Jurnal Syukur #9: Merencanakan Konsep Hidup

  • Tuesday, November 06, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Aku masih punya hutang satu postingan tentang Sekolah Ibu Sendangmulyo hari keenam di bulan ramadan lalu. Sudah sempat tertulis hampir separuh lalu laptop kesayangan mati pet dan tidak bisa nyala lagi, hingga akhirnya terpinggirkan oleh to do list lainnya. Karena hutang harus dibayar, maka.. bismillahirrohmanirrohim… inilah sepenggal catatanku hari itu.

Menutup Sekolah Ibu angkatan ketiga pada hari Sabtu, 26 Mei 2018, Ustaz Usep Badruzzaman memberikan tausiyah yang nampol sekali buatku. Selama ini aku lebih banyak menjalani hidup go with the flow. Jujur aku takut berencana dan berharap, karena takut tidak terealisasi lalu kecewa. Padahal merencanakan konsep hidup adalah salah satu poin sebagai umat Islam yang yakin terhadap kuasa Allah subhanahu wa ta’ala.

Lo, bukannya kalau yakin sama Allah, tinggal ikutin saja maunya Allah saja? Iya, bener banget.. tapi Allah kan nggak minta kita untuk pasrah bongkokan kan? Ingat lo, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika tidak ada ikhtiar yang dilakukan. Maka hakikat pasrah sebenarnya bukan terima nasib saja, tapi berikhtiar plus berdoa.

5 Tahapan Merencanakan Konsep Hidup


Nah, biar ikhtiarnya tetap di koridor yang syari, maka perlu kita merencanakan konsep hidup dengan benar. Ada 5 tahapan perencanaan konsep hidup yang saat itu disampaikan oleh ustaz yang juga penulis buku berjudul “Aku Memilih Bahagia” itu.

Pertama, paham akan konsep waktu.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim, disampaikan bahwa Rasulullah Shollahu alaihi wassalam pernah menggambar di atas pasir seperti ini:



Dari gambar tersebut, Rasulullah ingin mengingatkan bahwa ajal adalah sesuatu yang pasti, tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat. Semua sudah Allah takdirkan. Bahwa setiap ajal itu pasti ada sebab-sebabnya. Pikiran manusia itu selalu bisa di luar batas, namun harus selalu ingat bahwa waktu manusia selalu ada batasnya. 

Maka di setiap kita menjalani kehidupan, selalu pegang wejangan Sunan Kalijaga untuk eling lan waspada. Selalu ingat dan waspada, jangan terlena pada dunia dan keinginan yang tidak pernah ada puasnya.

Tentu teman-teman sudah ingat di luar kepala ya soal ini;

Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka masuk dalam golongan orang yang merugi,
Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka masuk dalam golongan orang yang celaka,
Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka masuk dalam golongan orang yang beruntung.


Tentunya kita semua ingin masuk dalam golongan orang yang beruntung kan? Oleh karenanya ingatlah bahwa fokus saja pada hari ini karena hanya hari inilah yang benar-benar milik kita. Masa lalu dan masa depan bukanlah milik kita. Masa lalu sudah terjadi, terlalu banyak menengok ke belakang dan menyesali hal-hal buruk yang telah terjadi atau terjebak pada kenangan-kenangan indah di masa lalu bukanlah hal yang patut dilakukan. Kalau orang naik motor terus-terusan lihat spion bisa nabrak ntar. Tengok spion seperlunya saja.

Begitu juga menatap masa depan, tidak usah terlalu banyak berandai-andai. Jika ingin memiliki masa depan yang lebih baik, maka lakukanlah hal terbaik di hari ini.

Kedua, mensyukuri apa yang kita miliki dan semua nikmat yang Allah beri.

Pernahkah kita seringkali merasa hampa dalam hidup? Jika ya, bisa jadi karena kita terlampau sering tidak bersyukur atas semua hal yang ada dalam hidup kita. Kita memiliki sesuatu tapi rasanya kosong. Kita lupa bahwa godaan terbesar dalam hidup adalah ketika kita melupakan nikmat terbesar yang Allah berikan. Bahwa kehidupan yang Allah berikan sejatinya adalah salah satu nikmat yang harus disyukuri, apalagi jika sampai hari ini kita masih dinaungi dalam iman dan islam. Sudahkah kita bersyukur atas semua itu? Atau woles saja, menganggap itu hal biasa yang tak patut disyukuri tiap kali membuka mata?



Setiap harinya kita sebenarnya dilingkupi banyak nikmat Allah, namun kita seringkali menganggapnya sebagai hal kecil, hal biasa yang tak harus disyukuri. Masih bernafas, masih bisa jalan, masih bisa ngomong, sehat, masih bisa lihat anak-anak, masih bisa ketemu suami, masih bisa bercengkrama dengan teman…. banyak sekali hal yang bisa kita syukuri tiap hari, namun kita melupakannya. Maka untuk terlatih bersyukur bisa lo dibiasakan dengan menulis gratitude journal setiap hendak tidur. Mengingat minimal 10 hal yang paling disyukuri pada hari itu.

