Pengalaman Menemani Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang

  • Wednesday, October 18, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 6 Comments

Pengalaman Menemani Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Wongso Negoro Semarang


Assalammualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Apa kabar, pals? Hari ini kepalaku pusing sedari siang, kupakai untuk tidur pusingnya nggak menghilang juga. Rencana mau update postingan siang tadi terpaksa ditunda malam ini deh. Alhamdulillah, dengan bantuan segelas kopi, pusing di kepala lenyap seketika. Ternyata kangen kopi… hihihi.

Pals, pasti sedih ya kalau lihat anak sakit, apalagi kalau sampai kudu dirawat inap di rumah sakit. Meski bukan kali pertama merawat anggota keluarga di rumah sakit, namun merawat anak sendiri tetap saja pengalaman yang berbeda.

Sebulan yang lalu, tepatnya Sabtu, 16 September 2017, aku dan ayahnya anak-anak terpaksa membawa Affan ke IGD Rumah Sakit Wongsonegoro karena panas tinggi yang tak juga turun. Parasetamol sudah diberikan, namun panas tak juga mereda, malah semakin naik. Kondisi anak yang semakin lemas dan  lesu membuat hati teriris-iris.

Beberapa Jam sebelum Dibawa ke IGD RS Wongso Negoro


Akhirnya setelah melalui pemeriksaan demi pemeriksaan di IGD, diputuskanlah kalau Affan harus rawat inap. Bronchopneumonia dan diare menjadi dua diagnosa sementara dari dokter saat itu. Sedih banget. Ifa dulu juga pernah kena bronchopneumonia waktu setahunan, tapi nggak nyampe harus rawat inap, hiks.. berasa gagal jadi ibu.

Mana kedua anakku punya tipikal pembuluh darah kaya aku, susah dicari dan diketemukan, jadilah proses pemasangan infus berjalan begitu dramatis. Bayangkan sampai harus pindah lokasi empat kali, Alhamdulillah setelah dipegang oleh kepala ruangan IGD, langsung ketemu dan infus terpasang dengan lancar. Affan nangisnya udah heboh banget gitu. Dalam hati protes juga sih, mbok yao dari tadi yang masangin infus sesebapak aja kenapa sih..

Menunggu Ruangan di IGD RS Wongso Negoro


Waktu itu kami cukup lama ngendon di IGD karena ruangan yang sesuai dengan BPJS kelas 2 kami kosong semua. Ketika sampai jam tiga sore masih belum dapat kamar juga, akhirnya dengan berbagai pertimbangan kami memilih naik kelas. Kebetulan waktu itu yang tersedia hanya tinggal satu ruang di Banowati.

Sebelum dibawa ke Banowati nomor 3, ruangan tempat Affan dirawat, kami mampir dulu ke radiologi untuk melakukan rontgen. Karena batuk yang dialami Affan cukup lama, dokter ingin memastikan kondisi paru-parunya. Kami menunggu beberapa menit di radiologi karena bergantian dulu dengan pasien lain. Maklum sudah sore, petugas jaga tentunya nggak sebanyak saat  masih pagi hari.

Proses rontgen sempat diulang dua kali karena Affan banyak bergerak. Namun Alhamdulillah akhirnya dapat juga hasil yang bagus. Setelah rontgen kelar, kami pun dibawa portir ke ruangan. Alhamdullillah, ruangannya cukup nyaman. Ada televisi layar datar, AC, sofa untuk penunggu dan tamu yang bisa diubah jadi tempat tidur, serta sebuah kamar mandi dalam. Uniknya aku takjub melihat sprei yang dipasang. Seingatku setiap aku rawat inap di RS, spreinya pasti bertuliskan nama rumah sakit, rata-rata warnanya kalau nggak hijau, putih ya biru. Kali ini spreinya motifnya lucu.



Pagi harinya saat perawat datang untuk mengganti sprei aku tanyakan hal itu kepadanya. “Spreinya sekarang bagus ya mbak, nggak kaya dulu.” Mbak perawat pun menjawab dengan senyum manisnya, “iya bu, kalau pasiennya anak-anak memang spreinya dipilihkan yang motif lucu-lucu.” Baru tahu eike. Entah itu sudah kebiasaan dari dulu, atau baru-baru saja, yang aku rasakan sebagai pelanggan setia Rumah Sakit Wongso Negoro selama kurang lebih sepuluh tahun, pelayanannya memang semakin meningkat.

