header marita’s palace

Cara Menumbuhkan Inner Child Bahagia agar Dewasa Bermakna

13 comments
Konten [Tampil]
cara menumbuhkan inner child bahagia
Menumbuhkan inner child bahagia bagi sebagian orang mungkin masih terdengar aneh. Hal itu disebabkan banyak yang mengira istilah inner child selalu mengacu pada pengalaman buruk.

Padahal sesungguhnya di dalam diri manusia, ada banyak jenis inner child. Tidak melulu berupa inner child yang pemarah, terluka atau kesepian.

Beruntunglah bagi teman kongkow Marita’s Palace yang memiliki sisi inner child bahagia lebih dominan. Itu artinya pengalaman masa kecil teman-teman lebih banyak diisi hal-hal positif dan membahagiakan.

Namun buat kalian yang mungkin mengalami masa-masa berat, bukan berarti nggak bisa lo menumbuhkan inner child bahagia. Sudah baca artikelku tentang tes kecerdasan emosional belum?

Buat yang sudah, mungkin masih ingat quote dari Pak Anthony Dio Martin yang mengatakan, belum terlambat untuk memiliki masa kecil yang bahagia. Di artikel tersebut, aku juga sudah menuliskan formula HEAL yang dibagikan oleh Pak Anthony untuk mewujudkannya.

Di postingan kali ini, kita masih akan ngobrolin tentang inner child. Fyi, ini adalah resume terakhir dari Parade Webinar Ruang Pulih dalam rangka peluncuran buku ‘Performa Luka Bahagia’ karya Mbak Intan Maria Lie dan Mas Adi Prayuda.

Parade webinar yang kelima ini sangat istimewa. Bukan hanya temanya, tetapi juga narasumber yang dihadirkan.

Satu minggu sebelum parade ini dilangsungkan pada Minggu, 12 September 2021, Mbak Intan Maria Lie sudah membagikan e-flyer yang bikin ingatanku terlempar pada masa kecil.

Pernah tahu tokoh yang satu ini kan? Apa yang terbersit di pikiran dan perasaan teman kongkow saat melihat tokoh di bawah ini?
kak seto dan si komo
Kalau aku langsung ingat penggalan lirik, “Komo, si Komo, hei mau ke mana…” atau “Macet lagi, macet lagi, gara-gara si Komo lewat, Pak Polisi jadi bingung, orang-orang ikut bingung…”

Hayo siapa yang baca tulisan di atas sambil dinyanyikan? Berarti kita sezaman, hehe.

Ya, si Komo bisa dibilang salah satu kenangan membahagiakan buat anak-anak tahun 1990an. Iya nggak sih? Salah satu tayangan yang paling dinanti.

Bukan tanpa sebab Mbak Intan Maria Lie menghadirkan sosok Kak Seto sebagai pembuat dan pengisi tokoh Si Komo. Mbak Intan ingin memunculkan perasaan bahagia yang pernah ada di hati orang-orang.

Diharapkan dengan mengingat si Komo, siapapun bisa memberi jeda kepada setiap kesibukan yang mungkin merenggut jati diri kita. Membuat kita lupa bahwa dulu sekali, di suatu masa, kita pernah bahagia.

Seringkali kebahagiaan mudah terhapus dan terlupakan dari ingatan. Terlalu banyak ingatan buruk yang penuh luka menyerobot masuk hingga kita merasa nggak pernah bahagia sama sekali.

Sesi webinar kali ini benar-benar dipersembahkan agar siapapun yang hadir, atau siapapun yang membaca resume ini bisa kembali memaknai bahagia di dalam hidupnya. Sekecil apapun itu.

Jadi kalian sudah siap bahagia, pals?

Sebuah Keputusan Besar Dipilih dengan Luka atau Kesadaran?

Pada sesi pertama webinar yang berlangsung 12 September 2021 ini, Ibu Anggun Meylani Pohan didapuk sebagai narasumber pertama. Topik yang dipilih cukup bikin deg-degan.
profil psikolog anggun meylani pohan
Topik yang sedang hangat diobrolin gara-gara ada seorang public figure mengemukakan pendapatnya mengenai hal ini. Ada yang bisa menebak topik apakah itu?

