header marita’s palace

4 Kunci Agar Terapi Anak Tantrum Berjalan Optimal

Konten [Tampil]
4 kunci terapi anak tantrum
Terapi anak tantrum memang gampang-gampang susah. Namun yang pasti menghadapi anak tantrum memang butuh kondisi mental yang baik. Jika kondisi jiwa kita sedang tak baik-baik saja, mending tenangkan diri sendiri dulu, baru menghadapi si bocah. Daripada nantinya kita melakukan hal-hal yang disesali kemudian.

Apakah Ciri Anak Tantrum?

Tidak semua anak mengalami tantrum. Beberapa ahli mengatakan bahwa bayi dan balita memiliki tipenya masing-masing. Ada anak yang sejak bayi memang sangat easy going, ada pula yang so so, dan tentu saja ada yang tipe sulit.

Nah, qodarullah anak pertamaku masuk dalam tipe yang sulit. Entah sudah berapa kali ia mengamuk saat kami sedang makan di luar. Sampai di suatu titik, aku jadi malas untuk pergi ke luar mengajaknya, karena takut lepas kontrol saat doi tantrum.

Beberapa ahli parenting mengatakan bahwa kondisi tantrum tidak selamanya. Biasanya muncul di masa-masa terrible two. Tantrum biasanya muncul ketika anak memiliki keinginan, tetapi orangtuanya tidak memahami apa yang diinginkannya. Akhirnya karena ia belum bisa mengutarakan dengan jelas, ia melampiaskan dengan cara amukan.

Entah itu dengan menangis sangat kencang, berguling-guling di lantai atau malah memukul-mukulkan tubuhnya ke dinding. Jika tantrum terjadi di rumah saja sudah sangat melelahkan, apalagi ketika kondisi itu terjadi di luar rumah kan? Rasanya kepala sudah penuh dengan tanduk, tetapi tetap harus berusaha kontrol emosi.

Banyak yang bertanya-tanya biasanya anak tantrum sampai usia berapa. Setiap anak bisa jadi berbeda antara satu dengan lainnya. Akan tetapi jika orangtua bisa menanganinya dengan tepat, salah satunya dengan mengenalkan jenis-jenis emosi kepada anak, biasanya pada usia 4 anak-anak sudah tak lagi mengalami tantrum.

Selain terjadi pada masa terrible two, tantrum juga bisa muncul sebagai wujud dari kekekalan ikhtiar anak. Biasanya terjadi ketika orangtua kurang konsisten dalam menetapkan aturan. Anak akan menguji kita dengan amukannya.

Jika kita tak tahan dengan tantrumnya, di kesempatan lain, ia akan menunjukkan tantrum yang lebih dari hari ini. Oleh karenanya penting bagi orangtua untuk tetap konsisten dengan aturan yang sudah ditegakkan. Meski ada kalanya harus menahan malu di depan umum, karena berpasang-pasang mata melihat kita sebagai orang tua yang nggak bisa mengatasi anak dengan baik.

Siap Menjalankan 4 Kunci Terapi Anak Tantrum Ini?

Ada kalanya menghadapi anak tantrum semudah mengatakan “Nak, bunda tak paham yang kamu inginkan.” Akan tetapi di lain waktu, kepala rasanya ingin pecah saat menghadapi anak tantrum. Apalagi bila itu terjadi di depan umum, semakin berlipat-lipat rasanya.

Nah, spesial buat teman-teman kongkow yang anaknya punya hobi tantrum di depan umum, berikut ini aku akan bagikan 4 kunci rahasia melakuukan terapi anak tantrum. Sebenarnya ada banyak cara untuk mengatasi temper tantrum di depan umum. Namun jika disederhanakan, maka bisa disimpulkan menjadi 4 hal ini; Pencegahan, Pengalihan, Isolasi, dan Kegigihan. Yuk cari tahu lebih lanjut setiap poinnya!

Buat yang butuh informasi terkait mengatasi tantrum versi  lainnya, bisa tengok juga tips menghadapi anak tantrum secara islami.

1. Pencegahan

Adapun yang berkaitan dengan pencegahan yaitu memastikan anak tidak lelah, lapar, atau overstimulasi saat pergi ke tempat umum. Anak-anak yang lelah, lapar, atau terlalu bersemangat, jauh lebih mungkin mengalami temper tantrum daripada anak-anak yang relax dan yang perutnya kenyang.

Oleh karenanya, memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi sebelum pergi ke mal atau tempat umum lainnya adalah langkah penting pertama dalam proses terapi anak tantrum. Jangan lupa untuk membawakan beberapa barang pribadi anak yang bisa membantu menenangkan anak saat nantinya tantrum terjadi, mungkin boneka atau mainan kesayangan.

2. Pengalihan

Jika poin 1 adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk mencegah anak mengalami tantrum. Maka poin ini dilakukan pertama kali setelah temper tantrum mulai terjadi.

Alih-alih menghadapi anak dengan amarah yang meluap-luap, kita bisa segera mengalihkan perhatian anak dengan mengganti topik pembicaraan hingga si anak mau merespon dan bersikap tenang. Mengeluarkan boneka atau mainan kesayangannya dan membujuknya agar tenang lebih dahulu.

3. Isolasi

Jika proses pengalihan masih tidak berhasil, isolasi adalah langkah selanjutnya. Bawa anak ke tempat yang lebih sepi, di mana jumlah pengunjung jauh lebih sedikit. Kamar mandi atau ke tempat kendaraan kita diparkir adalah pilihan yang paling memungkinkan.

Cara Ini akan mengurangi rasa malu di pihak orang tua. Selain itu bisa membantu ibu atau ayah tetap memegang kendali dan tidak marah. Dalam kondisi seperti ini, marah hanya akan memperburuk keadaan. Beri anak beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum diajak bernegosiasi dan melanjutkan aktivitas selanjutnya.

4. Kegigihan

Apa pun yang terjadi, JANGAN MENYERAH selama anak mengalami temper tantrum. Jangan berikan apa yang diinginkan anak. Memberikan keinginan anak saat ia tantrum, hanya akan membuat anak lebih parah tantrumnya di waktu yang lain.

Hal itu tentu juga akan membuat segalanya lebih sulit bagi orang tua di lain waktu. Skenario kasus terburuk, lebih baik membawa anak pulang, daripada memberikan anak apa yang dia inginkan untuk mengakhiri amarahnya.

Dengan membawa pulang, anak belajar bahwa tidak semua keinginannya bisa dituruti. Apalagi jika sebelumnya sudah ada perjanjian bahwa anak tidak boleh meminta mainan atau jajanan di luar yang telah disepakati.

Selain itu anak juga belajar bahwa jika menginginkan sesuatu, mereka harus mengatakannya dengan baik dan santun. Bukan dengan cara menangis dan mengamuk.

Gimana nih, sudah siap untuk menjalankan 4 kunci terapi anak tantrum di atas? Yess, memang nggak mudah. Namun yakinlah kalian pasti bisa. Aku sudah melewati masa-masa mendebarkan itu. Semangat buat para orang tua yang sedang di masa-masa tak mudah tersebut. Keep parenting happily, pals!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Lebih baik mencegah sebelum terjadi, tantrum ini berbahaya dan bisa membuat si kecil depresi perlu banget untuk melakukan terapi, nih.

    ReplyDelete

Post a Comment