4 Tahun Indonesia Kreatif, Seberapa Greget Kreatif Kamu?

  • Friday, November 09, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Selamat siang, pals. Hari Jum’at penuh berkah dan aku sedang menikmati dinginnya ruang meeting di Po Hotel Semarang. Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan untuk bisa hadir kembali di acara Flash Blogging yang diadakan oleh Kemkominfo. Berkumpul bersama orang-orang yang pikirannya selalu positif untuk kemajuan bangsa selalu membawa energi tersendiri untuk mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, apa saja yang sudah aku lakukan untuk negeri ini?

Jika flash blogging yang juga diadakan Kemkominfo pada bulan Februari 2018 lalu mengangkat tema tentang Menuju Indonesia Maju, event kali ini bertemakan 4 Tahun Indonesia Kreatif. Sejak awal acara ini dibuka dengan sambutan dari Ibu Rosarita Niken, Dirjen Kominfo, aura semangat sudah menggedor-gedor di dalam diriku. Semangat apaan? Semangat menjadi bagian dari bangsa ini. Aku bangga menjadi bagian Indonesia yang pemerintahnya memikirkan pembangunan tidak hanya jawasentris, tapi juga di pinggiran-pinggiran. Pembangunan harus merata, itu yang selalu diinginkan bapak presiden kita, pak Joko Widodo. Lihatlah, jalan tol yang keren, kereta api di Sulawesi, listrik yang sudah sampai Papua, tidak kah kita bangga?



Baca juga: Jangan Jadi Blogger Biasa, Jadilah Blogger Membangsa Menuju Indonesia Maju

Bu Rosarita dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kemkominfo sebagai humas dari pemerintahan merasa gelisah dan prihatin betapa masih banyak masyarakat Indonesia yang terjebak berita hoax. Dalam sehari kita bisa menerima 3,3 juta informasi. Bayangkan jika semua informasi tersebut kita terima tanpa dipilah dan disaring? Apa kata dunia, kalau Nagabonar bilang? Bisa jadi orak-arik dunia ini kalau semua informasi dicampur aduk tanpa filterisasi.

Masih kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk beretika dalam bermedia sosial yang membuat negara ini semakin ricuh. Hal kecil saja bisa menjadi besar dan heboh. Bahkan hal-hal baik yang dicapai pemerintah masih saja banyak yang menjadi sasaran nyinyiran. Duh, apa kreatifnya kita hanya sebatas dalam soal mengkritisi pemerintah? Kalau kreatifnya membangun, it’s okay, kalau hanya bisa mencaci dan membenci? Miris!

Padahal dalam perjalanan 4 Tahun Indonesia Kreatif, sudah banyak lo yang pemerintah upayakan demi meningkatnya kemajuan bangsa. Misal di dunia UMKM, pemerintah tidak hanya menyediakan pelatihan-pelatihan gratis, namun juga mengembangkan UMKM Go Online. Para pengusaha kecil diajari untuk memasarkan produknya secara online, mengikuti perkembangan zaman.

Di bidang pendidikan, pemerintah menyiapkan banyak beasiswa demi meningkatkan kualitas bangsa ini. Peningkatan beasiswa yang diberikan pemerintah ini luar biasa lo dalam 4 tahun terakhir. Bahkan di tahun 2019 nanti, pemerintah telah siap menggelontorkan beasiswa untuk para generasi milennial. 

Dengan segala hal baik yang telah dilakukan oleh pemerintah, apa hal baik yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari bangsa ini? Sudah ngapain aja gaessss? Kalau sampai hari ini kita bahkan hanya enak-enakan duduk santai menikmati pembangunan yang ada tanpa melakukan apa  pun.... stop nyinyir, please!



Sudah Seberapa Gregetkah Kreativitasmu?


Setelah bu Rosarita menutup sambutan panjangnya yang penuh gelora semangat, pak Andoko tampil dengan presentasinya yang memukau dan tak kalah membuat adrenalin semakin terpacu. Terpacu untuk memberikan yang terbaik kepada negeri ini. Di awal presentasi, Pak Andoko mengajak para peserta yang hadir untuk mengingat kembali Yambo Rambe Yamko dan Beungong Jeumpa. Bukan tanpa alasan bapak yang mengaku janda alias Jawa Sunda ini melakukan hal tersebut. Beliau ingin mengingatkan kami yang hadir di ruangan tersebut bahwa lagu-lagu daerah menjadi bukti betapa kreatifnya bangsa ini.

Kreatif itu bukan hanya milik seniman dan artis. Jika mau menggali kemampuan di dalam diri, sebenarnya kita memiliki sisi-sisi kreatif, hanya mau atau tidak melejitkan sisi tersebut?

Disebutkan dalam web KBBI, 

kreatif/kre·a·tif/ /krĂ©atif/ a 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yang -- menghendaki kecerdasan dan imajinasi;

Kalau dilihat dari pengertian istilah tersebut, apa kreativitas yang telah kita berikan pada negeri ini? 

Btw, ngobrolin tentang kreatif, entah kenapa tiba-tiba pikiranku melayang pada salah satu peserta Indonesian Idol empat tahun silam. Pujiono namanya. Saat itu ia menyanyikan lagu miliknya sendiri, yuk kita lihat videonya, cuzz ada liriknya nih kusertakan biar bisa ikutan nyanyi.



