Friday, September 2, 2016

Yuk Belajar Teknik Pengaliran 9 Pilar Karakter!


Hari ini tema One Day One Post-nya bebas, jadi aku mau meneruskan membayar hutangku pada teman-teman untuk berbagi mengenai materi Pelatihan Akbar "Praktik Pendidikan Karakter dan Pendekatan Saintifik yang Sukses Membangun Karakter, Daya Pikir Kritis dan Kreativitas Anak."

Setelah postingan sebelumnya mengupas tuntas mengenai materi pertama, Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini. Kini aku akan mencoba membagikan materi mengenai Teknik Pengaliran 9 Pilar Karakter. Inti dari materi ini adalah bagaimana teknik mengajarkan 9 pilar karakter dalam pembelajaran di kelas ataupun di kehidupan keseharian. Meski materi ini sebenarnya ditujukan kepada para pendidik, tidak memungkinkan bagi para orang tua untuk belajar mengenai hal ini, sehingga bisa dipraktekkan di rumah dalam proses pengasuhan anak-anaknya. 

Pada saat pelatihan, materi ini disusun dalam tiga sesi, sesi pertama penjabaran mengenai 3 karakter pertama (Pilar 1 - 3) oleh Ibu Rahma Donna, sesi kedua penjabaran mengenai 3 karakter kedua (Pilar 4 -6) oleh Pak Halim dan sesi ketiga mengenai 3 karakter terakhir dan K4 (Pilar 7 - 9 dan K4) oleh Mbak Triyani. Namun aku akan merangkumnya menjadi satu postingan.

Bagi yang masih bertanya-tanya apa itu 9 pilar karakter, bisa tengok postinganku yang berjudul "Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti Sejak Dini di Sekolah lewat Penanaman 9 Karakter". 

Sejatinya teknik pengaliran 9 pilar karakter yang diperkenalkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF) sejak tahun 2000 sejalan dengan esensi kurikulum 2013. Seperti yang kita ketahui sebenarnya 80 persen inti dari kurikulum 2013 adalah pendidikan karakter. Sayangnya banyak pihak, baik dari sisi pendidik maupun orangtua, belum benar-benar mengetahui positifnya K-13, akhirnya banyak yang bilang kurikulumnya sulit dan lain-lain. 

Sebenarnya hal tersebut sangat disayangkan. Apalagi ada isu bahwa menteri yang baru akan mengembangkan kurikulum baru. Kalau itu memang benar adanya, sedih sekali. Kenapa tidak menjalankan K-13 dulu secara optimal dan melihat hasilnya baru dievaluasi kembali. Aku lihat selama ini K-13 belum berjalan secara optimal karena banyak pendidik yang masih kesulitan menjalaninya, terutama pendidik-pendidik di wilayah sekolah negeri. K-13 memang membutuhkan lebih banyak effort dibanding kurikulum sebelumnya, jadi kalau banyak guru yang bilang susah dan ribet ya benar. Tapi untuk guru-guru yang bekerja di sekolah yang telah menjalankan kurikulum berbasis karakter dan multiple intelligences, K-13 bukan lagi hal yang baru.


9 pilar karakter sejalan dengan KI-1 dan KI-2 yang dicanangkan oleh pemerintah lewat Kurikulum 2013. KI-1 sendiri fokus pada pendidikan spiritual yang termaktub pada pilar 1, sedangkan KI-2 fokus pada nilai-nilai sosial yang terjabarkan pada pilar 2 - 9 dan K4.

Tujuan Penanaman 9 Pilar Karakter

Di setiap metode pengajaran pasti ada tujuan yang melatarbelakanginya, begitu pula dengan metode 9 pilar karakter ini. Tujuan dari penanaman 9 pilar karakter ini adalah untuk membuat anak mencintai kebaikan, artinya menstimulasi anak untuk melakukan hal-hal positif dengan senang hati, bukan karena paksaan ataupun ancaman. 