Alasan Memilih Rawat Inap di Rumah Sakit Wongsonegoro

Btw, kalian tahu kan Rumah Sakit Wongsonegoro? Jangan-jangan dari tadi aku cerita nggak ngeh lagi Rumah Sakit Wongsonegoro di mana, wkwkwk. Rumah Sakit yang berlokasi di Jalan Fatmawati No 1 Semarang ini dulunya dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang alias RSUD Kota, atau lebih familier disebut dengan RS Ketileng karena lokasinya di wilayah Ketileng.

Fyi, banyak yang bilang berobat di RS milik pemerintah itu pasti begini, begitu dan bla bla. Alhamdulillah meski dulu pernah punya pengalaman buruk, namun aku tetap pelanggan setia RS pemerintah yang satu ini. Alasannya;

satu, karena lokasinya dekat rumah,
dua,  karena BPJS lebih mudah digunakan di RS pemerintah daripada swasta,
tiga, paling ramah sama kantong,
empat, karena suami kerja di situ, wkwkwk.

Alasan keempat sengaja aku coret karena sering jadi alasan teman-teman saat aku cerita kalau pelayanan di RSWN meningkat pesat. “Yo mesti, suamimu kan kerja di situ, jadi dapat pelayanan bagus.”

Well, kalaupun alasan tersebut muncul, lebih ke arah keuntungan buat aku karena suami lebih mudah wira-wiri saat aku butuhkan. Namun soal pelayanan, aku berani jamin semua diperlakukan sama di RSWN dan aku rasa di semua rumah sakit.


Momen Rawat Inap di RS Wongsonegoro Semarang


Back to ke cerita Affan ya.. Alhamdulillah sakitnya Affan nggak parah-parah banget. Allah lagi pengen njewer aku aja kali biar lebih fokus sama kesehatan anak-anak. Hasil rontgen yang agak mengkhawatirkan karena dokter bilang hillusnya membesar (kalau nggak salah begitu pernyataan beliau), jadi sebelum pulang Affan harus di test mantoux untuk memastikan apakah doi ada TB atau nggak.

Deg-degan sih tapi yakin kalau Affan nggak ada TB. Soalnya Ifa pernah ditest juga pas kena bronchopneumonia dan hasilnya negatif, di rumah nggak ada yang punya riwayat TB, sehari-hari Affan sama aku terus, ayahnya memang perokok tapi insya Allah doi perokok yang beretika. Anyway, doain ya si ayah udah lima hari ini nggak ngerokok, semoga istiqomah selamanya. Aamiin. Dan bener kok, ketika tiga hari setelah keluar dari rumah sakit, kami ngontrolin si Affan, hasil mantoux negatif. Alhamdulillah, Affan pun bebas dari obat.

Sementara hasil laboratorium atas feses Affan menyatakan kalau ada bakteri di dalamnya. Noted. Anak ini lagi aktif-aktifnya menjelajah rumah, dan memasukkan apa saja yang ditemuinya. Aku yang kudu lebih waspada dan lebih rajin bersihin rumah.


Terapi yang diberikan Affan saat di rumah sakit yaitu nebulizer dua kali sehari, tiap pagi dan malam, kurang lebih 30 atau 45 menit ya. Aku nggak begitu ngeh, yang pasti lebih lama dari biasanya saat aku nebulizer si Affan di Harapan Bunda. Sementara untuk kasus diarenya, Affan diberikan obat yang ada kandungan Zinc-nya.


Nebulizer di RS Wongsonegoro Semarang


Alhamdulillah selama di rumah sakit Affan nggak rewel, palingan dia bosan karena nggak bisa ke mana-mana. Ya iyalah, tangannya dicencang pakai infuse. Tapi ya gitu karena gerak terus, infusnya jadi sering berdarah, untung nggak sampai harus ganti tempat. Gara-gara infus juga, pipis Affan jadi buanyaaaaak. Baru dipakaiin diapers, udah penuh, pusing kepala emak nak, wkwkw.