Childfree!

Topik yang rada panas dan sensitif ya? Well, dalam webinar ini kita nggak bakal membahas tentang benar atau tidak. Setiap individu pastinya memiliki alasan tertentu dalam membuat sebuah keputusan. Termasuk juga soal childfree.
Pertanyaannya, ketika ada pasangan atau seseorang memutuskan untuk childfree, keputusan itu benar-benar dipilih atas kesadaran atau karena adanya luka yang belum terobati?
Ibu Anggun Meylani Pohan menjelaskan lebih dahulu perbedaan antara childfree dan childless. Childfree adalah paham, yang saat ini sedang berkembang, terkait keinginan untuk tidak mau memiliki anak karena pilihan pribadi.

Sementara childless adalah kondisi seseorang atau pasangan suami istri yang tidak bisa memiliki anak, biasanya karena kondisi kesehatan. Entah itu karena ada masalah infertilitas/ ketidaksuburan atau adanya penyakit yang tidak memungkinkan untuk mengandung.

Bu Anggun mengingatkan kepada peserta webinar, saat kita melihat pasangan yang sudah lama menikah dan belum punya anak, jangan asal menuduh bahwa mereka berpaham childfree. Bisa jadi mereka sudah berupaya sekuat tenaga, tetapi Allah memang belum berkehendak memberikan keturunan.

Jangan lupa satu hal, pals. Anak itu rezeki, dan kita nggak bisa mengatur Allah kapan waktu yang tepat mendapatkan anak. Allah yang lebih tahu. So, mari berhati-hati dengan mulut kita. Stop menanyakan hal basa-basi yang bisa menyakiti perasaan orang lain.

Alasan Memilih Childfree

Banyak alasan mengapa pasangan memutuskan childfree. Ada yang karena memang nggak suka anak-anak, nggak mau diribetin dengan urusan merawat anak, nggak mau bergaya hidup child centered (berpusat kepada anak), nggak mau pusing masalah financial terkait membiayai kehidupan anak, dan masih banyak lagi.

Bu Anggun kemudian menjelaskan lebih lanjut apabila ada pasangan yang memutuskan childfree dengan alasan di atas, lalu ternyata dalam perjalanannya mereka dikaruniai anak. Bisa jadi anak-anaknya akan diperlakukan dengan kurang baik.

Akibatnya bisa menjadi akar tumbuhnya inner child di dalam diri anak. Lalu luka tersebut dibawanya hingga ke masa dewasa. Tak sedikit anak-anak yang terluka karena merasa tak dicintai dan tak diinginkan oleh orang tuaya ini kemudian memutuskan childfree, karena nggak mau melahirkan anak dengan pengalaman sama dengan dirinya.

That’s why penting sekali untuk menggali dengan benar dan tepat saat di dalam hati kita terbersit keinginan untuk childfree.
pro kontra childfree
Benarkah ini keputusan yang diambil secara sadar? Atau karena pengaruh luka pengasuhan di masa lampau yang belum selesai?

Memilih tidak punya anak itu hak pribadi, tetapi alangkah baiknya jika pilihan itu bukan berdasarkan atas:
  • Inner child dan luka pengasuhan yang belum tersembuhkan
  • Kekhawatiran akan masalah financial
  • Kebencian terhadap anak-anak
Jika memang memutuskan untuk childfree, putuskan hal tersebut dengan amat sadar. Terkait apa alasannya, itu hak pribadi masing-masing. Kalian yang memilih childfree nggak perlu juga kok menjelaskan apa alasannya kepada orang lain.

Sebagaimana kalian juga nggak bisa memaksakan orang lain untuk menerima dan setuju dengan keputusan tersebut. Pun kalian nggak berhak mengolok-olok orang yang memilih untuk tetap berketurunan. 

