Monday, August 29, 2016

Save Lagu Anak-anak, Save Karakter Calon Penerus Bangsa!



Miris. Itu yang aku rasakan melihat kenyataan bahwa dunia musik untuk anak-anak kini semakin memprihatinkan. Kalau dulu jaman aku masih kecil, telinga ini masih terselamatkan karena ada Kak Seto dan si Komo-nya, Ria Enes dan boneka Suzan-nya, Bondan Prakoso dengan Lumba-lumba, Chikita Meidi dengan Kuku-kuku, Enno Lerian Trio Kwek-kwek, Tasya, hingga Sherina. Kini, generasi anakku dicekoki dengan lagu-lagu dewasa yang berlabel anak-anak.


Penyanyi Cilik 90an
Apaan tuh lagu-lagu dewasa berlabel anak-anak? 

Ya, lihat saja deh... penyanyinya kisaran usianya masih bisa dianggap anak-anak tapi lagu yang mereka nyanyikan, isinya cinta-cintaan. Sebut saja Coboy Junior sebelum bertransformasi jadi CJR, kan masih imut-imut banget tuh, tapi lagunya.. nggak imut sama sekali. Tapi personilnya, si Iqbal, emang imut kok... eh (skip saja yang bagian ini, hehe). Misalnya saja lagu mereka yang berjudul Kamu, Kenapa Mengapa, Eeaaa, dan Demam Unyu-Unyu. Liriknya buatku nggak pantas didengar anak-anak.

CJR yang Eeeaa
Meski begitu CJR masih cukup baik lah, ada juga beberapa lagunya yang berisi motivasi dan baik didengar oleh anak-anak, misalnya lagu Terhebat, Mama, Jendral Kancil, 5 Elang atau yang terbaru salah satu soundtrack Rudy Habibie, Mata Air ya kalau nggak salah judulnya. 

Itu baru dari satu penyanyi, belum lagi kalau kita coba ngelist beberapa nama lainnya, misal band Lucky Laki besutan Ahmad Dhani. Band yang digawangi anak-anaknya Ahmad Dhani ini saat pertama kali muncul di permukaan langsung disambut khalayak ramai dengan lagunya berjudul Superman. Lagu itu mengisahkan bahwa laki-laki itu nggak boleh cengeng meski kekasih hati meninggalkannya. Apa pantas yang seperti ini diperdengarkan ke anak-anak?


Padahal fans mereka, baik CJR ataupun Lucky Laki rata-rata mulai dari anak-anak SD yang harusnya masih polos-polos, malah ada anak-anak TK juga.

Maka nggak kaget kalau sekarang banyak foto bertebaran di sosial media tentang anak-anak SD yang berpacaran kebablasan. Kalau SD sudah kebablasan, terus gimana SMP, SMA dan kuliahnya ya??? La kalau 'software' nya aja lagu-lagu bertema pacaran begini ya wajar saja kalau kemudian karakter yang terbentuk hasilnya seperti itu.

Yang paling hits dan jadi viral akhir-akhir ini adalah lagu Lelaki Kardus. Katanya sih lagu anak-anak, tapi ya Allah liriknya... enggak banget daaah! Aku sampai nggak tega kalau mau nulis liriknya di sini, yang kepo silakan googling sendiri deh. Waktu baca berita soal lagu ini dan baca liriknya sekilas, nggak pakai aku play lagunya, langsung aku hidden dari timeline Facebook biar nggak nongol-nongol lagi. Anehnya itu kok ya malah disebar-sebarin videonya, meski judulnya "Hati-hati dengan Lagu Anak Ini!". Semakin disebarin ya semakin viral, la iya kalau anak kita nggak sempat nengok, kalau sempat ikutan denger? Hiks.

Selain lagu-lagu dewasa berlabel anak-anak, generasi penerus bangsa kita juga semakin dibombardir dengan banyaknya lagu-lagu dewasa yang diputar dengan bebas di pusat perbelanjaan dan transportasi umum. Masalahnya kini lagu dewasa juga banyak yang isinya bobrok dan nggak pantas didengar anak-anak. Mungkin saja kita di rumah sudah membentengi sedemikian rupa agar anak-anak tidak mendengar lagu-lagu yang tidak pantas, namun begitu keluar rumah mereka bisa langsung terpapar dengan lagu-lagu nggak bener tersebut.