Yang lebih bikin semangat, si Affan makannya jadi banyak. Antara seneng dan miris juga sih. Sebelum Affan inap di rumah sakit, makannya lagi susah-susahnya. Eh, di rumah sakit maemnya masya Allah apa aja masuk. Ini jadi tanda tanya, anaknya emang doyan apa emang masakan di rumah sakit lebih enak dari masakan si emak ye. Tapi menunya emang enak-enak sih. Emaknya aja doyan, hihi.


Peningkatan Kinerja di Rumah Sakit Wongso Negoro

Selama tiga hari di rumah sakit, aku berasa nginap di hotel sih. Kalau nggak ingat tagihan dan Affan yang meringis karena diinfus, betah aja aku di situ. Hehehe. Pagi-pagi cleaning service bersihin ruangan. Nggak tanggung-tanggung, ada dua cleaning service dengan tugas berbeda. Yang satu buang sampah ruangan, nyapu dan ngepel ruangan. Satunya lagi bagian bersihin kamar mandi dan wastafel.

Terakhir aku rawat inap di RS ini sembilan bulan lalu saat melahirkan Affan, seingatku petugas cleaning service yang membersihkan ruangan masih pakai cara jadul. Yaitu dengan membawa satu botol air mineral yang tutupnya dilubangi, diisi air + cairan pembersih, lalu airnya disemprotin ke lantai, dilap deh pakai kain pel. Satu petugas juga melakukan semua pekerjaan bersih-bersih, dari buang sampah, nyapu, ngepel dan bersihin kamar mandi.

Sementara sekarang, petugas cleaning service-nya udah bawa sepaket alat-alat buat bersih-bersih secara professional. Jadi ingat si ayah dulu pernah kerja jadi cleaning service dan diajari pakai alat-alat itu.  So, ini salah satu peningkatan yang aku lihat di RSWN. Jempol satu. Beneran deh, rumah sakit tempat kerja suami sekarang memang bersih buanget. Beda banget lah sama sepuluh tahun lalu, hihihi. Kinerja cleaning service-nya top markotop lah. Waktu ngontrolin Affan, aku sempat lihat bagaimana pegawai rumah sakit yang sepertinya berwenang atas kebersihan memberikan arahan pada tim cleaning service.  Woke deh, lanjutkan!




Lanjut ke masalah instalasi gizi. Tiap jam setengah tujuh, makan pagi diantarkan. Tapi bukan jadwal makan yang mau aku ceritakan, yang bikin takjub adalah ketika tim dari instalasi gizi datang ke keluarga pasien dan menanyakan apakah menunya cocok. Adakah saran atau keluhan dengan menu tersebut. Aku sih merasa nggak ada masalah dengan menu yang ada, hanya aku sampaikan kalau Affan belum bisa makan daging utuh, jadi bisa dikasih daging giling. Alhamdulillah Affan juga nggak ada alergi. Aku nggak tahu apakah semua pasien mendapat layanan begini, atau karena pasiennya bayi sembilan bulan yang tentunya belum banyak makan ini itu. Namun case ini bikin aku kasih jempol kedua buat RSWN.

Saat itu Affan dirawat oleh dokter muda nan cantik, kalau nggak salah namanya dokter Adriana. Kesan yang aku dapat dari beliau, informatif saat menyampaikan diagnosa, sangat reasonable dalam pemberian obat, antibiotic tidak serta merta langsung diberikan ketika si anak nggak membutuhkan, dan ramah. Yang bikin meleleh itu ketika hari Senin saat belia visit si Affan, beliau meminta maaf karena hari Minggu nggak bisa visit berkaitan ada tugas dari RS. Wow, dokter minta maaf… padahal aku maklum aja kalau Minggu dokternya nggak visit karena aku pikir itu hari libur, setahuku yang masuk cuma dokter jaga. So, pelayanan dari mbak dokter ini membuat jempolku kudu aku setorin lagi.

