Today’s Pillow Talk; Sekolah buat Ifa

  • Friday, November 03, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 1 Comments




Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jumpa lagi denganku di hari kedua game level 1 “komunikasi produktif” kelas Bunda Sayang Batch #3. Jika kemarin aku belajar mempraktekkan ilmu berkomunikasi yang oke dengan mbakIfa. Hari ini aku menjadikan pak su tercinta sebagai sarana belajarku.

Alhamdulillah memasuki usia pernikahan ke-10, aku merasa pola komunikasi dengan suami semakin terbentuk, matang dan dewasa. Kami memang tidak menjalani taaruf, karena sebelum menikah kami sempat berada di masa-masa alay dan jahiliyah. Kami telah saling mengenal dan dekat satu sama lain selama empat tahun sebelum memutuskan untuk menggenapi setengah dien kami.


Meski telah mengenal empat tahun sebelum pernikahan, bukan berarti ketika sudah dipersatukan dalam hubungan yang halal kami tidak menemui kendala dalam masalah komunikasi. Justru kalau boleh kilas balik, komunikasi adalah salah satu hal yang kerap kali membuat hubungan kami memanas dan naik turun. Bukan karena kami nggak pernah ngobrol dan saling mengungkapkan isi hati. Kami paling hobi untuk saling ngobrol, bahkan kalau sudah ngobrol bisa betah hingga berjam-jam. Bahkan kadang ketika kami ber-pillow talk, kami seringkali nggak sadar sudah ngobrol sampai dini hari. Kalau nggak karena salah satunya ketiduran duluan, bisa sampai subuh belum berhenti.

Permasalahan komunikasi yang terjadi dalam hubungan kami harus kuakui karena aku jauh lebih dominan dan egois. Aku seringkali ingin menang sendiri. Ketika kami berbeda pandangan dalam suatu hal, aku ingin menjadi pemenang dalam perbedaan tersebut. Dan suami yang sadar akan sikapku, akhirnya lebih sering mengalah or kasarnya kalau orang Jawa bilang karep-karepmu deh. Dengan tanggapan yang seperti itu bukannya merasa menang, malah aku semakin merasa emosi.

Aku juga seringkali berasumsi akan sesuatu, padahal suami tidak melakukannya. Berkali-kali doi menjelaskan bahwa itu hanya sekedar asumsiku, semua alasannya akan terpelanting dan tak terdengarkan. Semua kegilaan itu berlangsung sampai  tahun ketiga pernikahan kami. Kegilaan itu perlahan mereda dengan hadirnya mbak Ifa di  tengah-tengah kami. Saat itu aku akui suami mengambil langkah yang sempat kusesali dan kurutuki, namun sekarang aku baru menyadari betapa bijaknya langkah yang doi ambil. Aku baru sadar sekarang kalau dia waktu itu tidak mengambil langkah tersebut, entah apakah hari ini kami masih bersama.



Langkah yang diambil saat itu adalah long distance marriage. Enggak jauh-jauh amat juga sih, doi pindah kerja aja ke Kebumen. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana saat itu dia mengatakan yang intinya, “mari menjauh beberapa saat, dengan saling berjauhan mari lihat seberapa besar kita akan saling merindukan dan membutuhkan.” Awalnya sebagai seorang yang saat itu masih pemarah dan posesif akut, setiap hari ada saja yang kami pertengkarkan lewat telepon dan perpesanan, namun perlahan apa yang dikatakan suami mulai  terlihat kebenarannya.

Ya, jarak telah membuat kami saling merindukan. Betapa memang benar seseorang akan terasa sangat berarti ketika ia tidak lagi di dekat kita. Itulah yang aku rasakan saat itu. Di satu sisi, suami yang mungkin sudah sempat ilfeel denganku mulai kembali menyadari betapa ia pun masih membutuhkanku. Finally, dengan semua yang telah kami jalani, hubungan kami pun menguat dan semakin bertumbuh dewasa. Alhamdulillah, kini kami tak perlu saling berjauhan untuk bisa memahami betapa kami saling merindukan dan membutuhkan.


Belajar Komunikasi Produktif dengan Suami

Berada dalam kelas Bunda Sayang Batch #3, aku sangat bersyukur karena merasa terbantu untuk menjaga agar komunikasiku dengan suami bisa bertumbuh semakin baik.

Ketika mendapatkan materi Komunikasi Produktif, aku manggut-manggut karena akhirnya tahu kenapa selalu saja ada perbedaan di antara kami. Bahkan kadang perbedaan kecil aja bisa membuatku ngomel seharian. Misal, kebiasaan doi yang suka naruh barang sembarangan, sudah berkali-kali dibilangin untuk menaruh di satu tempat yang sama, tetap saja itu terulang lagi. Atau kebiasaan doi yang suka naruh handuk di atas kasur dan tidak diletakkan lagi di jemuran selesai mandi, yang bikin kasur basah dan lembab. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang lama-lama bikin gemes. Meski akhirnya kemudian berakhir dengan pemakluman, tetap disertai dengan omelan juga sih,hehehe.



Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu. Pasangan kita dilahirkan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya. Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya. 
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA.
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi. Komunikasi antara dua orang dewasa berpijak pada nalar. Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua. 
 (Sumber; Materi Komunikasi Produktif Kelas BunSay IIP Batch #3)

Aku ketampar banget sama kalimat terakhir euy. Betapa dulu aku lebih sering mendewakan emosi daripada nalar.


