Haru Biru Komunikasi Produktif bersama Bunda Sayang #5 Jawa Tengah


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Kekhawatiran itu lenyap perlahan begitu level 1 Bunda Sayang batch #5 berjalan. Awalnya sejak aku mengirimkan form lamaran menjadi fasilitator, benakku penuh dengan ketidakpercayadirian. Jujur, sewaktu aku menjadi mahasiswi Bunda Sayang batch #3, prestasiku tak terlalu membanggakan. Bahkan bisa dibilang mengerjakan tantangan 10 hari pun seringkali hanya untuk menggugurkan kewajiban. Maka ketika kesempatan menjadi fasilitator Bunda Sayang mendekat, sebenarnya aku bertanya-tanya pantaskah aku mengajukan diri.

Namun keinginan untuk mengulang materi Bunda Sayang sedikit menepis keraguanku. Bukankah mengajar dan berbagi adalah cara terefektif untuk belajar? Mengingat hal itu, akhirnya kuberanikan diriku untuk melaju. Alhamdulillah, kenekatanku berbuah manis. Aku jadi bisa kembali belajar banyak hal, bertemu beberapa teman baru dengan permasalahan-permasalahan berbeda hingga terbentuk wawasan dan sudut pandang baru yang mengayakan cara berpikirku. Sungguh aku bersyukur karena di semester pertama ini, aku ditempatkan di kelas yang tak biasa; kelas Jawa Tengah.


Mahasiswi Jawa Tengah dan Segudang Cerita

Pada level satu Bunda Sayang, tema yang diangkat adalah komunikasi produktif. Mengapa? Karena komunikasi adalah kunci dalam sebuah hubungan orang per orang, termasuk dengan anak, suami, dan bahkan diri sendiri. Dalam hubungannya dengan pengasuhan, komunikasi merupakan hal utama untuk bisa menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada anak. Bagaimana mungkin kita melatih kemandirian, menumbuhkan fitrah seksualitas, mengajarkan anak kreatif jika kita belum mampu membangun komunikasi yang produktif dengan mereka? Yang ada bisa jadi proses pengasuhan terasa lebih berat.


Maka dari itu komunikasi produktif dijadikan materi pembuka dalam Bunda Sayang. Sebelum masuk ke materi-materi lain, seluruh mahasiswi diminta untuk memperbaiki dulu pola komunikasinya, baik kepada diri sendiri, suami, anak dan bahkan anggota keluarga lainnya. Termasuk juga fasilitatornya, belajar mengkomunikasikan informasi dan jawaban-jawaban kepada mahasiswi dengan jelas dan produktif. Tantangannya tentu saja bahasa tulisan terkadang bisa membawa kesan berbeda dibandingkan bahasa lisan. Sebuah tantangan tersendiri buatku untuk menyampaikan informasi dan jawaban yang bisa diterima dengan baik dan tepat oleh mahasiswi.

Lebih dari itu, membersamai para mahasiswi Bunda Sayang batch #5 Jateng, aku pun jadi diingatkan kembali dengan tantangan 10 hariku di level ini yang kujalani hampir dua tahun lalu. Aku juga kembali mereview sudah seproduktif apa komunikasiku dengan suami, anak dan diri sendiri. Ternyata banyak juga ilmu yang menguap dan mandheg dipraktekkan begitu tantangan 10 hari usai. Bersyukur dengan menjadi fasilitator aku bisa mengkoreksi hal-hal yang belum tepat.

Selain proses remidial eksklusif yang kujalani, ada banyak hal yang kusyukuri dalam prosesku membersamai teman-teman kelas Jateng.

Syukur yang Pertama

Rasanya seperti anugerah mendapatkan mbak Indah Dewi sebagai koordinator di level 1 ini. Mbak Indah membuka kelas Bunda Sayang dengan cetar. Administrasinya sangat rapi, detil dan inspiratif. Notulensi diskusi selalu dibagikan beberapa jam setelah diskusi berakhir. Setiap hari ia rajin membagikan catatan siapa saja yang sudah mengumpulkan tantangan 10 hari dan siapa yang belum. Selalu menyapa kelas dengan hangat dan penuh motivasi.

Mbak Indah juga merekap peer group yang anggotanya aktif menyetor tantangan 10 hari dan mana yang belum, sehingga membantu para koordinator peer group untuk menyemangati membernya. Koordinator bulanan lain yang belum bertugas merasa terbantu dengan apa yang dikerjakan Mbak Indah, mereka menjadi punya bayangan seperti apa kelak tugasnya.