Apalagi sampai membuat pernyataan bahwa perempuan yang punya anak nggak akan bahagia karena waktu untuk diri sendiri jadi berkurang, dsb.

Bu Anggun juga mengingatkan kepada kita, orang-orang yang mungkin kontra terhadap paham childfree, untuk berhenti julid. Bukan ranah kita untuk mengurusi keputusan pribadi orang lain.

Bukan hak kita pula menceramahi pilihan orang lain, apalagi spamming di kolom komentar memberikan dalil dan nasihat. Kecuali orang tersebut dekat dengan kita.

Itupun jangan lupa adab dalam memberi nasihat sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits;
Barangsiapa ingin menasehati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasehat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasehat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Takhrij As Sunnah Libni Abi Ashim, 1097).
Meskipun hadits itu lebih ditujukan tentang cara menasihati pemimpin, tapi aku rasa juga bisa dipakai dalam keseharian.
tips for childfree living
Jangan pernah lupa kalau kita hidup sebagai makhluk sosial. Kita harus menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Keputusan yang anti mainstream seringkali menghadirkan pro kontra dalam masyarakat. Namun jika kita memutuskan suatu hal dengan benar-benar sadar, nggak perlu terpancing emosi.

Ya begitulah hidup, akan banyak gesekan. Jangankan dengan orang lain, dengan pasangan atau keluarga saja, gesekan bisa terjadi. Apalagi dengan orang-orang di luar lingkaran tersebut.

Alih-alih berusaha memahamkan orang dengan pilihan kita yang berbeda, lebih baik kuatkan bonding dengan pasangan. Jadilah keluarga yang saling mendukung satu sama lain.

Bu Anggun menutup obrolan seru malam itu dengan mengingatkan agar kita selalu membuat keputusan penting setiap pagi;
Memilih bahagia!
Ya, bahagia itu tidak dicari. Bahagia itu pilihan hidup. Dan kita bisa memilih untuk bahagia setiap pagi. Mau di depan rumah ada yang teriak-teriak tiap pagi, mau anak-anak rewel, mau suami naruh handuk di kasur, kalau kita memilih bahagia, insya Allah bahagia juga yang akan kita dapatkan. 

So, berani menumbuhkan bahagia apapun yang terjadi hari ini, pals?

Cara Menumbuhkan Inner Child Bahagia ala Kak Seto Mulyadi

Setelah dibuat manggut-manggut oleh Bu Anggun, pada sesi dua akhirnya bisa juga bertemu dengan Kak Seto Mulyadi. Mungkin hanya beliau satu-satunya sosok pria berusia 70an yang masih dipanggil kakak. Brandingnya melekat banget ya, pals?

Kak Seto membuka obrolan sesi kedua tersebut dengan senyumnya yang khas. Mengingatkan para peserta webinar bahwa untuk menumbuhkan inner child bahagia, hal terpenting adalah mensyukuri apa yang sudah dianugerahkan Allah.
profil kak seto
Pada sesi kedua ini, banyak pengingat yang disampaikan oleh Kak Seto untuk para orang tua. Kita seringkali terlupa bahwa fitrah anak-anak adalah spontan, kreatif, berani, tidak takut salah, dan penuh ide cemerlang.

Sayangnya semua fitrah tersebut sadar atau tanpa sadar dipasung oleh lingkungan. Baik dalan keluarga ataupun pendidikan formal. Maka jangan kaget kalau kemudian terjadi creativity drops.

Anak-anak kehilangan kreativitasnya karena terlalu disekat oleh norma dan aturan pada saat yang belum tepat. Norma dan aturan memang diperlukan, tetapi sebagai orang tua kita juga perlu tahu bahwa ada hal-hal yang tetap harus dibebaskan dalam diri anak-anak.

Kalau kata Abah Ihsan, anak-anak itu bebaskan untuk melakukan apa saja. Selama tidak mengganggu atau membahayakan orang lain, membahayakan dirinya sendiri dan melakukan hal yang dilarang agama.