Setelah anak mencintai kebaikan, diharapkan akan tumbuh anak-anak yang bermanfaat bagi sesama. Yaitu anak-anak yang selalu melakukan nilai tambah setiap harinya. Selain itu melalui penanaman 9 pilar karakter ini diharapkan akan menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan pada diri anak, sehingga anak memiliki inisiatif untuk melakukan kebaikan. Ketika inisiatif ini muncul, maka anak akan otomatis melakukan hal-hal baik karena kebutuhan bukan karena disuruh oleh orang tua atau gurunya.

Untuk mengalirkan 9 pilar karakter dalam pembelajaran di kelas ataupun proses pengasuhan dalam keseharian tidak harus membutuhkan hal-hal yang besar kok. Cara-cara sederhana dan kecil yang terus dilakukan secara kontinyu akan melahirkan kebaikan demi kebaikan. Maka dari itu untuk bisa menanamkan karakter pada anak dibutuhkan guru dan orang tua yang istiqomah alias konsisten dalam menjadi role model atau panutan.

Jangan sampai kita mengajarkan anak-anak tentang kedisiplinan, namun dalam keseharian kita menunjukkan sebagai pribadi yang suka menunda-nunda sholat misalnya, atau sering datang ke sekolah dengan terlambat. Tentunya anak akan mencatat dalam pikiran mereka bahwa apa yang kita ajarkan hanya sekedar teori tanpa bukti.

Seperti Apakah Pendidik Karakter?


Untuk menjadi pendidik yang menanamkan karakter pada diri anak-anak, maka sudah sewajibnya kita menjadi pendidik yang juga berkarakter. Pendidik di sini bukan hanya guru ya, tapi juga orang tua. Karena orang tua lah yang justru memiliki porsi utama dalam bertanggung jawab pada pendidikan anak-anak mereka, sekolah dan guru hanyalah mitra orang tua, jadi sungguh tidak bijak jika orang tua melemparkan tanggung jawab seratus persen kepada sekolah.



Kunci pendidikan karakter terletak pada role model atau tauladannya. Maka wajib bagi orang tua dan guru untuk lebih dulu menanamkan karakter-karakter baik di dalam dirinya sebelum mengajarkan kepada anak-anaknya.

Namun bukan berarti kita harus menjadi manusia sempurna untuk bisa menjadi orang tua dan guru yang bisa mencetak anak-anak berkarakter. Pendidik berkarakter hanyalah manusia biasa. Bedanya kita harus mau terus belajar untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih baik dari sebelumnya. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi paham.



Guru dan orang tua yang berkarakter yaitu sosok-sosok yang mampu memumbuhkan emosi positif; mengajar dan mengasuh dengan cinta, penuh kasih sayang, memberi perhatian/ berempati, selalu memperbaiki diri, menuju kesempurnaan karakter dan sabar (ikhlas dan kreatif) dalam mendidik/ mengasuh anak-anaknya.

Nah, kira-kira kita sudah punya ciri dari orang tua dan guru berkarakter belum ya?

Proses Pengaliran 9 Pilar Karakter


Ada dua cara pengaliran karakter yaitu dengan cara khusus dan terintegrasi. Cara khusus membutuhkan waktu terpisah untuk menguatkan terbentuknya karakter tersebut. Untuk melaksanakannya proses ini di dalam kelas atau di rumah biasanya kita membutuhkan waktu 10 - 20 menit setiap harinya. Satu pilar bisa dijabarkan dan diulang-ulang selama satu minggu agar lebih kuat tertancap di jiwa anak.


Untuk mengalirkan 9 pilar karakter dengan cara yang khusus, ada tiga tahapan yang harus dilakukan oleh para orang tua dan guru; 



Pertama, mengajak anak untuk mengetahui makna dan alasan mengapa mereka harus memiliki karakter tersebut. Setelah anak diajak mengetahui makna dan alasannya, selanjutnya anak-anak diajak untuk merasakan bagaimana jika karakter tersebut sudah dimiliki oleh mereka. Tahapan ini disebut sebagai "knowing - reasoning - feeling".

