Welcome Home, Afan!

  • Sunday, March 26, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 18 Comments



Hi,  pals.  Apa kabarnya hari ini?  Semoga keberkahan bisa kita dapatkan di hari ini.

2016 sepertinya akan menjadi tahun yang paling aku ingat di sepanjang perjalanan hidupku.  Tahun di mana aku kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidup,  sekaligus dianugerahi pangeran kecil yang telah kunanti-nantikan.

Jum'at,  25 November 2016 tidak kusangka aku akan membawa ibu ke IGD karena hilang kesadaran.  Sekuat-kuatnya aku ternyata aku hanya manusia biasa.  Ketika ibu telah mendapatkan ruangan di ICU,  suami mengantarkanku ke rumah bulik yang jaraknya cukup dekat dari rumah sakit tempat ibu dirawat. Berhubung sudah waktunya jam tidur, aku segera mengajak Ifa untuk tidur.  Ifa seperti biasa tidak bisa langsung tidur kalau bukan di kamarnya sendiri.  Sekitar jam 12 malam Ifa baru bisa benar-benar terlelap.

Setelah Ifa tidur,  aku berusaha memejamkan mata,  namun mataku tak juga bisa terpejam.  Pikiranku rasanya penuh dengan pertanyaan dan penyesalan. Berkali-kali istighfar kuucapkan untuk menenangkan diri,  meyakini bahwa semua ketetapan Allah yang terbaik namun masih saja ada yang mengganjal di dalam diri.

Kantuk mulai menyerang. Mata terpejam. Tak berapa lama mata telah terbuka kembali dengan lebar.  Kulirik jam dinding,  ternyata waktu baru berjalan lima menit dari sebelumnya.  Begitu seterusnya.  Waktu terasa berputar sangat lama malam itu. Ingin rasanya pagi segera tiba dan aku bisa melihat keadaan ibu.

Pukul 2 pagi aku belum juga bisa tertidur.  Kurasakan rasa mulas hadir di perutku.  Rasa mulas sebagaimana wanita mau kedatangan tamu bulanannya.  Aah,  paling hanya braxton hicks,  pikirku.  Beberapa hari ini aku memang sering mengalaminya.


Kontraksi dan KPD
Kontraksi dan KPD

Perlahan rasa mulas itu hilang.  Namun tak lama kemudian datang lagi. Ingatanku melayang pada kejadian hari Rabu,  23 November 2016. Saat itu siang hari ketika aku buang air kecil,  ada cairan berbentuk seperti ingus yang ikut keluar.  Saking takutnya aku sampai tanya pada ibu dan teman-teman, ketuban itu seperti apa.  Maklum 5 tahun yang lalu,  Ifa sesar terencana tanpa ada kontraksi dan hal-hal semacam ini sebelumnya.

Setelah yakin bahwa yang keluar itu bukan ketuban, aku mencari tahu secara googling sebenarnya apa tadi yang keluar bersama air kencingku.  Kudapatlah info mengenai mucus plug,  cairan lendir yang menjaga air ketuban agar tidak terkena infeksi dari luar. Menurut beberapa artikel yang kubaca,  jika ibu hamil sudah mengeluarkan mucus plug,  maka harus mulai waspada,  kelahiran bisa saja terjadi dalam jangka waktu minimal seminggu setelahnya.  Saat aku membagikan cerita ini di instagram dan Facebook,  salah seorang teman ada yang berkomentar,  "aku dulu habis kaya gitu besoknya langsung lairan lo."

Mengingat hal itu aku jadi deg-degan.  Apalagi mulas di perut semakin menjadi.  Aku ajak bicara si baby dalam perut,  "jangan sekarang,  dik.  Seminggu yang lalu kita kontrol beratmu masih 2.4 lo. Masih 36 minggu nih.  Next week aja ya.  Nenek juga masih sakit, sabar sebentar ya dik." 

Namun bukannya mereda,  mulas di perut semakin menjadi. Sakitnya..  Kebetulan aku termasuk orang yang jarang mengalami nyeri haid,  jadi ngerasain mulas saat itu rasanya we o we banget dah. Sampai nungging-nungging segala.

