MaritaPalace

Ikhtiar dan Tawakal

ikhtiar dan tawakal harus seiring sejalan
Nikmat paling mahal yaitu nikmat hidayah. Nikmat yang tidak diperjualbelikan di pasar manapun, tidak ditemukan di pantai, tidak ditemukan di gedung-gedung tinggi, bahkan tidak bisa diwariskan dari ayah ke anaknya.

Nikmat yang harus kita khawatirkan saat hilang. Apa jadinya jika yang hilang adalah hidayah dalam hati kita? Ke mana lagi kita akan mencarinya? Karena nikmat ini hanya Allah yang punya hak memberikan pada siapapun yang dikehendakiNya.

Salah satu khas dari kitab yang disusun Imam Abi Dunya yaitu sanadnya yang panjang, baru kemudian kita diajak untuk membaca matan haditsnya. Ini adalah salah satu adab dalam menuntut ilmu, yaitu mengetahui dan mengenali sumber asli ilmunya. Dan kemudian mendoakan para ahli ilmu tersebut.

Sebuah pembukaan yang mampu mendobrak jiwa dari Ustaz Abdul Khoir, Lc pada Sapa Pagi tertanggal 22 Juli 2020. Mengingatkan diri tentang pentingnya adab menuntut ilmu.

usaha dan doa harus sejalan
Namun tema Sapa Pagi kala itu bukan soal adab menuntut ilmu, namun tentang ikhtiar dan tawakal.
Ikhtiar dan tawakal adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Usaha tanpa doa itu sombong. Doa tanpa usaha itu bohong dan omong kosong. Usaha adalah bentuk ikhtiar, dan doa merupakan bentuk dari tawakal.

Umar bin Khattab pernah mengusir seseorang yang menghabiskan waktunya terus-terusan di masjid. “Sesungguhnya langit itu tidak menghujani kamu dengan emas dan perak, sehingga kamu tinggal menengadahkan tangan.”

Sebagai muslim yang baik, ikhtiar harus bersama tawakal. Tawakal harus diawali dengan ikhtiar terlebih dulu.

Pengertian Tawakal

Definisi secara istilah dari Imam Al Hambali, at tawakul (tawakal) bermakna ketulusan hati yang bergantung hanya kepada Allah SWT, dalam mendapatkan manfaat dan dalam menolak mudharat, baik perkara dunia terlebih perkara akhirat. Dan meyakini sepenuh hati bahwa tidak ada yang memberikan manfaat dan segalanya selain Allah SWT.
Umat muslim yang imannya menancap dengan benar, tawakal adalah hal yang tidak akan pernah hilang di dalam hatinya. Tawakal adalah salah satu ciri orang mukmin. Ikhtiar adalah amalan badani, sementara tawakal adalah amalan hati. Amalan hati jauh lebih berat dari amalan badaniyah. Tidak mudah, maka harus dilatih, dibiasakan bahkan harus dipaksa agar menjadi kebiasaan.
Rasulullah SAW pernah membonceng Abu bin Abbas, selama membonceng Rasulullah menanamkan tentang ketawakalan kepada anak muda tersebut. “Seandainya semua orang ini berkumpul, namun tidak ada ketetapan keburukan yang Allah tuliskan untukmu, maka hal itu tidak akan terjadi.”

Seorang mukmin selalu bertawakal kepada Allah di setiap keadaannya. Mukmin tidak pernah luput bertawakal di hatinya sehari-hari.

Salah satu perintah untuk bertawakal bisa kita tengok di Quran Surat Al Maidah: 23;

quran surat al maidah 23

Lingkup Tawakal

Tawakal meliputi hal-hal berikut ini;

1. Ibadah

Perkara ini bisa kita tengok dalam Quran Surat Hud: 123,

quran surat hud 123
Kita seringkali hanya mengandalkan kekuatan fisik, dan melupakan kekuatan qulub. Padahal kedua hal ini tidak bisa dipisahkan. Contoh; setelah sholat tidak boleh selesai begitu saja, namun harus disertai harapan bahwa sholat kita akan diterima oleh Allah SWT.

Orang mukmin tidak pernah melupakan hal yang besar yaitu bertawakal setelah beribadah.

2. Berdakwah/ Mengajar

Sertakan tawakal dalam urusan berdakwah dan mendidik kita sehari-hari. Nabi-nabi Allah setelah mendakwahkan tauhid, mereka memasrahkan semua hal kepada Allah. Pada At Taubah: 129, dikisahkan bagaimana Allah menasehati rasul-rasulnya, agar ketika umat yang mereka dakwahi berpaling dari keimanan, para rasul cukup bertawakal.

quran surat at taubah 129
Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Nuh dan Nabi Musa setelah selesai berdakwah. Nabi-nabi Allah saat mengalami kesulitan, curhatnya langsung ke Allah dan memasrahkan langsung kepada Allah.
Berusahalah seakan-akan tidak pernah akan ada tawakal setelah itu. Bertawakallah seakan-akan kita tidak pernah berusaha sebelumnya.
Jangan putus asa dalam proses pendidikan/ pengasuhan anak, sertakan tawakal di dalam setiap prosesnya.

3. Urusan Rizqi



Urusan risqi ini juga harus seimbang antara ikhtiar dan tawakal. Urusan risqi memang kita harus tawakal kepada Allah, namun setelah kita melakukan ikhtiar.
Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, Allah akan cukupkan.
Sebagaimana tawakalnya burung. Burung pagi-pagi terbang saja, padahal burung nggak punya kantor. Pokoknya keluar rumah dulu. Ada makanan atau tidak pokoknya keluar dulu. Kalau ada makanan alhamdulillah. Dan waktu pulang para burung ini pun sudah terjadwal. Burung pulang selalu sore hari, nggak sampai tengah malam, mengingatkan kita agar tidak bekerja tanpa ingat waktu.

