Perlukah Menyesali 7 Hal Ini?

  • Wednesday, December 12, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Menyesal selalu terjadi di belakangan, kalau di depan pendahuluan namanya, hehe. Sejak aku ikut kelas matrikulasi aku mulai belajar untuk menerima segala hal yang terjadi dalam hidup adalah ketetapanNya yang terbaik. Tidak ada yang perlu disesali dan ditangisi, yang harus dilakukan adalah menggali hikmah atas kejadian yang telah lewat tersebut. Namun jika ada hal yang boleh aku sesali, maka inilah 7 hal yang mungkin bisa jadi aku sesali.

1. Berhenti Jadi Honorer


Dulu aku pernah menjadi honorer di sebuah SD Negeri. Gajinya memang tak seberapa, namun saat itu namaku sudah masuk database kota. Saat itu aku nggak begitu ngeh kalau nama sudah masuk ke database kota, kesempatan untuk diangkat jadi PNS jauh lebih besar. Bulikku yang mengajakku menjadi honorer di sekolah itu pun tidak banyak memberikan panduan saat aku meminta saran ketika ada tawaran pekerjaan menjadi translator di sebuah pabrik furniture. 

Singkat cerita aku akhirnya meninggalkan SD tersebut. Selang sebulan, ternyata ada kabar gembira dari kota. Semua yang masuk ke database disekolahkan lagi PGSD dan diangkat PNS. Sedih? Tentu saja. Namun kalau dipikir-pikir, jika saat ini aku jadi guru SD, belum tentu aku bertualang dan mengumpulkan banyak kisah yang luar biasa seperti sekarang. 

2. Nggak Kuliah S2


Saat aku menyelesaikan S1, aku sudah menarget diri sendiri bahwa maksimal 2010 aku sudah ambil S2. Nyatanya sampai 2018, tanda-tanda untuk kuliah lagi belum nampak. Yang ada aku sudah semakin lupa dengan jurusan yang aku ambil, hehe. Dulu salah satu cita-citaku adalah direkrut menjadi dosen oleh universitas almamaterku, namun cita-cita itu melayang secepat angin. Mungkin aku pernah menyesalinya, tapi sekarang sudah let it go.. dan justru bersyukur nggak berkutat dengan dunia akademisi. Aku tahu lah aku tipe orang yang ogah banget dengan bejibun aturan.

3. Ambil Sastra Inggris


Meski aku suka bahasa Inggris, aku baru sadar sekarang jika bisa kembali ke masa-masa SMA, aku mau ambil psikologi deh. Lalu setelah itu melanjutkan ke psikologi kriminal atau kalau nggak ya psikologi klinis, hahaha. Kalau yang ini nggak perlu disesali sih sebenarnya, wong gara-gara kuliah di jurusan ini, aku bisa jadi lulusan terbaik pada masanya. Tapi kalau punya duit banyak, aku mau sih kuliah lagi ambil psikologi.

4. Menikah Muda


Aku nggak menyesal menikah dengan mas bojo because I know he is the right person for me. Nggak tahu deh kalau bukan dia yang jadi suamiku, entah apa jadinya aku. Tapi kalau boleh kembali ke masa itu, aku mungkin nggak bakal minta nikah di usia ke 23. Aku baru sadar di usia itu aku masih so selfisssssh dan labil banget. Mungkin ada baiknya kalau menikah di usia 26 or 27. Meski ada hikmah juga sih menikah di usia itu, karena ternyata aku baru punya anak di usia 26, bayangkan kalau nikahnya 26, bisa-bisa punya anak pas umur 31 hehehe. Apapun itu, jalan hidup yang unpredictable ini memang luar biasaaah!

5. Let My Father Marry His Girlfriend


Nah, kalau ini benar-benar bikin nyesel sih. Seandainya saat itu aku bisa lebih speak up or at least dikasih kesempatan ngomong, I will say no for their marriage. Mungkin saja kalau pernikahan itu tidak terjadi, luka ini juga tak terlalu dalam.

6. Make My Hubby Broken Heart


Ada sebuah luka di masa lalu yang kutoreh sedemikian dalam di jantung hati suami. Dan jika mengingatnya, rasanya sakiiit. Seharusnya hal itu tak pernah ada. Meski dengan tulusnya ia memaafkan, namun justru aku semakin merasa menyesal… betapa laki-laki luar biasaaaa. Love him more and more.

7. Denying The Intuition


Seperti yang kukatakan di postingan tentang zodiak, seringkali aku merasa mendapat intuisi akan hal-hal tertentu. Saat yangti, bapak, adik, yangkung dan ibu mau meninggal, aku merasakan hawa yang berbeda. Alih-alih menerimanya dan melakukan hal-hal terbaik di waktu-waktu terakhir mereka, aku justru menyangkalnya. Berharap dengan menyangkal, hal yang kutakutkan tidak akan terjadi. Nyatanya hari itu tiba juga, dan kami pun berpisah tanpa aku melakukan hal terbaik untuk mereka.

Ya, itulah 7 hal yang pernah sangat membayangiku dalam hidup. Namun aku belajar bahwasanya semua hal yang telah terjadi artinya sudah ditentukan Allah, tak ada yang perlu disesali. Legawa dan belajar dari semua kejadian itu. No more regret, no more sadness and be better everyday!



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Perlukah Menyesali 7 Hal Ini?. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com