Nggak cuma cleaning service, instalasi gizi, dan dokternya yang bikin takjub, apotekernya pun ternyata visit dan konsultasi juga ke ruangan. Saat itu qodarullah obat Affan yang dibawa dari  IGD  sudah habis dan aku tanya ke perawat “apakah sudah tidak dapat obat lagi?”, perawat menyampaikan “nanti akan ada apoteker yang datang, bu. Ditunggu ya.” Nggak lama kemudian, mbak apotekernya pun datang dan memberi penjelasan kenapa pasien diberikan obat tersebut, dosis dan informasi terkait lainnya. Oke, qodarullah aku memang kenal dengan mbak apotekernya, tapi itu nggak mengurangi penilaianku atas peningkatan rumah sakit ini. Jempol lagi deh buat RSWN.




Selain pelayanan-pelayanan tersebut, RSWN menata interior maupun eksteriornya semakin baik. Di depan ruangan Affan, aku menemukan gazebo dengan meja dan kursi kayu yang nyaman buat nongkrong. Kata ayahnya, “enak nih makan di sini sambil ngobrol dan lihat pemandangan, wkwk.” Aku pun sering bawa Affan keluar ke situ saat bosan di dalam kamar.

Dari pengalamanku menemani Affan rawat inap bulan lalu, aku kasih nilai 8.5 deh buat RSWN. Semoga ke depannya pelayanannya semakin oke dan terus ditingkatkan.


Tips Biar Mendapat Pelayanan yang Oke Saat Berobat di Rumah Sakit

Aku sering menemui banyak orang komplain atas pelayanan sebuah rumah sakit. Namun setelah ditelusuri bukan karena rumah sakitnya yang melayani dengan nggak benar, tapi karena si pasien nggak paham sama alur dan prosedur pelayanan di rumah sakit.

Contohnya waktu kemarin aku di IGD. Ada satu keluarga membawa putranya yang berusia 15 atau 18 bulan ke IGD karena diare. Oleh pihak IGD diberi pengantar untuk melakukan beberapa tes di laboratorium. Setelah melakukan tes,pasien kembali lagi ke IGD. Baru beberapa menit menggerutu nggak jelas tapi tidak tanya juga ke petugas IGD. Aku sempat mendengar gerutuannya, “anakku kok rak diapak-apakke piye sih.”






Aku cuma senyum dan jadi ingat beberapa kasus di berita akhir-akhir ini. Kasus gawat darurat itu ada tingkatannya, bisa jadi ketika tingkat paling atas, dokter akan langsung menyuruh pasien rawat inap. Ketika ini yang terjadi pasti prosedurnya pasien akan langsung dipasang infus, dll. Namun jika tingkatannya sedang, meminta pasien untuk tes di laboratorium adalah salah satu pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Tentu saja untuk melakukan tindakan lebih lanjut, apakah pasien harus rawat inap atau diperbolehkan pulang, dokter IGD membutuhkan hasil dari laboratorium ini. Ketika hasil lab-nya cukup baik, pasien akan diijinkan pulang dan diberi obat. Kalau hasilnya nggak oke, barulah disampaikan untuk rawat inap.  Masalahnya nunggu hasil lab itu lama bo. Bisa berkisar antara dua sampai tiga jam. Nah ini banyak yang nggak ngerti.

Aku pun menerangkan pada si ibu untuk sabar dulu menunggu hasil laboratoriumnya keluar. Qodarullah hasil lab si anak ibu ini nggak bagus, jadi harus rawat inap. Si anak pun dipasang infus. Saat itu oleh pihak IGD si ibu diminta melakukan pendaftaran untuk rawat inap, ibunya langsung bingung. Aku memberikan saran, “bapaknya saja yang suruh daftar bu”. Untung bapaknya pas masuk, ibunya udah rempong anaknya mau dibawa ke ruang pendaftaran. “Nggak usah dibawa bu putranya, biar bapak saja yang daftar, ibu sama anaknya di sini aja. Nanti kalau sudah dapat kamar langsung diantar ke kamar kok.” Begitu aku mencoba memberi penjelasan.

