Wednesday, May 17, 2017

Belajar Hidup Lebih Baik dari Kenangan Masa Kecil yang Paling Membekas

Belajar Hidup Lebih Baik dari Kenangan Masa Kecil yang Paling Membekas


Pyaaar. Jam dinding yang menggantung di ruang keluarga itu jatuh. Kacanya pecah berkeping-keping. Remuk redam seperti hatiku yang menjadi saksi pertikaian kedua orang tuaku siang itu. Saat itu aku berumur tiga atau empat tahun. Apakah itu pertikaian pertama dan terakhir? Tidak. Masih ada pertikaian-pertikaian selanjutnya yang mewarnai hari-hariku.

***

Membicarakan kenangan masa kecil yang paling membekas tidak akan pernah bisa lepas dari ingatanku tentang kejadian di atas. Setiap mengingat masa kecil, maka kenangan itulah yang terlintas pertama kali dalam benakku. Sekuat tenaga aku mengusirnya, toh kenangan itu akan tetap hadir.

Jika kemudian aku tumbuh menjadi sosok yang introvert, tidak mudah percaya pada orang lain dan cenderung menutup diri pada pertemanan serta keramaian, mungkin itu salah satu dampak negatif dari apa yang aku alami di masa kecil. Di saat teman-temanku dikelilingi dengan keluarga yang hangat, aku merasa menjadi alien karena harus tersenyum pura-pura, memakai topeng seakan keluargaku baik-baik saja. Aah, sepertinya sedari kecil aku telah terbiasa bersandiwara.

Namun sisi baiknya aku tidak mau keadaan mengalahkanku. Seburuk apapun keluargaku, aku harus berprestasi. Alhamdulillah, meski tidak pernah menduduki peringkat pertama, aku selalu bisa masuk sepuluh besar dari SD hingga SMA. Saat kuliah pun, meski terkenal rajin bolos dan telat masuk kelas, alhamdulillah aku tetap bisa selesai tepat waktu dengan predikat lulusan terbaik.

Baca juga: Welcome, March!

Satu Kenangan Buruk, Jutaaan Kenangan Baik

Semakin beranjaknya umurku, apalagi setelah kedua orang tua berpulang ke Rahmatullah, aku semakin banyak mengingat kenangan-kenangan baik yang ada. Ternyata tidak selalu ada air mata di sepanjang perjalanan hidup, ada juga tawa yang menyelip di sela-selanya. Meski sekejap, meski tak banyak, namun kenangan baik seakan menjadi warisan dan harta karun berharga untukku, terutama ketika aku belajar menjadi orang tua.

Sepeda Roda Tiga dibawa Becak

Sepeda Roda Tiga
Sepeda Roda Tiga

Masih jelas terbayang di ingatanku saat ibu membawa pulang sebuah sepeda roda tiga untukku. Aku berumur tiga tahunan kala itu. Ibu membawa sepeda itu dengan naik becak. Aku masih ingat bagaimana girangnya aku menerima sepeda yang kunanti-nantikan.

Kasih Sayang Ibu Tak Terganti

Malam itu aku batuk ngikil sampai susah bernafas. Ibu masuk kamarku dan menggendongku ke ruang makan. Dipeluknya diriku dan ditepuk-tepuk punggungku mencoba meredakan batukku yang tak kunjung berhenti. Ibu mendudukkanku di atas meja makan, lalu disodorkannya kepadaku segelas air putih hangat dan segelas obat batuk. Setelah itu ibu membawaku ke kamarnya dan menemaniku hingga terlelap.

Sepeda Ditukar Sate

Saat aku duduk di kelas 1 SD, ibu membelikanku sepeda mini berwarna kuning. Ibu sengaja membeli sepeda yang ukurannya langsung besar agar bisa aku pakai dalam jangka waktu lama. Dasarnya aku anak penakut, dari kelas 1 SD sampai kelas 4 SD, aku tidak pernah berhasil menaiki sepeda itu. Suatu hari, sepertinya ibu sudah angkat tangan mengajariku naik sepeda, lalu beliau bilang "sepedane didol wae ya, dinggo tumbas sate." Gegara mendengar kata-kata ibu, entah ada semangat dari mana, tiba-tiba saat itu juga aku bisa menaiki sepeda itu dengan lancar.