Tawakal nggak bisa buru-buru untuk melihat hasilnya. Tawakal dengan sungguh-sungguh itu benar-benar memasrahkan semuanya pada Allah. Kita diwajibkan untuk berusaha, tidak diwajibkan untuk berhasil. Doa itu perlu. Namun kapan dikabulkannya, itu hak prerogratif Allah. Allah paling tahu kapan paling tepat doa itu dikabulkan.

4. Hukum dan Peradilan

quran surat asy syura 10
Pada Asy Syura: 10, kita diajak untuk memahami bagaimana mencari solusi dalam sebuah perselisihan. Bahwasanya ketika kita sedang berselisih menyangkut masalah agama dan masalah-masalah lainnya, maka sebaik-baik putusan harus dikembalikan kepada Allah.

Jika putusan di dunia terasa tak adil buat kita, maka yakinlah bahwa kelak di hari kiamat, Rabb akan memutuskan perkara tersebut dengan seadil-adilnya. Itulah mengapa di dalam setiap perselisihan dibutuhkan ketawakalan kita.

5. Jihad

Kalau Rasulullah SAW nggak bertawakal dalam perang Badar, bayangkan apa yang terjadi sementara jumlah pasukannya jauh lebih kecil dibanding pasukan musuh. Sebelumnya Rasulullah SAW tentu saja melakukan usaha terbaiknya dulu, namun setelahnya Rasulullah menggedor langit dengan doa yang luar biasa.

Doa Rasulullah saat itu, “Jika yang 300 ini Engkau binasakan, Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini, ya Allah.”

Bagaimana dengan jihad kita di hari-hari ini? Banyak sekali ladang jihad, pals. Di media, betapa banyak berita dan informasi yang mengganggu jika kita memperturutkan hawa nafsu. Oleh karenanya kita harus senantiasa mengiringinya dengan tawakal agar tak terseret pusarannya.

6. Hijrah dan Bepergian

doa keluar rumah dari hadits rasulullah
Termaktub dalam HR Abu Daud dan Tirmidzi, “Jika seseorang keluar rumah, lalu dia mengucapkan “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya), maka dikatakan ketika itu: “Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga”. Setan pun akan menyingkir darinya. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?”

Perintah Bertawakal dalam Sunnah Rasulullah (Hadits)

  • Rasulullah bersabda, “Jika engkau bertawakal sebenar-benarnya kepada Allah, Allah akan mencukupkan kalian. Sebagaimana burung bertawakal.” Nggak semua orang punya gaji, namun semua orang punya rezekinya masing-masing.
  • Dari Imam Ibnu Hibban, Rasululllah SAW pernah berkata pada sahabat yang meninggalkan unta tanpa diikat, “Ikat dulu baru tawakal.”

Ulama Berbicara tentang Tawakal

nasehat luqman al hakim tentang tawakal
  • Said bin Zubair, “Tawakal adalah kumpulan iman.”
  • Dari Ibrahim bin Adham, ada orang yang curhat kepadanya karena punya banyak anggota keluarga di rumah, “Lihatlah orang-orang di rumahmu, mereka punya rizkinya masing-masing. Kamu hanya cukup berikhtiar sepenuh tenaga lalu bertawakal sepenuh hati. Allah akan mencukupkan semuanya.”
  • Luqman Al Hakim, “Hai anakku, dunia itu laksana laut yang dalam. Banyak orang tenggelam di dalamnya. Maka kalau kamu mau selamat, jadikan perahumu adalah takwamu kepada Allah yang diisi dengan iman di dalamnya. Layarnya adalah tawakal kepada Allah. Yang dengan itu semua, kamu akan selamat dari dunia.”
  • Imam Hasan Al Basri, “Salah satu bentuk tawakal yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang dipercayai.”

Tingkatan Tawakal

Tawakal memiliki tiga tingkatan, yaitu:

tawakal dalam 3 tingkatan
  1. Tidak mengadu/ mengeluh selain kepada Allah. Golongan orang-orang zuhud berada pada tingkat pertama ini.
  2. Ridho, hatinya tenang dan tentram. Golongan orang-orang ash shidiq/ jujur dalam keimanan ada pada tingkat kedua.
  3. Cinta, hatinya selalu mencintai apapun yang Allah takdirkan. Golongan orang-orang mursalun (Rasul-rasul Allah) berada pada tingkatan ini.
Di tingkat tawakal yang mana kita ingin berada, kawan?

Buah dari Tawakal

Tak mungkin Allah meminta kita untuk bertawakal, jika tak ada buah manis yang menyertainya. Berikut ini hal-hal yang bisa kita dapatkan ketika mampu bertawakal:

Semoga catatan pagi ini bisa menambah semangat kita untuk berikhtiar dan bertawakal. Penutup dari Ustaz Abdul Khoir tak kalah menyentuh dengan pembukaannya.
Milikilah hati burung, hati yang tawakalnya seperti burung. Berangkat pagi dengan perut lapar, pulang sore dengan perut kenyang. Tanpa ada sedikit pun keraguan dan ketakutan akan merasa kekurangan. Terbangnya burung dari sarangnya setiap pagi adalah ikhtiar. Dan optimismenya akan dicukupkan oleh Allah adalah tawakal. Karena tawakal bukan tanpa disertai usaha. Karena tawakal harus didahului dengan usaha.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email