Ingin membangunkan bulikku,  tapi beliau juga capek habis dari IGD nganterin ibu.  Besok beliau juga masih harus kerja.  Kukuat-kuatkan saja lah,  pikirku. Nanti kalau subuh mulasnya belum hilang juga baru cerita ke bulik.

Aku berganti-ganti posisi tidur sambil terus berharap rasa mulas itu pergi.  Namun bukannya pergi malah makin menjadi.  Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang meletus di perutku dan kurasakan ada cairan keluar di sela-sela pahaku.  Ketubanku pecah. Aku tahu kalau itu ketuban hasil tanya-tanya ke teman-teman hari Rabu lalu.  "Pokoknya kaya pipis tapi nggak bisa ditahan." Dan memang benar aku nggak bisa menahan cairan itu. Keluar semakin banyak dan banyak.

Perlahan aku berdiri dan mengetuk pintu kamar bulik.  "Bulik,  ketubanku pecah." Bergetar.  Nggak nyangka harus mengalami seperti ini.  Setelah ketukan ketiga bulik dan om baru merespon panggilanku. Bulik dan om terkaget-kaget tentunya.  Bulik menenangkanku dan memintaku duduk saja agar air ketubannya tidak kemana-mana.  Sementara itu bulik menyiapkan beberapa jarik untuk dibawa dan om memanggil taksi. 

Ifa terbangun. "Bunda,  kenapa duduk di situ?  Aku masih ngantuk.  Ayo bobok lagi." Kubalas dengan senyuman,  "perut bunda sakit,  kak. Adik mau lahir nih.  Bunda mau ke rumah sakit sekarang,  kakak ikut?"  Ifa mengangguk sambil wajahnya tersirat tanda tanya besar.  Meski sudah kusiapkan dia untuk jadi kakak,  tapi tetap saja ini mendadak. Aku dan ayahnya selalu bilang kalau adiknya akan lahir di bulan Desember saat ia tepat berumur lima tahun.

Aku mencoba menelepon suami,  tapi tidak diangkat. Sepertinya ia ketiduran selagi menunggu ibu di ICU.
Taksi datang.  Perlahan aku masuk ke dalamnya. Rokku sudah basah kuyup. Ketuban masih terus mengalir dari sela-sela paha. Bahkan kini semburat merah sudah terlihat, tak lagi berupa cairan bening seperti awal keluar.

Nggak perlu waktu lama,  sampai juga ke IGD. Kalau semalam aku melihat ibu digledek, pagi itu aku yang digledek masuk ke ruangan.  Gegara bulan-bulan terakhir aku suka banget nonton drama korea yang bertema dokter,  aku jadi menikmati istilah-istilah kedokteran yang kudengar di ruangan itu. Aku juga menebak-nebak apa saja yang bakal dilakukan para dokter,  perawat dan bidan kepadaku.


Drama di Ruang Operasi

Bidan mengecek pembukaan. Tidak ada pembukaan sama sekali. What?  Sesakit itu dan nggak ada pembukaan? Aku bayangin la terus yang pembukaan 1 sampai 10 bagaimana rasanya. Hebaaat daah mereka yang sukses lahiran normal. Aku juga jadi ingat perjuangan ibu melahirkanku. Ibu selalu menceritakan bagaimana beliau merasakan kontraksi dari magrib dan baru lahir jam satu siang esok harinya. Sepertinya Allah memang sudah mengatur agar aku bisa merasakan kontraksi meski akhirnya tetap nggak bisa melahirkan pervaginam.

Tim medis menanyaiku bermacam-macam. Dari A sampai Z tentang histori kesehatanku,  kehamilan dan persalinanku sebelumnya.  Bidan masih meraba-raba posisi janin. Aku yang tahu posisi janinku melintang memberitahunya.  Dokter jaga mulai mengecek tensi dan melakukan USG. Sembari menahan kesakitan aku mendengar,  "Cito cito,  hubungi IBS (instalasi bedah sentral)." Pagi itu juga operasi sesar yang setidaknya akan dilakukan 2 minggu lagi harus disegerakan.

