Saturday, September 10, 2016

7 Manfaat Laporan Keuangan untuk Seorang Blogpreneur




Hi, pals. 

Sedang sibuk persiapan mudik atau liburan kah? Aku sih teteup di rumah saja as usual, hehe. Tadi sempat keluar ke swalayan, wow, jalanan padat merayap. 

By the way, nggak kerasa One Day One Post session Agustus - September sudah mau berakhir nih. Tinggal hari ini dan besok dengan tema yang sama-sama menarik, khususnya hari ini. Mbak Ani Berta nantangin kita untuk nulis mengenai penting nggak sih laporan keuangan untuk seorang blogpreneur.

Haduh, masalah keuangan sering banget ya bikin rambut yang tadinya nggak keriting tiba-tiba jadi kriwil. Apalagi buat wanita yang biasanya mau nggak mau jadi menteri keuangan di rumah tangganya. Ditambah kalau punya suami yang pengennya tahu beres, aku kasih segini, cukup nggak cukup kudu cukup, wadaw... tuing tuing dah.  Namun, di situlah seninya ya.


Aku sih nggak jago-jago amat ngurusin keuangan. Terbukti masih sering nggak balance antara pendapatan dan pengeluaran, hehe. Cuma kalau dipikir-pikir juga jadi heran sendiri, yang kemudian jadi meyakini bahwasanya matematika Allah dan manusia itu memang jauh berbeda. Meski begitu bukan berarti langsung pasrah tanpa ikhtiar dong ya, pasrah itu harus aktif, ada usaha, jadi ya tetap tiap hari berusaha memperbaiki bagaimana handling finance yang baik.

Aku sendiri sejak SMA terpaksa jadi menteri keuangan di keluarga. Dikarenakan ibu jatuh sakit dan sempat dirawat di rumah eyang di Semarang, sedang aku masih harus stay di Salatiga. Ibu mempercayakan penuh uang pensiun beliau dan gaji bapak kepadaku. Jadi kaya dapat training mengelola keuangan gitu deh. Mulai bayar PAM, PLN, Telkom, ngasih gaji buat mbak yang bantuin di rumah, sampai ngurusin uang belanja harian dan uang saku untukku sendiri serta adikku.

Puyeng? Ya iyalah! Sementara anak-anak yang lain asyik ini itu, aku harus berkutat dengan amplop-amplop yang isinya kewajiban A-Z. Tapi dari situlah aku belajar bertanggungjawab. Aku jadi paham bagaimana susahnya orang tua cari uang dan aku nggak boleh enak-enakan aja. Alhamdulillah, masa training itu tidak lama. Ibu akhirnya kembali ke Salatiga dan aku tidak lagi harus full memegang tanggung jawab keuangan keluarga tersebut.

Setelah jadi istri harusnya pengalaman saat SMA itu jadi motivasi yang besar agar aku bisa mengatur keuangan keluarga kecilku dengan lebih baik. Nyatanya aku merasa masa training-ku saat SMA justru lebih baik daripada saat aku sudah berkeluarga. Mungkin karena dulu yang aku kelola uang orang tua, jadi tanggung jawab dan bebannya lebih besar. Sedangkan saat berkeluarga aku ngurus duit-duitku sendiri dan suami, jadi kadang suka slengekan. Akhirnya buku kas yang sudah aku beli cuma betah kuisi sampai 5 atau 6 bulan pertama setelah pernikahan, selebihnya kosong mlompong. #TepokJidat

Manajemen Amplop, Credit by Yusran Yunus
Namun untuk mempermudah memposisikan uang yang akan kami keluarkan, aku tetap memelihara kebiasaan 'amplop'. Aku siapkan beberapa amplop kecil yang di depannya sudah kutulis jenis-jenis kebutuhan dan budgetnya. Trik amplop ini membantuku untuk tidak mencampuradukkan uang untuk satu pos dengan pos yang lain. Meski kadang dalam perjalanannya terjadi juga mix and match itu.

Blogpreneur dan Laporan Keuangan

Wui, sedap banget bahasanya, blogpreneur! Kalau dipecah berarti terdiri dari dua kata; blog/ blogger dan entrepreneur. Secara awam bisa diartikan bahwasanya seorang blogpreneur adalah seseorang yang usahanya berjalan di bidang blog alias orang yang dapat duit dari ngeblog. 

