Cara Asyik Belajar Sejarah Indonesia, Sudah Nonton 8 Film Ini?

film-film Indonesia bertema sejarah
Sejarah adalah salah satu pelajaran yang kuhindari zaman sekolah dulu. Entahlah, aku merasa pelajaran itu sangat membosankan. Apalagi ketika ujian tiba dan pertanyaan yang disodorkan berkisar tentang kapan perang ini terjadi, di mana lokasi terjadinya peristiwa XXX, dan pertanyaan sejenis. Menghafal selalu saja menjadi PR besar untukku. Apalagi menghafal tanggal dan teman-temannya.

Namun ketika sejarah dibingkai dalam bentuk sebuah film, aku akan menjadi penonton nomor 1. Buatku memahami sejarah lewat film jauh lebih mengasyikkan. Mungkin kalau gurunya pandai bercerita, sejarah akan terdengar lebih menyenangkan. Seperti ketika eyang kakung mengisahkan pengalamannya di saat-saat genting pemberontakan PKI. Terasa hidup. Terasa nyata.

Bahkan membaca buku-buku biografi para tokoh pahlawan menurutku lebih membawa dampak daripada membaca text book pelajaran sejarah. Menjadi PR untuk penyusun materi sejarah di sekolah, agar bisa membawakan materi ini dengan lebih ringan, namun anak-anak bisa terdampak lebih dalam.

jas merah jangan sampai melupakan sejarah
Saat aku menonton film-film dengan latar belakang negara barat, aku suka melihat adegan belajar mereka saat sekolah. Seringnya para guru tidak mengajukan pertanyaan kapan dan di mana kepada muridnya, namun mengapa dan bagaimana. Para guru membuka ruang diskusi di kelas-kelasnya dan membahas sejarah menjadi berbobot. Tentu saja tujuan akhirnya pun tercapai; agar generasi sekarang tak lupa ‘mengenakan jas merah’ pada jiwa-jiwa mereka - jangan sampai melupakan sejarah!

Selain itu dengan ruang-ruang diskusi yang hidup pada saat pelajaran sejarah, diharapkan para siswa tak hanya hafal tentang angka-angka, tak hanya hafal tentang lokasi kejadian, namun bisa mengambil hikmah dari terjadinya peristiwa tersebut. Mereka yang hafal kapan terjadinya pertempuran Surabaya di Hotel Oranje atau Hotel Yamato kala itu, bisakah menceritakan mengapa Bung Tomo bisa memiliki semangat seluar biasa itu dalam memimpin pertempuran.

Slogan Merdeka atau Mati dan takbir yang terus berkumandang di sela-sela pertempuran menjadi sebuah sejarah yang tak boleh pula terlupakan. Betapa saat itu para ulama masih menjadi tokoh-tokoh penting yang pendapatnya didengar. Mana ada ulama dikriminalisasi zaman itu? Ulama adalah penasehat terbaik jika kita mau negara ini berjalan tanpa keluar dari relnya.

Film-film Sejarah Indonesia Terbaik

Hobi menonton film sejarah sepertinya diturunkan dari ibuku. Aku masih ingat pernah diajak beliau menonton Fatahillah. Agak lupa tahun berapa. Yang kuingat studio bioskop saat itu penuh sesak. Aku sendiri nggak tahu pasti mereka yang berbondong-bondong ke studio, apakah pengen merasakan bioskop baru di kota kecil, atau memang benar-benar penasaran dengan film yang biaya produksinya termasuk uwow di zaman itu.

Berikut ini beberapa film sejarah yang pernah kutonton dan menurutku cukup apik untuk jadi sarana menelusuri sejarah bangsa dengan lebih menyenangkan:

1. Jenderal Soedirman

jenderal soedirman diperankan oleh Adipati Dolkien
Waktu tahu yang main Adipati Dolkien, jujur aku agak underestimate sih. Namun setelah menonton, kutarik pikiran tersebut. Doi cukup apik membawakan tokoh sebesar Jenderal Soedirman.

Jika selama ini kita hanya membaca di buku sejarah bagaimana sang jenderal sangat dihormati, bagaimana luar biasanya beliau menahan kesakitan namun tetap memimpin pertempuran demi pertempuran. Film ini menggambarkan karakter dan kondisi sang Jenderal dengan cukup baik. Dan cukup mampu membuat aku untuk cari tahu kisah-kisah lanjutan tentang Sang Jenderal. Ada yang pernah nonton film ini?

