header marita’s palace

Dapur dan Pena, Apa Hubungannya?






Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Memalukan , itu yang pertama akan aku tuliskan di postingan ini. Kenapa? Karena penyelenggara tantangan harus menerima kenyataan untuk rapel setoran. No excuse, apapun alasannya hayuk kita geber rapelannya. 

Hari kelima, tema yang aku ajukan adalah tentang dapur? Apa hubungannya coba Wanita & Pena dengan dapur? Jelas ada! Wanita tidak akan pernah bisa dipisahkan dari dapur. Mau bersikeras seperti apapun, dapur tetap menjadi tempat yang tidak bisa kita tolak saat menjadi ibu. Bahkan meski kita tak memasak, saat menyiapkan air hangat untuk mandi anak, menyiapkan teh atau kopi untuk suami dan membuatkan segelas susu untuk anak, pasti mau tidak mau kita ke dapur kan?

Untuk beberapa orang dapur katanya gudangnya cinta. Ya, banyak orang bilang kalau mau merebut hati suami, rebutlah lewat makanan. Makanan yang dibuat sendiri ya pastinya, bukan yang diorder lewat go food, hehe. Dan itu artinya dapur menjadi pusatnya cinta dalam keluarga. Katanya nih, anak-anak juga akan lebih senang memakan hasil masakan ibunya. Entahlah sampai hari ini kok hal itu belum berlaku di rumahku.


Ifa setiap kali pulang sekolah selalu cerita betapa makanan katering hari ini sangat enak. Padahal saat aku cek masakannya juga hanya sayur bayam dan tempe goreng. Aku pun sering menyajikannya untuk Ifa, tapi kenapa tidak pernah dia membanggakan masakanku sebagaimana ia membanggakan masakan katering sekolahannya. Hiks. 

Aaah, sepertinya memang aku harus meluruskan niat. Memasak karena Allah ta’ala, bukan mengejar pujian anak dan suami. Tapi kalau boleh jujur aku lebih suka ada yang menyiapkan makanan dan aku tinggal makan, hehe. Well, karena hal itu sekarang ini belum memungkinkan, maka aku masih harus berkutat dengan dapur. Ya, walau kadang aku merasakan aku masuk ke dapur hanya sekedar menuntaskan kewajiban, belum karena merasa sebagai kebutuhan.

Karena aku tidak mau menghabiskan banyak waktu di dapur, aku paling tidak bisa kalau masak dadakan. Itulah kenapa aku selalu membuat daftar menu dan belanjaan untuk satu minggu sekaligus. Meski sebenarnya menunya ya cuma berkutat antara sop, sayur bayam, oseng-oseng, lodeh, sayur asam, bobor kangkung, semur telur, terik tahu, tempe goreng, tahu goreng dan kembali lagi dari awal, hehe. Tapi kalau tidak direncanakan dengan baik, aku bisa pusing mau masak apa hari ini.

Lalu kenapa harus seminggu sekalian? Ketidaknyamananku berada di dapur berbanding lurus dengan ketidaksukaanku ke pasar. Aku tidak terlalu suka keramaian, tawar-menawar, ibu-ibu yang berebut belanjaan, duh males banget sebenarnya terlibat dalam hal itu. Namun karena kewajiban ya harus dilaksanakan.

Maka setiap Minggu malam, bisa dipastikan penaku akan bergoyang membuat daftar menu dan belanjaan untuk satu minggu. Biasanya aku buat dua versi, satu tulisan tangan yang bisa aku tempel di kulkas sehingga saat pagi tiba aku tinggal eksekusi apa yang harus aku masak. Satu versi lainnya ada di gawai untuk memudahkan saat belanja di pasar, tinggal centang apa saja yang sudah terbeli.

Aku merasa cukup beruntung karena sekarang Ifa ikut katering di sekolahnya, jadi aku sering mencontek menu yang aku dapat dari sekolahnya Ifa. Sekaligus menambah wawasanku tentang dunia perdapuran.

Ternyata pena pun tak bisa jauh dari dapurnya wanita kan?


Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com