Menjadi Fasilitator; Cara Remidial Terbaik

  • Tuesday, November 20, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Tak terasa kebersamaan sejak akhir Juli 2018 lalu harus diakhiri. Seluruh rasa bercampur aduk jadi satu. Ada bahagia, sedih sekaligus haru melepas teman-teman matrikan menuju kawah candradimuka yang sebenarnya. Menjelang detik-detik dibubarkannya kelas, aku memang sengaja tidak banyak berinteraksi dengan teman-teman matrikan. Mengondisikan diri agar tidak baper dan teman-teman juga bisa segera move on ketika masuk ke grup regional yang berbeda-beda.

Kalau ditanya kenapa memutuskan menjadi fasilitator, jujur aku jawab awalnya karena ingin mewakili IP kota ambil bagian dalam gawenya Institut. Setelah terlambat mendaftar di batch #5, aku tak ingin ketinggalan kereta lagi di batchh #6. Alhamdulillah terangkut juga di keretanya orang-orang top! Masuk ke kelas fasil, aku merasa seperti remahan biskuit khong guan yang tinggal sisa-sisa saat lebaran. Sungguh beruntung bisa bertemu dengan teman-teman yang semangat belajar, berbagi dan melayaninya out of the box.

Tentu selain untuk mewakili IP kota, satu hal yang melecut keberanianku mendaftar menjadi fasilitator adalah keinginanku untuk mengulang kembali materi-materi matrikulasi. Dan benar adanya, bahwa membagikan ilmu dan mengajarkan pengetahuan yang kita miliki adalah kasta tertinggi dari proses belajar. 



Saat mengajar dan membagikan ilmu, mau tak mau aku berusaha untuk mengaplikasikan ilmu tersebut di dalam keseharianku. Tentunya aku nggak mau disebut sebagai jarkoni, isa ujar ora isa nglakoni. Menjadi fasilitator membuatku menjewer telinga sendiri ketika manajemen waktuku kalang kabut, ketika emosiku saat membersamai anak masih belum tertata, ketika ternyata aku masih jadi pekerja rumah tangga bukan manajer keluarga. 

Sebelum membagikan materi ke teman-teman matrikan, biasanya aku kembali mengulang membaca materi, menonton video bu Septi dan membaca ulang NHW yang aku buat. Ternyata ada hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan justru kini muncul di kepala. Ah memang benar, belajar itu tidak bisa hanya sekali. Proses matrikulasi itu layaknya maraton, dalam 9 minggu kita seperti diberi teaser apa saja yang akan dipelajari di Institut Ibu Profesional, namun semakin kita nyemplung ke dalamnya semakin kita bisa lebih menjiwai mateir-materi yang diberikan.

Semangat Sampai Jadi Profesional

Bertemu dengan SSJP Ladies, begitu aku menyebut para matrikan Jateng 1, adalah anugerah yang tiada terkira. Sebelum pembagian kelas diinformasikan, aku berharap mendapat kelas yang lokasinya tidak jauh-jauh dari tempat tinggalku. Tentu dengan alasan agar jika ada kopdar atau wisuda offline aku bisa hadir dan bersilaturahmi dengan para matrikan. Alhamdulillah, harapanku dikabulkan. Aku ditugaskan untuk membersamai bolo dhewe.


Amazing! Hanya satu kata itu yang menurutku tepat mewakili teman-teman matrikan SSJP Jateng 1. Semua guru, semua murid - di kelas matrikulasi ini aku merasakan dengan sangat aura tersebut. Di sini aku bukan guru, aku hanya memfasilitasi mereka dengan materi dan diskusi untuk membuka kunci pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Begitu pun mereka bukanlah murid, aku banyak belajar dari NHW-NHW yang mereka susun, aku belajar dari kisah hidup mereka, aku belajar dari para single lillah yang tangguh dan berkobar-kobar semangatnya, juga para ibu-ibu muda yang tiada henti belajar agar semakin pantas menjadi madrasah utama keluarganya.