Tentu saja butuh persetujuan suami untuk segera mengerjakan operasi. Bulik mencoba menghubungi suami masih belum ada respon.  Om mencoba mencarinya di ruang jaga ICU dan kantornya suami tapi tidak juga ditemukan. Untungnya pihak IGD gerak cepat dan berinisiatif untuk menelpon ruangan kantor suami,  baru deh bisa tersambung dengan doi.

Suami yang setengah tidur dan setengah sadar saat mengangkat telepon nggak begitu ngeh ketika diberitahu pihak IGD kalau aku sedang di IGD.  Dipikirnya aku mau jenguk ibu di ICU tapi minta ditemani. Kagetlah doi ketika sampai IGD melihat kondisiku yang kesakitan.  Kupegang tangannya sambil pringisan.  Nggak tahu deh pikiran doi saat itu kaya gimana.

Saat IBS siap dan aku sudah berganti baju operasi,  segeralah aku digeledek ke ruangan yang akan menjadi saksi kelahiran adiknya Ifa.

Sebenarnya aku tak terlalu khawatir dengan proses operasi,  apalagi ini bukan yang pertama untukku.  Yang buat aku berkeringat dingin justru rasa kontraksi yang makin menjadi. Tetiba rasa trauma akan kejadian buruk di ruangan IBS lima tahun lalu saat proses kuret sebelum dianugerahi Ifa kembali hadir. Saat itu anestesi belum berjalan proses kuret sudah dikerjakan.  Setelah kuret selesai,  anestesi baru bekerja dan ternyata over dosis yang menyebabkanku lumpuh sementara. Seharusnya setelah kuret aku bisa langsung pulang, saat itu aku sampai harus menginap lagi semalam. Alhamdulillah saat proses sesar Ifa,  operasi lancar dan tenang. Tak ada trauma sedikitpun. Nggak tahu kenapa pagi itu aku malah kembali ketakutan dan kembali merasakan trauma akan mengalami kejadian seperti saat kuret dulu.


Drama di ruang operasi
Drama di ruang operasi

Kontraksi yang datang silih berganti membuatku tak bisa konsentrasi. Sebel rasanya ketika harus berganti bed. Perut yang melilit,  pinggang yang seperti mau lepas,  masih disuruh pindah-pindah bedAkhirnya sampai juga di ruang operasi. Meski kesakitan aku masih bisa mengamati kalau ruangan IBS ini tambah bagus dan keren dibandingkan 5 tahun yang lalu,  berasa kaya lagi nonton drama korea,  hehe.

Tim anestesi dan IBS memperkenalkan diri mereka. Melihat aku gugup dan ketakutan,  salah satu tim itu menanyaiku kabar,  anak no berapa,  istrinya karyawan rumah sakit ini ya,  yang dirawat di ICU siapa -  ibuku atau suami.  Kujawab sekenaku "ibu saya.  Kaya sinetron ya. Ibunya di ICU,  anaknya di IBS."  Ketegangan mulai mencair.

Namun itu hanya sebentar. Ketika kontraksi mulai datang semakin intens,  aku cuma bisa beristighfar.  Tim anestesi yang mau menyuntikkan obat bius di bagian tulang belakangku merasa kesulitan.  Katanya aku terlalu tegang. Padahal aku merasanya sudah kutenang-tenangin.  "Ayo bu,  dilemesin. Kalau anestesinya udah masuk nanti ibu nggak ngrasain sakitnya lagi."  Aku langsung semangat mendengar penjelasan itu, dan alhamdulillah akhirnya obat bius itu bisa masuk juga.

Tapi drama belum usai. Aku tiba-tiba mengalami khawatir tingkat dewa ketika tim medis mulai mengecek apakah bius sudah bekerja. Aku mulai merasakan tubuhku bagian pinggang ke bawah mulai kesemutan,  panas dan lama-lama hilang rasa.  Aku diminta mengangkat kakiku dan aku sudah tidak bisa mengangkatnya.  "Oke,  sudah siap nih dok." Aku dengar salah seorang memberi informasi seperti itu. Seketika aku berteriak,  "jangan.. Belum jalan.. Aku masih ngerasain jempolku. Aku masih bisa ngerasain jempolku gerak-gerak."

