Alami Kekecewaan dalam Rumah Tangga? Atasi dengan Ilmu!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Ketika kita menikah, pasti bercita-cita untuk memiliki rumah tangga yang long lasting and happy ever after. Namun setelah menjalani kehidupan rumah tangga, apakah mudah menuju long lasting and happy ever after tersebut? Nyatanya tidak ya? Bahkan yang mengaku menjalani pernikahan karena cinta pun, rumah tangganya tak selalu mulus. Rasa kecewa, sakit hati, dan kemarahan yang terus berulang kepada pasangan bisa memudarkan rasa cinta, yang berujung pada kebuntuan komunikasi dan konflik terus menerus.

Perceraian kini menjadi salah satu jalan keluar yang paling banyak diambil oleh pasangan. Setiap harinya konon ratusan orang bercerai di Indonesia. Alasan terbesar karena ekonomi, perbedaan prinsip dan perselingkuhan. Perceraian memang tidak dilarang oleh Allah, namun salah satu hal yang paling dibenci.

Seandainya kita mau menyadari, sebenarnya mempertahankan pernikahan dan rumah tangga adalah salah satu challenge kita di dunia. Usia hidup kita di dunia mungkin nantinya akan berkisar 60-70-80 tahun. Tapi, challenge-nya, bukan kaleng-kaleng kalau menurut istilah seorang Youtuber. Keluarga kita akan terus digoyang, diganyang, diupayakan untuk BUBAR JALAN. 




Akankah kita membuat para iblis tertawa karena berhasil memisahkan kedua insan yang tadinya bersatu atas nama cinta?


Over Expectation Berujung Kecewa dan Patah Hati


Usia pernikahanku dengan suami akan menuju angka ke 12 pada 2020. Apakah selalu adem ayem, tentrem loh jinawi? Jelas tidak!



Jika aku flashback kembali ke masa-masa lima tahun pertama kami belajar berumah tangga, tiada hari tanpa konflik. Tiada hari tanpa pertikaian. Lucunya, hal-hal buruk yang dulu kubenci dari kedua orangtuaku dan sangat ingin kuhindari, justru kulakukan sendiri. Jadi ingat nasehat Ustaz Harry Santosa, 

“Jangan terlalu mendendam akan sesuatu perbuatan dzalim, karena tanpa sadar kita justru akan melakukan perbuatan itu sendiri.” 

Salah satu hal yang membuat kami terus-terusan bertikai adalah standarku yang terlalu tinggi terhadap pernikahan impian. Over expectation! Keinginan-keinginan sepele yang tak tercapai, ketika dibiarkan dan tak diobrolkan secara intens, menciptakan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. 

Aku menikah di umur 23 tahun. Usia yang saat itu masih sangat emosional, labil dan fakir ilmu tentang pernikahan. Kami kira cinta saja akan cukup untuk membuat pernikahan berjalan sempurna. Ternyata banyak hal yang tak selalu bisa diselesaikan hanya dengan cinta. Butuh ilmu untuk menjalani rumah tangga. Ya, bersyukurnya aku punya suami yang super sabar. Mungkin kalau sama-sama keras, sekarang sudah tak ada lagi kami.



Kenapa Harus Belajar Ilmu Berumah Tangga?


Disampaikan oleh Ustaz Tri Asmoro K pada sebuah pengajian menyambut tahun baru 1441 Hijriyah di Masjid Al Falah Rumah Sakit Wongsonegoro (RSWN), hari Kamis, 29 Agustus 2019;

Kita bisa jadi mencintai seseorang dan berharap dia menjadi pasangan hidup, tapi jika rasa cinta tersebut tidak dirawat, cinta itu akan memudar. 

Untuk merawat cinta kita perlu tahu ilmunya. Orang yang tidak berilmu akan selalu merasakan kebingungan setiap ditempa suatu masalah. Hidup akan selalu terasa lebih berat. Sedangkan orang yang memiliki ilmu bisa mencari solusi dan menggali referensi tindakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

Kalau bahasanya Abah Ihsan;
akan selalu ada bedanya orang yang mau belajar dan tidak. 

Misal nih, kita kasih kejutan pada suami di hari ulang tahunnya. Ekspektasi kita, suami akan happy dan mengapresiasi. Ternyata faktanya, doi hanya sekedar mengucapkan terima kasih tanpa ekspresi yang benar-benar mengungkapkan kebahagiaan, malah kemudian disusul dengan ucapan, “Ngapain sih Bun beli barang semahal ini? Mending uangnya buat hal yang lebih manfaat.”

