Kekasih Utama.

Ibrahim terus melangkah, sementara itu Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail. Untuk terakhir kalinya Siti Hajar melontarkan pertanyaan, sambil setengah menjerit. Bahkan jeritannya menembus hingga langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?”

Nabi Ibrahim, bapak dari para Nabi itu pun menghentikan langkah kakinya. Dadanya bergetar mendengar pertanyaan istri yang dicintainya. Lalu ia pun membalikkan tubuh dan dengan tegas berkata, “Iya!”

Mendengar jawaban sang suami, Hajar pun berhenti mengejar. Dia lalu terdiam dan meluncurlah sebuah pernyataan yang tak akan pernah sanggup terucap dari bibir perempuan manapun di dunia, kecuali ia seyakin Hajar pada Tuhannya.
“Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.”
Segala gundah-gulana di hati Ibrahim pun mendadak hilang. Beban yang tadi begitu berat di pundaknya, kini terlepas. Kakinya pun lebih ringan melangkah. Keikhlasan hati Siti Hajar telah menguatkan azzam-nya. Kini tak perlu lagi ada ragu karena Siti Hajar telah siap ditinggalkan.

Dari secuil kisah ini saja sudah ada banyak hikmah yang bisa kita ambil:

hikmah kisah siti hajar
  1. Sebagai perempuan, kita harus memiliki kepekaan yang tinggi. Sebagaimana Hajar menyembunyikan kehamilannya agar Sarah tak cemburu. 
  2. Jika sebuah keluarga berpoligami, maka hendaknya istri pertama dan kedua tidak tinggal satu atap karena akan rawan dengan konflik.
  3. Kecintaan kita pada Allah harus lebih besar dari kecintaan kita pada makhluk, entah itu pada pasangan, anak atau orangtua.
  4. Ketaqwaan dan keyakinan kita pada Allah adalah kunci untuk melewati semua ujian. Ketika kita yakin bahwa Allah yang mengatur sebaik-baiknya hidup kita, maka tak perlu takut sendirian, tak perlu takut tiada teman, karena Allah sebaik-baiknya penjaga.
  5. Istri harus bisa menjadi pendukung bagi suaminya. Suami akan mudah meragu ketika istri merengek berlebih. Sudah fitrahnya seorang suami pasti ingin mengabulkan semua permintaan istrinya. Sebagai istri kita yang harus tahu diri apakah permintaan kita pantas dikabulkan, apakah permintaan kita bertentangan dengan syariat, apakah permintaan kita bisa membuat suami kita jauh lebih bertaqwa atau malah semakin jauh dari Tuhannya?
Itu baru sebagian kecil dari kisah Siti Hajar. Jika lima poin yang nampak mudah dituliskan itu bisa kita jalani, masya Allah, betapa tenangnya kehidupan ini. Hanya Allah, Allah lagi dan Allah terus.

Kisah Nabi Ismail

3 hal penguat Siti Hajar
Sepeninggal Nabi Ibrahim, Siti Hajar hanya memiliki tiga hal, dua hal yang ia tahu dan satu hal yang tak dilihatnya. Dua hal yang diketahuinya yaitu keimanan pada Allah dan putranya. Dua hal inilah yang menguatkan dirinya untuk bertahan di padang pasir yang tandus. Sementara satu hal lainnya yaitu sebuah doa yang dimunajatkan oleh Nabi Ibrahim sebelum pergi meninggalkan Hajar dan Ismail;
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.’’ (Ibrahim: 37).
Doa yang menembus langit. Doa yang menjadi penjaga bagi Siti Hajar dan Ismail.

Bayi kecilnya terus menangis karena kehausan, sementara tidak ada setitik air pun di antara mereka. Siti Hajar berlari-lari kecil dari Shafa menuju Marwa, dan begitu seterusnya. Melihat perjuangan Siti Hajar, Allah subhanahu wa ta’ala pun mengutus Malaikat Jibril mendatanginya.

