Wisata Religi Menelusuri Sejarah Masjid Agung Demak

  • Monday, January 29, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 4 Comments

wisata religi masjid agung Demak

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Salah satu goal-ku di tahun ini adalah bisa mengajak anak-anak berwisata ke tempat-tempat baru, bukan hanya sekedar for having fun, tapi juga untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Apalagi setelah kemarin selesai nonton The Nekad Traveler, keinginan itu semakin berlipat-lipat. Waktu itu aku juga mengajak mbak Ifa dan Affan nonton filmnya, sambil sounding ke mereka, “let’s travel around Indonesia, around the world, see many beautiful cities and countries, get many experiences and much more knowledge, my dear.” Mbak Ifa pun berkomentar excitedly saat melihat film tersebut “itu di kota mana bun, bagus banget ya.” Affan? Heboh juga dia waktu scene mandiin gajah, hehe.



Berhubung untuk jalan-jalan jauh juga butuh dana yang nggak sedikit, maka sembari nabung, ya marilah kita piknik tipis-tipis. Alias piknik ke tempat yang masih bisa kami jangkau dengan budget kami sekarang, hehe. Salah satu tempat yang nggak jauh dari Semarang dan mbak Ifa pengen banget ke sana yaitu Masjid Agung Demak. Why?

Sebenarnya mbak Ifa sudah pernah ke Masjid Agung Demak bersama ibu guru dan teman-teman sekelasnya saat fieldtrip tema Demak di akhir semester satu yang lalu. Nah, sejak pulang dari Masjid Agung Demak, setiap hari dia selalu cerita betapa asyiknya berkunjung ke masjid tersebut. Dia juga cerita kalau saat itu rombongannya nggak bisa masuk ke museumnya karena sedang tutup. Dia selalu menutup ceritanya dengan harapan, “tapi lebih asyik jalan-jalan sama ayah bunda kok. Aku mau ke sana lagi sama ayah bunda.”

Hampir setiap hari tuh mbak Ifa cerita hal yang sama. Lama-lama kami sebagai orangtuanya terketuk juga dong. Lagipula aku juga belum pernah ke Masjid Agung Demak, hehe. Pernahnya ke Masjid Agung Semarang dan Menara Kudus. Nggak ada yang nanya keleus.

masjid agung Demak ramai pengunjung

Qodarullah tanggal 31 Desember kami dapat undangan untuk menghadiri pernikahan kerabat di daerah Sayung. Tinggal maju dikit nyampe deh ke Masjid Agung Demak, pikir aku dan ayahnya waktu itu. Eh, ternyata hari itu kami kecapekan sepulangnya dari Pasar Karetan. Rencananya mau pulang ke rumah sebentar, mandi lalu cuzz berpetualang lagi. Yang ada, kami tepar semua, hihi.


Akhirnya rencana pun diubah. Kami bakalan cuzz ke Masjid Agung Demak setelah selesai kondangan pada hari berikutnya alias 1 Januari 2018. Sepertinya pertanda bagus nih, membuka awal tahun dengan jalan-jalan. Semoga tahun ini kami bisa banyak jalan-jalan ke tempat keren lainnya. Aamiin.

Selain mbak Ifa yang ngebet mengajak ayah bundanya mengunjungi masjid tersebut, si ayah juga pengen banget mentraktir keluarganya makan asem-asem daging di salah satu rumah makan yang letaknya dekat dengan lokasi. Jadi ceritanya waktu mama mertua pulang ke Semarang, suami diajak main ke Jepara. Saat itu aku nggak ikut mendampingi karena harus menemani Ibu di rumah yang nggak mungkin ditinggal pergi dalam waktu lama. Ifa diajak pergi tanpa bundanya pun ogah, hehe. Jadilah suami sorangan aja jalan-jalan sama keluarga besarnya. Lalu di tengah perjalanan ke Jepara, mereka mampir ke Masjid Agung Demak dan menyantap makanan khas Demak tersebut. Suami waktu itu langsung kepikiran one day kudu mengajak anak istrinya ke situ. Alhamdulillah, akhirnya keturutan juga.

Rumah Makan Rahayu Credit by Hello Semarang
Rumah Makan Rahayu, credit by Hello Semarang
Aku kok lupa ya nama rumah makannya, lupa moto juga pula, hehe. Beneran nggak bakat jadi travel and food blogger deh. Kalau nggak salah namanya RM Rahayu (setelah googling, ternyata bener namanya, hehe), letaknya dekat banget lah sama Simpang Tujuh Demak, di ruas jalan arah mau ke Semarang. Jadi waktu itu kami putar balik dulu, makan, baru masuk ke area Masjid Agungnya.