2. Guru Bangsa Tjokroaminoto

film sejarah reza rahadian berperan sebagai HOS Tjokroaminoto
Dimainkan oleh aktor kawakan, Reza Rahadian dan disutradarai oleh sutradara keren, Garin Nugroho. Sebuah kolaborasi yang asyik. Buat yang suka nonton filmnya Garin pasti bisa menebak bagaimana tone film ini, warna-warna dan angle-angle yang diambil sangat menarik. Maklum Garin jarang-jarang kan bikin film untuk konsumsi umum, biasanya film-film besutannya dibuat khusus untuk diikutkan pada festival-festival film internasional.

Senang sekali rasanya bisa menyaksikan kisah hidup sang Guru Bangsa lewat film Garin Nugroho. Ceritanya sangat berkelas. Meski durasinya cukup panjang, namun aku sangat menikmatinya. Kalau mau lebay, mataku hampir tak berkedip sepanjang duduk manis di bangku bioskop. Rasanya sayang melewatkan satu per satu adegan.

Aku pun jadi tahu ternyata di tangan Tjokroaminoto, lahir tokoh-tokoh besar nasional dengan segala ragam ceritanya. Meski berbeda-beda, namun tujuan mereka sama; memerdekakan Indonesia. Menjadikan negara ini berdaulat dengan kekuatannya sendiri.

3. Sang Kiai

ikranagara sebagai kiai haji hasyim asyari
Ini juga film yang nggak boleh dilewatkan kalau kita mau mendalami sejarah bangsa. Biar kita melek betapa posisi ulama saat itu sangat penting dan dihormati. Juga agar mata kita terbelalak dan bisa meneladani perilaku Sang Kiai dalam berdakwah. Santun.

Film yang berkisah tentang kehidupan K.H Hasyim Asyari sang pendiri Nahdatul Ulama ini mampu membuat kita malu kalau masih ‘perang’ dengan sesama muslim. Juga malu saat menyatakan diri jadi muslim namun gagal mencintai bangsa sendiri.

Diperankan oleh aktor senior, Ikranagara, kita seperti melihat Hasyim Asyari hidup dan sedang meninggalkan wejangan-wejangan secara langsung.

4. Sang Pencerah

lukman sardi as kiai haji ahmad dahlan di sang pencerah the movie
Kalau Sang Kiai menceritakan tokoh dari NU, Sang Pencerah menggeber perjalanan hidup dari K. H Ahmad Dahlan. Lukman Sardi dipilih menjadi sosok yang pantas menggambarkan sang tokoh utama. Bagaimana Muhammadiyah terbentuk dan masih besar hingga sekarang, temukan jawabannya di film ini.

5. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta

ario bayu sebagai sultan agung
Hanung Bramantyo sepertinya memang penyuka sejarah. Sultan Agung adalah film sejarah lainnya yang dibuat oleh Hanung. Dimainkan oleh Ario Bayu dengan cukup apik. Postur tubuhnya yang tinggi besar seakan mampu menghidupkan sosok seorang raja di zaman itu.

Naskah film ini disusun nggak main-main. DR. BRA. Mooryati Soedibyo mengadakan riset bersama ahli sejarah Ir. Bagas Pujilaksono, M.Sc., Lic.Eng., Ph. D demi menyusun naskah yang asyik dinikmati, namun tidak mengaburkan fakta-fakta yang ada.

Dari film ini, aku belajar betapa terkadang orang lain tak mampu memahami tujuan kita. Dan sebuah tujuan besar akan hilang makna ketika terlalu memperturutkan hawa nafsu. Cita-cita mulia Sultan Agung sempat membuatnya kehilangan banyak orang kepercayaannya, namun di akhir kita akan diajak menyelami bahwa berjuang juga butuh strategi yang tepat.

6. Soekarno: Indonesia Merdeka

Ario Bayo dalam Soekarno Indonesia merdeka
Bukan salah satu film favoritku, namun napak tilas pada sejarah Sang Proklamator selalu jadi kenikmatan tersendiri. Bagaimana proses tumbuh seorang Soekarno muda menjadi tokoh besar di negeri ini selalu mampu mengulik tanya di hati. Ario Bayu pun cukup piawai menampilkan sosok Soekarno.

7. Kartini

Dian Sastrowardoyo dalam Kartini
Dian Sastrowardoyo menghidupkan sosok Kartini hampir tanpa cacat. Didampingi oleh Djenar Maesa Ayu sebagai Raden Adjeng Moeriam, Acha Septriasa sebagai Roekmini, Ayushita sebagai Kardinah, Reza Rahadian sebagai Sosrokartono dan Adinia Wirasti sebagai Soelastri, film ini mampu menceritakan perjuangan Kartini dalam memerdekakan para perempuan dari belenggu ketidakadilan.