Menumbuhkan inner child bahagia bisa jadi terhambat karena anak-anak selalu diseragamkan. Semua harus berdasarkan akademis. Sedangkan anak-anak dibekali Allah dengan multiple intelligences.

Pernah dengar kan teori yang disampaikan oleh Howard Garner, bahwa semua anak adalah bintang. Semua anak jenius di bidangnya masing-masing.

Bukan masalah besar anak-anak nggak jago matematika, siapa tahu memang jagonya di bidang olahraga atau musik. Nggak perlu dipermasalahkan juga ketika anak-anak nggak mau tampil di atas panggung, siapa tahu bakatnya justru menjadi orang di balik layar.

Hambatan lain dalam menumbuhkan inner child bahagia adalah adanya pandangan bahwa anak harus menurut. Padahal bukan itu yang penting, alih-alih menurut, anak harus mandiri dan bertanggungjawab.

Bukan hanya anak yang harus menghormati orangtua, tapi orang tua juga harus menghormati anak-anaknya. Mulai dari menghormati keputusan-keputusan kecilnya, seperti memilih baju sendiri, memilih mainan mana yang akan dipinjamkan ke teman, dsb.

Kak Seto juga sempat menyinggung sedikit terkait homeschooling (HS). Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan memiliki tiga jalur;
  • Formal
  • non formal
  • Informal
Jalur pendidikan tersebut patut mempertimbangkan pilihan anak. Jangan hanya memperturutkan ego orang tua.

Ketiga jalur pendidikan tersebut juga saling melengkapi satu sama lain. Apapun jalur pendidikan yang dipilih, orang tua perlu tahu bahwa setiap kegiatan pendidikan harus meliputi etika, estetika dan isi.
Setiap anak memiliki hak belajar. Dikatakan hak, karena sejatinya belajar bisa di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
Satu hal yang masih salah kaprah terkait HS adalah memindahkan sekolah ke rumah. Padahal bukan itu ruh HS yang sebenarnya.
Alih-alih memindahkan sekolah ke rumah, kenapa tidak membuat sekolah yang homey? Alias sekolah yang memberikan kenyamanan belajar kepada anak? Mau di manapun tempatnya, anak-anak tetap merasa bahagia, sehingga apapun yang dipelajarinya akan lebih bermakna.
Setelah ngobrolin HS, kak Seto kembali membicarakan peran inner child pada kehidupan dewasa. Nggak jauh-jauh, Kak Seto mencontohkan hal ini dari kehidupan pribadinya. Dilahirkan sebagai kembar, Kak Seto sering mendapat label 3B; paling bodoh, paling buruk, dan paling bandel.

Label tersebut ternyata terus membayangi Kak Seto. Bahkan di usia dewasa awal, ia masih merasa gagal. Sama-sama mendaftar di fakultas kedokteran dengan kembarannya, tetapi Kak Seto tidak diterima.
suasana webinar parade inner child ruang pulih
Akhirnya Kak Seto mengobati diri sendiri. Caranya yaitu dengan berpisah dengan saudara kembarnya. Ia pindah ke Jakarta. Bahkan tujuh bulan sempat mengalami masa-masa yang suram; jadi pengamen, pemulung dan officeboy.

Hingga Kak Seto bertemu dengan Pak Kasur. Hayo tahu Pak Kasur nggak? Atas saran dari Pak Kasur, Kak Seto masuk ke Fakultas Psikologi.

Dalam petualangannya tersebut, Kak Seto sembari memulihkan luka-luka inner child. Salah satunya yaitu dengan berpikir positif dan mengingat masa-masa indah.

Bagi Kak Seto, masa saat ia didongengi wayang oleh neneknya, adalah masa yang membahagiakan. Dulu Kak Seto sempat membenci namanya, hingga suatu hari ia menemukan tokoh Raden Seto di pewayangan. Sosok panglima perang yang gagah perkasa.