Rumah makannya memang ramai banget. Punya cabang juga di Semarang kok, salah satunya di daerah Anjasmoro. Saat itu aku pengen pesan Garang Asemnya, tapi ternyata sold out sodara-sodara. Jadilah pesan asem-asem yang rasanya memang nampol banget nget nget. Bikin nagih, pokoknya harus kembali lagi ke sini, hehe. Akhirnya setelah perut kenyang saatnya menjelajah ke Masjid Agung Demak.


Sejarah Masjid Agung Demak

Salah satu wish list-nya Mbak Ifa terkabul nih, bisa masuk ke museum di area Masjid Agung Demak. Di museum ini kita bisa dapat banyak informasi mengenai sejarah masjid ini, sekaligus sejarah kota Demak itu sendiri.

Konon Masjid Agung Demak ini merupakan salah satu masjid paling tua yang ada di Indonesia. Didirikan atas inisiatif dari Raden Patah yang merupakan sultan Demak pertama bersama Walisongo. Dulu masjid ini bisa dibilang sebagai basecamp-nya Walisongo. Menurut catatan sejarah yang ada, diperkirakan masjid ini berdiri sejak abad ke 15 Masehi.

Menara Masjid Agung Demak

Salah satu hal yang menjadikan masjid ini pernah dicalonkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO di tahun 1995 adalah sejarah di balik pembuatannya. Menurut cerita eyang dan ibuku dulu, tiang masjid ini dibangun dari serpihan-serpihan kayu. Kalau dinalar rasanya nggak masuk akal ya, tiang masjid yang berasal dari serpihan kayu, tapi bisa berdiri dengan kuat hingga bertahun-tahun. Masya Allah.

Di dalam museum masjid, kita bisa lihat tuh penampakan tiang tersebut. Ternyata gede bangeeeeet. Kalau sekarang tiangnya pasti sudah banyak mengalami renovasi ya, pals. Tiang-tiang ini dinamakan saka guru. Saka guru ini bisa kita temukan di dalam bangunan induk. Totalnya ada empat saka guru, yang disebut dengan saka guru Sunan Kalijaga, saka guru Sunan Bonang, saka guru Sunan Gunungjati, dan saka guru Sunan Ampel. Nama dari saka guru ini merujuk pada pembuat saka guru tersebut. Salah satu dari saka guru berasal dari serpihan-serpihan kayu seperti yang aku ceritakan di atas. Saka guru itu disebut juga saka tatal. Tatal itu mengacu pada bahasa Jawa yang artinya serpihan kayu. Saka tatal ini yang membuat Sunan Kalijaga, maka disebut pula dengan saka guru Sunan Kalijaga.

Oya, Raden Patah dan Walisongo memberikan gambar bulus sebagai simbol masjid ini. Dikutip dari Wikipedia, gambar tersebut merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.

Menelusuri sejarah Masjid Agung Demak lewat peninggalan-peninggalan yang tersimpan rapi di museumnya, membuat kami nggak berhenti berdecak kagum. Ternyata masjid ini dibangun dengan penuh filosofi. Bangunan serambi masjid ini merupakan bangunan terbuka, lantainya adem banget. Nggak heran kalau banyak orang duduk-duduk di serambi ini sembari menunggu waktu sholat. Ketika waktu sholat tiba, penjaga masjid akan merapikan sembari dan memisahkan antara pengunjung perempuan dan laki-laki. Pengunjung perempuan hanya boleh di sebelah kiri serambi dan pengunjung laki-laki harus berada di sebelah kanan. Bagian tengah serambi harus kosong agar tidak mengganggu jamaah sholat yang mau masuk ke dalam masjid.

serambi masjid agung demak

Waktu itu si Affan lagi asyiknya merangkak ke sana ke mari sampai ke tengah serambi. Aku jadi kena tegur deh sama penjaganya, disuruh menepi ke sebelah kiri. Maaf ya pak, anaknya pengen tahu nih. Alhamdulillah akhirnya Affan bisa dialihkan perhatiannya dengan mengeksplorasi bedug yang ada di depan masjid. Sebelum dan sesudah azan, bedug ini dipukul bertalu-talu. Keren banget. Udah jarang lihat bedug. Apalagi bedugnya gede banget. Tapi ini udah bukan bedug yang asli ya, kalau lihat dari keterangan di bedugnya, bikinan baru kok, cuma aku kok lupa ya. Kalau nggak akhir 2016 ya awal 2017 gitu.

