8 B Warisan Ibu; Inspirasiku Menjalani Hidup

  • Saturday, December 16, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 8 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Dadaku sesak ketika kalender 2017 tinggal satu lembar lagi. Itu artinya Desember telah datang kembali. Tepat pada 3 Desember lalu, setahun sudah kepergian ibu. Tak bisa kupungkiri bahkan hingga detik ini, rasa kehilangan itu belum juga pudar. Namun apalah gunanya menjerumuskan diri untuk terus meratapi kepedihan atas kehilangan ini? Aku yakin ibu pun  tak akan suka jika aku berlarut-larut dalam ratapan. Masih banyak tanggung jawab yang harus aku selesaikan sebagai seorang ibu dan istri.


Maka ketika #ArisanBlogGandjelRel putaran ke-17 mengangkat tema tentang ibu, aku sudah berniat untuk tidak menulis sesuatu yang akan membuatku kembali meratap atas kepergiannya. Menulis tentang ibu bukanlah hal yang baru, beberapa kali aku sudah menulis tentang ibu di blog. Bahkan ada satu postingan yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku antologi berjudul “Hati Ibu Seluas Samudera” bersama Pakdhe Abdul Cholik, dkk.



Tema arisan kali ini dipilih oleh duo blogger kece yang sekaligus berprofesi sebagai pendidik muda Indonesia. Yang satu berkiprah mencerdaskan para mahasiswa, MbakNorma Fitriana M Zain. Sedangkan yang tak kalah kece lainnya ada mbak Chela dengan nama pena uniknya; Guru Kecil. Meski mungil, doi ini merupakan seorang guru yang sangat passionate dan pastinya dikangenin murid-murid SD-nya.

Qodarullah almarhumah ibuku juga merupakan seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan sama seperti dua orang pemberi tema arisan kali ini. Tak jauh berbeda dengan mbak Chella, ibuku juga seorang guru SD. Beliau dikenal sebagai sosok guru yang sangat disiplin, tegas namun disayangi oleh para muridnya. Setiap kali beliau bertambah usia, pasti selalu ada kejutan berupa banyak kado dan roti tart dari para muridnya. Ruang kelas akan dihias dengan pita warna-warni dan balon-balon. Seluruh murid beliau akan menunggu ibu masuk ke dalam kelas, lalu bersama-sama menyanyikan lagu ulang tahun untuk menyambut kedatangannya.  Namun karena penyakit yang dideritanya, ibu harus berhenti dari pekerjaan yang disukainya itu dan berpamitan dengan murid-murid yang selalu disayanginya sebelum masa pensiun tiba.

Ibuku, Wanita Paling Menginspirasi

Oya, postingan ini selain untuk memenuhi kewajibanku setor #ArisanBlogGandjelRel putaran ke-17, aku juga menuliskannya dalam rangka “Gebyar Literasi Media Institut Ibu Profesional Semarang” periode Bulan Desember yang juga mengangkat tema tentang ibu.

Hampir semua anak akan selalu menjadikan orangtuanya inspirasi bagi hidupnya, terutama dari sosok ibu. Meski beberapa anak lainnya ada juga yang memiliki hubungan buruk dengan ibunya, namun pasti akan selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari setiap kejadian. Bahkan jika ibu kita mungkin pernah meninggalkan memar di hati, pasti ada maksud dan hikmah tersembunyi yang Allah kirimkan untuk kita pecahkan.

Aku bersyukur meski sempat melewati titik-titik terburuk dalam hidup, aku memiliki ibu yang sangat luar biasa. Hubungan kami tidak selalu berjalan mulus, ada kalanya kami berbeda pendapat dan bisa saling diam beberapa hari, namun ikatan antara ibu dan anak tidak akan terputus dengan mudahnya ketika cinta yang tulus hadir menjadi perekat abadi.



Berbekal pengalaman hidup dan latar belakang beliau sebagai seorang pendidik, ada banyak hal dalam diri ibu yang senantiasa menginspirasiku. Tidak hanya menginspirasiku hingga berbuah tulisan, ibu juga mewarisiku delapan hal berikut yang saat ini aku genggam menjadi pedoman untukku menjalani hidup.