Akhirnya tim medis mengecek lagi kondisiku. Dicubit kakiku,  "sakit nggak bu." "Sakit" aku bilang.  "Terasa aja atau sakit?" Aku keukeuh bilang "Sakit". Mereka mencoba menjelaskan beda terasa sakit dan terasa tapi tidak sakit,  tapi aku tetep saja merasa kalau itu sakit. Padahal sebenarnya nggak sakit ding. Akunya aja yang heboh dan lebay banget saat itu. Kalau ingat hari itu aku ketawa sendiri,  pasti tim anestesi jengkel banget sama aku. Kalau bukan istri karyawan di situ pasti udah dicubitin kali,  hehe.

Beruntung dokter kandungan yang saat itu bertugas untuk melakukan operasi sangat sabar.  Namanya pak Cipto Pramono.  Sebenarnya aku sedikit kecewa karena nggak bisa dioperasi oleh dokter yang selama ini menjadi tempat konsultasiku selama kehamilan. Berhubung ini operasi CITO, mau nggak mau harus dioperasi sama dokter yang bertugas dan nggak bisa milih. Qodarullah dokter langgananku juga sedang beribadah umroh.

Pak Cipto menenangkanku,  "ya sudah, kita tunggu sampai ibu siap. Perutnya tadi sudah dibersihin ya?" Aku mengangguk. "Yuk berdoa dulu saja." Kudengar suara perempuan dari ujung ruangan membacakan detil operasi ini, siapa-siapa saja yang ada di ruangan; nama dokter kandungan, nama dokter anak, tim anestesi,  alasan operasi dan tindakan yang akan dilakukan. Setelah itu kami berdoa bersama-sama. Aku pun sudah tenang. Kontraksi sudah tidak terasa dan aku sudah yakin anestesi bekerja dengan baik.

Pak Cipto meminta ijin kepadaku untuk bisa memulai operasi dan aku mengangguk. Saat seperti ini aku bersyukur minusku delapan, jadi aku nggak bisa melihat bayangan di lampu operasi dengan jelas. Secara remang-remang aku bisa lihat kalau perutku mulai  dibuka. Berbeda saat operasi melahirkan Ifa aku terjaga hingga operasi selesai.  Saat itu tiba-tiba aku merasa mengantuk dan sepertinya sempat tertidur sebentar. Mungkin terlalu capek karena kesakitan dan ngeyel pada tim anestesi dari tadi.

Aku mulai tersadar kembali ketika kudengar suara tangisan bayi. Alhamdulillah,  bayiku sudah lahir. Aku bertanya pada pak Cipto,  "jenis kelaminnya apa pak? Beratnya berapa?" "Laki-laki,  bu. Beratnya 2.3." Alhamdulillah,  komplit sudah. Tapi aku sedikit khawatir dengan berat lahir si kecil yang kurang dari berat lahir normal. Saat itu aku juga nggak bisa IMD, alasannya bayinya terlalu kecil, nanti kedinginan. Ya sudah,  pasrah. Sudah lahir dengan selamat saja aku sangat bersyukur.


Penampakan Afan Beberapa Jam Setelah Dilahirkan
Penampakan Afan Beberapa Jam Setelah Dilahirkan

Selfie Pertamaku dengan Afan
Selfie Pertamaku dengan Afan

Ternyata operasinya cukup cepat. Jam enam mulai berdoa,  6.06 si adik keluar dan kata suami setengah tujuhan aku sudah digledek keluar menuju ruang rawat inap. Padahal seingatku saat lahiran Ifa operasinya lama dan aku tidak langsung ditaruh ruang perawatan.

Melihat bayi laki-laki yang sangat mungil diletakkan di sampingku rasanya lega,  senang juga sedih campur baur. Berbeda dengan kakaknya yang setelah dilahirkan langsung menangis kencang nggak berhenti-henti, si adik ini lebih kalem. Meski setelah di rumah ternyata mereka sama saja, kalau nangis rumah berasa mau runtuh, hehe.