Beduk Masjid Agung Demak Bertalu


Salah satu filosofi yang apik dari masjid ini dituangkan dalam atapnya yang berbentuk limas. Limas ini merupakan salah satu arsitektur khas rumah Jawa yang menunjukkan strata sosial. Atap ini ditopang oleh delapan tiang, disebut Saka Majapahit. Berbeda dengan makna limas di bangunan rumah Jawa, atap limas di masjid ini terdiri dari tiga bagian yang berarti iman, Islam dan ihsan. Seakan mengingatkan pada setiap muslim yang masuk ke masjid ini untuk jangan pernah melepas tiga bagian penting ini di dalam diri.

Hal menarik lainnya dari masjid ini adalah Pintu Bledeg yang kini sudah tersimpan di dalam museum. Pintu ini  mengandung candra sengkala, yang artinya adalah Naga Mulat Salira Wani, merujuk pada tahun pembuatannya yang diperkirakan pada 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo dari kayu jati berukiran tumbuh-tumbuhan, suluran, jambangan, mahkota, dan kepala binatang (naga) dengan mulut terbuka menampakkan gigi-giginya yang runcing. Konon, kepala naga ini menggambarkan petir yang ditangkap oleh Ki Ageng Selo.





Selain saka guru yang telah rusak dan pintu bledeg, di dalam museum kita juga bisa melihat beberapa Al Quran kuno 30 juz yang ditulis dengan tangan. Keren banget, rapi lo kaya cetakan pabrik. Lalu ada foto-foto Masjid dari tahun ke tahun, Maket Masjid Agung Demak pada tahun 1845 – 1864 M, kentong dan bedug peninggalan para wali, gentong pemberian Putri Campa dari Dinasti Ming pada abad ke-14, lampu dan beberapa peralatan rumah tangga terbuat dari Kristal dan kaca yang merupakan hadiah dari Paku Buwono 1 pada tahun 1710 M, serta informasi silsilah para nabi, para raja kesultanan demak hingga bupati Demak jaman now, dan Walisongo.

Untuk lebih terasa napak tilas sejarahnya, bagusnya sih sekalian ziarah ke beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak. Letaknya pun ada di kompleks masjid ini kok. Cuma waktu itu aku memutuskan nggak masuk sih. Ntar kapan-kapan mau ke sana lagi deh, ziarah ke makam para raja tersebut dan cuzz ke makamnya Sunan Kalijaga yang ternyata letaknya nggak jauh dari Masjid Agung Demak.


Mbak Ifa minta difoto
Oya, di dekat museum masjid, ada sebuah kolam. Konon dulunya kolam ini merupakan area yang digunakan untuk berwudhu. Kalau sekarang tempat wudhunya ada di sayap kiri dan kanan masjid. Yang berada di sayap kiri untuk jamaah perempuan, dan sayap kanan untuk jamaah laki-laki. Waktu menuliskan postingan ini, aku googling dan mendapatkan alamat website Masjid Agung Demak yang ternyata mengarah ke channel live video. Masya Allah jam setengah 3 pagi aja penuh para jamaah yang sedang berzikir dan melaksanakan sholat di sepertiga malam. Beberapa juga ada yang nampak tertidur di serambi, mungkin menunggu waktu subuh tiba.

Begitulah sedikit catatanku saat mengunjungi Masjid Agung Demak bersama keluarga beberapa waktu lalu. Maafkeun kalau tak banyak foto yang dibagi karena kami terlalu sibuk menikmati setiap sisi masjid dan museumnya. Plus gantian mengejar Affan yang nggak henti berexplorasi ke sana ke mari, hehe. Dan baru sadar kalau foto di kamera HP kok ternyata tidak tersimpan, hiks.




momong Affan
Sampai jumpa di cerita-ceritaku berikutnya ya, pals. Thank you so much buat yang sudah mampir dan menyempatkan membaca.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Sumber Informasi:





You Might Also Like

4 comments

  1. Saya jadi tahu sejarah Masjid Agung Demak nih. Habis itu langsung list ke sini ah, pas liburan bareng keluarga :D

    ReplyDelete
  2. Masjid Demak ini masih kental dengan adat Jawanya ya, dari filososi atap bentuk limas yang kejawaan banget. Saya jadi ingin mengunjungi majsjid ini

    ReplyDelete
  3. Header blognya kece banget ihh mba..cara bikinnya gimana sihhh? Hehe

    ReplyDelete
  4. Banyak sejarah yang bisa diketahui ya dateng kesini :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com