Dalam sebuah riwayat ada pula yang menceritakan, bahwa Jibril sempat bertanya kepada Hajar, “Siapakah Kau?

Lalu Hajar menjawab, “Aku sahayanya Ibrahim.”

Jibril kemudian kembali bertanya, “Pada siapa engkau dititipkan?”

Hajar menjawab dengan penuh ketegasan, “Hanya kepada Allah aku dititipkan.”
Jibril berkata, “Maka engkau telah dititipkan pada Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih yang akan melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tak akan menyia-nyiakan Ibrahim kepadaNya.”
Jibril pun menyentuhkan kedua sayapnya menyentuh tanah, sehingga muncul mata air yang mengalirkan kehidupan. Siti Hajar pun bangkit dengan sepenuh tenaga dan lupa apa yang baru ia alami. Ia segera mengambil air itu dan meminumkannya kepada bayinya, Ismail.

Hajar menyebut mata air itu, ‘’Zumi, zumi!’’ Maka hingga kini mata air itu kemudian dikenal sebagai Zam Zam, yang memberi kehidupan di tengah padang pasir tandus dan bukit bebatuan. Karena mata air itulah, lahirlah Makkah. Sejarah Makkah berawal dari kisah perempuan yang sedemikian bertaqwa kepada Tuhannya. 

anak adalah cerminan orangtuanya
Masya Allah, pasangan yang tingkat tauhidnya luar biasa. Maka tidak heran jika Ismail pun tumbuh dengan kualitas yang sedemikian rupa. Ismail pun tumbuh menjadi anak yang saleh, meski tanpa didampingi ayahandanya. Siti Hajar telah mendidiknya dengan baik, sebagaimana Ibrahim telah mewariskan ilmu kepadanya, sebagaimana Ibrahim telah menitipkan mereka kepada Allah lewat doa-doanya.

Hingga suatu ketika Ibrahim datang mengunjungi Hajar dan Ismail. Betapa bahagianya perempuan dan anak tersebut. Setelah sekian lama pada akhirnya bisa kembali bertemu dengan suami dan ayah yang senantiasa dirindukan.

Namun kebahagiaan itu hanyalah sekejap. Suatu malam Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah lewat mimpi, bahwasanya ia harus menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim pun menceritakan mimpi itu kepada sang anak tercinta. Tanpa sedikit keraguan, Ismail berkata, “Ayah, laksanakanlah perintah Allah itu. Insya Allah, ayah akan melihatku termasuk orang-orang yang sabar.”

Masya Allah, hanya orang-orang dengan kualitas iman yang terjaga bisa menjalani perintah berat tersebut. Ibrahim dan Ismail di antaranya, bagaimana dengan kita?


andai aku adalah ismail
Andai aku adalah Ismail pasti aku akan mempertanyakan cinta ayahku. Bagaimana bisa setelah bertahun-tahun lamanya meninggalkanku bersama ibu seorang diri, kini ia kembali dan menyebutkan hal yang tak masuk akal.

Andai aku Ismail pasti aku akan diliputi kemarahan dan kekecewaan yang berlipat-lipat. Namun Ismail jelas beda. Dia yang lahir dari kualitas keimanan Ibrahim dan tumbuh dibesarkan oleh tangan penuh ketaqwaan Bunda Hajar, pastilah memilih Allah di atas segalanya.

Ketika Ibrahim dan Ismail telah ikhlas menjalani perintah Allah, Allah pun berfirman,
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. “Selamat Sejahtera bagi Ibrahim.” Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Quran Surat Ash-Shaffat: 103 - 111)
Selain kisah fenomenal yang menjadi dasar perintah berkurban pada Idul Adha di atas, ada satu lagi kisah indah yang terjalin di antara Nabi Ibrahim dan Ismail. 

kisah ismail dan kedua istrinya
Dikisahkan saat itu Nabi Ismail telah memiliki seorang istri. Nabi Ibrahim pun pergi mengunjungi Ismail yang saat itu sedang tidak berada di rumah. Nabi Ibrahim disambut oleh menantunya dengan wajah masam. Sang menantu tak mengenal Nabi Ibrahim.