Di sela-sela tugasnya sebagai koordinator bulanan, Mbak Indah Dewi juga masih menyetor tantangan 10 hari dengan sangat rajin dan tepat waktu. Aku jadi merasa tertampar. Waktu masih jadi mahasiswi Bunda Sayang batch #3, aku juga pernah menjadi koordinator bulanan, dan saat itu aku sangat keteteran dan bahkan absen menyetorkan tantangan. Salut sekali dengan mbak Indah, bisa dibilang di level ini, dia adalah best of the best nya mahasiswi Bunsay Jateng #5. Dia sungguh sosok mahasiswi yang apresiatif, aktif dan teladan!

Syukur yang Kedua


Rasa syukurku semakin membuncah karena memiliki mbak Dessy Heppy sebagai ketua kelas Jateng. Sebagai ketua kelas sepertinya mbak Dessy sangat sadar dia menjadi pusat kelas ini. Sama seperti seorang ibu di rumah, yang menjadi pusat peradaban. Mbak Dessy tanpa banyak bicara memberikan teladan dengan selalu menyetor tantangan 10 hari secara rajin dan tepat waktu.

Bahkan tidak hanya asal menyetor, postingan-postingan tantangan 10 harinya di Instagram menjadi yang paling banyak dinobatkan oleh teman-teman sekelas sebagai postingan terinspiratif. Dari pengamatanku, bahkan postingan-postingannya pun tidak hanya ditunggu oleh teman-teman sekelas, namun juga teman-temannya di luar Ibu Profesional. Karena itulah, di level ini aku memilihnya sebagai Mahasiswi Teladan. Doaku semoga mbak Dessy trus menebar kebaikan dan inspirasi.

Syukur Ketigaku

Aku dikelilingi mahasiswi-mahasiswi hebat yang semangat berbagi dan melayaninya luar biasa. Salah satunya adalah Mbak Oky Yuwanti. Tanpa diminta Mbak Oky selalu membantu membagikan materi di Google Classroom ke whatsapp group. Dia juga sangat aktif membantu teman-temannya yang kesulitan memahami atau mengunduh materi, serta tak segan turun tangan saat ada yang membutuhkan bantuan tentang teknis pengumpulan tantangan 10 hari. Mbak Oky juga aktif hadir di setiap diskusi, rajin bertanya dan mengemukakan pendapat. Postingan tantangan 10 harinya yang didokumentasikan lewat blog berjudul Sudut Pandang Oky juga termasuk yang paling banyak difavoritkan oleh teman-teman sekelas.

Saat aku membuat assignment di Google Classroom untuk mengapresiasi tulisan tantangan 10 hari teman-teman yang lain, mbak Oky bahkan memberikan satu dokumen tersendiri berisikan link-link tantangan 10 hari teman-teman yang menginspirasi menurutnya. Di saat yang lain hanya mengirim satu link, bahkan beberapa ada yang jujur tidak sempat membaca postingan teman lain, mbak Oky bisa memberikan banyak link yang menurutnya inspiratif. Salut! Karena inilah, aku memilihnya sebagai Mahasiswi Aktif.

feed instagram mbak Ayuk yang cantik
Selain Mbak Oky, ada juga Mbak Ayuk Wulandari dan Mbak Fiqih Nindya Palupi, atau yang akrab dipanggil Mbak Nine. Mereka berdua adalah koordinator peer group yang memiliki kreativitas menarik dalam menyemangati member-membernya agar selalu mengumpulkan tantangan 10 hari tepat waktu. Mereka membuat badge sendiri untuk member paling aktif, inspiratif dan tepat waktu dalam mengerjakan tantangan 10 hari. They are really the real leaders!

Setoran tantangan 10 harinya Mbak Ayuk Wulandari juga sangat inspiratif. Feed Instagramnya ditata dengan rapi sehingga enak dibaca dan dilihat. Bahkan meski sempat izin untuk pergi umroh dan terlambat mengerjakan tantangan, ia masih bisa meraih badge You’re Excellent sebagai bukti konsistensinya.

Mbak Nine juga cukup rajin dalam menyetor tantangan 10 harinya. Tulisannya runtut dan didokumentasikan lewat blognya yang bertajuk Rumah Bunda Nin. Postngan-postingannya tersebut juga banyak dinominasikan oleh teman-teman sekelas sebagai postingan terinspiratif. Mbak Nine juga paling kece dalam membuat ringkasan diskusi sehingga membantu memecahkan kebingungan teman-temannya. Contoh, saat di awal tantangan 10 hari dimulai, masih banyak yang bingung tentang teknisnya. Mbak Nine sangat membantu dengan membuat rangkuman teknis pengumpulan dan perolehan badge. Atas kerennya mereka berdua, aku memilih mereka sebagai Mahasiswi Apresiatif.

narasumber Jumat Hangat

Di kelas Bunda Sayang, ada sesi yang disebut dengan Jumat Hangat. Di setiap sesi Jumat Hangat, ada satu peserta yang ditunjuk sebagai narasumber untuk menceritakan tentang dirinya. Tujuan dari Jumat Hangat ini adalah agar sesama mahasiswi saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Jumat Hangat #1 di level ini diisi oleh mbak Siti Hapshoh. Seorang Magiste Sains yang sempat jetlag menjalani aktivitas di ranah domestik setelah sebelumnya banyak beraktivitas di ranah publik. Hingga akhirnya ia menjalani passionnya di bidang Oshibana, seni merangkai bunga kering dari Jepang.