Padahal anak-anak itu perekam yang ulung. Nggak perlu sampai lima atau sepuluh kali dengar, cukup sekali dua kali kalau musiknya memang enak di telinga, anak-anak bisa langsung hafal. Kadang aku saja dibikin terbengong-bengong sama si Ifa tetiba nyanyi lirik lagu yang agak nyeleneh, waktu ditanya "dengar dari mana dik?" Dengan santainya doi menjawab "di tivi." Nah lo, padahal tivi di rumah kami nyalanya jarang pakai banget, bisa langsung terekam aja lirik nyeleneh itu sama si Ifa, bayangkan kalau anak-anak yang setiap hari dan jam terpapar tivi. 

Herannya masih banyak juga orang tua yang tidak aware terhadap hal ini. Mereka justru bangga kalau anak-anaknya hafal lirik-lirik lagu yang nggak ada 'isi'nya sama sekali, nggak ada unsur pendidikannya sama sekali. Mereka pikir, "halah cuma nyanyian ini... nggak bakal bermasalah.

Sekali-kali kita perlulah belajar tentang Neuroscience, bagaimana otak itu bekerja. Apa yang didengar, dialami, dirasakan dan diucapkan berulang-ulang akan menjadi perilaku lalu berubah menjadi kebiasaan dan kemudian membentuk karakter. Sekarang bayangkan, kalau anak-anak kita setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dan detiknya mendengar lagu-lagu seperti ini, seperti apakah karakter mereka kelak di kemudian hari?

Then, what should we do to overcome this?

Keluarga adalah benteng pertama. Let's build Indonesia strong from home kalau kata Ayah Edy. Keluarga adalah pondasi dari semuanya. Kalau di rumah dibiasakan mendengar yang baik-baik, maka insya Allah anak-anak akan terbiasa memilah mana lagu yang baik didengarkan dan tidak karena sensor rasanya diaktifkan. Ketika ada lagu yang sedikit nyeleneh mampir di kupingnya, Ifa beberapa kali komentar, "itu lagunya ndak bagus ya bunda. Aku nggak suka ah" sembari beringsut ke kamarnya. 

Batasi TV dan Gadget
Berikutnya adalah memberikan batasan jam nonton dan penggunaan gadget. Tidak bisa dipungkiri anak-anak akan lebih mudah terpapar lagu-lagu gaje alias nggak jelas biasanya kalau nggak dari televisi ya gadget. Maka sudah saatnya kita sadar akan hal tersebut. Kita tidak bisa membebaskan anak-anak untuk nonton tivi atau main gadget sesuka hati, harus ada waktu-waktu tertentu yang disepakati bersama. Misalnya, main gadget hanya di hari Sabtu dan Minggu, atau boleh setiap hari dengan batasan waktu 15 menit diawasi orang tua, nonton televisi hanya 15-30 menit dengan tayangan-tayangan tertentu. 

Namanya ikhtiar ya, terkadang hasilnya pun tidak maksimal. Namun setidaknya hasilnya akan lebih baik daripada yang tidak berusaha sama sekali membatasi anak-anaknya dari lagu-lagu gaje tersebut.

Selanjutnya, wahai orang tua...  pintar-pintarlah pilih lagu yang cocok untuk telinga anak-anak. Bukan karena sebuah lagu dinyanyikan oleh anak-anak, lagu tersebut bisa disebut sebagai anak-anak. Maka sebelum diperdengarkan kepada anak-anak, lebih baik kita dengarkan dulu lagu tersebut. Kalau dikira cocok untuk anak-anak, maka cuzz deh kasih dengar ke mereka, kalau tidak segera buang jauh-jauh ke tempat sampah, hehe.

In my opinion, lagu anak-anak itu ya seperti lagu-lagu yang dulu sering diajarkan orang  tua dan guru kita saat TK. Lagu-lagu karya pak A.T Mahmud, Pak dan Bu Kasur, atau pak Dal yang legendaris. Lirik dan lagunya sederhana, namun isinya berbobot, terbukti legendaris hingga sekarang, kan?

Meski begitu ada juga lagu-lagu anak jadul yang kadang perlu diimprovisasi karena liriknya mengandung pesan ketidakbenaran. Misalnya lagu Naik Kereta yang liriknya berbunyi, "....ke Bandung, Surabaya, bolehlah naik dengan percuma....". 

Kalau di sekolah Ifa, liriknya diganti sama bu gurunya dengan "bolehlah naik dengan membayar.." La iya to, kalau naik kereta kan nggak gratis, harus bayar baru dapat tiket, lain cerita kalau dibayarin ya :D.