Tahapan ini biasanya diawali dengan menjelaskan konsep pilar yang akan dipelajari lalu dilanjutkan dengan membacakan cerita dengan buku atau boneka tangan yang berkaitan dengan karakter tersebut. Setelah cerita selesai dibacakan, ajak anak-anak untuk berdiskusi tentang cerita tersebut. Lalu akhiri dengan memberikan anak-anak pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka adalah jenis-jenis pertanyaan yang bisa menstimulasi daya nalar/ berpikir anak. Bukan sekedar pertanyaan yang jawabannya sekedar iya atau tidak, atau sesuatu yang jika ditanyakan pada tiap anak akan mendapat jawaban yang sama.



Contoh tahapan ini; kita akan mengajak anak untuk memahami makna disiplin. Jelaskan pada anak bahwa disiplin adalah anak yang pintar mengatur waktunya, melaksanakan aktivitas pada jam-jam yang seharusnya - kapan harus bangun, makan, tidur, sholat dan sebagainya. Lalu bacakan cerita yang berkaitan dengan disiplin. Kita bisa menggunakan buku cerita sebagai sumber atau mengarang sendiri sesuai kreativitas kita. Misalnya kisah tentang Po si Panda yang suka sekali bangun kesiangan sehingga ia ketinggalan bis sekolah, karena ketinggalan bis akhirnya ia pun terlambat ke sekolah. Karena terlambat ke sekolah ia tidak mengikuti pelajaran kesenian kesukaannya. Setelah cerita selesai kita sampaikan, ajak anak untuk berdiskusi dengan menanyakan beberapa pertanyaan seperti "kenapa Panda terlambat ke sekolah, nak?", "apakah sikap Panda baik ditiru, kenapa?", "lalu sebaiknya bagaimana?" Dan beragam pertanyaan lain yang bisa mengasah daya nalar anak.

Contoh Pertanyaan Terbuka
Kedua, mengajak anak untuk melakukan pilar karakter yang diajarkan, lalu ajak anak untuk menyadari alasan mengapa mereka harus memiliki karakter tersebut, kemudian biarkan anak-anak merasakan manfaat dari karakter tersebut. Tahapan ini disebut "acting - reasoning -feeling".



Inti kegiatannya sama dengan tahap pertama, bedanya di sini anak-anak diajak untuk simulasi atau praktek langsung, tidak hanya sekedar duduk mendengarkan cerita. Misalnya, kita akan mengajak anak tentang makna kesatuan. Kita bisa dengan mengajak anak-anak untuk menyusun lego bersama-sama. Setelah lego tersusun menjadi gedung yang tinggi, ajak mereka untuk menghancurkannya. Lalu ajak seorang anak untuk menyusun lego itu sendirian hingga menjadi gedung yang tinggi seperti sebelumnya. Biarkan anak-anak menarik kesimpulan apa bedanya menyusun lego bersama dengan menyusun lego sendirian. Mana yang lebih cepat dan mana yang lebih baik.

Ketiga, melakukan afirmasi. Afirmasi yaitu penguatan dari dua tahapan pengaliran yang telah dilakukan. Afirmasi ini biasanya dilakukan lewat tepuk, nyanyian, yel dan membuat poster. Biasanya menyanyi menjadi proses afirmasi yang paling disukai anak-anak. Apalagi jika disertai lagu-lagu dari IHF yang oke punya. Sederhana, enak di telinga, mudah dihafal dan penuh makna. Buat teman-teman yang tertarik untuk memiliki lagu-lagu IHF, bisa mengunduh lagu-lagunya di sini.

Cara pengaliran karakter selanjutnya yaitu cara terintegrasi. Dimaksud sebagai cara yang terintegrasi karena proses ini tidak memerlukan waktu yang khusus, melainkan menyatu dengan proses pembelajaran dan pengasuhan sepanjang hari. 

Untuk pelaksanaan di sekolah biasanya dimasukkan ke dalam kegiatan inti. Sedangkan baik di rumah maupun di sekolah, cara terintegrasi ini dimaksudkan sebagai proses pembiasaan. Maka sepanjang hari anak harus diberi pengingatan dan penghargaan terhadap karakter yang sudah berhasil mereka lakukan, bisa dilakukan lewat pujian. 