Ya,  kadang kala aku merasa pelayanan di  institusi pemerintahan itu ribet. Tapi aku baru sadar, sebenarnya nggak ribet kok kalau kita tahu alur dan prosedurnya. Masalahnya banyak masyarakat yang nggak tahu dan nggak mau tahu. Jangankan prosedur untuk rawat inap dan rawat jalan. BPJS saja belum merata lo. Budhe yang pernah bantuin mengerjakan urusan rumah tangga pernah aku tanya apakah punya BPJS atau Jamkesmaskot menjawab kalau dia nggak punya, dan nggak ngerti bagaimana cara mendapatkannya.

Okelah untuk kita yang suka baca media, baca buku, baca koran, kita bisa dapat banyak informasi. Namun untuk masyarakat menengah ke bawah yang boro-boro baca koran, kadang rumah sakit di mana saja dia nggak ngerti, informasi macam begini masih jauh dari jangkauan. Harus lebih banyak sosialisasi dari pemerintah ke RT dan RW agar semakin banyak orang yang paham tentang hal ini.

So, buatku cuma satu tips kalau pengen dapat pelayanan oke dari semua rumah sakit. Pahami prosedur dan alur yang ada di rumah sakit itu. Ketika kita paham, kita tahu alasannya kenapa diperlakukan seperti itu. Finally, kita akan mikir beberapa kali dulu sebelum complain.

Buat yang butuh prosedur pelayanan rawat inap dan rawat jalan di RS Wongso Negoro, silakan bisa lihat gambar berikut ini.


ALUR PASIEN PULANG RAWAT INAP







Btw, RSWN sekarang membuka pelayanan rawat jalan shift sore lo. Bertempat di Paviliun Gatotkaca, berlaku untuk umum, BPJS, dan Jamkesmaskot. Fyi, tempatnya bersih banget, desainnya modern dan wuangiii. Aku tadi sempat jalan-jalan ke lokasi, nggak berasa lagi di dalam sebuah rumah sakit milik pemerintah, bagus bangeeet.

Buat yang malas antre rawat jalan di pagi hari yang sering rame, bisa lo dicoba untuk rawat jalan shift sore ini. Yang harus dicatat; pendaftaran HANYA melalui On LINE hari Senin sampai dengan hari Jumat. Verifikasi Pendaftaran On Line pada pukul 11.00 WIB s.d. 13.00 WIB khusus pada hari Jumat. Verifikasi Pendaftaran On Line pada pukul 11.00 WIB s.d. 15.00 WIB pada hari Senin s.d. Kamis  Pelayanan dimulai pukul 14.00 WIB s.d. selesai.




Semoga info ini bermanfaat ya. Jangan takut untuk berobat di rumah sakit milik pemerintah. Kenali prosedurnya dan jadilah bagian dari masyarakat yang menikmati layanan dari pemerintah. Jangan lupa juga untuk selalu share informasi positif kepada mereka yang belum paham alur pelayanan kesehatan ya. Mari bantu saudara-saudara kita untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak dari pemerintah.Salam sehat selalu!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Affan sudah sehat sedia kala



#ODOPOKT17



You Might Also Like

6 comments

  1. Wah, ingatanku langsung melayang ke jaman kuliah perawat dulu. Pernah praktek disitu. Tadi aku sambil inget-inget apalah namanya. RS Kodya? Eh baca lagi, baru deh inget. RS Ketileng... Jian lali tenan kan

    Dulu suka ada kambing lewat tuh di lorong. Sekarang masih ada gak? Kayaknya gak ada lagi ya

    ReplyDelete
  2. kambingnya sudah disembelih mbak. Alhamdulilah keduluan nulis :). Luph u bun2

    ReplyDelete
  3. Mantaaab kak Infonya Komplit pake Buued, semoga pelayanan Makin baik seperti aku ke dia Dan mereka haiis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini salah satu karyawan RSWN yang baiiiik banget, hehe. Tetap ikhlas dalam melayani ya mas Cuzz.. :)

      Delete
  4. Mantaaab kak Infonya Komplit pake Buued, semoga pelayanan Makin baik seperti aku ke dia Dan mereka haiis

    ReplyDelete
  5. Detail banget reviewnya, boleh lah :) syukur sdh sembuh juga...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com