Aku sudah menyiapkan beberapa nama untuk lelaki kecilku. Namun keputusan fix nama mana yang dipilih kuserahkan pada suami. Akhirnya setelah melalui pemikiran yang panjang, suami memutuskan nama Muhammad Rafanda Setiawan tersemat untuk the baby boy. Afan dipilih sebagai nick name-nya dikarenakan Rafa sudah terlalu mainstream untuk dipakai jadi nama panggilan. Bukan apa-apa, tetangga sebelah rumah nama anaknya Rafa soalnya, nggak lucu dong kalau anak kami juga dipanggil Rafa, hehe. Deg-degan sebenarnya menyematkan kata Muhammad dalam namanya. Jadi PR besar untuk aku dan suami mengasuhnya agar ia kelak bisa menjaga nama itu sebaik-baiknya. Aku berharap saat nanti the baby boy growing up dan punya keinginan untuk melakukan sesuatu yang buruk, niat itu tidak akan terlaksana karena ia ingat ada nama orang paling mulia tersemat dalam dirinya.

Muhammad, kami pilih sebagai first name untuknya selain karena berawalan dengan huruf M (semua anggota keluarga kecil kami memiliki nama dengan M sebagai huruf pertama), kami berharap lelaki kecil kami hanya akan menjadikan Nabi Muhammad sebagai satu-satunya idola dan panutan dalam hidupnya. Betapa tidak ada yang bisa dijadikan sebagai panutan tersempurna selain Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Muhammad yang berarti lelaki dengan akhlak terpuji. Begitu pula doa kami untuk Afan agar ia bisa menjadi lelaki yang memiliki akhlak yang baik.

Rafanda memiliki arti kaya dan beruntung. Kami berharap kelak Afan tumbuh menjadi seseorang yang kaya, tidak hanya kaya secara materi, namun juga kaya iman, kaya empati, kaya kasih sayang, dan kaya ilmu. Semoga Afan juga tumbuh menjadi pribadi yang terus lebih baik setiap harinya.

Untuk last name-nya, aku dan suami sudah sepakat sejak memiliki anak pertama. Jika kami dikaruniai anak perempuan, maka last name-nya Setianingtyas yang merupakan gabungan dari nama terakhir suami dan aku. Sedangkan jika anak kami laki-laki, maka nama terakhir suami akan menjadi nama akhir untuknya. Setelah Setianingtyas tersemat dengan cantik untuk anak pertama, Setiawan menjadi doa bagi Afan. Semoga kelak ia tumbuh menjadi lelaki yang setia, bukan hanya kepada pasangan dan keluarganya, namun juga setia menjaga imannya, menjaga nilai-nilai islam, serta mampu menjaga fitrah kebaikan yang ada dalam dirinya.


Afan and His Baby Bio
Afan and His Baby Bio
Muhammad Rafanda Setiawan, doa kami untukmu agar kelak kau tumbuh menjadi lelaki dengan akhlak yang baik, kaya dalam segala hal, beruntung dalam kehidupanmu dan selalu setia pada kebaikan. Aamiin ya Rabb.

Perinatologi yang Membuatku Menggigil

Alhamdulillah, operasi kali ini aku nggak perlu mengalami hemoglobin turun, tidak perlu ada transfusi darah yang bikin meringis. Aku pun jauh lebih cepat fit. Beberapa jam setelah lahiran, aku sudah bisa belajar bangun lalu duduk. Aku cuma ingin cepat sehat dan bisa menengok ibu di ICU. Selasa, 29 November 2016 aku sudah diijinkan pulang. Namun, baby Afan harus dicek kondisinya dulu sebelum boleh dibawa pulang. 