Suaraku Ada di Radio

Sejak kelas 3 SD mengarang adalah hobiku. Entah itu membuat cerita dalam bentuk paragraf ataupun puisi. Setiap kali ada acara peringatan HUT Republik Indonesia, aku pasti ikut berpartisipasi dalam lomba baca puisi, dan alhamdulillah selalu juara. Suatu hari, guruku memanggilku ke ruang kelas. Selembar kertas disodorkan kepadaku. Sebuah puisi. Beliau memintaku membacanya. Selesai aku membacanya, beliau manggut-manggut dan mengajakku rekaman ke radio. Kebetulan guruku itu juga seorang penyiar radio. Wah, senangnya mendengar suara sendiri membacakan puisi di radio.

Nikmatnya Makan Sepiring

Makan Sepiring Berempat
Makan Sepiring Berempat, ilustasi keluarga Ruben Onsu

Jika disuruh memilih hal terbaik apa yang pernah terjadi di dalam keluarga saat aku kecil, makan satu piring bersama bapak, ibu dan adik adalah hal yang paling indah. Mengingat kenangan ini, aku bisa sedikit berpaling dari luka-luka yang tumbuh karena kenangan buruk. Setidaknya aku masih ingat ada kehangatan keluarga yang aku miliki. Ibu membawa piring berisi nasi beserta lauk pauk, lalu bergantian menyuapi bapak, aku dan adik. Nikmat hingga rasa kenyang tak kunjung datang. Kami bisa nambah lagi dan lagi. Sambil tertawa, sambil gegojegan, aaah... aku merindukan masa-masa itu. Sungguh.

Masih ada banyak kenangan indah yang terukir, namun lima kisah itulah yang cukup membekas dalam ingatan.

Kenangan Masa Kecil Menumbuhkan Aku yang Sekarang

Sadar atau tidak sadar, mau atau tak mau, kenangan masa kecil yang paling membekas - yang baik atau buruk, berdampak sekali dalam kehidupanku sekarang. Dan aku bisa merasakan semakin besar dampaknya ketika aku menikah lalu dikaruniai anak.

Kenangan baik tentunya membuahkan dampak yang baik. Bapak ibu yang selalu memberikan kebebasan memilih apapun yang aku senangi, bapak ibu yang selalu mendukung hobiku, bapak ibu yang mengajarkanku disiplin - serta merta membuat aku ingin bisa menjadi orang tua yang sama kepada anakku.


Namun yang berbahaya adalah ketika kenangan buruk itu menguasai dan menjadikanku robot atasnya. Dari pertikaian bapak ibu yang pernah aku saksikan dan segala permasalahan mereka, aku sangat tidak ingin melakukan kesalahan sama yang mereka lakukan. Ambisi itu yang kemudian justru membuat aku ingin semuanya nampak sempurna. Ambisi inilah yang ketika tidak aku kendalikan bisa menjadikanku monster yang mengerikan dan justru membuat sejarah berulang. Beruntung pasanganku juga besar dari keluarga yang tak sempurna, hingga kami saling mengerti luka satu sama lain. Kami adalah orang-orang terluka yang saling menyembuhkan.

my inner child
my inner child

Hingga suatu siang, 3 Mei 2017, Ibu Dyah Indah Noviyani - seorang psikolog dan pemilik Sekolah Bintang Juara menamparku dengan wejangannya. "Berkomunikasi dengan anak usia dini itu mudah, berkomunikasi dengan pasangan itu mudah, namun jika masih ada emosi negatif yang menyertai dalam mengasuh mereka, maka ada yang belum selesai dalam diri kita. Selesaikan dulu masalah dan emosi-emosi negatif dalam diri kita, terutama menyangkut masa lalu, pola asuh ortu waktu kecil - kunci untuk bicara dan mengasuh anak lebih baik. Terima masa lalu, maafkan kekurangan diri, maafkan kesalahan ortu dalam mendidik kita dan ambil sisi positif dari mereka. Putus mata rantai negatif dalam pengasuhan buah hati kita. Berbahagialah, dan lahirkanlah anak-anak yg berbahagia. Recharge ilmu dan praktekkan setiap hari. Belajar sepanjang hayat dan berjamaahlah. Berkawan dengan orang-orang sholih agar senantiasa mengingat dalam kesabaran dan kebenaran "

Aku sadar aku belum sepenuhnya bisa 'lepas' dari kenangan masa kecil yang paling membekas dan meninggalkan luka untukku. Namun dengan mengomunikasikannya dengan suami, aku berharap setidaknya luka itu tidak terpicu keluar dan membuat aku mengeluarkan 'monster' dari dalam diriku sendiri. Makanya buatku jika sehari saja aku bisa mengontrol agar 'tanduk'ku tidak keluar dan merespon segala polah si kakak yang lagi aktif-aktifnya dengan bijak; itulah sebuah sukses besar. 

