Monday, January 12, 2009

Jika Ini Malam Terakhirku Bersamamu


Jika ini malam terakhirku ada di sampingmu, menjadi garwamu. Aku minta benamkan spermamu ke dalam tubuhku,biar benih itu merangsek ke seluruh ruang rahimku, hingga kumiliki duplikatmu kelak.
Jika ini malam terakhir yang aku punya untuk mendampingimu, tidak akan kubawakan fatwa-fatwa pembenaran untuk satu kesalahan fatalku itu.
Biar aku bersenggama dengan rasa sesal dan sakit yang luar biasa karena kebodohanku menghadirkan sosoknya di antara kita.

Aku tahu tak semudah menghapus jejak-jejak luka itu di hatimu. Sebongkah kepercayaan yang kau beri remuk redam karena ulahku.
Tertawalah sayang, bukankah kau ingin menertawakanku? Aku yang slalu menuntutmu menjadikanku satu-satunya bidadarimu justru kalah dalam bisikan gelora sesaat.
Malam terakhirku bersamamu itu kan kuhabiskan maluku. Iya, aku sangat malu menduakan kesetiaanmu padaku. Tak pernah habis aku bertanya, bagaimana aku sanggup melakukannya padamu.

Lantas kuingat kisah-kisah usang yang tertuang pada cangkir-cangkir masa laluku. Betapa dulu aku nyinyir melihat tak setianya ayah pada ibuku. Bagaimana ia mampu memuncratkan sperma pada perempuan mana saja yang ia mau. Begitu mudahnya melepas cinta dan setia ibu demi gelora-gelora sesaat. Aku membencinya. Juga semua lelaki yang aku yakini tak bisa setia pada satu cinta. Pun kemudian ku menyamaratakanmu dgn mereka. Meski nyatanya kini aku yang justru menjelma menjadi sosok ayahku.

Kau bilang selingkuh itu penyakit. Mungkin benar sayang. Dan warisan? Aku mewarisinya. Kini aku tahu sayang, apa yang ayahku rasakan. Kita tak butuh cinta untuk mendua. Semakin terperosok ke dalamnya, semakin ku tahu tempat terbaik untukku menetap adalah di hatimu. Begitu juga ayahku, sejauh ia melangkah, ia selalu pulang pada ibu.

Jangan menatapku seperti itu, sayang! Sudah kukatakan tadi aku tak mencari pembenaran atas kesalahanku. Tapi sungguh ini yang kemudian kudapati.

Sayangnya aku wanita yang slalu dituntut lebih setia dari lelaki. Ayah hanya mendapat cap buaya ketika ia berganti-ganti wanita sesukany, tapi toh tidak ada yang benar-benar mencibirnya. Lumrah karena ia lelaki!

Namun aku?

Tanpa harus aku kangkangkan vaginaku untuk laki-laki lain, sudah kudapatkan cap sundal darimu. Apalagi kelak bila kau benar menyeretku bertemu hakim2 itu, lontelah aku.

Sudahlah, tak perlu bicara panjang lagi tentang sakit.

Kau hanya harus tahu, jika ini malam terakhirku bersamamu, sungguh aku beruntung sempat memilikimu.


-senjaku mungkin tak q hbskn bsmamu-



(kenangan kelam.. )



0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.