Kemudian Ibrahim menanyakan tentang kehidupan dan kesejahteraannya. Istri Ismail menjawab, “Kami dalam kondisi yang buruk dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan”.

Setelah itu Ibrahim berpamitan dan berkata kepada sang menantu, “Apabila suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan sampaikan pesan bahwa dia harus mengubah gerbang rumahnya.”

Sudah menjadi kebiasaan Ismail, saat ia pulang ke rumah, ia akan bertanya, “Apakah tadi ada orang yang datang?”

Istrinya pun menjawab, “Ya, tadi ada orang tua yang datang ke sini. Dia bertanya kepadaku tentang engkau, maka aku menceritakannya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku pun menceritakannya bahwa kita hidup dalam kepayahan dan kesusahan”.

Apakah dia berpesan sesuatu kepadamu?” tanya Ismail kemudian.

Benar. Dia menyuruhku menyampaikan salamnya kepadamu dan menyuruhmu mengubah gerbang rumahmu,” jawabnya.

Dia adalah bapakku. Dia menyuruhku menceraikanmu. Maka kembalilah kamu kepada keluargamu,” ujar Ismail. Selanjutnya Ismail pun menceraikan istrinya, kemudian mengawini wanita lain dari Bani Jurhum.

Pada suatu ketika, Ibrahim datang lagi ke rumah Ismail. Sayangnya, Ismail juga sedang tidak ada di rumah. Lagi-lagi Ibrahim hanya bertemu dengan istri Ismail. Namun kali ini berbeda, istri Ismail yang baru menyambutnya dengan baik. “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami,” kata istri Ismail kepada Ibrahim.

“Bagaimana keadaan penghidupan dan kondisi kalian?” tanya Ibrahim kemudian.

Kami baik-baik saja dan berkecukupan,” jawab istri Ibrahim sembari memuji kepada Allah Ta’ala.

Apa yang kalian makan?” Ibrahim bertanya lagi.

“Daging,” jawab istri Ismail.

Apa yang kalian minum?” lagi-lagi Ibrahim bertanya.

"Air,” jawab istri Ismail.

Selanjutnya Ibrahim berdoa, “Ya Allah, berkahilah mereka pada daging dan air”.Apabila suamimu datang, sampaikanlah salamku kepadanya dan suruhlah dia menetapkan gerbang rumahnya,” ujar Ibrahim berpamitan.

Seperti biasa, ketika Ismail datang, dia bertanya, apakah ada orang yang datang? Si istri menjawab, “Ada seorang tua yang baik penampilannya (si istri memuji Ibrahim) dan dia menanyakan ihwalmu kepadaku, lalu aku pun menceritakannya”.

Dia bertanya kepadaku tentang penghidupan kita, maka akupun menyampaikannya bahwa kehidupan kita baik-baik saja.”

Adakah dia pesan sesuatu kepadamu?” Ismail bertanya.

Si istri menjawab, “Dia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu untuk mengokohkan gerbang rumahmu”.

Dia adalah ayahku dan engkau merupakan gerbang rumah itu. Dia menyuruhku untuk tetap mempertahankan perkawinan kita,” ujar Ismail.

