header marita’s palace

Dear Me, Let's Move On!

Konten [Tampil]
dear me, lets move on
Surat ini seharusnya kukirimkan padamu bulan lalu. Ya, bulan kelahiranmu. Bulan yang menginspirasi bapak ibu memberikan nama Marita kepadamu. Namun jemari kelu. Tak tahu harus merangkai kata seperti apa untukmu.

Padahal kau sendiri yang memilih topik ini menjadi salah satu tema di challenge kecil-kecilanmu. Challenge yang kau buat secara spontan. Demi mensyukuri apa yang sudah kau lalui dan kau capai hingga hari ini.
  • Suami yang sesetia namanya. Suami yang selalu tahu kebutuhanmu. Suami yang selalu mampu menyunggingkan senyuman di bibirmu, meski terkadang juga membuatmu jengkel berkali-kali. Suami yang telah mendampingimu 13 tahun terakhir.
  • Anak-anak yang lucu dan ceria. Si sulung yang selalu meminta pelukanmu setiap saat. Aah, sepertinya bahasa cintanya sama sepertimu. Bukan hanya bahasa cintanya sih. Bahkan 90% sifatmu sepertinya memang kau wariskan kepadanya. Itulah yang kemudian membuatmu sering berkonflik dengannya kan?
  • Si bungsu yang super santuy dan selalu berhasil membuat rumah seperti kapal pecah. Tapi satu senyumannya mampu mengalihkan duniamu. Selalu saja ia punya cara untuk membuatmu takluk. Aah, bujang cilik ini tahu saja kelemahan bundanya ya?
  • Pencapaian demi pencapaian yang cukup keren. Meski dibanding para mastah, tentu masih tidak ada apa-apanya. Kamu cukup puas dengan apa yang kau capai dari proses ngeblogmu kan?
Lantas apa yang membuatmu merasa kosong, Rit?

Dunia Runtuh, Semesta Baru

Ada sesal yang membakar dada. Sesal yang terus kau tumpuk hingga menggerogoti dirimu tanpa atau dengan sadar?

Padahal kau tahu, kepergiannya adalah suratan dariNYA yang tak bisa kau elakkan. Namun mengapa kau masih saja merasa waktumu berhenti berputar sejak hari itu. Ketika TV di rumah tak lagi menyala. Kau pikir sudah cukup kuat untuk melambaikan tangan, mengantarkan pergi menuju keabadian. Nyatanya kau masih anak kecil yang masih rindu meringkuk di peluknya.

Rit, sampai kapan terus menjerat langkah pada jebakan yang kau buat sendiri? Jangan hidup dalam penyesalan. Bukankah kau paling tahu, kini ibu telah berbahagia? Lepas dari segala penyakit yang menderanya bertahun-tahun.

Jika ia tak pernah mendatangimu dalam mimpi, bukan berarti ia marah padamu, Rit. Hanya memang alam kalian sudah berbeda. Tak perlu menunggu kehadirannya, Rit. Ia akan selalu hadir di saat kau panjatkan doa-doa terbaikmu.

Rit, duniamu runtuh sejak hari kepergiannya. Namun kau punya semesta baru di hadapanmu. Ada suami dan anak-anak yang menunggu hadirmu secara utuh. Sampai kapan hidup dalam kubangan penyesalan yang tak akan ada habisnya itu?

Kamu punya segalanya. Mungkin bukan materi berlimpah. Toh kamu pun tak pernah benar-benar menginginkan hal tersebut. Bukankah yang selalu kau impikan adalah keluarga kecil yang damai dan penuh cinta. Allah sudah penuhi mimpimu kan, Rit?

Lantas masih haruskah kau terjebak di masa-masa itu? Get up, Rit. Time to move on. Cukupkan tangisanmu, kamu paling tahu sekuat apa dirimu. Nyatanya kau masih berdiri tegak sampai usia 36 ini. Yakinlah, ibu pun berbahagia untukmu. Ibu pun ingin melihatmu tertawa terbahak. Ibu pun ingin melihatmu melesat. Jadi jangan habiskan hidup dalam penyesalan.
be the best version of you
Tak ada mesin waktu di dunia nyata, Rit. Itu hanya ada di drama Korea yang kau tonton. Masih ingat kalimat yang sering kau tulis di diary zaman SMA?
Hidup itu bukan tape recorder, yang punya tombol forward ataupun backward. Hidup berjalan maju, tanpa bisa dipercepat dan diperlambat. Itu karena Allah ingin melihat usaha terbaik hambaNya.
Berkacalah, 4 tahun ini kau kacau sekali, Rit. Puncaknya, GERD pun mampir menyapa dirimu ramadhan tahun lalu? Berapa kali kau tumbang karena lambungmu bermasalah? Dan kau yang paling tahu, mengapa tubuhmu meronta kan?