Senangnya mendengar kabar bahwa aku bisa pulang hari itu. Sembari menunggu hasil tes Afan keluar, aku dibantu Ifa sudah menata barang-barang dan bersiap untuk pulang ke rumah. Sayangnya, hasil tes yang dinanti tidak kunjung datang juga. Sorenya, hasil tes tersebut keluar. Sedih sekali ketika mengetahui hasil tesnya tidak begitu baik. Afan harus menginap di perinatologi malam itu. Bilirubin Afan naik dan harus difototerapi selama 10 jam. Akhirnya aku memohon pada suami agar bisa menginap semalam lagi, aku nggak tega meninggalkan Afan sendiiran di rumah sakit. Melihatnya di dalam apollo tanpa mengenakan baju  dan hanya pakai diaper, rasanya hatiku teriris-iris.


Afan difototerapi
Afan difototerapi
Rabu. 30 November 2016, setelah Afan dicek kembali bilirubinnya dan dinyatakan hasilnya sudah baik, kami akhirnya bisa bernafas lega dan pulang ke rumah. Let's go home, my tiny baby. Surat kontrol ada di tangan. Sabtu. 3 Desember 2016 aku harus kembali ke rumah sakit untuk mengecek jahitanku dan kondisi kesehatan Afan.

Aku mulai menjalani hari-hari pertamaku di rumah bersama Ifa dan Afan. Suami masih tetap ngantor seperti biasa, meski belum sepenuhnya fokus bekerja karena sambil menjaga ibu di ICU. Seperti saat kelahiran Ifa lima tahun yang lalu, aku lebih suka cek jahitan langsung di tempat praktek dokternya daripada di rumah sakit, bukan apa-apa, antrenya lama, hehe. Jumat. 2 Desember 2016, pertama kalinya ngajak Afan naik motor ke tempat praktek Pak Cipto untuk melihat kondisi jahitanku pasca operasi sesar. Untungnya lokasi praktek pak Cipto sangat dekat dengan rumah.

Sabtu, 3 Desember 2016. Hari dimana seharusnya aku kembali ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan Afan justru menjadi hari tersedih untukku di akhir tahun. Ibu meninggal. Tidak bisa terungkapkan dengan kata-kata apa yang kurasakan hari itu. Sambil menggendong Afan, aku menyambut tamu-tamu yang berdatangan. Hampa.

Setelah tertunda dua hari. Hari Senin, 5 Desember 2017 akhirnya kami ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan Afan. Belum juga hilang duka di hatiku, aku kembali tergugu ketika dokter memeriksa kondisi Afan tidak begitu baik. Berat badan belum naik, padahal sudah seminggu berlalu, wajah dan matanya pun terlihat ada semburat kuning. Ya, bilirubinnya naik lagi. Diputuskan hari itu Afan harus masuk perinatologi lagi untuk kembali mendapatkan fototerapi. Kali ini jauh lebih lama. 24 jam. Itu artinya sehari semalam aku tidak bisa berada di dekatnya. Lebih hancur lagi ketika mencoba mempompa ASI untuk stok minumnya selama di perinatologi, hasil yang kudapat hanya 30 mili. Cuma cukup untuk sekali minumnya si Afan.

Afan di Perinatologi
Afan di Perinatologi
Keesokan harinya, bakda magrib, rumah sakit menelepon kalau hasil lab Afan sudah keluar. Bilirubinnya sudah oke dan Afan diijinkan pulang. Alhamdulillah. Selesai pengajian kirim doa untuk ibu aku menjemput lelaki kecilku. Senangnya bisa berkumpul lagi bersama bayiku. 8 Desember 2016 saat waktunya kontrol, dokter bilang kondisi Afan sudah baik, perbanyak minum ASI, begitu pesan dokter.