Dengan apa yang aku jalani sekarang kok sepertinya aku belum pede ya menyandang blogpreneur di pundakku. Kayanya masih terlampau tinggi. Kalau seperti teh Ani Berta, cikgu Haya Aliya Zaki dan Mbak Shintaries pantaslah mereka disebut sebagai blogpreneur. Aku mah apa atuh? Job review juga masih dapat sebiji dua biji, hehe.

Tapi kemudian aku jadi ingat pesan mbak Ollie Salsabeela di sebuah acara workshop menulis, banggalah dengan profesimu! Saat itu mbak Ollie bertanya siapa yang di sini sudah merasa layak disebut penulis. Eng ing eng... peserta pelatihan langsung terdiam dan tak berkutik. Padahal sebelum pertanyaan itu dilontarkan, mbak Ollie sempat bertanya kesibukan masing-masing dan sudah pernah menulis apa, beberapa dari kami pun menjawab; ada yang ngeblog, ada yang sudah punya antologi, ada yang karyanya sudah tayang di media massa. Namun ketika pertanyaan "siapa yang di sini merasa layak disebut penulis?" diceploskan, riuh rendah suara peserta menghilang bagai ditelan bumi.

Mbak Ollie senyum deh sembari mengingatkan, "tadi katanya sudah punya blog, sudah punya antologi, sudah pernah nulis untuk media massa, kok belum berani menyatakan diri sebagai penulis?" Ditutuplah dengan wejangan; penulis itu adalah orang yang telah menghasilkan karya tulisan dan karyanya sudah dibaca oleh orang lain, meskipun yang membaca cuma seorang dua orang. Orang nulis SMS itu penulis, kan SMS nya dibaca sama yang nerima. Orang nulis status FB itu penulis, kan statusnya dibaca sama orang, apalagi kalau kemudian di-like dan di-share oleh orang lain. Apalagi orang yang sudah punya blog dan antologi, pastilah penulis!



Dari situ kemudian aku mencoba membangun mentalku bahwasanya; ya, aku seorang blogpreneur. Aku punya blog, aku belajar untuk rajin update artikel untuk blog-ku, aku punya pengunjung yang mau baca apa yang aku tulis meski belum banyak traffic-nya, dan aku mendapat penghasilan dari blog ini meski belum seberapa. 

Nah, setelah menyadari bahwa aku telah memasuki dunia blogpreneur, selanjutnya apa? Sebagai bagian dari entrepreneur, tentunya penting bagiku untuk memiliki laporan keuangan yang terpisah dari laporan keuangan rumah tanggaku. Jika blog ini dijadikan sebagai ladang usaha yang profesional, maka sudah sepatutnya aku mencatat apa-apa yang kudapat dari blog ini dengan lebih tertata rapi.

Kemarin-kemarin sih aku belum terlalu aware akan hal ini. Kalau dapat job dan uangnya ditransfer ya senang saja habis itu dipakai buat beliin anak mainan atau ntraktir suami makan, hehe. Tapi jika kebiasaan itu diteruskan bisa berabe juga ya. Aku jadi nggak ngerti berapa banyak pendapatan yang telah kudapat dari blog dan kukeluarkan untuk apa saja. 

Gara-gara ditantangin nulis tentang penting nggak sih laporan keuangan untuk seorang blogpreneur, aku jadi mikir-mikir dan menyimpulkan bahwa ternyata setidaknya ada tujuh manfaat yang bisa kita dapatkan dari proses pembuatan laporan keuangan.

Manfaat Laporan Keuangan untuk Blogpreneur

1. Untuk mengetahui cash flow

Kalau kita nggak pernah mencatat dengan rinci apa saja yang telah kita dapat dari ngeblog dan uangnya dialirkan ke mana, uang jadi berasa mampir sebentar di rekening terus tanpa pamit pergi entah ke mana. Ujung-ujungnya kita akan bertanya-tanya "kemana, kemana, kemana.... ", hehe. Itulah kenapa penting banget bagi seorang blogpreneur untuk mencatat berapa saja yang telah dia dapatkan setiap hari atau bulan dan kalau dikeluarkan, uangnya dipakai untuk apa.

Dari catatan ini kita bisa tahu cashflow atawa aliran kas dari pendapatan ngeblog ini larinya kemana. Apakah semua diinvestasikan, apakah ikut arus shopping nggak jelas, apakah untuk beli buku, apakah untuk optimasi ngeblog - beli template, header dan sebagainya. Kita juga bisa tahu apakah pendapatan kita balance dengan pengeluaran, surplus atau malah merugi?