Bersyukur dalam Suka Duka

Hidup ibu penuh lika-liku. Tidak hanya berisi masa remaja ceria yang seringkali beliau ceritakan padaku, namun juga berkali-kali tersungkur dalam ujian yang buatku bisa jadi tidak mudah untuk dilewati. Namun satu hal yang aku lihat dari beliau adalah betapa rasa syukur tak pernah lepas dari bibir dan jiwanya.

Ibuku juga sama tidak sempurnanya seperti manusia lainnya. Pernah mengeluh, pernah menangis. Namun selalu dengan cepat beliau mampu mengatasi rasa gundah gulananya menjadi rasa syukur yang berlebih-lebih. Yang hingga saat ini masih sulit aku lakukan adalah mempraktekkan rasa syukur ketika musibah datang. Bersyukur atas takdir baik tentu jauh lebih mudah. Namun ketika sakit dan kehilangan mampu menjadi titik syukur kita pada Yang Maha Kuasa, maka itu luar biasa.



Aku jadi ingat saat kami pernah ada di posisi hampir kehabisan beras. Ibu masih tetap tersenyum sambil tidak lepas berdzikir asmaul husna, ya rozaq… ya rozaq… Dan jika menurut perhitungan manusia, beras itu akan habis dalam sekali masak, nyatanya  jumlah beras di tempat penyimpanan seakan tidak berkurang sama sekali, meski kami sudah menanak nasi berkali-kali. Allahu Akbar!

Bersyukurlah, maka Allah akan menambah nikmatmu. Ayat Al Quran itulah yang selalu ibu pegang dan berusaha aku jalani saat ini.

Bersabar Menghadapi Ujian

Awal ketika ibu mendapat ujian sakit, ibu pun terguncang cukup hebat. Namun tidak perlu waktu lama baginya untuk kembali bangkit. Alih-alih marah pada takdir yang nampak tidak adil di mata orang yang melihat, beliau memilih untuk berdamai dengan takdir tersebut.  

Kurang lebih selama 17 tahun ibu menjadi pesakitan. Namun jangan dibayangkan sosoknya begitu menyedihkan dan penuh air mata. Tidak… hampir sebagian besar beliau habiskan dengan tawa dan semangat. Suaranya masih menggelegar ketika beliau masih aktif mengajar. Tidak akan ada yang menyangka suara itu dihasilkan oleh orang yang hanya bisa berbaring di atas dipan dan semua aktivitasnya harus dibantu oleh orang lain.


Tentu saja aku juga sering melihatnya menangis. Namun bukan untuk meratapi penyakitnya, namun menangis untuk meminta kepasrahan dan kekuatan kepada Allah, meminta ampun atas segala dosa serta berharap untuk diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah. Ibuku, adalah salah satu wanita paling kuat dan sabar yang pernah aku temui dalam hidup.

Berprasangka Baik kepada Allah Setiap Saat

Pasti akan ada hikmahnya. Kalimat itu yang selalu ibu ucapkan ketika aku mengeluh akan sesuatu hal. Saat bapak menikah lagi, saat adikku meninggal mendadak, saat  suamiku harus bekerja di luar kota… banyak hal yang aku keluhkan dalam hidup, dan ibu selalu mendengarkannya sambil tersenyum.

Momen-momen ketika membersihkan badannya dulu adalah saat-saat yang paling menyiksa, apalagi ketika aku hamil besar. Namun sekarang aku justru sangat merindukan masa-masa itu. Masa di mana aku bisa mendengar cerita-cerita ibu yang sangat luar biasa. Meski kadang aku tak selalu mampu menangkap maksudnya saat itu juga, namun yang beliau kisahkan pasti membawa manfaat untukku. Kisah-kisah ringan yang kadang menyentilku untuk lebih sabar dan lebih bijak memandang hidup.



“Ibu tahu kenapa begini nduk… ternyata maksud Allah itu begini lo…” Kadang aku tak langsung menyetujui perkataan ibu, namun dalam hati aku mengangguk-angguk dan mengakui kebenaran itu.