Namun ternyata drama bilirubin belum juga usai. Dua minggu setelah di rumah aku merasa wajah dan mata Afan terlihat kekuningan. Aku menyampaikan kegalauanku pada suami. Suami menenangkanku agar jangan khawatir, terus diberi ASI saja. Tapi perasaanku semakin nggak karuan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengecek kesehatan Afan. Saat dokter melihat Afan dan menanyai berapa usianya, beliau juga kaget karena tidak biasanya bayi seumuran Afan masih terlihat kuning. Lagi-lagi Afan harus rawat inap di perinatologi. Kali ini nggak tanggung-tanggung, Afan harus diobservasi selama tiga hari. Rasanya lemas diri ini meninggalkan bayi yang belum genap sebulan itu sendirian di perinatologi. Apalagi setiap kali aku menengoknya dan ingin menyusuinya, ternyata dia masih di dalam apollo untuk difototerapi, sehingga tidak memungkinkan untuk digendong dan disusui. Belum lagi melihat tangan kecilnya yang harus dipasang infus. Sedihnyaaa...

Semoga ini kali terakhir Afan masuk perinatologi. Rasanya nggak tega harus melihat Afan menangis kencang saat diambil darahnya. Apalagi saat itu darah Afan sangat kental hingga berulang kali darahnya gagal diambil dan harus diulang berkali-kali. Rasanya jantungku seperti ditusuk-tusuk sembilu. Meski begitu, saat Afan berada di perinatologi aku sekaligus belajar bersyukur dan kuat. Di sana aku banyak bertemu dengan para ibu yang bayinya lahir prematur dengan berat lahir kurang dari sekilo. Mereka bahkan sudah di sana sejak dua bulan yang lalu. Bayi mereka belum boleh dibawa pulang jika belum bisa menyusu dengan baik dan kondisinya stabil. Ada juga yang mengalami komplikasi seperti jantung bawaan, hydrocephalus dan banyak lagi lainnya. Ibu-ibu itu tetap tersenyum. Kata mereka, kasihan anak-anak kita kalau lihat ibunya sedih. Aah, aku merasa tertampar. Kondisiku jauh lebih beruntung dari mereka dan aku masih mengeluh. Semoga bayi-bayi prematur itu cepat sehat dan bisa segera berkumpul dengan keluarganya.

Afan difototerapi lagi


Bolak-balik rumah sakit karena bilirubin tinggi
Bolak-balik rumah sakit karena bilirubin tinggi


Setelah tiga hari dan hasil lab menunjukkan tidak ada infeksi dalam tubuh Afan, kami diperbolehkan membawanya pulang. Pesannya hanya satu; perbanyak jam menyusunya. Dikarenakan kondisi Afan yang cukup baik, bilirubin Afan bisa dipastikan karena kurangnya asupan. Aah, aku jadi paranoid. Jangan-jangan ASI-ku kurang, tapi aku kembali ingat ASI itu on demand, aku hanya harus lebih semangat menyusui, stay relax biar nggak stress dan dilanjut pumping untuk memicu produksi ASI agar lebih banyak. Booster ASI aneka rupa kucoba, namun hasil pumping-ku masih begitu-begitu saja. Aku hanya mencoba positive thinking ASI-ku pasti cukup untuk Afan. Meski kadang aku bertanya-tanya kenapa Afan tidak pernah sendawa setelah menyusu.

Senin, 26 Desember 2016, tepat Afan berumur sebulan, kami membawanya kembali ke rumah sakit untuk kontrol kesehatannya. Alhamdulillah, bilirubinnya sudah normal. Namun sedih rasanya ketika tahu berat badan Afan cuma naik 300 gram. Kami pun berkonsultasi dengan dokter bagaimana baiknya. Aku pun berdiskusi dengan suami. Akhirnya kami memutuskan untuk memberikan sufor sebagai tambahan. Dilema. namun semakin aku bersikeras untuk memberikan ASI eksklusif pada Afan, aku justru semakin tertekan. Apalagi ketika melihat hasil pumpingku yang tak bisa lebih dari 80 mili, itupun aku membutuhkan waktu sejam hingga dua jam untuk mendapatkannya.

Afan tumbuh besar

Afan senyum lucu


Selfie lagi sama bunda

Afan sudah gembul

Afan dan Kak Ifa

Tumbuh kembang Afan
Tumbuh kembang Afan

5 Januari 2017, posyandu pertama Afan. Berat Afan naik 600 gram dalam 10 hari. Lega rasanya. Terserah lah kata orang mau bilang aku malas, aku nggak berusaha untuk mengASIhi secara eksklusif, aku ini itu, aku A sampai Z, tapi melihat Afan tumbuh sehat dan lebih berisi, aku bahagia. Aku sangat pro ASI, aku pun ikut bahagia jika ada yang bisa menyusui bayinya secara eksklusif, aku pun ingin seperti mereka, tapi sudahlah aku berhak menentukan pilihan dan kebahagiaanku sendiri demi anak-anakku.