Today’s Pillow Talk

Seperti biasa ketika anak-anak sudah tidur adalah waktu paling asyik buat saling ngobrol dan bicara panjang lebar satu sama lain. Topik paling hangat yang akhir-akhir ini masih jadi bahasan utama kami adalah tentang memilih sekolah Ifa. Sudah sejak awal tahun sih kita ngobrolin ini. Kemarin sempat sudah hampir mencapai satu tujuan, namun setelah dipikir-pikir nggak benar-benar tercapai juga, karena aku lebih banyak mendominasi dialog. Setelah dipikir-pikir lagi saat itu aku juga banyak dapat influence dari teman-teman dekat sehingga entah apakah itu keputusanku sendiri atau karena sekedar ikut-ikutan.



Berhubung tahun ajaran baru semakin mendekat, dan sekolah swasta pasti membuka pendaftaran lebih cepat dari sekolah negeri. Tema memilih sekolah sudah urgent banget untuk segera mencapai titik temu. Jika sebelumnya kami lebih banyak ngobrol di waktu sekenanya, di sela-sela momong anak, di motor sambil jalan ke mana or ketika lagi makan di luar. Hari ini kami benar-benar fokuskan untuk ngobrolin tentang sekolah Ifa dengan lebih serius.

Jika sebelumnya aku lebih banyak mendominasi percakapan dengan informasi yang aku tahu dan kurang memberi kesempatan pak su untuk menyampaikan pendapatnya, “sekolah di B aja deh, anak si X to yah sekolah di situ jadi begini begini. Lagian kalau di  sekolah A ntar begitu begitu.” Kali ini berbeda, aku justru membuka dialog dengan membiarkan doi menyampaikan sudut pandangnya, “gimana nih yah, dua bulan lagi pendaftaran sekolah baru sudah dibuka. Menurut ayah kita pilih yang mana; A atau B?”

Pak suami pun membeberkan poin-poin yang dia miliki dan aku pun sangat menerima semua yang dia sampaikan. Padahal kemarin-kemarin tiap dia menyampaikan pandangannya, pasti aku sanggah dengan informasi yang aku dapat dari teman-temanku. Yes, I didn’t listen him as well. Bisa jadi kemarin-kemarin dia jengah juga ya ngobrolin hal ini karena berasa kaya “kok kamu lebih dengerin dan percaya ke teman-teman kamu sih, dengerin aku dulu kenapa.”

Finally, setelah melakukan beberapa langkah di bawah ini, kami sudah menyepakati sekolah manakah yang terbaik untuk Ifa.


1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Sebelumnya aku lebih banyak  mendominasi dialog, namun hari ini aku banyak memberikan kesempatan bertanya ke pak su. Aku juga menghindari bahasa yang berkesan ngotot ke salah satu kubu (sekolah), memilih kata yang lebih nyaman didengar sehingga kami bisa saling mengklarifikasi hal-hal yang belum dipahami.


2. Choose the Right Time

Memang pastinya beda banget lah ya ngobrol sambil disambi momong, dengan making special time for having deep chit chat. Komunikasi jadi lebih dua arah, kami pun merasa nyaman karena obrolan nggak terputus di tengah jalan gara-gara Ifa yang komplain merasa dicuekin ataupun Affan yang tiba-tiba sudah sampai ke kamar mandi, hehe.

3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Dengan berkomunikasi di saat yang tepat, komunikasi jadi sempurna karena kami bisa menata intonasi dengan baik, dan saling membaca bahasa tubuh masing-masing.


4. Intensity of Eye Contact

Karena kondisi yang nyaman dan minim gangguan, kami pun bisa dengan leluasa saling menatap dan melihat apakah pasangan bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan. Eye contact ini penting banget untuk saling meyakinkan.


5. Kaidah: I'm responsible for my communication results

Aku kadang suka salah memahami maksud suami, begitu juga sebaliknya. Jika waktunya nggak tepat dan kondisi nggak nyaman, kami nggak punya waktu untuk saling mengubah strategi dan menangkap respon dengan baik, namun dengan menjalankan empat tips sebelumnya, kami jauh lebih mudah memilih cara komunikasi yang bisa saling memberi kenyamanan. Dan hasilnya tentu saja tercapailah sebuah kesepakatan yang bisa diterima dengan baik oleh kedua belah pihak.

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan pernikahan. Sudah berapa banyak kasus yang aku temui dari hasil curhatan teman-teman ataupun hasil ngintip di support group untuk wanita, pernikahan seringkali gagal bukan karena pasangan berhenti saling mencintai, namun karena tidak ada komunikasi yang baik di antara keduanya. Semoga aku dan suami bisa menjadi pasangan yang terus bertumbuh dan bisa saling berkomunikasi dengan produktif, begitu juga dengan teman-teman dan pasangan ya!

Selamat menjemput weekend dan happy holiday!



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



You Might Also Like

1 comments

  1. Aku kok ngerasa lihat diriku sendiri ya pas baca ini. Aku sama suami juga merasa makin lama komunikasi kami membaik. Karena dari awal kami punya prinsip, jangan jadi api dua-duanya. Saat satu naik yang lain turun


    Alhamdulillah juga orangtua gak pernah ikut campur. Jadi apapun kami putuskan berdua. Itu yang bikin kami makin memahami satu sama lain

    Pillow talk tiap malam kami lakukan. Kecuali pas dia luar kota, ya pillow talk by phone aja

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com