Ustaz Usep Badruzzaman saat itu juga menceritakan kisah tentang santri yang buta dan lumpuh. Santri itu selalu naik turun tangga tiga lantai. Setiap jam tiga pagi ia selalu sudah berada di masjid. Suatu hari ia ditanyai oleh kyainya, “mana yang lebih nikmat; setelah buta atau sebelum buta?” Santri itu lalu menjawab, “saya lebih banyak bersyukur setelah buta karena sekarang saya tahu nikmatnya punya banyak teman. Dulu waktu masih lumpuh saja, saya hanya banyak mengeluh tentang kelumpuhan saya.”



Pals, jika saat ini kita merasa hidup terasa sangat berat dan penuh masalah, coba lihat kembali bagaimana kita menjalani kehidupan. Sesungguhnya masalah hidup hadir karena kita kurang bersyukur. Sejatinya dalam hidup yang kita cari itu bukan materi, tapi rasa. Misal, rumah dipasangi AC, biar apa? Biar dingin. Yang kita cari rasa dinginnya, bukan AC nya.

Ahli syukur selalu fokus pada kebaikan. Kalau syukur ditambah terus, maka nikmat pun akan terus bertambah. Begitu juga ketika kita kufur, semua yang sudah dimiliki rasanya masih kurang dan kurang. Kebaikan seseorang sejatinya bersembunyi di dalam kekurangan. Ketika kita mampu bersyukur, maka banyak hal-hal baik yang akan mampu kita lihat.

Ketiga, positive thinking.

Energi itu saling menular. Jadi kalau energi positif bertemu positif, maka akan semakin positif. Sedangkan kalau energi positif bertemu dengan energi negatif, maka energi positif akan berkurang. Oleh karenanya kita harus selalu menjaga agar energi hidup kita selalu positif dan berkumpul dengan orang-orang positif.



Agar sumber energi kita selalu positif, maka kita perlu ingat satu hal bahwasanya energi tidak pernah diam, selalu berputar. Maka jika kita ingin selalu positif, selalu berdekatanlah dengan sumber energi positif, dengan cara selalu mendekati Allah lewat berdzikir. Berdzikir yaitu selalu mengingat Allah, bukan hanya lisan kita saja, namun juga hatinya.

Jika energi kita positif, kita akan selalu fokus melayani, menghargai, dan menghormati orang lain. Kita tidak akan menuntut dimengerti, dilayani, dipahami dan dihormati, biarlah hanya Allah yang benar-benar mengerti dan memahami kita.

Keempat, selalu merasa 0.


Agar amal kita hasilnya tak terhingga, jangan pernah merasa lebih dari orang lain, apalagi merasa bahwa semua yang kita raih di dunia karena hasil kerja keras kita saja, lupa bahwa ada Allah yang telah mengatur semuanya.



Selalu pegang teguhlah konsep alhamdulillah. Kita harus selalu merasa 0, tawadhu dan tidak punya kapasitas apapun, karena semua di hidup kita berasal dari Allah. 

Anak pintar, itu karena Allah, bukan karena kita yang bikin dia jadi pintar. 

Saat itu ustaz Usep Badruzzaman menghubungkannya dengan konsep super egonya Sigmund Freud. Beliau memberi contoh misalnya dalam kondisi kebakaran, orang dengan id yang tinggi akan segera berlari tanpa memikirkan orang lain, orang dengan ego tinggi masih mencoba diskusi dengan orang lain bagaimana menyelamatkan diri bersama, namun tetap mau menyelamatkan diri lebih dulu, sedangkan orang dengan super ego akan menyuruh semua orang lari duluan.

Super ego adalah konsep mengutamakan orang lain. Orang dengan super ego insya Allah bayarannya adalah surga. Apapun kondisi kehidupan yang kita lalui, selalu tersenyumlah karena Allah selalu lihat dan mengerti.

Kelima, yakin bahwa rezeki itu pasti.




Percayalah bahwa usaha selalu sama dengan hasil usaha. Misal jika kita mengeluarkan modal 20 juta, maka hasil yang akan kita dapat pun juga 20 juta. Meski mungkin tidak langsung mendapat 20 juta secara utuh, bisa jadi kita mendapat 10 juta secara kasat mata, dan 10 juta lainnya berupa tabungan energi.

Kenapa? Karena rezeki tidak melulu soal uang. Rezeki bisa berupa anak-anak yang sehat, keluarga yang harmonis, dan sahabat yang sholihah. Jangan lepas dari doa-doa kita karena Allah tidak langsung mengabulkan setiap hajat, tapi bisa jadi Allah menyimpannya dan mengabulkannya di waktu yang Allah rasa paling tepat. 

Selalu ingatlah makna Al Quran surat Az Zalzalah ayat 7 - 8:

Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah(u)
7. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah(u)
8. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."

Orang yang merugi di Yaumul Hisab adalah mereka yang datang ke hadapan Allah dengan kebaikan sholat, puasa, dan sedekah, namun juga sekaligus membawa keburukan semasa hidup yaitu menyakiti/ ngrasani orang lain.



Insya Allah selama kita memegang lima tahap merencanakan konsep hidup di atas, kita akan senantiasa menjalani takdir yang Allah inginkan dengan hati yang ikhlas dan bahagia. Semangat dan selamat pagi!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Jurnal Syukur #9: Merencanakan Konsep Hidup. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com