Aku merasa tidak perlu banyak mengeluarkan effort untuk menghidupkan kelas. Mereka dengan sangat natural saling berbagi dan melayani, bahkan hingga saat ini ketika sedang mempersiapkan wisuda offline, mereka saling bergandengtangan melewati semua tantangan bersama-sama. 

Semangat Sampai Jadi Profesional, sebuah jargon yang dipilih bersama-sama sebagai bukti semangat mereka menuju manifestasi yang paripurna; Ibu Profesional. Ketika minggu-minggu terakhir semangat membara mulai melemah, jargon tersebut yang kembali menguatkan tujuan awal kami berada di kelas ini. Baik bagi mereka, pun aku, jargon ini bagaikan suntikan yang mengalirkan semangat hingga ke sum-sum jiwa paling terdalam. Ladies, jika kelak semangat kalian merapuh, ingatlah kita pernah meneriakkan jargon ini tak kalah keras dari para pejuang kemerdekaan. 



Kini, kalian lah para pejuang kemerdekaan itu, merdeka dari kemalasan belajar, merdeka dari sempitnya pemikiran, merdeka dari rutinitas yang tidak terorganisir secara rapi. Berjuanglah ladies sampai titik darah penghabisan. Jika jemari tak lagi saling bersua lewat grup whatsapp, ingatlah doa-doa kita akan saling bertaut.


Sebuah Sesi Menegangkan Bernama Diskusi


“Mbak, kok bisa jawabannya bisa bernas begitu sih? Itu sudah dipikirkan sebelumnya atau spontan?”

Tidak sedikit matrikan yang bertanya begitu. Aku sendiri kadang takjub dengan jawaban yang kuberikan. Setiap kali hari diskusi tiba, jantung rasanya berdebar lebih cepat, was-was bisakah memberi jawaban yang tepat dan sesuai. Meski di kelas fasil pilihan pelampung tersedia sangat lengkap, namun rasanya akan lebih mantul kalau jawaban itu benar-benar keluar dari hati.

Di minggu pertama matrikulasi, aku meminta semua pertanyaan dikirimkan padaku agar aku bisa menyiapkan semua jawaban terlebih dahulu. Nyatanya aku justru semakin deg-degan tak karuan, membaca kelas fasil yang riuh dengan permintaan pelampung juga membuatku semakin khawatir berlebihan. Akhirnya di minggu-minggu berikutnya aku lebih memilih untuk tidak mengetahui daftar pertanyaan terlebih dahulu dan menjawabnya secara spontan saat sesi diskusi.

Setiap kali diskusi akan dimulai, aku hanya mampu bermunajat pada Allah. “Ya Allah, semua ilmu hadirnya dari Engkau, maka mudahkanlah jari-jemari hamba untuk menyampaikan sedikit ilmu yang Kau titipkan padaku.”

Ah, matrikulasi… kau semakin membuatku piawai merangkai kata… sekaligus merajut hikmah atas pertanyaan-pertanyaan ajib matrikan yang kadang tak terpikirkan olehku.



Berpisah untuk Berjuang Bersama


Perpisahan memang menyedihkan, namun bukan berarti perpisahan tidak membawa kebaikan. Ada kalanya perpisahan harus dilakukan agar kita lebih memahami arti sebuah pertemuan. Perpisahan adalah sebuah tanda bagi kita bahwa tiada yang abadi di dunia ini. Kita harus selalu mampu bergerak dan tidak berhenti di satu titik. 



Terima kasih Allah atas kesempatan belajar yang berharga ini. Terima kasih telah mempertemukanku dengan guru-guru kehidupan terbaik; tim matrikulasi pusat yang inspiratif, teman-teman fasilitator yang luar biasa, para observer yang kalem tapi pesannya selalu dalem, guardian yang sabar banget dan tentunya para matrikan yang semangatnya menular hingga ke poros-poros jiwa. 

Sampai berjumpa di kesempatan lain dan semangat sampai jadi profesional!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Menjadi Fasilitator; Cara Remidial Terbaik. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com