Jika biasanya kita melakukan pujian dengan cara menggunakan kata-kata umum yang terlalu luas, misalnya "terima kasih, nak, sudah jadi anak pintar" atau "terima kasih anak sholih". Untuk bisa menanamkan karakter dengan kuat, maka kita perlu memberikan pujian yang lebih spesifik. Misal, anak kita sudah bangun awal tanpa kita bangunkan sebelumnya. kita bisa berikan pujian "alhamdulillah, kak Ifa sudah jadi anak yang disiplin, bangunnya tepat waktu lo. Kak Ifa juga anak yang mandiri karena bisa bangun sendiri tanpa harus dibangunkan bunda." Dan sebagainya.

Untuk bisa mengalirkan karakter lewat cara terintegrasi ini kita harus siap-siap buka mata, buka telinga, dan buka hati kita. Diperlukan konsep berpikir yang positif dalam melihat semua tingkah laku anak. Tangkap kebaikan anak sebanyak-banyaknya dan berikan apresiasi positif dan manfaat atas kebaikan yang telah dilakukannya. 



Misalnya anak tanpa sengaja menumpahkan telur saat ia mencoba untuk memecahkannya ke dalam wadah dan mengocoknya sendiri sebelum digoreng. Seringkali kita hanya fokus pada keburukan anak yaitu telur yang tumpah, mengotori lantai dan meninggalkan bau amis. Jika kita fokus pada keburukan anak, yang ada anak akan merasa takut untuk melakukan hal tersebut di lain hari. Takut dimarahi dan takut gagal.

Sebaiknya sebelum kita fokus pada hal tersebut, kita apresiasi dulu kemandirian anak dan sikap pantang menyerahnya yang ingin membantu kita menggoreng telur sendiri tanpa dibantu. Baru setelah kita mengapresiasi hal baik, kita koreksi hal yang masih kurang dalam perilaku anak dengan memahami perasaannya. Ajak anak untuk menyampaikan apa yang dirasakannya saat melakukan kesalah dan biarkan anak menyimpulkan bagaimana cara menyelesaikannya. 

"Wah, kak Ifa mandiri sekali bisa memecah telur ke wadah. Mau mengocok telur sendiri ya. Terima kasih ya nak. Tapi kenapa telurnya tumpah ke lantai nak?" Ketika anak sudah melontarkan jawabannya dan mengutarakan perasaannya karena menumpahkan telur ke lantai, kuatkan kembali dirinya agar tetap melakukan hal-hal baik lagi. "Ooh, begitu kejadiannya. Ya sudah nggak apa-apa ya, nak. Sekarang kita apakan nih lantainya biar bersih lagi? Berarti lain kali kak Ifa kalau mau memecah telur ke wadah harus lebih...... iya, betul.. harus lebih hati-hati."

Jika anak belum sempurna melaksanakan karakter yang kita inginkan, terus beri harapan dan kesempatan kepada anak supaya semakin baik di kemudian hari. Karena sesungguhnya tidak ada proses belajar yang instan kan?



Untuk bisa mendapatkan proses pengaliran karakter yang terarah, pihak sekolah dan orang tua harus saling bekerja sama. Pihak sekolah sebaiknya memberikan lesson plan kepada orang tua mengenai apa-apa saja yang akan dipelajari anak dan target pengajaran yang ingin dicapai dalam satu tema atau satu semester. Dalam lesson plan yang dibagikan kepada orang tua, sisipkan pula tentang tips mengajarkan karakter pada anak di rumah. 

Ketika satu tema sudah selesai diajarkan, pihak sekolah bisa meminta orang tua untuk mengisi evaluasi mengenai penerapan karakter di rumah. Misalnya dalam satu tema anak dilatih untuk menjadi anak mandiri dan disiplin, maka ajak orang tua untuk mengevaluasi apakah di rumah anaknya sudah memakai baju dan sepatu sendiri, bangun dan pergi tidur tepat waktu, dan sebagainya. 