Pasti jengkel kan? Merasa tidak dihargai. Padahal bisa jadi bukan karena suami tak mau menghargai, namun karena hadiah bukanlah bahasa cinta yang dibutuhkan olehnya. Ternyata suami lebih senang jika kita menemani ngobrol semalam suntuk sambil minum kopi di teras rumah.



Jika tanpa ilmu, meski niatnya pengen membahagiakan suami, justru bisa berujung mejadi masalah dan pertikaian. 

Sebuah amal memang tergantung niat, tapi niat tergantung pada ilmu yang kita miliki. Seseorang tidak akan pernah meniatkan sesuatu berdasarkan hal yang tidak diketahuinya. Ya, contohnya perkara memberi kejutan di atas. Karena kita nggak paham soal bahasa cinta suami, meski niatnya baik, ujungnya malah jadi kecewa. 

Ustaz Tri Asmoro menambahkan setidaknya ada tiga hal yang mendasari mengapa sebelum menikah kita perlu belajar mengenai ilmu berumah tangga. Ya, kalau sudah terlanjur menikah, boleh lah dipelajari sekarang. Lebih baik terlambat dan mau memperbaiki, dari pada nggak mau tahu sama sekali kan?



Hal pertama, rumah tangga itu tak selalu enak.



Jangan kebanyakan nonton drama korea yang temanya cinta-cintaan, pals. Karena sungguh drama rumah tangga di dunia nyata akan jauh lebih berdarah-darah daripada cerita-cerita Korea itu. Song Song Couple yang digambarkan begitu perfect di layar drama pun, di dunia nyata bubar jalan kan?

Perlu adanya kesadaran dan kesiapan bahwasanya rumah tangga tak selalu manis, akan selalu ada suka dukanya. Dengan memiliki ilmu berumahtangga, kita bisa menyiapkan diri dalam melewati kehidupan yang sangat dinamis tersebut. 

Hal kedua, iman kita selalu fluktuatif.


Iman adalah kunci dari semua masalah yang menghantam kehidupan. Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.



Dari hadits itu kita bisa melihat betapa besar manfaatnya rasa iman di dada. Iman akan membantu kita mudah bersyukur dan bersabar. Sayangnya kita hanyalah manusia biasa yang imannya fluktuatif alias naik turun. Bahkan para Nabi yang merupakan manusia-manusia pilihan Allah saja pernah mengalami masa-masa turun naiknya iman, apalah lagi kita kan? Oleh karenanya untuk menjaga kestabilan iman, kita perlu terus belajar. 

Berjamaah dan berkumpul bersama orang-orang saleh akan membantu kita untuk keep on the track. Jika sesekali melenceng, ada yang akan membantu mengingatkan agar kembali pada rel yang benar.

Hal ketiga, semakin bertambah usia pernikahan semakin kompleks masalah yang akan dihadapi.


Jangan dikira semakin bertambah usia pernikahan, semakin aman dari masalah. Nyatanya ada saja yang bercerai meski sudah 25 tahun menikah. Justru semakin lama sebuah pernikahan, semakin kompleks masalah yang dihadapi.

Jika di awal pernikahan masalahnya mungkin hanya berkutat pada suami yang merasa tak lagi diperhatikan karena istri lebih fokus mengurusi anak-anak. Belum lagi suami merasa eneg lihat istrinya yang kurang merawat diri, pakai daster bolong-bolong. Begitu memasuki usia belasan, masalah mulai berkembang pada biaya pendidikan yang tak sedikit. Ketika suami telah berada di posisi yang mapan, suami mulai sering pulang malam karena mengurusi bisnis, istri pun kalang kabut takut suami tergoda teman-teman di kantornya.




Masalah akan selalu muncul di dalam proses berumahtangga, di titik manapun. Itulah kenapa penting bagi kita untuk belajar ilmu berumahtangga agar bisa lebih mudah menemukan solusi di setiap badai yang menghadang.

Ustaz Tri melanjutkan, dengan ilmu kita bisa mengenal syari’at dan hukum-hukum Allah, dengannya kita membedakan halal dan haram, dengannya pula kita dapat menyambung tali kasih sayang. Karena ilmu kita mengetahui apa-apa yang diridhoi oleh Allah, serta dengan memahami dan mengikuti ilmu itu kita akan segera sampai kepada-Nya.

Ilmu laksana imam, sedangkan amal adalah makmumnya. Ilmu adalah pemimpin sedangkan perbuatan adalah pengikutnya. Ilmu adalah teman di saat kita sendirian, dialah yang mengajak kita bicara di saat kita menyepi, dialah yang menghibur kita di saat kita dalam kegalauan, yang membuka tabir kerancuan dan kesesatan. Tak akan ada seorang pun yang merasa fakir hanya karena mengutamakan untuk mengumpulkan kekayaan ilmu.