Scene favoritku dari film ini ketika Kartini berbincang dengan Kiai Sholeh Darat mengenai makna Al Fatihah. Waktu itu beliau meminta agar sang kiai lebih sering membagikan arti-arti ayat dalam bahasa Jawa, agar lebih mudah dipahami dan dihayati maknanya.

"Kiai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur'an yang isinya begitu indah dan menggetarkan sanubari. Maka, bukan buatan rasa syukur hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an dengan bahasa Jawa," ungkap Kartini kepada Kiai Sholeh Darat.

Karena curhatan Kartini inilah, Kiai Sholeh kemudian mengalihabahasakan Al Quran dalam bahasa Jawa. Disusunlah Tafsir Faid Al-Rahman ala Kalam Malik Al-Adyan yang kemudian dihadiahkan pada Kartini di hari pernikahannya. Belum semua juz rampung, baru sampai juz 13. Namun mampu membuat Kartini terkagum-kagum dengan kedalaman arti dari QS Al Baqarah: 257.
"... Min al-zulumat ila al-nur. Dari kegelapan menuju cahaya."
Sudahkah kita merdeka dari kegelapan hati dan berani mengambil jalan menuju cahaya, meski berliku dan penuh tantangan?

8. Habibie The Series

Pak Habibie dan Reza Rahadian
Bukan film tentang kemerdekaan, namun entah mengapa setiap usai menonton film Habibie, baik itu seri 1, 2 dan 3, ada semangat yang membuncah di dalam dada. Semangat untuk berkontribusi bagi negeri. Sebagaimana Habibie dan Ainun yang senantiasa ingin mempersembahkan hal terbaik bagi negeri ini.

Rasa cinta Habibie dan Ainun pada negeri ini tersampaikan dengan apik lewat film besutan sutradara Faozan Rizal di film pertama, serta Hanung Bramantyo di film kedua dan ketiga. Film ini juga mengajarkan tentang pentingnya menemukan cita-cita sedini mungkin. Cita-cita itulah yang akan menjadi bahan bakar bagi diri saat berjuang dalam setiap keterbatasan yang ada.

Cita-cita pun harus disusun dengan target dan dijiwai dengan rasa cinta serta ketaqwaan. Dua hal ini yang akan membuat cita-cita semakin hidup dan bernyawa. Teman-teman sudah nonton ketiga serial dari film Habibie? Mana seri paling favorit?

Masih ada banyak sih film-film dengan tema sejarah yang dibesut oleh sutradara-sutradara handal Indonesia. Namun belum semua kutonton. Habis nayangin post ini, mau cuzz nonton Wage dan Perburuan aah, sudah ada yang nonton dua film ini? Recommended nggak?

Berharapnya sih beberapa tahun ke depan sineas Indonesia ada yang mampu menghasilkan karya dalam bentuk seri/ sinetron, namun berkelas seperti drama Saeguk Korea. Drama-drama saeguk Korea selalu mampu mencuri hati dan membuat orang yang menonton tertarik untuk belajar sejarah Korea Selatan lebih dalam. 

Btw, aku juga pernah menonton pertunjukan drama musikal dari Beswan Djarum bertajuk Bara Jiwa Garuda. Menggambarkan tentang sejarah Indonesia dari masa ke masa. Daebaaak! Masih belum bisa move on sampai sekarang.

cara menumbuhkan jiwa pahlawan
Menonton film sejarah seharusnya tidak hanya membuat kita mampu lebih melek pada perjuangan para tokoh besar negeri ini dalam memerdekakan dan menjaga kemerdekaan Indonesia. Namun juga mampu menghadirkan jiwa pahlawan di dalam diri. Setiap dari kita bisa menjadi pahlawan di eranya masing-masing.

Menjadi pahlawan tidak harus melakukan hal besar. Mulailah dari hal-hal kecil namun berdampak. Memerangi hawa nafsu dan ego buta di dalam diri, adalah hal dasar saat kita memiliki semangat kepahlawanan. Karena pahlawan tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Mereka berjuang untuk kemaslahatan bersama.

Kini saatnya perjuangan para pahlawan kita lanjutkan. Aku dan kamu adalah pahlawan-pahlawan berikutnya. Pahlawan berdaster, pahlawan di balik keyboard, pahlawan di media sosial… pilih sendiri arena perangmu. Jadi, apa pilihanmu agar tetap merdeka di era digital ini, pals?

Dirgahayu Indonesia! Selamanya kau akan kucinta...
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email