Memang manis manis gula gula
Begitu juga negeri kita tercinta
Banyak suku suku dan budaya
Ada Jawa Sumatera sampai Papua

Semuanya ada di sini
Hidup rukun damai berseri seri
Ragam umat umat agamanya
Ada Islam ada Kristen Hindu Buddha
Semuanya ada di sini

Bersatu di Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia negara kita tercinta
Kita semua wajib menjaganya
Jangan sampai kita terpecah belah
Oleh pihak lainnya

Pancasila dasar negara kita
Dengan UUD empat limanya
Jangan sampai kita diadu domba
Oleh bangsa lainnya


Mendengar lagu tersebut jujur rasanya nyess, apalagi kalau melihat kondisi Indonesia saat ini. Begitu mudah terhasut, begitu mudah terjebak negara hoax, begitu mudah mencaci, begitu mudah nyinyir, pun kita nggak melakukan apa-apa.

C’mon dalam rangka merayakan 4 Tahun Indonesia Kreatif, sudah saatnya kita bangkit dan tunjukkan betapa gregetnya kita untuk bisa berkreativitas demi kemajuan bangsa. 

Qodarullah tadi dini hari aku sempat menonton tayangan di Channel Youtube-nya Rans Entertainment dan Hitam Putih. Kedua channel tersebut sama-sama menayangkan si gadis viral Rachmawati Kekeyi Putri Cantikka. Seorang beauty vlogger wanna be berasal dari Nganjuk yang di setiap videonya selalu tampil dengan kepolosan dan kejujurannya.



Si Kekey ini viral karena ia membuat video dengan alat seadanya. Baik itu dari perlengkapan videonya, ataupun dari alat make up - nya. Namun ia tak menyerah, tetap fokus, satu titik… eh, malah nyanyi… dia ingin membuktikan bahwa berkarya tetap harus jalan meski hanya punya alat seadanya. Yang terpenting dari semua itu adalah kejujuran, ketulusan dari hati dan semangat untuk tak menyerah.

Plak. Aku sangat tertampar dengan dua video yang kutonton tersebut. Betapa selama ini aku selalu mematahkan semangat diriku sendiri ketika ingin melakukan sesuatu. Misal, salah satu keprihatinanku untuk Indonesia adalah masih kurangnya kesadaran keluarga di Indonesia tentang parenting. Dan aku punya mimpi untuk bisa membuat vlog sederhana tentang parenting yang bisa aku bagikan ke tetangga-tetangga, karena mereka lebih suka lihat video daripada baca blog. Namun keinginan yang masih berupa benih itu, layu sebelum berkembang hanya gara-gara aku merasa belum punya kamera memadai. Laptop yang kupunya pun kapasitasnya cuma cukup buat ngetik aja, nggak bisa diinstali aplikasi video editing yang macam-macam. Akhirnya keinginan tinggal keinginan, dipendam hingga kemudian semakin terlupakan.

Hingga hari ini tema flash blogging sekaligus video tentang Kekey mengingatkanku satu hal bahwa untuk menjadi kreatif, modal yang terpenting adalah diri kita sendiri. Kita punya tangan, kaki, otak… modal terbesar yang Allah berikan, dan harus kita maksimalkan fungsinya.

Lalu ketika slide Pak Andoko sampai di gambar ini, aku bertanya kepada diriku, aku ingin menjadi apa?



Maka jika boleh memilih aku ingin melejitkan kreativitasku di bidang “peduli dan kreator.” Seperti yang aku sampaikan di atas bidang yang menjadi concern - ku adalah pendidikan ibu dan anak. Aku ingin kembali mengumpulkan ide-ide yang berserak di otak dan mewujudkannya. Dari kepedulian itu, aku akan mewujudkannya dalam bentuk konten kreatif. Tentu saja salah satunya lewat postingan-postingan di blog ini. Aku juga mulai kembali mengumpulkan remahan ideku dengan mengikuti beberapa proyek antologi kisah inspirasi yang berkaitan dengan parenting. 

Aku berharap dari hal ini, aku bisa sedikit memberikan kontribusi kepada bangsa. Beruntung saat ini aku bergabung dalam salah satu komunitas parenting terbesar di Indonesia, Ibu Profesional. Bersama teman-teman di Komunitas Ibu Profesional Semarang, aku juga menyalurkan rasa peduliku lewat program-program yang kami buat. Salah satunya Kampanye KLIK yang beberapa kali sudah kami lakukan di beberapa sekolah. Sebuah kampanye untuk menyadarkan anak-anak tentang bahaya bullying juga mengembangkan fitrah seksualitas di dalam diri mereka, sehingga mereka bisa menjaga diri sendiri dan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa ini yang lebih baik dan berkualitas.

Kampanye Klik bersama Ibu Profesional Semarang
Aku tahu greget kreativitasku masih sangat cupu, namun dari yang sedikit ini aku berharap bisa ikut membantu pemerintah membangun bangsa. So, pals… dalam rangka 4 Tahun Indonesia Kreatif, apa bentuk kreativitasmu untuk bangsa ini? Salam semangat, salam kreatif dan mari membangun negeri ini bersama-sama!


Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul 4 Tahun Indonesia Kreatif, Seberapa Greget Kreatif Kamu?. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com