Dengan kerja sama yang baik antara orang tua dan guru seperti ini, diharapkan 9 pilar karakter akan lebih kuat menancap dalam diri anak. Jangan sampai di sekolah sudah dibiasakan hal-hal yang baik ternyata di rumah hal-hal tersebut tidak dilakukan. Misal, di sekolah diajarkan makan sendiri, di rumah masih disuapin.

Penjabaran Konsep 9 Pilar Karakter

Pilar 1 - Cinta Tuhan dan Segenap CiptaanNYA

Pada pilar ini ada dua konsep yaitu mengajarkan anak untuk besyukur dan memiliki kasih sayang pada semua makhluk Tuhan dan selalu setia pada kebenaran. 



Contoh pengaliran khusus mengenai konsep bersyukur, siapkan gambar tentang ciptaan Tuhan, ajak anak berdiskusi mengapa Tuhan menciptakan semua itu. Misal kita tunjukkan gambar sungai, ajak anak untuk menyebutkan manfaat-manfaat sungai. Karena sungai sangat bermanfaat bagi manusia, maka bagaimana cara kita bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan sungai? Biarkan anak menyimpulkan bahwa cara bersyukurnya yaitu dengan menjaga kebersihan sungai - tidak membuang sampah di sungai, dan sebagainya. Setelah anak memahami konsep ini, tutup dengan nyanyian atau tepukan.

Contoh pengaliran terintegrasi, saat tiba waktunya sholat, ajak anak untuk mengerjakan sholat. Tanamkan pada anak bahwasanya mereka telah menjadi anak yang bersyukur pada Allah jika menjalankan sholat.

Pilar 2 - Mandiri, Disiplin dan Tanggung Jawab


Pilar 3 - Jujur, Amanah dan Berkata Bijak


Pilar 4 - Hormat, Santun dan Pendengar yang Baik




Pilar 5 - Dermawan, Suka Menolong dan Kerjasama




Pilar 6 - Percaya diri, Kreatif dan Pantang Menyerah




Pilar 7 - Pemimpin yang Baik dan Adil



Pilar 8 - Baik dan Rendah Hati



Pilar 9 - Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan




K4 - Kebersihan, Kerapian, Kesehatan dan Keamanan






Demikianlah resume dari materi mengenai teknik pengaliran 9 pilar karakter. Mohon maaf jika masih ada kekurangan di sana-sini dikarenakan kurang optimal dalam menangkap dan menyampaikan kembali materi ini. 

Bagi teman-teman yang ingin bekerjasama atau mengikuti pelatihan Indonesia Heritage Foundation (IHF) bisa datang langsung ke kantornya di:
Jalan Raya Bogor Km 31 No 46 Cimanggsis, Depok, 16451. 
No telepon: 021 - 8712022
www.ihf.or.id


Semoga bermanfaat ya! See you at the next post, pals!







8 comments:

  1. Faiz belajar 9 pilar karakter di TK, sekarang kutanya, lupa ;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... di rumah juga harus dibiasakan :) Yang penting sih bukan masih hafal atau tidak nama2 9 karakternya, tapi masih tetap menjalankan karakter2 tersebut atau tidak :)

      Delete
  2. mau ah praktekin 9 pilar iu ke si kecil ken,
    tengkiu share ilmu kecenya ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mak...
      Hayuklah kita praktekin ke anak-anak biar Indonesia jadi lebih baik :)

      Delete
  3. Sebuah artikel yang sangat menarik dan bermanfaat.
    Penanaman bui pekerti atau karakter memang harus dimulai sejak dini dengan mengeikuti tahapan-tahapan yang logis seesuai usia mereka.
    Acungan jempol untuk artikel ciamik ini
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pakdhe. Salam hangat kembali dari Semarang :)

      Delete
  4. wah boleh nih mbak ilmunya di praktekin
    semoga dengan mengamalkan ilmu karakter ini ke anak, anak bisa menjadi lebih baik dan memiliki karakter yang baik pula..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat praktek! Yup, semoga anak-anak Indonesia ke depannya semakin baik!

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.