Cuma Fiktif, bukan sebenarnya, hehe

Dikarenakan sekarang aku sudah mulai kaku pegang bolpoin, aku sih lebih senang membuat laporan keuangan di Microsoft Excel. Berhubung bukan uang keuangan, aku juga nggak ribet-ribet banget sih. Cuma ada kolom no, tanggal, keterangan, debet, kredit dan saldo. 

2. Untuk mengetahui keberhasilan ngeblog dari sisi materi

Laporan keuangan juga membantu kita untuk mengetahui sudah seberapa sukseskah kita sebagai seorang blogpreneur dari sisi materi. Karena ini soal hitung-hitungan materi, maka semakin banyak pendapatan yang kita dapat dari ngeblog, maka semakin sukseslah kita sebagai seorang blogger. Tentu saja selain materi, masih banyak ukuran kesuksesan untuk seorang blogger ya.

Credit by Cara Shop
Misalnya bulan ini kita bisa dapat lima ratus ribu rupiah dari ngeblog, bulan depan meningkat jadi sejuta dan bulan berikutnya meningkat lagi jadi dua juta, maka bisa disimpulkan bahwa secara materi kita telah sukses sebagai seorang blogpreneur.

3. Untuk mendokumentasikan pendapatan yang didapat dari ngeblog

Dikarenakan ngeblog masuk dalam wilayah usaha freelance, pendapatan yang kita peroleh seringkali tidak tetap alias fluktuatif. Bulan ini bisa saja kita dapat banyak job sehingga pendapatannya melimpah ruah, bulan depan kosong, bulan berikutnya baru panen job lagi. Kalau kita nggak pernah membuat laporan keuangan, akhirnya kita tidak akan punya dokumentasi pendapatan apa saja yang telah kita raih dari ngeblog. 

Credit by Sulitnih 
Dokumentasi pendapatan ini juga bisa membantu kita untuk mengevaluasi rate card. Misalnya tahun lalu kita pernah dapat job review sekian ratus kata dengan syarat A-F dan dihargai sekian ratus ribu, saat tahun ini mendapat job sejenis kita bisa tahu berapa seharusnya kita nego dengan pihak pemberi job.

4. Untuk memotivasi diri agar terus lebih baik

Laporan keuangan juga memotivasi kita untuk lebih semangat dalam berkarya. Tentu senang dong kalau lihat laporan keuangan yang memaparkan betapa kita telah menggendutkan rekening kita lewat ngeblog? Mau nggak mau pasti kita akan semakin semangat untuk update blog dengan artikel-artikel yang lebih bermanfaat dan banyak dicari orang. Semakin kita rajin update blog, semakin banyak orang yang tahu blog kita dan semakin banyak agensi yang mencari kita untuk bagi-bagi rupiah. Aamiin.

5. Untuk menetapkan target bulanan

Bagi yang ingin benar-benar serius memantapkan diri di dunia perbloggingan dan hanya fokus pada dunia ini sebagai ladang usaha, sebuah laporan keuangan bisa menjadi catatan untuk menetapkan target bulanan di bulan berikutnya. Misalnya di laporan keuangan bulan Juli tercatat kita telah mendapat 10 job review, 5 job nge-tweet dengan pendapatan sekian, maka kita akan menargetkan setidaknya di bulan Agustus bisa mendapat job dengan nominal yang sama.

Credit by Flobamora
Target bulanan ini juga akan membantu kita untuk memotivasi diri sendiri agar ngeblognya semakin semangat dan tidak asal-asalan. Ya, kalau asal-asalan nggak bakal ada job yang menghampiri kan? 

6. Untuk menyiapkan investasi

Sebagian besar blogger, khususnya momblogger, mengawali karir (ceile) di dunia perbloggingan dikarenakan mengikuti passion dan hobi. Oleh karenanya seringkali kita tidak memfokuskan blogging sebagai ladang usaha yang utama, namun hanya sebagai sebuah iseng-iseng berhadiah. Dapat job alhamdulillah, nggak dapat juga nggak apa-apa, pokoknya mah blogging dan berkarya jalan terus. 

Apalagi kalau momblogger yang juga masih dinafkahi suami, tentunya pendapatan dari blog bukan hal utama. Namun dengan rajin membuat laporan keuangan, kita akan terbantu untuk mengetahui berapa banyak yang telah kita dapatkan dan bagaimana seharusnya kita alokasikan pendapatan tersebut.