“Takdir Allah adalah yang terbaik bagi setiap umatNya. Jangan sekali-kali meragu padaNya, berikhtiar itu wajib, namun setelah itu pasrahkan setiap detik hidupmu pada tanganNya. Biarkan Allah yang mengaturnya, dan ikuti saja alur demi alur yang mungkin penuh kejutan. Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan Allah. Allah saja selalu ada buat kita.” Salah satu wejangan ibu yang kucatat dan kuingat setiap saat.

Belajar demi Wawasan yang Lebih Luas

Pendidikan ibu tidaklah terlalu tinggi. Beliau sempat merasakan kuliah jenjang DII di Universitas Terbuka. Aku masih ingat waktu beliau diwisuda. Saat itu ibu masih sehat, segar dan bugar.

Dari ibu aku belajar untuk suka membaca. Ibu selalu membawakanku buku-buku bacaan dari perpustakaan. Beliau juga berlangganan Bobo untukku. Setiap kali pergi ke suatu tempat, buku atau majalah adalah sesuatu yang tak boleh ketinggalan.

Saat kemudian beliau jatuh sakit, semangat belajarnya pun tak sirna. Meski hanya di tempat tidur, saat tangannya masih kuat memegang buku, ibu selalu membaca buku setelah habis sholat dhuha. Tidak hanya buku cerita atau buku agama, Al Quran  terjemmahan pun selalu dilahapnya tiap pagi, siang dan sore hari. Ibuku sebenarnya tidak lancar membaca huruf hijaiyah, namun semangatnya belajar agama begitu tinggi. Ia memintaku mencarikan Al Quran yang ada transkrip bahasa Indonesia sekaligus artinya. Ibu juga memintaku mencarikan guru ngaji. Beberapa kali aku juga mengajarinya sendiri, meski beliau sering lupa.
Televisi buat ibu bukan hanya sekedar hiburan. Televisi hanya nyala untuk menayangkan siaran keagamaan. Beliau hafal semua jadwal acara siraman rohani yang tayang di TVRI dan TV-TV Swasta.  Arifin Ilham adalah ustad favorit beliau. Setiap kali acara dzikir yang dipandu Ustad Arifin Ilham tayang, beliau pasti ikut berdzikir hingga air matanya tumpah.



Tidak hanya ilmu agama, ibu sangat terbuka tentang perkembangan ilmu parenting. Ketika aku mengasuh Ifa dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan caranya, Ibu tidak protes dan malah ikut belajar. Malah seringnya aku yang diingatkan oleh ibu, “kok ngono.. jarene gak oleh ngono..” Ya, she is my alarm, she is my reminder!

Ibu selalu antusias ketika aku mau menghadiri acara seminar parenting, beliau rajin mengingatkan. “Nek ibu sehat, ibu gelem melu kok, nduk.” Dan aku beberapa kali berandai-andai datang ke sebuah acara seminar dengan menggenggam tangan beliau. Dari ibu aku tahu arti dari lifetime learner, pembelajar sepanjang hayat. Bahwa wajib bagi kita sebagai manusia untuk terus belajar dari buaian hingga ke liang lahat. Kita hanya berhenti belajar ketika kematian datang menjemput. Ibu juga menjadi pengingat untukku kalau aku mau anakku jadi pembelajar, maka aku harus menjadi pembelajar terlebih dulu.

Bermanfaat dan Berbagi dalam Segala Kondisi

Ibu dulu selalu bertanya-tanya kenapa dengan kondisi beliau yang seperti itu, Allah belum juga mengambilnya. Lalu ibu akan selalu tersenyum ketika mampu menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Ibu belum bisa pergi, wong kamu aja masih butuh diingatkan terus. Ibu belum bisa pergi wong menantu ibu masih butuh dicereweti. Ibu masih harus di sini, meski cuma di kasur bisa nemenin Ifa ngobrol kalau mbok tinggal kerja.