Buat aku menyadari apa yang menjadi kekuranganku saat ini adalah kekuatan terbesar diriku sekarang. Masa iya aku akan selalu terkurung dalam masa lalu yang buruk dan merutukinya? Toh, sekeras apapun aku membenci dan mencaci masa lalu itu, ia akan tetap ada di sana dan tidak akan ada yang berubah. Maka yang bisa aku lakukan sekarang cuma menumbuhkan ikhlas dan memaafkan masa lalu serta menyelesaikan emosi negatif. Demi anak-anak, demi suami, namun yang lebih penting dari itu semua demi kesehatan mentalku sendiri.

Mengobati diri sendiri


Well, itulah cerita tentang kenangan masa kecil yang paling membekas versi aku, bagi kenangan masa kecilmu di komentar dong, pals. Bersyukurlah ketika kau hidup dalam keluarga yang hangat, namun bagi yang pernah besar dalam keluarga yang penuh amarah dan ada luka batin yang tumbuh karenanya... semangat, pals. You are not alone! Let's fighting... Makasih ya buat mbak Anjar Sundari dan Nia Nurdiansyah untuk temanya yang ciamik, membuat aku lebih banyak merenung dan instropeksi diri. Thanks for reading dan sampai jumpa di postingan selanjutnya, pals!


32 comments:

  1. Betul banget mbak komunikasi dengan pasangan, ortu, adik, kakak itu mudah, cukup dengan melepas ego dan lupakan yang negatifnya, berdamai dengan luka, jadi self healing yang mujarab, semua yang pernah terjadi tentunya akan ada hikmahnya, dan kita menyadarinya di kemudian hari 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar banget mbak, semua yang terjadi pasti ada hikmah di baliknya... Hanya kadang kita terlalu enggan mencari hikmah tersebut :)

      Delete
  2. aku belajar banyak dari tulisan ini, Marita. juga belajar mengingat dan menyelesaikan apa-apa yang belum selesai di diriku. makasih ya, Marita :)eh, dulu kami juga sering makan kembulan seperti itu loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak :) aku sekarang juga masih suka kembulan mbak, tapi sing dulang suamiku hihi

      Delete
  3. Wah membaca ini jadi punya pe er saya nih mbak Marita : Ketika anak saya meminta apa-apa seharusnya saya bahagia ya karena bisa memenuhi permintaan anak. Tapi kadang kata2 saya jadi jelek : Kamu enak nok apa-apa dituruti, dulu ibu kalau pengen apa2 nggak dibeliin krn mbah ga punya uang, dll dll..

    Astaghfirullah dimana rasa bersyukur saya?? Semoga Allah mengampuni dosa2 saya ya mbak, aamiin..

    Dulu waktu saya sd juga sering makan kembulan bersama ortu dan adik, yaitu makan intip krawu. Kalau ibu menanak nasi ada intipnya yg tertinggal krn lengket. Kemudian diberi taburan kelapa parut dan sedikit garam, lalu kami makan bersama langsung dari pancinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang suka keceplosan gitu ya mbak. Kalau aku meski bisa beliin semua maunya anak, nggak semua aku turutin mbak. Belajar dari bapak ibu juga sih.. Nggak semu yang kita inginkan bisa terkabul. Harus ada usaha dulu, harus sabar dulu.

      Kembulan emang enak kok mbak, apalagi intip sama krawu kelapa.. Hmmm

      Delete
  4. Aku juga dulu lambat banget bisa naik sepeda. Alhamdulillah akhirna bisa juga Mbak. Hem.. bener2 banyak hal yang bisa kupetik dari share mu ini Mbak, tengkyu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya kok, dan nurun ke anakku nih, teman2nya udah bisa naik sepeda roda dua, anakku boro2.. hehe. Jatuh dikit, langsung ogah naik lagi, hihi.

      Alhamdulillah, semoga bermanfaat sharing nya :)

      Delete
  5. Aku baca postingan ini pelan-pelan baangeet. Menyusuri setiap kata yang dituangkan Mba Marita dan mencoba menggali setiap makna di sana. Sehingga aku bisa membayangkan proses mental ketika menuliskan ini semua.