Credit by SlideShare

Dikarenakan bukan ladang usaha yang utama, ada kemungkinan bahwa pendapatan ngeblog seharusnya tidak diutak-atik untuk keperluan belanja dan bayar kebutuhan ini-itu, kalaupun diutak-atik mungkin untuk keperluan pribadi seperti beli lipen, bedak atau buku. Jika tidak tercatat dengan rapi, pengeluaran-pengeluaran kecil ini bisa membengkak dan tidak terkontrol. Bukankah lebih baik jika pendapatan dari ngeblog ini dijadikan sumber investasi. Entah kita masukkan ke rekening khusus untuk tabungan pendidikan anak, atau tabungan haji atau tabungan wisata, yang pasti bisa kelihatan hasilnya di kemudian hari; ini lo yang aku dapat dari ngeblog.

7. Untuk membahagiakan diri sendiri

Manfaat terakhir yang didapat dari laporan keuangan adalah kebahagiaan yang timbul setelah menatap hitungan angka-angka yang tersusun rapi tersebut ternyata hasilnya balance atau malah surplus. Kalau laporan keuangannya justru merugi ya bisa jadi meringis ya, hehe. Namun yang pasti dengan mencatat pendapatan yang kita peroleh dari ngeblog bisa menjadikan kita bahagia karena ternyata kita masih bisa berpenghasilan meski tidak ngantor seperti yang lain. 

Untuk menambah kebahagiaan tersebut agar semakin berlipat tentu saja jangan lupa untuk mengambil sebagian rezeki yang kita dapat dan kita bagikan untuk orang lain, entah itu ke saudara yang sedang membutuhkan, ke anak yatim atau kita sumbangkan untuk membangun rumah peribadatan.

Credit by Limited Shop
Wah, nggak nyangka ya ternyata di balik njlimetnya sebuah laporan keuangan untuk seorang blogpreneur tersimpan banyak manfaat yang tak terbayangkan sebelumnya. Ini jadi reminder buat diriku sendiri agar lebih serius dan profesional untuk menjadi seorang blogger. Meski begitu jangan sampai terpaku dengan laporan keuangan sampai lupa update blog dengan karya-karya yang bermanfaat ya, pals.

Terus berkarya dan jangan lupa bahagiakan diri sendiri! Salam semangat!





15 comments:

  1. Aku dulu pas masih gadis pernah pakai manajemen amplop tapi gagal gara-gara nggak konsisten. Kalau sekarang sih bikin laporannya masih pakai catatan manual alias ditulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konsistensi itu memang yang susah2 gampang ya mbak... :D

      Delete
  2. Nice artikel mba...aku suka, insyaallah aku mau nerpkan ah, karena memang penghasilan dr blog masih remah remah jadi dia datang dan pergi sesuka hati jiaahh...oke mks sarannya mbayu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah mbak.. ternyata memang sekecil apapun harus dicatat biar terdokumentasi dengan baik :) Sama2 mbak, semoga bermanfaat.

      Delete
  3. Setuju mba. Walau sebiji dua biji perlu dicatat. Supaya ga kaget kalo udah jadi sekebun dua kebun. Ahe!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiiik.. aamiin... Hayuklah kita panen :D

      Delete
  4. Manfaatnya bisa jangka panjang kan Mba? Hehehehe
    Transaksi sekecil apa pun wajib dicatat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Btw, makasih ya mbak tema ODOP nya jadi bikin sadar betapa pentingnya buat laporan keuangan :)

      Delete
  5. wah, transaksi apapun memang perlu di catat sih buat laporan keuangan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum, mbak... biar terdokumentasi dengan baik :)

      Delete
  6. Wahh...mantap ilmunya mba Marita. Jadi pengen fokus ngeblog bukan sekedar iseng2 aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walah.. sama2 belajar mbak.. seneng kalau bisa bermanfaat...

      Ayooo... kita sama2 fokus :)

      Delete
  7. Wahh...mantap ilmunya mba Marita. Jadi pengen fokus ngeblog bukan sekedar iseng2 aja

    ReplyDelete
  8. aku nih termasuk rajin nyatet di note smartphone pendapatan apa aja dr ngeblog dan nulis. bahkan pas ikutan event blog dapet doorprice aja kucatet, rajiinnyyaaaa hahahahaha.

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.