Mudzakarah ilmu adalah laksana bertasbih, membahasnya adalah laksana jihad, mencarinya adalah ibadah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, berinfaq untuknya adalah shadaqah, mempelajarinya adalah amal yang menyamai shiyam (puasa) dan qiyam (tahajjud). Kebutuhan terhadap ilmu sesungguhnya jauh lebih besar dibanding kebutuhan terhadap minum dan makan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

"Manusia lebih membutuhkan ilmu (tentang Ad-Dien) dibanding makan dan minum, karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan minum satu atau dua kali saja. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya."

Dari sini, kita jadi semakin sadar kan betapa pentingnya mencari ilmu, termasuk juga di dalamnya ilmu berumah tangga. Tentu sebagai umat Islam, kita juga harus memilih ilmu yang sesuai syariat. Maka, jikalau kita ingin belajar tentang rumah tangga, tak perlu jauh-jauh mengidolakan pasangan artis. Allah sudah mengirimkan para nabi dan keluarganya sebagai tuntunan untuk kita. Ada Rasulullah SAW dan Khadijah yang kisah cintanya tak tergantikan. Ada pula Nabi Ibrahim AS yang merupakan role model bagi para pasangan suami istri yang menjalankan long distance marriage. Masalahnya mau nggak kita belajar dari tuntunan yang sudah jelas-jelas nyata benarnya?

Menikah itu sejatinya memilih pilihan yang tepat. Semua pilihan yang kita ambil, nilainya akan berbeda di hadapan Allah. 


Contoh Kasus


Ada istri yang nusyuz, misal pergi ke luar rumah mengikuti sebuah event hingga melewati jam kumpul keluarga, padahal sebelumnya suami sudah melarangnya pergi. 




Dalam syariat, menghadapi istri yang seperti ini, seharusnya suami melakukan; 1. Menasehati, 2. Jika nasehat masih juga tak mempan, maka pisah ranjanglah.

Nyatanya banyak suami yang berkonsultasi kepada Ustaz Tri, mereka merasa sudah melakukan dua cara itu, kok masalah di keluarganya bukannya selesai, tapi malah bertambah besar. Lalu beliau pun menjelaskan bahwa syariat harus dijalankan dengan ilmu, bukan asal. Syariat menangani istri nusyuz bisa dijalankan ketika suami selama berumahtangga sudah sering mengajak istrinya ngobrol, menjalin keakraban dan menumbuhkan bonding. Sehingga saat istri dinasehati, istri akan paham bahwa suaminya tak berkenan dengan sikap membangkangnya. 

Namun jika sebelumnya suami nggak pernah membuka obrolan dengan istri, sampai rumah hanya main HP dan diam-diaman. Ketika istri melakukan kesalahan langsung dinasehati, ya pasti istri tidak berkenan.




Begitu juga langkah yang kedua, hanya akan memberikan efek ketika suami yang biasanya hangat, suka mengajak ngobrol dari hati ke hati, tiba-tiba suami berdiam diri, berpaling wajah dan tidak mau memberikan nafkah batin. Tentu istri akan bisa menyadari kalau ada hal buruk yang membuat suami tak berkenan. 

Lain cerita kalau selama berumahtangga memang tak pernah ada komunikasi, lalu suami mendiamkan istri dan memilih pisah ranjang, istri bukannya paham malah merasa merdeka dari semua beban berumahtangga.



Menuju Sakinah Mawaddah Warohmah dengan Ilmu Berumahtangga


Ustaz Tri menutup kajian pada hari Kamis siang itu dengan menjabarkan konsep sakinah, mawaddah warohmah. Menurut beliau, sakinah mawaddah dan warohmah itu sudah terbentuk sejak awal menikah, namun sifatnya fluktuatif layaknya iman di dada yang sering naik turun. Bisa jadi di awal prosentase samawa-nya tinggi karena masih hangat-hangatnya pengantin baru, namun memasuki tahun kelima prosentasenya menurun karena cinta memudar dan tak lagi dirawat.




Sebuah keluarga disebut sakinah ketika hati setiap anggota keluarga merasa tenang. Tenang ini didapatkan ketika seluruh anggota keluarga taat pada syariat Allah. Jadi kalau selama ini masih merasa kok keluarganya belum tenang, coba cek apakah kita sudah taat sebenar-benarnya pada seluruh syariat Allah?

Ketaatan pada Allah akan menuntun istri untuk lebih mudah menaati suami. Untuk sebagian perempuan, taat pada suami terkesan begitu horor dan menakutkan. Padahal kalau kita sadar, taat pada suami adalah bagian dari ketaatan diri kita pada Allah, kita akan lebih ringan menjalaninya. Ketentraman dalam diri akan muncul saat kita menjalani hidup dengan penuh ketaatan.