    Meski ceritanya mengalir, tapi aku merasa konflik mental yg ingin diangkat masih agak kabur. Tapi dgn menulis spt ini, pelan-pelan pasti akan terangkat juga ke kesadaran tth hal apa yg paling utama yg hrs disembuhkan dr konflik inner child-nya. Apalagi Mba Marita suka dan fasih menulis. Writing theraphy pas banget untuk mengangkat dan menyelesaikan konflik masa silam yg blm selesai.

    Maaf yaa klo komenku panjang, soalnya tulisannya menarik untuk dianalisa 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah kebaca dek ama mbak Nia.. Seakan masih ada denial kah dari aku? Thats why kapan hari aku japri mbak Nia.. Hehe.. Mungkin ntar kapan kalau pas kopdar bisa ngobrol lebih banyak ya.. Masih terus belajar untuk menerima dan merangkul si inner child nih :)

      Delete
  6. kenangan buruk kadang menghantuik kitab tapi kl kita mau mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik di kemduian hari kenangan itu akan hilang dg sendirinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hilang sih enggak ya mbak, tapi kalau sudah bisa menerima, jadi lebih bisa memaknai hikmah kejadian tersebut :)

      Delete
  7. Aku ikut belajar mba dengan tulisan ini, selesaikan permasalahan dari dalam diri kita sendiri. PR banget buatku, dan aku akan intropeksi terhadap diri sendiri dan mulai memaafkan keadaan serta memaafkan yang tidak sesuai dengan harapan. makasih ya mba tulisannya..

    ReplyDelete
  8. thanks sahringnya mbak
    setuju dengan emosi negatif yang harus dibuang saat mendidik ana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak... yuph, betul banget mbak.. demi.. demi.. demi :)

      Delete
  9. Aku juga dibesarkan dari keluarga yg kurang harmonis, Mbak. Tapi itu dulu sih. Semenjak aku SMA ibuku dan bapakku sudah jarang sekali berantem. Terus ada satu hal yang sampai saat ini membuatku kadang benci kenapa aku dibesarkan dari ibu yang tak punya 'penghargaan' kepada anak. Makanya, sekarang aku berusaha banget jangan sampai Kak Ghifa merasakan apa yang aku rasakan dulu. Setiap kali ibuku mau mendidik anakku dgn caranya, aku langsung ambil sikap. Karena aku tahu, rasanya itu nggak enak banget.

    Lah, malah curhat deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluk mbak Ika...

      Pola asuh masa kecil yang buruk memang bisa menuai sisi positif dan negatif ya mbak.. pastinya yang buruk di kita dulu nggak pengen terulang ke anak-anak.

      Semangaaaat!!!

      Delete
  10. hiksss.. ak tau banget rasanya mba. gaksa muna kalo bayangan buruk masa kecil itu ada y mba. ak jg masih dlm masa penyembuhan dari "luka" masa kecil mba. so wana say the same "youre not alone. we're not alone mba. keep fighting for healing". *pelukpelukpeluukkk mba marita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluk mbak Rahma.. senangnya punya teman senasib, hehe... Semoga kita bisa segera bebas dari luka-luka itu. Saling menguatkan ya, mbak :)

      Delete
  11. No comment ah (padahal nulis komen) tetap semangat bun, aku juga masih berharap kamu menerimaku sekarang tanpa terbebani masa lalu yg cuma secuil dari kebersamaan kita yg (mungkin) bahagia <-- jare no komen, lha kui nulis dowo men. Maaf kalau kurang berkenan ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk...

      Terima gak yaaa... Jajake sik to :D

      Delete
  12. Semangat terus ya Ririt... benar sekali kata2 dari Ibu Dyah Indah Noviyani di atas. Memang tidak mudah untuk melupakan, apalagi melupakan sesuatu yg amat membekas ya. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak, benar banget.. Prosesnya memang tidak instan, tapi pasti bisa :)

      Delete
  13. Aku meri bagian ini mbaaaa :")

    Jika disuruh memilih hal terbaik apa yang pernah terjadi di dalam keluarga saat aku kecil, makan satu piring bersama bapak, ibu dan adik adalah hal yang paling indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan meri mbak, tiap keluarga pasti punya kisah uniknya sendiri-sendiri :)

      Delete
  14. Semangat mbak marita, inget putra putri dan suami aja mbak..pasti segalanya akan terasa lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm.. Tidak semudah itu mbak kalau 'belum selesai'.. :)

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.