Di Jumat Hangat #2, narasumbernya tak kalah menarik. Dia adalah Mbak Vivi yang memiliki nama lengkap sangat panjang; Caecilia Temi Viralia. Mbak Vivi sedang berjuang menerima kondisinya yang didiagnosa mengalami bipolar dan depresi. Dia bercerita tentang jalan hidupnya dan bagaimana semangatnya untuk bangkit. Sungguh sosok yang sangat menginspirasi.

Meskipun tingkat kelulusan level ini belum sempurna, karena ada seorang mahasiswi yang mengundurkan diri sebelum memasuki tantangan 10 hari dan juga ada dua orang mahasiswi yang gagal mendapatkan badge dasar karena setoran tantangannya belum memenuhi jumlah yang dipersyaratkan, namun buatku kelas Bunda Sayang #5 Jateng sudah memberikan yang terbaik.


39 Mahasiswi berhasil memperoleh badge dasar, artinya mereka berhasil menceritakan tantangan 10 harinya selama 10 hari berturut-turut, meski tidak berurutan dan beberapa kali rapelan. Namun keberhasilan mereka mengalahkan kemalasan dan ketidakkonsistenan sungguh pantas mendapat apresiasi.

Sementara itu 13 mahasiswi lainnya berhasil mendapat badge You’re Excellent, yang artinya berhasil menyetor narasi tantangan 10 hari selama minimal 10 hari berturut-turut tanpa rapel. Badge Outstanding Performance berhasil diperoleh 15 mahasiswi. Mereka adalah sosok-sosok mahasiswi yang mampu menyetor tantangan 10 hari selama 15 hari berturut-turut tanpa rapel. Aaah, aku sangat kagum dengan konsistensi mereka. Jika di awal sudah sesemangat ini, insya Allah di level-level berikutnya semangat itu senantiasa bisa terjaga.

Syukur Keempat

Hal istimewa lainnya yang kurasakan saat membersamai kelas Bunda Sayang #5 Jateng adalah sebagian besar mahasiswinya benar-benar mengerjakan semua tugas yang diberikan dengan sepenuh hati, bukan sekedar menggugurkan kewajiban. Bahkan banyak yang tulisannya sangat inspiratif dan penuh hikmah.

Beberapa tulisan aliran rasa mahasiswi yang patut diapresiasi antara lain;


1. Mbak Hijriyani Saraswati , buatku tulisan yang disusun mbak Saras adalah aliran rasa terloveee. Semua tulisan mbak Saras dari sejak tantangan 10 hari sampai aliran rasa selalu dipenuhi hikmah dan disertai referensi yang kuat. Saat membacanya tidak hanya sekedar seperti membaca curhatan, namun ada sesuatu yang bisa dipetik.

2. Aliran rasa terinspiratif pilihanku yaitu catatan dari Mbak Nur Rakhma Wahyu, Mbak Farikhah dan Mbak Agnita Doty. Narasi yang dibuat oleh ketiga perempuan hebat ini tidak hanya menceritakan apa yang telah mereka jalankan selama 17 hari, namun juga perubahan apa yang didapatkan hingga akhirnya bisa mencapai sebuah kesimpulan bahwa berubah ke arah lebih baik itu perlu, dan tak perlu menunggu.

3. Dua tulisan yang kunobatkan sebagai aliran rasa terharu karena menurutku ditulis dengan hati yang sangat jujur, hingga akhirnya mampu menggedor-gedor hati pembacanya. Bahkan setelah berjam-jam, aku masih mengingat isi kisahnya yang penuh keharuan. Yaitu tulisan dari Mbak Junita yang berkisah tentang kebuntuan komunikasinya dengan sang suami, dan narasi dari Mbak Asri Nur Aini yang menuliskan tentang tiga permintaan maaf yang ia sadari setelah melakukan tantangan komunikasi produktif.


4. Mbak Ilik Sutari kuberikan gelar sebagai aliran rasa tervisual, karena narasinya dilengkapi dengan infografis yang cantik berisi contoh perbedaan kalimat produktif dan tidak produktif.