Dari tokoh tersebut, Kak Seto mulai menumbuhkan keinginan untuk menjadi panglima perang melawan diri sendiri. Melawan label 3B. Lawan dengan cara melatih untuk senyum di depan kaca.
Memaafkan segala luka dan masa buruk di masa kecil adalah cara menumbuhkan inner child bahagia. Percayalah di dalam hidup kita memang akan selalu ada luka, tapi juga ada yang positif. Alih-alih terus tenggelam dalam luka, temukan hal-hal positif itu.
Kak Seto melanjutkan ceritanya, bahwa dulunya ia sempat gagap. Namun setelah dilatih pelan-pelan, gagap tersebut bisa hilang. Salah satu keberhasilannya karena ia mampu berdamai dengan luka-luka di dalam jiwa.

From zero to hero, Kak Seto mengingatkan kita untuk selalu bisa mencari kekuatan diri. Tidak boleh sombong, harus rendah hati.

Menyimak Kak Seto membawakan materinya dengan penuh senyum, aku kembali seperti anak anak yang diajak bicara dengan penuh rasa sayang

Ternyata nggak cuma aku yang merasakan hal tersebut. Hampir seluruh peserta merasakan tulusnya sayangnya Kak Seto benar-benar dari hati sampai ke hati. Seluruh peserta pada webinar 12 September 2021 merasa dipenuhi dengan rasa cinta.

Kak Seto dan boneka Komo benar-benar memanggil kenangan masa lalu yang bahagia. Masa lalu kita memanggil untuk hadir lagi, agar kita mengingat dan mengulang bahagia.
Kita seringkali menghitung duka, tapi lupa merasakan bahagia. Nah, agar kita nggak mudah melupakan kebahagiaan yang kita rasakan dan alami, mulailah untuk membuat gratitude journal.

7 Cara Menumbuhkan Inner Child Bahagia

Menjelang akhir dari tulisan ini, aku akan bagikan 7 cara Kak Seto dalam menumbuhkan inner child bahagia. Kak Seto menyingkatnya sebagai GEMBIRA, apa saja ya itu?
  • Gerak - Selalu luangkan waktu untuk berolahraga, setidaknya 10-15 menit dalam sehari. Berolahraga bukan hanya bisa menyehatkan badan, tetapi juga menghilangkan stres.
  • Emosi Cerdas - Emosi bisa dikelola dengan logika. Bukan logika yang tumpul karena emosi. Marah yang cerdas tidak memaki, tapi ungkapkan dengan cara yang baik.
  • Makan dan Minum Teratur - Tubuh punya hak untuk diberi asupan yang bergizi. Sesibuk apapun jangan lupakan makan dan minum. Kekurangan makanan menyebabkan lapar yang akhirnya bisa bikin kita cepat marah. Kekurangan minum bisa menyebabkan dehidrasi dan akhirnya kehilangan fokus.
  • Bersyukur - Sebaiknya kita bukan bersyukur karena bahagia, tapi bahagia karena bersyukur.
  • Istirahat - Bukan hanya sekadar tidur yang cukup dan berkualitas, tetapi juga harus beristirahat dari pikiran negatif.
  • Rukun - Selalu akur dengan keluarga dan teman. Permusuhan hanya akan menambah beban pikiran.
  • Aktif Berkarya - Ketika kita aktif menghasilkan karya, kita nggak akan sempat untuk julid dan mengurusi perkara orang lain.
Lakukanlah GEMBIRA dengan konsisten agar bisa mengobati luka-luka.

tips gembira ala kak seto
Saran Kak Seto untuk orangtua yang masih suka main fisik, ledakkanlah emosi tanpa menyakiti orang lain. Misal, setiap keinginan memukul datang, berikan jeda lalu alihkan dengan memukul samsak tinju. Atau saat kita ingin teriak, alihkan dengan bernyanyi.

Pesan Kak Seto di akhir sesi, cintailah anak-anak, dengan cara memberikan kekuatan cinta pada diri sendiri dan sesama. Senyum adalah obat, cinta adalah senjata.
Semua anak merindukan kasih sayang kita
Mari kita mengasuhnya dengan senyuman
Jangan lagi memakai cara dengan kekerasan
Mari mendidik anak dengan kekuatan cinta
Anak-anak punya hak untuk bahagia. Jangan sampai luka pengasuhan kita di masa lalu menjadi penyebab anak-anak kehilangan kebahagiaannya.