Intinya meskipun lagu anak lawas sekalipun kita juga tetap harus berhati-hati sebelum mengajarkannya ke anak-anak. Lewat lagu mereka bisa dengan mudah merekam dan belajar banyak hal, jangan sampai kita mengajarkan sesuatu yang tidak benar, meski sekecil apapun. Lewat lagu kita juga bisa menumbuhkembangkan karakter-karakter baik di dalam diri anak.

tanamkan karakter baik lewat lagu yang tepat
Karena aku senang nyanyi, lagu adalah bagian penting dalam proses pengasuhan Ifa. Selain lagu-lagu lawas untuk anak tersebut, Ifa juga seringkali kuajari lagu-lagu nasional seperti Tanah Air, Bagimu Negeri, Garuda Pancasila dan lainnya. Hihi bukan sok nasionalis, berhubung dulu ibunya suka ikut tim aubade pas upacara 17an, jadi lagu-lagu macam itu terpatri di sanubari, :D

Bersyukur minggu lalu saat ikut Pelatihan Akbar Pendidikan Karakter untuk anak Usia Dini, aku kebagian stok CD Mp3 lagu-lagu anak dari Indonesia Heritage Foundation (IHF). Lagu-lagunya enak didengar, liriknya mudah dihafal dan yang pasti isinya berbobot banget. Meski sederhana, namun secara tidak langsung anak-anak dibentuk karakternya saat mendengar lagu-lagu tersebut.

Beberapa contoh lirik lagu dari IHF tersebut antara lain;

Bersyukurlah Kepada Tuhan
Yang t’lah memberi Banyak ni’mat-Nya
Bersyukurlah Kita bisa makan yang enak
Bersyukurlah Kita masih bisa bernapas
Bersyukurlah Tubuh kita kuat dan sehat
Bersyukurlah Atas anugrah Yang Kuasa

***

Ting Ting Tong… Suara jam berbunyi
Ting Ting Tong… Itu tanda waktu
Ting Ting Tong 2x..
Anak yang disiplin slalu tepat waktu
Ting Ting Tong… Saatnya makan
Ting Ting Tong… Saatnya Tidur
Ting Ting Tong… Saat Bermain
Ayo disiplin mengatur waktumu

***
Yang berkata bijak itu anak keren
Yang berkata bijak pasti banyak teman
Yang berkata bijak bicara menyenangkan
Yang berkata bijak tak pernah menyakitkan

Ifa pun sekarang jadi hobi mendengarkan lagu-lagu tersebut dan alhamdulillah cukup baik pengaruhnya. Lagu kesukaannya yang Ting Ting Tong. Gara-gara lagu ini Ifa tanpa disuruh mulai tahu kapan saatnya makan, tidur dan bermain. Lagu bersyukur juga mengingatkan Ifa untuk mulai belajar sholat dengan lebih rajin. 

Sayangnya lagu-lagu ini tidak bakal ditemukan di televisi karena memang tidak didistribusi secara luas. Lagu-lagu tersebut merupakan rekomendasi bahan ajar 9 pilar karakter anak yang dibuat oleh tim IHF. 

Selain lagu-lagu tersebut di atas, kita juga bisa lo buat lagu sendiri. Nggak harus bisa main musik kok. Pakai saja lagu yang sudah ada tapi kita buat lirik baru yang sesuai dengan anak-anak. Misalnya waktu pelatihan kemarin, salah satu narasumber ngajarin kita lagu yang temanya tentang kemandirian. Dinyanyikan pakai nada soundtracknya Doraemon, tapi liriknya diganti seperti ini "Aku bangun sendiri, lalu mandi sendiri, selanjutnya aku pakai baju sendiri. Semua, semua, semua kulakukan sendiri, karena aku adalah anak yang mandiri. La la la, aku bangga menjadi anak mandiri."

Teman-teman ada rekomendasi lagu anak yang oke nggak nih? Share yuk dimari! Selamatkan lagu-lagu anak demi terwujudnya generasi emas Indonesia!







26 comments:

  1. wah, keren ulasannya^^ aku juga prihatin mbak ma lagu2 sekarang, sama sekali ga ada yg produksi lagu anak2 kayak zaman kita dulu ya mbak :( ^berasa satu zaman krn familiar penyanyi2 th 90-an, haha^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya emang sezaman kita ya, hehe. Iya mbak harus lebih kreatif cari lagu yang bagus untuk anak-anak. Sebenarnya ada beberapa yang produce, tapi nggak disebar di media, jadi ya yang tahu hanya segelintir orang saja.