Syukur Kelima

Tugasku menjadi fasilitator Bunda Sayang #5 Jateng terasa lebih ringan karena semua mahasiswi sangat membantu dan asyik diajak berkolaborasi. Contohnya, saat ada tugas untuk mengapresiasi tantangan 10 hari paling inspiratif, para mahasiswi dengan sukarela memberikan apresiasi tersebut. Bahkan ada beberapa nama yang memberikan ulasan cukup komplit dan detail, misalnya mbak Andiany Kuswardhany dan mbak Oky Yuwanti.

Sebenarnya setiap mahasiswi diminta memberikan satu link postingan temannya yang paling inspiratif menurut versi mereka, disertai dengan alasan. Namun Mbak Andiany dan Mbak Oky benar-benar anti mainstream, mereka memberikan link postingan lebih dari satu dan bahkan alasannya sangat mendetail.

Selain dua orang tersebut, masih ada nama-nama lain yang kucatat sebagai pemberi ulasan postingan inspiratif terbaik, antara lain; Mbak Agnita Doty, Mbak Ana Yuliana, Mbak Arina, Mbak Aryani, Mbak Dessy, Mbak Nine, Mbak Gustin, Mbak Khoirun Nisa, dan Mbak Nur Hamidah. Ada juga mbak Lusi Dianty yang meski susah sinyal, tetap berusaha untuk mengerjakan tugas apresiasi tersebut dengan sepenuh hati. Sungguh membuatku terharu. Kinerjaku sebagai fasilitator dipermudah sekali oleh mahasiswi-mahasiswi yang luar biasa ini.

Selain hal-hal inspiratif dan mengharukan tersebut, ada juga beberapa kisah lucu yang kualami di level ini. Salah satunya yaitu ketika mbak Hessa Kartika saking semangatnya punya blog berdomain dot com, setor tantangan 10 hari terlalu cepat. Dirapelnya bukan mundur tapi maju. Luar biasa! Dan kejadian lucu lainnya yaitu saat jam diskusi review tantangan 10 hari aku justru ketiduran. Mbak Indah Dewi sebagai koordinator yang sangat bertanggungjawab pada tugasnya, sempat berulangkali meneleponku, namun aku sama sekali tak mendengarnya.

Alhamdulillah aku kemudian bangun pada jam 21.00, lewat satu jam dari waktu diskusi yang ditentukan, namun teman-teman mahasiswi masih menantiku dengan setia. Duh, berasa dibutuhkan dan dinantikan, rasanya ingin kupeluk satu per satu mereka, meski akhirnya hanya bisa memberikan pelukan virtual. Sejak kejadian itu aku selalu meminta tolong ke suami untuk mengingatkanku jika aku kelupaan atau ketiduran di saat ada jadwal diskusi. Aku tak ingin membuat teman-teman menanti lama lagi.

Aaah, baru juga level 1… namun sudah ada banyak hal yang terekam di benak ini. Menjadi fasilitator bukan berarti aku lebih pandai dari para mahasiswi. Di sini kami sama-sama belajar dan saling memberi, mengisi dan bersinergi. Sesungguhnya aku justru banyak belajar dari teman-teman mahasiswi. Dari postingan-postingan tantangan 10 hari mereka, semangat mereka juga japrian-japrian mereka yang beraneka ragam.


Membuatku tak henti bersyukur atas kehidupan yang kujalani dan juga membuatku memahami bahwa di dunia ini setiap orang memiliki sepatunya masing-masing. Tidaklah bijak memaksakan sepatu diri kita kepada orang lain, karena belum tentu juga sepatu mereka cocok dengan kaki kita.Kalau bahasa komunikasi produktifnya, frame of reference and experience setiap orang itu berbeda-beda. Maka sudah sepatutnya jika perasaan ingin dianggap selalu benar harus dihilangkan. Lebih baik diganti dengan menumbuhkan semakin banyak empati kepada sesama. Akhir kata, Bunda Sayang Jateng, Lulus Bareng!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

3 Comments

  1. pengen ikutan matrikulasi IIP belum kesampaian sampe sekarang. hiks

    ReplyDelete
  2. Mbak Ririt 😢😢😢😢
    Tulisannya selalu menggugah semangat. Terima kasih banyak mbak telah sabar dan membimbing serta mem fasilitatori kami dengan sangat baik (halah bahasane bikin sendiri aja ya) xixixi..
    Bersyukur juga ketemu mbak Marita sbg fasilitator Bunsay ini. Aku juga belajar banyak darimu mbak 😘😚😍😍

    ReplyDelete
  3. Masya Allah mba Marita terharu membacanya dan selalu suka dengan tulisan-tulisan mba Marita inspiratif

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com