Beberapa ungkapan yang sering ibu utarakan kepadaku, dan memang benar adanya. Ibu bisa jadi hanya tiduran di dipan, namun manfaat yang beliau berikan untuk keluarga kecilku sangat luar biasa. Bahkan bukan hanya untuk keluarga, tetangga depan rumah  pun sering datang untuk bercerita masalahnya dengan ibu. Ketika datang bermuka masam, pulangnya sudah tersenyum ceria. Mbak sayur langganan seringkali juga menghujani ibu dengan ciuman di pipi kanan pipi kiri, karena merasa ibu memberikan motivasi dan hiburan ketika hatinya bersedih. Mbak sayur juga beberapa kali cerita kepadaku betapa ibu selalu mengingatkannya untuk sholat dan ngaji. Belum lagi budhe yang bantu bersih-bersih rumah, ibu selalu mengajaknya bercanda biar nggak spaneng kerjanya.



Ibu…  meninggalkan banyak cerita di hati setiap orang yang pernah kenal dengan beliau. Meski hanya lewat kata dan suara, banyak orang yang hidupnya redup menjadi kembali bersinar setelah ngobrol dengan ibu. Ibu juga selalu berpesan padaku selalu sisihkan pendapatan yang aku punya untuk bersedekah. Tidak harus banyak, yang penting ikhlas.

Ibu tak pernah melihat orang dari status sosial dan kekayaannya. Buat beliau, semua orang layak untuk dihargai. Dan kita juga bisa belajar banyak hal dari orang lain. Jangankan sama manusia, sama kucing saja beliau sangat sayang. Entah sudah berapa kucing liar yang masuk ke rumah dan berakhir menjadi teman buat ibu saat aku sedang pergi.

Mengingat kisah beliau aku jadi bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kuberikan untuk keluarga dan orang-orang di sekitarku? Sudahkah aku cukup menebarkan manfaat?

Berkaca pada Kesalahan Diri Sendiri

Berapa kali pun aku menyalahkan bapak karena dengan mudah tergoda wanita hingga akhirnya diberi ijin oleh ibu untuk menikah lagi, berkali-kali pula ibu meyakinkanku bahwa kesalahan tidak hanya milik bapak seorang. Ibu pun merasa turut andil menjadi penyebab semua tragedi rumah tangga beliau.

Berapa kali pun aku membenci bapak, berkali-kali itu juga ibu memintaku untuk memaafkan beliau. Bahkan saat bapak meninggal, ibu bercerita betapa ada banyak hal baik dari diri bapak yang hampir terlupakan karena kami lebih banyak mengeja kecewa dan lupa mencatat kenangan baik tentangnya.

Berapa kali pun aku jengah dengan istri kedua bapak, berkali-kali itu juga ibu memintaku bersabar dan menerima kenyataan bahwa wanita itu beserta anak-anaknya adalah bagian dari keluarga kami.



Sebelum menuding orang lain, coba bercermin agar bisa melihat kekurangan dan kesalahan diri sendiri. “Bapak menikah lagi karena butuh sosok yang bisa bermanja-manja dengannya, ibu terlalu mandiri hingga lupa bahwa bapak juga butuh diperlakukan sebagai seorang laki-laki dengan segala egonya. Istri bapakmu tidak akan hadir jika ibu bisa 100 persen memenuhi hati bapak. Nyatanya masih ada tempat kosong yang ibu tidak bisa masuki dan ditempati oleh dia. Nyatanya anak-anak bapak pun tak bisa memberikan ruang kenyamanan hingga ia perlu berlari ke sosok lain.”

Darinya aku belajar bahwa dalam hidup tidak ada yang 100 persen benar dan 100 persen salah. Bahwa kesempurnaan hanya milik Allah dan manusia adalah gudangnya segala khilaf. Jadi apa gunanya mencari-cari kesalahan orang lain, ketika kesalahan diri sendiri saja menumpuk begitu banyak.

Berani Meminta Maaf

Suatu hari saat aku pulang dari sebuah acara parenting, aku bercerita pada ibu tentang apa yang aku dapatkan pada hari itu. Ibu mendengarkan dengan seksama. Lalu tiba-tiba ibu air matanya berderai, “maafkan ibu ya nduk, ibu banyak salah sama kamu. Dulu nggak ada parenting-parentingan. Maafkan bapak juga. Kami nggak tahu kalau imbasnya bisa sedemikian dahsyat untuk jiwamu.”