Menarik bukan kisah tersebut? Dari lanjutan kisah keluarga Ibrahim di atas, kita bisa mengambil beberapa hikmah sebagai berikut:

hikmah dari kisah Ismail
  1. Jika kita ingin Allah menjaga kita sebaik-baiknya, maka taatlah pada setiap perintahNya. Sesungguhnya setiap apa yang ditetapkanNya adalah kebaikan. Dan jika kita mengikuti perintahNya, maka Allah akan menghadirkan ganjaran yang tak pernah disangka-sangka.
  2. Ketaatan seorang istri pada suami akan membukakan pintu nikmat dan rezeki kepadanya.
  3. Kisah Ibrahim dan Siti Hajar adalah tuntunan bagi keluarga yang menjalani Long Distance Relationship ataupun para single mom dalam mengasuh anak-anaknya. Bagaimana caranya tetap menghadirkan figur ayah yang secara fisik terpisah jarak, namun anak-anak tetap mengenal dan mengidolakan ayahnya.
  4. Jika ingin punya anak yang saleh, maka jadilah orangtua yang saleh terlebih dahulu.
  5. Doa adalah kekuatan dan bukti cinta. Selalu doakan pasangan dan keluarga. Karena tempat terbaik untuk memasrahkan segala cerita adalah Allah Sang Pemilik Kehidupan.
  6. Sebagai seorang istri kita harus mampu menjaga marwah suaminya. Tidak mudah berkeluh-kesah kepada orang lain atas kehidupan rumah tangga.
  7. Dari kisah ini kita juga bisa belajar bagaimana cara orangtua menasehati anaknya tentang pasangannya. Dengan memilih kata-kata yang baik dan mudah diterima oleh anaknya.
Masya Allah, aku menuliskan ini sebagai pengingat untuk diri sendiri. Betapa seinspiratif-inspiratifnya drama Korea, film A sampai Z, tidak ada kisah-kisah yang lebih menggetarkan sanubari selain kisah-kisah para nabi. Kisah-kisah yang tidak hanya bisa membuka wawasan, namun juga menyejukkan jiwa dan mampu meningkatkan keimanan.

selamat idul adha 1441 hijriah
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu meneladani ketaatan dari keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam. Selamat menyambut Idul Adha 1441 Hijriah!

***

Sumber:
  • Al Quranul Karim
  • Buku Nabiku Idolaku, Jilid Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, Penerbit Mizan
  • https://republika.co.id/berita/ps422i440/sejarah-makkah-berawal-dari-perempuan-ini
  • https://islami.co/belajar-ikhlas-dari-kisah-siti-hajar-dan-nabi-ibrahim/
  • https://www.wattpad.com/589378260-siroh-shabiyyah-8-siti-hajar/page/2
  • https://dalamislam.com/info-islami/keutamaan-siti-hajar-dalam-islam
  • https://kalam.sindonews.com/read/1774/70/begini-cara-ibrahim-menyuruh-ismail-menceraikan-istrinya-1586930678/22
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

6 comments

  1. Tersentuh membaca kisah nabi ibrahim dan keluarganya. Saya juga langsung merasa betapa luar biasanya siti hajar. Sampai mau nangis bacanya😭
    Ya Allah. Semoga kelak saya juga bisa jadi wanita yang baik dan berbakti kepada suami.
    Amin...

    ReplyDelete
  2. kisah ini akan selalu jadi pelajaran untuk kita semua, belajar ikhlas dan sabar :')

    ReplyDelete
  3. Daan... aku baru membaca kisah Ismail dengan istrinya.
    Ikatan anak dan bapak yang maasyaAllah. Hanya dengan kode gerbang.
    Semoga diri ini bisa seperti istri Ismail yang diperintahkan ayahnya untuk menetapkan dan mengokohkan gerbangnya.

    Keren kak, makasih tulisannya

    ReplyDelete
  4. Menjadi Orangtua memang tak mudah ya mba, selalu berusaha dan belajar agar menjadi salih dan Istiqomah. Mempersiapkan generasi salih seperti keluarga Ibrahim harus dimulai dengan memperbaiki diri sendiri dulu

    ReplyDelete
  5. Kok aku brebes mili ya mbaa bacanya. Ya Allaah ga berhenti takjub dengan keluarga Nabi Ibrahim.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email