Lepaskan masa lalu, bangun good mindset dan embrace yourself adalah cara menumbuhkan inner child bahagia. Yuk, kita sama-sama jemput bahagia itu!***
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

13 comments

  1. Wah mantap ini memang kita butuh menumbuhkan inner child yang bahagia agar si kecil tumbuh dengan baik.

    ReplyDelete
  2. masyaAllah acaranya mantab banget ya, Mb. baca resumenya aja mata jadi berbinar-binar, apalagi ikut diksusi bersama. banyak banget insight yang didapat. pesan kak Seto diakhir acara, makleb banget. harus banyak belajar agar selalu memberi cinta..

    ReplyDelete
  3. Selalu kagum dengan ulasan Mbak Marita yang bisa nulis segambreng gini, blogger idaman banget nih.

    ReplyDelete
  4. aku baru tahu kalau kak seto sebegitunya jalan hidupnya. mbak marita, untuk tulisan lainnya bisa dibaca dimana ini . menarik ini ulasannya

    ReplyDelete
  5. Si Komo? Yah...itu mah saya sudah kuliah. Sampe dipanggil Ulil sama temen2 dan dosen dulu.

    ReplyDelete
  6. Baca ini sambil look inside and think deeply seraya berharap anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan terpenuhi segala hak-hak hidupnya

    ReplyDelete
  7. Aaark, tulisannya mbak Marita selalu bikin asyik manggut-manggut. Emang terkadang kita terlalu fokus sama kesedihan kita ya, Mbak. Padahal hidup ya harus seimbang, ada sedih ada bahagia.

    ReplyDelete
  8. Meleleh aku mbak.
    Banyak yang harus kuperbaiki dalam pola pengasuhan. Memang tidak sempurna, tapi setidaknya aku sedang menuju kesana agar tidak menjadi kenangan buruk buat anak-anak.

    Akan ku coba sarannya, kalau pingin teriak dialihkan dengan bernyanyi. Bismillah semoga bisa.

    ReplyDelete
  9. Baca masa lalu Ka' Seto jadi ingat diri sendiri, ternyata kita tak sendirian ya. Hampir setiap orang memiliki luka inner child. Dan beruntunglah orang yang bisa menyembuhkan luka masa kecil. Sepakat sekali dengan tipsnya, dengan sibuk berkarya maka tak ada kesempatan bagi pikiran negatif untuk menyelinap.

    Btw, Aku jadi penasaran sama kembarannya Ka' Seto.

    ReplyDelete
  10. Saat baca cerita kak Seto yang belajar senyum di depan cermin auto senyum sendiri nih.. Dulu suka joget dan nyanyi" didepan cermin..hahahaa :D
    Ikut terharu dari pengalaman kak Seto ini :')

    ReplyDelete
  11. Dpet insight baru soal innerchild, krna seringnya lebih byk membahas menyembuhkan luka. Jdi smangat utk terus berusaha sbg ortu harus byk2 memberikan kenangan positif dan bahagia ke anak ya

    ReplyDelete
  12. Ya Allah aku bener2 menikmati berasa ikut webinarnya mbak. Detil.lengkap. setiap quote bikin jleb ..adem..terus diaduk2 duh.

    Aku g nyangka ternyata sosok kak seto yg skrg pernah mengalami masa lalu yg kelam bahkan oleh saudaranya sendiri ya.

    Menanggapi childfree agaknya g pernah tuntas jika semua mempertahankan masing2 pendapat. Jadi paling bijak adalah memahami "alasan dan pertimbangan" yang dibuat oleh pasangan yg memilih childfree.

    ReplyDelete
  13. semenjak tahu tentang innerchild dan bahayanya dikehidupan anak-anak selanjutnya jadi lebih berhati-hati lagi menyikapi anak2

    ReplyDelete

Post a Comment