Aku malah jadi salting sendiri melihat ibu menangis, lalu aku godain biar suasana kembali cair. Namun satu yang aku garis bawahi dari pengalaman itu, bahwa meski posisi kita sebagai orang tua, tidak menutup kemungkinan kita berbuat salah dan dzalim pada anak-anak kita. Sudah sepantasnya kita pun harus berani meminta maaf kepada anak-anak kita. Jangan hanya karena kita orangtua, lantas kita merasa semua perilaku kita harus selalu dibenarkan. Dengan berani meminta maaf, justru anak-anak akan respect kepada orangtua. Saat itu juga sang anak belajar inilah cara memanusiakan manusia, juga memahami arti sebuah keadilan. Siapa pun yang salah, tak kenal tua ataupun muda, harus berani meminta maaf.

Buktikan dengan Tindakan



Kadang aku suka heran sama orangtua yang katanya kangen sama anaknya, tapi malah ngomongnya sama orang lain. Ibu nggak seperti itu. Ketika tahun 2003 aku mulai kuliah di Semarang, dilanjut tahun 2008 menikah dengan orang Semarang, yang artinya tinggal beda kota dengan beliau, ibu tak pernah sungkan untuk meneleponku lebih dahulu untuk bertanya kabar dan menanyakan segala hal. Ibu tak pernah menungguku datang atau telepon duluan. Kalau beliau merasa rindu, beliau lebih memilih menelepon dan langsung bertanya kenapa aku lama nggak pulang, kenapa aku lama nggak mengirim kabar. Nggak ada di kamus ibu, yang muda yang kudu ngerti,  Darinya aku belajar, jadi orangtua itu harus jujur, jika cinta dan sayang ke anak ya buktikan dengan tindakan.  Tidak perlu menunggu anak menjadi baik, tapi selalu doakan anakmu agar senantiasa menjadi baik dan dinaungi kebaikan.

Aah, cerita tentang ibu memang tidak pernah ada habisnya. Bahkan meski sudah berkali-kali menulis tentang beliau, masih ada banyak hal yang ingin diceritakan. Oya, bertepatan dengan setahunnya kepergian ibu, buku antologiku bersama 61 penulis wanita lainnya yang berjudul “Dear Ayah Bunda, Suksesku Ada di Ridhamu” juga terbit. Senangnya… bisa pas terbitnya, seakan sebuah pengingat. Di buku itu ada tulisan yang juga kupersembahkan untuk ibu. Ada yang mau baca tulisanku di buku tersebut? Grab the book fast because the stock is very limited now! Hehe, maaf ye.. ada iklan terselubung….



Selamat hari ibu untuk semua wanita Indonesia… keep fighting, keep inspiring! You’re always wonderful whatever you are, moms…

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

You Might Also Like

8 comments

  1. Al fatihah untuk almarhumah ibunya mbak ririt, InsyaAllah kelak akan bertemu lagi di surga Allah, Aamiin

    ReplyDelete
  2. Al fatihah u almarhumah ibu yaa mba. Smoga mendapatkan tempat terbaik di sisiNya

    ReplyDelete
  3. Masyaallah, ibu yg istimewa.
    Beda jauh dg saya :(

    ReplyDelete
  4. Lahul faatihah ilarruhi ibuknya mba ririt yaaa... insyaallah ibu khusnul khotimah. Digugurkan segala dosanya karena sakit yg dideritanya juga keikhlasan hatinya menjalani takdir.. aamiin

    ReplyDelete
  5. Duuh...terharuuu... Alhamdulillah kita punya ibu2 hebat.. InsyaAllah surga bagi almh ibu mb Marita..

    ReplyDelete
  6. tulisan keren mbak...

    alfaatihah utk IBUk yaa

    ReplyDelete
  7. Masyaallah ibumu mbak semoga khusnul khatimah ya

    ReplyDelete
  8. Semoga ibu khusnul khotimah ya mbak... Aku nangis bacanya. Sungguh, sosok ibu memang sangat luarbiasa

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com