Sementara itu keluarga yang mawaddah tercipta ketika suami istri masih memiliki ketertarikan satu sama lain. Menurut Ustaz Tri, jima’ adalah salah satu proses untuk menciptakan mawaddah. Selain bernilai ibadah, jima’ menjadi sarana untuk saling berkasihsayang secara halal bagi suami istri.

Keluarga yang penuh rohmah adalah keluarga yang di dalamnya penuh kasih sayang. Salah satunya ditunjukkan lewat kehadiran anak. Namun kalaupun sebuah keluarga belum dikaruniai keturunan, pasangan suami istri tetap bisa merasakan rohmah ketika mereka masih saling mencintai dan tidak punya alasan apapun untuk berpisah.



Dalam perjalanan rumah tangga, bisa jadi hari ini kita mencapai sakinah, namun kekurangan unsur rohmah. Atau hari ini penuh mawaddah, namun sakinahnya menurun. Oleh karenanya berproses menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah adalah perjalanan yang tak instan. Setiap hari harus terus belajar untuk mengayakan wawasan mengenai ilmu berumahtangga.

Jika dalam pernikahan kita masih sering berselisih, tidak tentram dan banyak rasa kecewa yang hadir, selain kurangnya ilmu, bisa jadi semua permasalahan itu timbul dikarenakan dosa-dosa kita di masa lalu. Maka penting sekali pasangan suami istri untuk selalu bermuhasabah dan melakukan taskiyatun nafs, memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah terjadi. Jangan lupa untuk melantunkan doa ini;

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”
Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqon: 74)



Sejatinya kekecewaan dalam rumah tangga adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika kita tak mampu mengelola rasa kecewa tersebut dan tidak bisa mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Ketika pernikahan dijalankan sebagai wujud peribadatan kepada Allah, maka seharusnya setelah menikah hubungan kita dengan Allah justru semakin baik. Ketika setelah menikah kok hubungan kita dengan Allah semakin jauh, maka ada yang salah dalam prosesnya.

Selamat belajar menghempaskan kecewa dengan belajar ilmu berumahtangga. Next, insya Allah aku akan berbagi tentang tips merawat cinta… tunggu ya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.





Referensi:

  • Kajian "Pentingnya Ilmu dalam Berumahtangga" bersama Ustaz Tri Asmoro K, 29 Agustus 2019
  • https://muslim.or.id/20127-bersyukur-ketika-senang-dan-bersabar-ketika-mendapat-bencana.html
  • https://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2013/05/20/24688/mengapa-kebutuhan-ilmu-melebihi-butuhnya-makan-dan-minum/

Post a Comment

14 Comments

  1. Selaluuu kumplitt informasimu cintaaaah...kusuka... kusuka.. menikah emang selalu butuh ilmu karena bukan cuma soal pesta yang megah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yess mbak, dan harus selalu update soal ilmu ini ya mbak, karena tiap tahun tantangannya bisa jadi berbeda...

      Delete
  2. Replies
    1. Jiah, tersentuh... tersentuh untuk menikah? Hehe

      Delete
  3. setelah baca ini bekalku bertambah.. ada ilmu pernikhan, ada ilmu kepenulisanya juga.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, alhamdulillah kalau bisa memberikan manfaat. Btw, ilmu kepenulisannya di bagian mananya ya?

      Delete
  4. Nah ini ni yang buat aku mikir 10 Kali buat nikah muda karena kesiapan ilmu belum seberapa apalagi kalau pasangannya seumuran ilmunya pas pas bisa goyang ditengah jalan 😰 karena perihal menikah bukan hanya permasalahan cinta saja 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ayo, mumpung masih jomblo mulai disiapkan.. sekarang kan udah banyak kajian2 pra nikah. Jangan nunggu berumah tangga baru belajar, hehe. Btw, nggak selalu kok pasangan yang seumuran pasti goyang.. banyak juga teman-temanku yang usianya seumuran tapi lebih matang :)

      Delete
  5. Sebisa mungkin permasalahan harus dihadapi berdua nih ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong mbak, namanya juga berumahtangga, kalau dihadapi sendiri namanya single fighter hehe.

      Delete
  6. Wah iya nih ya Mbak belajar ilmu rumah tangga ini memang sangat penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak... biar siap menghadapi segala tantangan :)

      Delete
  7. Ilmu rumah tangga ini memang harus dikuasi untuk menopang kehidupan berdua nih ya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com