      Delete
  2. Ih, mau dong koleksi mp3 lagu anak anaknya...
    Kalau bisa vua email hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gede banget nih kayanya, ada 40 lagu, coba nanti kalau bisa dikompres ya... Btw, apa emailnya mbak?

      Delete
  3. Wuah..lengkap banget mba ulasannya dan setuju sekali lagu anak kini sangat memprihatinkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, harus dimulai dari diri sendiri ya mengubah kondisi ini :)

      Delete
  4. Lagu yang kurang pas dan kurang pantas bisa menimbulkan asosiasi tertentu bagi anak-anak ya.
    "Aku nyidam penthol..penthol..penthol kang ono mi ne.." Wah anak-anak bisa cekikikan tuh.
    Mari kita selamatkan lagu anak-anak
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya tu pakdhe bahaya yg artinya nyrempet2 saru gitu :(

      Salam dr Semarang, mari selamatkan anak2 :)

      Delete
  5. anak2ku masih aman dari lagu2 begitu, justru kecolongannya sama mars partai yg tiap menit nongol di iklan2 itu, hahahaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah itu bahaya jg.. Bisa2 lama2 nggak tahu Indonesia Raya tp malah hafal mars partai ya :D

      Delete
  6. Anakku termasuk beruntung kenal dengan lagunya Joshua, Tasya, sherina. Lah kok sama dengan dirimu, Rit, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. Klo joshua dkk jamannya adik sih mbak Wati. Klo aku sih trio kwek2 dkk :D

      Delete
  7. Setuju mba. save lagu anak-anak, merupakan salah satu langkah awal menyelamatkan masa depan anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk mari bergandeng tangan demi generasi emas :)

      Delete
  8. Wah... Saya juga kepingin lagu-lagu anak dari IHF, mbak. Suka miris kalo lihat balita fasih hafal nyanyi lagu sakitnya tuh disini, atau lagu ost sinetron abg di tipi. Kalo berkenan, bisa kirim ke email saya ya, mbak. isna.ibiz@gmail.com Makasih banyak, mbak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap mbak.. Nanti aku coba kompres dulu file nya ya :)

      Delete
  9. harus bayar ya kalau naik kereta, bener bener

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe la iya kan.. kecuali dibayarin atau dapat tiket gratis :D

      Delete
  10. itu lagu lelaki kardus , sampe skr aku ga minat utk cari tau mbak.. cuma baca aja kalo ini lagu ga bgs didenger, yo wis, akupun males ngedengerin ;p.. susah memang cari lagu anak2 ygbaik.. anakku aja akhirnya denegrn lagu anak2 yg bhs inggris lwt youtube.. ato aku dgrin lagu anak jaman dulu... kalo lbh rajin, malah kdg aku improvisasi sendiri, nyanyi asal, pake lirik bikinin dan musik karangan ;p.. mau nyambung kek, yg ptg liriknya bener ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget tuh mbak.. kudu selektif :)

      Delete
  11. Tau nggak sih mba, dulu tuh aku sebeeeel banget sama CJR ini. Liat lagak mereka di atas panggung dan liriknya apalagi. Eh sampai suatu ketika ada realiti show, di mana salah seorang personelnya diliput kesehariannya. Duh saya meleleh ngeliat si Bastian, ternyata lengket banget sama mamanya hihihi.

    Andaikan mereka mengusung lirik lagu yang sesuai usia mereka ya, hehe ngarep.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. mereka sebenarnya anak-anak yang tetap unyu kok. Bastian yang selalu lengket sama mamanya, si Iqbal yang punya cita-cita jadi ustad, si Kiki yang jadi tulang punggung keluarga. Cuma ya karena sudah masalah industri, produser mereka nggak mikir lagunya oke nggak buat anak seusianya, yang penting dapat untung :(

      Ya beruntungnya kalau CJR masih punya beberapa lagu yang cukup berbobot sih... ada beberapa yang aku suka, kaya yang Terhebat sama soundtrack-nya Rudy Habibie.

      Delete
  12. Sayangnya di grup save lagu anak. Sherina belum kelihatan, lagi di jepang dia. Padahal kangen banget sama Sherina.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya ya mas, aku malah nggak ngeh. Aku aja baru tahu ada gerakan #SaveLaguAnak justru setelah nulis postingan ini :D

      Delete
  13. Lagu anak yang aku ingat malah dari kartun jepang yang di artikan ke Indonesia jaman dulu awal th 2000 an , banyak bagusnya .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wehehe.... aku malah nggak begitu ngeh :D

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.