Hari ini Afan sudah genap empat bulan. My tiny baby-ku sudah tumbuh semakin berisi. Terakhir nimbang saat imunisasi DPT 2 pada Selasa, 23 Maret 2017 yang lalu, beratnya sudah 5.4 kilo dengan panjang 58 cm. Sudah pintar ngoceh, main ludah, nendang-nendang, menegakkan kepala saat tengkurap dan digendong kangaroo style, tersenyum dan ketawa riang. Jika Ifa menjadi kado untuk ulang tahunku  yang ke 27 dan ulang tahun pernikahan kami yang ke 4, Afan menjadi kado untuk pertambahan usiaku ke 32 dan ulang tahun pernikahan kami yang ke 9. Alhamdulillah. Sehat selalu ya, my sholih boy... mari bertumbuh bersama, mari bahagia bersama, lelaki kecilku. Untuk merekam tumbuh kembangnya, aku membuat blog khusus yang bertajuk Afan Story, boleh lo kalau mau mampir.

my cutie boy


See ya later, pals!





You Might Also Like

18 comments

  1. Kalau baca ini perasaanku ikut campur aduk, ada perasaan amaze nya , ada sedihnya. Sehat-sehat ya cah bagus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. aku juga kalau ingat masa-masa itu, cuma bisa bilang weowe deh... Makasih budhe doanya :)

      Delete
  2. Selalu mrebes mili kalau baca kisah melahirkan, kayak ikut ngerasain perjuangannya. Anak sulungku jg lahirnya cesar dan abis itu hrs phototeraphy juga, Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Proses kelahiran selalu jadi memorable moments :)

      Delete
  3. Afan udah ndut sekarang.sehat2 selalu ya sayang :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih tante.. Salam buat mbak Keumala..

      Delete
  4. Haduh2 aku ikut miris baca cerita kontraksinya. Aku juga nih dua kali sesar tp ga kerasa kontraksi sama sekali. Masih boleh hamil lagi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak mbak.. Kalau ngerasain kontraksi jadi dobel sakit daah :D

      Maks tiga x sesar biasanya.. Tergantung tebal tipis rahimnya juga sih.. Temenku ada yg 5x euy

      Delete
  5. Afan... Pipinya ciwelable banget ��

    ReplyDelete
  6. Barakallah ya mbak untuk kelahiran putranya n turut berduka buat ibunda mb marita.

    Tetep semangat menyusui mbak☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur suwun mbak Diah... insya Allah mbak tetap semangat :)

      Delete
  7. Ya Allah mb ririt luar biasa perjuangannya. Jd ibu memang hrus kuat y mbak
    Kl mbak ngeri bayangin lahiran normal, sy sebaliknya. Hiks. Tp.bgmnapun cara si.baby keluar, kita ttp dihitung sbg jihad
    Helo baby afan... sehat sehat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Soalnya pengalaman pertama sesar sakitnya habis operasi aja. Eh yang kedua udah kontraksi dll begitu, belum pembukaan, bayangin.. Yg normal gimana ya..

      Betul mbak bagaimanapun jalannya tetap dianggap jihad :)

      Aamiin, makasih doanya tante.

      Delete
  8. Dek afan kuat ya mbak rit, sehat terus ya dek afan, perjuangan dan kesabaran yang luar biasa ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah tante.. Berkat doa dari tante juga nih :) makasih ya tante

      Delete
  9. Perjuangan banget, selamat datang kesayangan bunMar, dek Afan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu ada perjuangan di setiap kehamilan dan kelahiran, tapi terbayar semuanya saat lihat si baby.. Jadi jangan takut yaa yg belum ngrasain.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com