Rit, bangun ya… Ingat kan janji yang kau ucapkan sendiri? Ketika kau merasa gagal membahagiakan ibu di dunia, maka buktikan dengan mendidik cucu-cucunya menjadi anak sholih sholihah. Dan sungguh itu akan membuatnya bangga.

Tapi bagaimana bisa janji itu kau raih, Rit, kalau kau terus kehilangan semangat seperti ini? Menipu dunia dengan tawamu. Mengenakan topeng demi topeng lagi. Sama persis seperti dulu. Berlari dari rumah angkara, membakar luka sampai tubuhmu kebas.

Rumah angkara sudah musnah. Ia ada bukan untuk merantaimu. Ia ada untuk memberikanmu hikmah. Dan lihat kau kini tinggal di dalam rumah bertaman bunga, yang wangi dan indahnya merekah. Jangan sampai apa yang ada di genggamanmu hari ini menghilang. Waktu itu layaknya pedang. Sekali tebasannya akan mampu membuatmu tersungkur lagi dan lagi.

Harus sampai berapa kali tebasan lagi hingga bisa membuatmu tersadar sepenuhnya?

Saat kau kembali sadar, bujang cilikmu bahkan hampir masuk sekolah. Si sulung cantikmu bahkan hampir menjadi gadis. Dan kau masih terus hidup dalam rumah kaca yang kau bangun sendiri.

Rit, penyesalan hanya akan melahirkan sesal-sesal lainnya. Bangun ya, sayang…. lanjutkan hidupmu dengan cintaNya yang masih terus berlimpah.
Ingin membuatNya bangga, dan tak menyesal telah menciptakanku sebagai hambaNya.
Masih ingat misi itu kan, Rit? Sempurnakanlah…

It’s okay to not be okay. Namun kau juga perlu tahu kapan waktunya bangkit. Kau sendiri yang bilang, menjadi bintang itu artinya tahu apa potensi yang dimiliki, tahu apa yang dimau dan dirasa, serta tahu bagaimana meraih mimpi-mimpi.

You’re a star, Rit. Lejitkan semua potensi yang Allah berikan. Buatlah IA bangga. Buatlah ibu, bapak, yangti, yangkung, yangyut dan Tyas yang melihatmu dari kejauhan tersenyum merekah, sambil berkata “That’s my girl!”

Rit, sampai di titik ini memang bukan perjuangan yang mudah. Terima kasih untuk berusaha bangkit dari setiap patah. Terima kasih untuk selalu tak menyerah. Dan kali ini, aku yang hidup dalam dirimu memintamu sekali lagi untuk berjuang hingga titik akhir. Kamu bisa, Rit. Karena kamu istimewa.

Kamu bukan tak tahu bagaimana caranya untuk kembali bangkit dengan kekuatan penuh. Kau hanya tak mau. Aku sudah beri waktu yang cukup, Rit. Jadi tolong, kali ini dengarkan diriku. Cukupi ratapanmu dan lanjutkan hidup dengan benar.

Aku yakin itu yang ibu mau.

Masih ingat kan apa yang beliau wariskan untukmu? Tak akan sampai ke sana jika kau terus terpuruk. Sudahi benci itu. Sudahi marahmu. Memaafkan jauh lebih baik.

Ya, tak ada cinta seperti cintanya. Bentuk cinta paling sempurna setelah cintaNya. Maka balaslah cinta sempurnanya dengan jadi versi terbaik dirimu, Rit. Ia ikhlas pergi karena yakin kau sudah mampu berjalan tanpa harus bergantung lagi dengannya.

Makasih ya Rit, sudah membaca surat ini. Besok gandengan lagi ya. Jadilah utuh. Listen the song I sang for you :) Bersama kita menjadi sepenuhnya kamu. Be the best version of you. Love you, Rit…. 

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

Post a Comment